
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Para mafia yang baru mengetahui jika diam-diam Neil tahu banyak tentang kemampuan unik tersebut memintanya untuk memberikan penjelasan. Hanya saja, karena menara komunikasi Black Castle rusak, Marco dan Polo diminta untuk segera memperbaiki agar bisa melakukan teleconference. Si kembar menyanggupi hal tersebut. Siapa sangka, Neil memiliki kemampuan lain untuk menyembuhkan. Semua orang terlihat gugup ketika pemuda itu meludahi luka Click and Clack saat keduanya terbaring lemah dalam keadaan sekarat.
"Cuh!!"
"Oke, ini sedikit menjijikkan, tapi juga ... mengagumkan," ujar Marco dengan mata melebar, tapi wajahnya kaku saat melihat Neil mengoleskan ludah ke bagian luka yang besar dengan jarinya.
"Kata Hihi, aku memiliki tiga jenis kemampuan dari hasil persilangan. Yang pertama, aku bisa melakukan semacam telepati terhadap makhluk bernyawa. Dalam hal ini, tak hanya hewan, tapi juga manusia. Aku bisa mempengaruhi mereka dan membuat makhluk itu menuruti perintahku," jawabnya tenang seraya mengolesi ludah pada bengkak karena luka patah tulang usai alat pemindai organ dalam mendeteksi adanya kerusakan tulang.
"Benarkah?" tanya Polo heran.
Neil mengangguk pelan seraya menatap Polo saksama. Tiba-tiba, Neil menyentuh pipi kiri pria bermanik biru itu. Polo terkejut, termasuk semua orang saat Neil memasang wajah datar ketika melakukannya.
"Kau diminta oleh Bibi Sakura untuk melindungi anak gadisnya bernama Reina Akiara. Dia bahkan berharap kau bisa menjadi pendamping hidupnya kelak. Wah, kau mendapat tanggungjawab yang sulit," ucap Neil begitu saja yang membuat mata Polo melotot.
"Benarkah yang dia katakan? Kau ... membaca pikiran saudaraku atau bagaimana?" tanya Marco terkejut.
"Ya, begitulah. Namun lebih tepatnya, bagi Polo itu seperti sebuah tekanan karena ... ia tak mencintai Reina. Ia masih berusaha untuk bisa menerima hal itu. Aku mengerti, cinta memang tak bisa dipaksakan," jawab Neil tenang seraya melepaskan tangannya. Polo membisu seperti kepergok kartu AS-nya.
Fara melirik Loria. Puteri Kim Arjuna diam tertunduk memegang pakaian tempur milik Polo yang masih melekat di kedua tangannya. Fara memilih diam, tapi ia seperti mengetahui sesuatu termasuk Marco yang ternyata juga menyadari hal tersebut.
"Selain itu, Polo juga sepertinya belum memanfaatkan kemampuan spesialnya. Mata biru itu, sebagai pertanda akan kelebihannya," sambung Neil yang melanjutkan mengobati Click.
"Katakan, apa saja kemampuanku," pinta Polo dengan sangat.
"Kau mendapatkan mata Griffin Czar. Penglihatannya sangat tajam. Hanya saja, mata birumu berfungsi maksimal ketika adanya cahaya. Selain itu, kau bisa melompat sangat tinggi, bahkan seharusnya, tubuhmu lentur layaknya pemain akrobatik. Itu dari kemampuan Elf Nicolas," jawabnya tenang yang kini berganti mengobati Clack dengan ludahnya.
"Ya, aku merasa demikian saat melompat kala itu. Kukira karena sepatu magnet," jawabnya heran seraya menunduk melihat sepatu besinya.
"Kau juga bisa bahasa bibir. Maksudnya, jika ada orang berbicara meski tak terdengar, kau bisa memahaminya. Itu juga kemampuan dari Elf Nicolas yang baru diketahui oleh Bibi Sandara ketika mengujinya dari salah satu ilmuwan yang menjadi relawan sebelum serum-serum itu diterapkan pada orang-orang pilihannya," tambah Neil.
Semua orang makin serius mendengarkan karena Neil tahu banyak akan hal tersebut.
"Bagaimana denganku?" tanya Fara mendekat.
Neil menatap Fara saksama. Ia lalu memegang pipi gadis cantik itu dengan mata terpejam lalu tersenyum tipis. Jantung Fara berdebar karena ia tak tahu apa yang diketahui Neil tentangnya.
"Kau mendapatkan banyak campuran. Taringmu sebagai pertanda kemampuan serigala Tina," jawabnya lalu melepaskan sentuhan.
"Serigala? Lalu ... apa fungsinya?" tanya Fara makin penasaran.
__ADS_1
"Indera penciuman, perasa pada lidah dan telingamu sangat sensitif. Namun, kau sepertinya tak memanfaatkan hal tersebut. Padahal, ketika mata silver-mu menyala, kau seharusnya bisa merasakan hal tersebut. Hem, apa karena persilangannya tak bisa menyatu dengan sempurna ya? Kulihat dalam ingatanmu, kau selama ini menggunakan kemampuan rambut landak dari salah satu spesies planet tak dikenal untuk melindungi diri dan melakukan serangan. Seingatku, tanpa harus mencabutnya, rambut landak itu bisa lepas sendiri dan membidik lawan asal kau bisa mengendalikannya," ucap Neil yang membuat Fara melongo.
"Rambut landakku bisa membidik musuh dengan sendirinya tanpa repot-repot kucabut?" tanya Fara memastikan, dan Neil mengangguk dengan wajah lugu.
"Wah, itu hal baru. Kau harus melatihnya, Fara," ucap Nero, dan Fara mengangguk dengan polosnya.
"Aku, aku. Katakan tentangku," pinta Marco tak sabaran seraya menunjuk dirinya sendiri. Marco bahkan meraih tangan Neil dan menempelkannya di pipi. Neil terkejut, tapi perlahan tersenyum.
"Ya, kau orang yang penuh semangat, Marco. Kau juga mendapatkan banyak persilangan. Sebagian kemampuan sudah kauterapkan dengan baik. Salah satunya mata merah yang menjadi ciri khasmu," ucap Neil yang membuat Marco mengangguk mantap.
"Katakan semuanya, aku mau dengar," pintanya antusias.
"Kau mendapatkan kecepatan berlari dari Centaur Lazarus ketika di Planet Mitologi. Kudengar dari Hihi, jika ada yang berlari sangat cepat, itu karena kemampuan unik itu. Sepertinya, kemampuan itu berhasil diterapkan olehmu," jawabnya yang membuat mata Marco melebar seketika.
"Oh! Apakah Centaur seperti lukisan di kamar Lazarus tentang seorang gadis bernama Atala? Gadis cantik dengan tubuh kuda?" tanya Sierra memastikan.
"Ya. Atala memang kekasih Lazarus ketika di Planet Mitologi. Dia menepati janjinya jika akan selalu mengenang Atala karena ia banyak dibantu dalam menyelesaikan misi selama mengikuti permainan Maniac," jawab Neil lalu kembali mengobati Clack karena tubuh pria besar itu penuh dengan luka.
"Lazarus pacaran dengan kuda? Ha? Gimana sih? Fara gak ngerti," tanya gadis bertaring itu bingung.
"Tak usah dipikirkan. Katakan lebih banyak, Neil. Mama ingin dengar," pinta Cassie dengan dua tangan menyilang depan dada. Neil mengangguk pelan.
"Indera penciuman dan pendengaran Marco juga sangat tajam. Namun seingatku, bukan dari darah serigala seperti Fara. Kalau tidak salah, kau mendapatkan serum dari Drakula," ucapnya yang membuat mata Marco melebar. "Ah, selain itu. Mata merahmu sangat berguna ketika berada di tempat yang sangat gelap hampir tak ada cahaya. Kebalikan dengan Polo. Mata merahmu akan menyala terang. Memang terlihat mengerikan, tapi bermanfaat," sambungnya.
"Bagaimana jika setelah ini kita berlatih untuk menjajal kemampuan? Halaman Black Castle sangat luas. Tak ada yang terluka dengan uji coba kita nantinya," saran Fara mendekati pria bermanik merah itu.
"Ya, aku setuju. Kita lakukan besok pagi," jawabnya mantap dan Fara mengangguk senang.
"Aku bagaimana?" tanya Loria tiba-tiba.
Neil menoleh dan menatap gadis cantik itu saksama. Pemuda itu berjalan mendekat dan meletakkan tangannya ke pipi puteri Tessa tersebut. Loria tampak gugup.
"Kemampuanmu mengeluarkan lendir. Kau mendapatkannya dari alien siput bajak laut. Namun tampaknya, ada kemampuan lain yang tak kauduga dan bagiku cukup keren," ucapnya.
"Oh ya. Apa itu?" tanya Loria penasaran.
Neil menatap Loria tajam terlihat serius. Tiba-tiba saja, KRAS!!
"NEIL!" teriak Cassie sampai melotot ketika puteranya dengan sengaja menebas tangan Loria.
Praktis, mata semua orang melebar.
__ADS_1
"Hah, hah, hah ...," engah gadis cantik itu dengan napas tersengal saat melihat salah satu tangannya putus dan kini jatuh di lantai. "AAAAAA! Arrghhh!" erang Loria histeris hingga seluruh tubuhnya merah padam karena kengerian yang dialaminya.
"Kau gila, Neil!" pekik Nero panik karena tangan Loria berdarah hebat dengan lendir bening muncul di sana.
"Fokus pada kesembuhan lukamu. Kau memiliki kemampuan seperti kapten bajak laut alien. Jika salah satu tubuhmu terputus, organ tersebut bisa tumbuh lagi. Seperti kadal. Cobalah," jawab Neil santai dengan golok dalam genggaman tangan kanan yang ia ambil dari dalam tas milik Clack.
Loria ambruk di lantai dengan darah mengucur deras. Semua orang mengerubunginya karena gadis itu menjerit histeris ketakutan. Loria berusaha ditenangkan oleh semua orang.
"Polo, Polo, Loria menyukaimu. Tenangkan dia dan minta untuk melakukan yang Neil katakan. Cepat! Aku tak tega melihat tangannya yang putus itu. Badanku ngilu semua," bisik Marco dengan wajah berkerut dan sesekali memalingkan wajah karena takut.
Polo menatap Loria yang menangis dengan tubuh bergetar seraya memegangi tangannya yang buntung. Polo menarik napas dalam dan segera mendatangi Loria. Cassie yang sedang mendekapnya langsung memberikan tempat bagi Polo ketika pria bermanik biru itu memeluk Loria dari samping.
"Tak apa, tak apa. Kaudengar yang dikatakan Neil? Tanganmu akan tumbuh lagi. Kau tak akan mati, kau tak akan cacat, kau akan baik-baik saja. Tenanglah, dan fokus pada tanganmu agar bisa tumbuh lagi," ucap Polo seraya memegangi wajah Loria agar gadis itu berhenti menangis.
Loria menatap Polo dengan air mata sudah membanjiri wajahnya. Polo tersenyum seraya menghapus air mata yang tumpah begitu derasnya dari mata cantik berwarna biru itu. Semua orang tampak tegang, tapi tidak bagi Neil yang kembali mengobati dua algojo itu dengan ludahnya.
"Oh, lihat. Bajuku sudah tak menempel di tanganmu lagi," ucap Polo seraya mengambil pakaian tempurnya yang tadi lengket karena lendir di tangan Loria.
Gadis itu melihat Polo menggunakan bajunya untuk menghapus air mata dan keringat di tubuhnya. Polo meniup paras ayu itu dengan lembut. Loria seperti bisa merasakan angin sejuk menenangkan hatinya yang kalut.
"Tarik napas dalam. Pejamkan matamu. Fokus pada tanganmu yang kehilangan kesempurnaannya. Bayangkan tanganmu kembali utuh dengan jari-jari yang lentik, kulit yang halus, dan ... terasa hangat saat disentuh," ucap Polo seraya menggenggam tangan Loria yang masih utuh dengan senyuman.
Semua orang terdiam. Mereka bisa melihat jika Polo begitu berusaha agar Loria bisa memaksimalkan kemampuannya dan meminimalisir ketakutannya. Perlahan, Loria mulai tenang. Ia mengatur napasnya berulang kali.
Polo menggenggam tangan Loria dengan tangan kirinya, dan terus membelai rambut pirang panjang itu dengan tangan kanan penuh perasaan. Polo juga meniupkan udara ke wajah gadis itu agar Loria fokus pada kesembuhannya. Benar saja, terlihat seperti daging tumbuh dari potongan luka itu. Mata semua orang melebar dan mereka membungkam mulut rapat agar konsentrasi Loria tak hilang.
Polo menelan ludah dan ikut melotot karena baru pertama kali seumur hidupnya melihat keanehan itu. Jari-jari kecil lunak mulai muncul dari gumpalan daging warna putih. Perlahan, ukuran daging putih itu membesar dengan bentuk mulai sempurna layaknya tangan Loria yang lain. Gadis itu masih memejamkan mata dan terlihat berusaha mengatur napasnya agar tenang.
"Luar biasa," ucap Polo lirih yang membuat Loria membuka matanya perlahan.
Polo tersenyum lebar dan menempelkan dahinya ke dahi Loria. Sontak, gadis itu terkejut. Jantungnya berdebar kencang ketika melihat wajah Polo dengan jelas di depan matanya seperti tampak bahagia.
"Kau berhasil, Loria! Lihat! Tanganmu kembali!" seru Fara yang membuat Loria tercengang ketika mengangkat kedua tangannya.
"Woah! Wah! Hahahaha! Tanganku tumbuh lagi!" teriaknya senang.
Semua orang bernapas lega dan ikut bahagia. Neil tersenyum tipis seraya terus meludah karena banyaknya luka di tubuh Click and Clack.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya😍lele padamu💋 yang lain ditunggu ya. kwkwkwkw😆