
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Drake dilanda kepanikan di mana kali ini lawannya bukan militer pemerintah atau golongan mafia, melainkan para manusia sipil yang terjangkit serum monster dan telah bermutasi. Bahkan, hewan-hewan ikut dijadikan tentara Sengkuni untuk melenyapkan para mafia itu.
BLUARRR!! DODODODOR!
Suara dentuman bom-bom yang dilontarkan dari helikopter membuat situasi peperangan makin mencekam. Number 2 tak henti-hentinya menembaki para monster yang mencoba memasuki bangunan Camp Militer tempat tabung-tabung disimpan. Sedang Drake, harus melawan para monyet yang bermutasi sehingga menjadi buas dan memiliki bentuk tak wajar.
CRATT!!
"Argh!" rintih Drake saat ia berhasil menangkap salah satu monyet yang sedang melompat ke arahnya dengan satu tangan, tapi tiba-tiba bulu monyet itu mencuat layaknya Fara sehingga menusuk tangan pria bertubuh besar itu.
"Drake!" panggil Malek—salah satu anggota Kolektor—saat melihat pria berkulit hitam itu dikeroyok oleh sekumpulan monyet monster yang bernafsu membunuhnya. Drake yang hanya bersenjata belati Silent Gold tak bisa berbuat banyak. "Turunkan aku! Dia bisa mati!" pinta pria tua itu memaksa.
"Bersiaplah, Tuan!" sahut Etra yang dengan sigap mengaitkan tali pengait di pinggang senior mafia itu.
Malek menarik napas dalam dengan senapan laras panjang siap untuk ditembakkan.
DODODODOR!!
"Akk, akk, akk!" teriak para monyet saat mereka dihujani tembakan ketika Malek meluncur menggunakan tali yang masih terikat di pinggulnya.
Pria tua itu tampak tak takut saat melepaskan peluru-peluru tajam untuk menjatuhkan monyet-monyet yang sudah tak waras itu. Tembakan tak berjeda dari salah satu anggota Kolektor ternyata membuat para monyet kini malah mengincarnya.
"Hah!" kejutnya ketika monyet-monyet itu meninggalkan Drake yang sudah terluka di sekujur tubuh dan roboh di lantai menara. "Tarik aku cepat!" pinta Malek dengan mata melotot saat melihat para monyet melompati atap bangunan menuju ke tempatnya.
Etra dengan sigap menarik tali itu, tapi juntaian benda tersebut berhasil ditangkap oleh salah satu monyet dan membuat hewan tersebut memanjat dengan cepat.
"Argh!" teriak Etra saat melihat seekor monyet monster berhasil memasuki helikopter dan kini mengincar para manusia yang berada di dalamnya.
"Bunuh dia!" teriak Iskra yang masih bertahan di bangku pilot dibantu Talora sebagai co-pilot.
"Heyah!" teriak Mallika yang kini ikut andil dalam membasmi para monster itu dengan pedang Persia siap dihunuskan.
Walaupun monyet itu hanya satu ekor, tapi karena sudah kehilangan naluri alaminya, hewan itu bergerak dengan lincah dan agresif, bahkan tak segan menyerang dengan kuku tajamnya.
"Argh!" rintih Malika saat monyet itu melompat di tubuhnya lalu menggigit salah satu telinga.
Mallika berusaha melepaskan gigitan menyakitkan itu hingga pedangnya terjatuh. Kupingnya terkoyak dan nyaris putus. Kepanikan melanda orang-orang di dalam helikopter karena penyerangan brutal dari para hewan.
JLEB!! BRUK!!
"Hah, hah," engah Etra yang pada akhirnya bisa menjatuhkan monyet itu dengan menusuk punggungnya menggunakan pedang Persia, tapi naas. Mallika terluka parah di telinga kanan sehingga wanita malang itu meraung kesakitan.
__ADS_1
Etra dengan sigap menusukkan obat bius di leher wanita itu agar tak semakin menderita. Mallika pingsan dan tubuhnya segera dipindahkan ke bangku lalu diamankan dengan seat belt. Etra yang tak sanggup melihat telinga Mallika yang sudah tak berbentuk itu nekat memotongnya lalu menutup telinganya dengan perban usai diobati. Iskra sampai meringis karena bisa membayangkan betapa mengerikannya jika hal itu terjadi padanya. Talora berusaha tegar dengan membantu menembaki para monyet dari jendela samping ia duduk. Sedang Malek, masih tergantung dan berusaha bertahan saat para monyet berusaha memanjat ke atas melalui tubuhnya.
"Hah, hah, argh!"
SRET!!
"Tuan Malek!" teriak Etra saat pria tua itu nekat memutus tali agar para monyet tak bisa menggapainya.
Iskra dan Talora ikut terkejut karena Malek yang tubuhnya sudah tertutup oleh segerombolan monyet memilih menjatuhkan diri bersama musuhnya.
BRAKK!! BRUKK!!
"Aggg," rintih Malek saat tubuhnya mendarat dengan keras ke atap bangunan salah satu pondok dan melubanginya.
"Akk, akk, akk!" lengking para monyet yang dengan sigap melompat agar tak menghantam permukaan.
Drake yang mendapatkan kesempatan untuk mengamankan diri sebelum para monster mendatanginya lagi segera turun dari menara meski harus menahan sakit luar biasa di tubuh. Pria itu jalan sempoyongan dengan darah dan luka sudah menyatu dengan keringat yang bercucuran. Ia tahu jika darah segarnya bisa mengundang para monster untuk menyerangnya lagi. Benar saja, saat Drake sedang berusaha membuka pintu akses yang tak bisa memindai dua telapak tangan karena berlumuran darah segarnya, tiba-tiba saja ....
"Harghh!!"
Drake spontan membalik tubuhnya karena suara raungan mengerikan itu. Pria itu mematung dengan mata terbelalak lebar. Ia kehilangan nyali dan kekuatan besarnya saat melihat tiga orang monster berlari dengan buas siap membunuhnya. Jantung Drake berdebar kencang hingga membuat napasnya terasa berhenti di tenggorokan.
Drake memejamkan mata siap menerima ajal. Pria itu berdiri di depan pintu besi sembari membayangkan bertemu dengan orang-orang yang telah tiada. Ia melihat sosok Sasha, Nyonya Rose, Komandan Zeno, Eko, Lopez, Kai dan Vesper. Mereka tersenyum seraya mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
Namun, "Haggg! Haagg!" raung para monster itu saat tubuh mereka tertusuk tiga tombak JERA di punggung.
Drake terkejut saat mendapati Number 2 datang menolongnya. Number 2 menahan tiga monster itu yang berusaha menggapai tubuh pria besar di depannya.
"Buka pintunya! Cepat!" teriak Number 2 masih memegangi senapan JERA dengan sekuat tenaga saat tali-tali kuat itu menahan pemberontakan dari tubuh tiga monster.
Number 2 ikut terluka karena terlihat bekas cakaran di dua tangannya yang cukup besar dengan darah menyeruak masih segar. Drake bergegas membersihkan tangannya yang berlumuran darah agar pintu akses bisa terbuka. Number 2 mengerang hingga seluruh ototnya terlihat menonjol dari permukaan kulit.
PIPIPIPIPI!!!
Drake yang tahu arti dari bunyi itu menoleh ke arah tiga monster di belakangnya. Benar saja, BLUARRR!! CRATT!!
"Agh, agg ... ohok!"
Number 2 ikut terkena semburan dari darah hitam tiga manusia monster itu termasuk Drake. Lawan mereka telah tercerai berai, tapi hal itu berdampak pada dua pria yang terciprat darah hitam tersebut.
BRUKK!!
"Si-sial ...," erang Number 2 saat melihat darah hitam itu menempel di bekas lukanya yang terbuka akibat terkena cakaran tajam para monster.
__ADS_1
Hal serupa juga terjadi pada Drake saat tubuhnya yang penuh dengan luka kini tertutupi oleh darah hitam para monster itu. Drake dan Number 2 roboh di lantai dengan wajah berkerut disertai tubuh yang meringkuk karena menahan sakit pada organ dalam.
Drake tersenyum saat bayangan orang-orang yang telah tiada makin terlihat jelas. Tangannya bahkan terulur siap menerima ajakan itu. Tak lama, tubuh dua orang mafia senior itu mengejang dengan sendirinya. Bola mata mereka naik ke atas disertai busa yang muncul dari mulut. Seketika, dua orang itu diam dengan tubuh kaku, tergeletak tak bergerak lagi.
Sedang di luar Camp.
Orang-orang yang berada di helikopter tak mengetahui jika Drake dan Number 2 telah merenggang nyawa. Mereka masih berusaha bertahan karena jumlah monster mulai berkurang sebab sistem persenjataan otomatis Camp berhasil membunuh para makhluk itu.
"Tuan Malek, bertahanlah!" teriak Etra berusaha menolong pria itu dengan ikut meluncur turun menggunakan tali yang lain.
Iskra dan Talora melindungi Etra saat wanita jebolan militer pemerintah itu sedang menyabetkan pedang Persia-nya untuk menebas para monyet yang masih bernafsu untuk membunuh mantan anggota Kolektor tersebut.
"Heyah!" teriak Etra saat menusukkan ujung pedang tajamnya ke dua monyet sekaligus yang melompat ke arahnya.
Etra menghempaskan dua mayat itu ke arah monyet monster lainnya. Etra berlari mendatangi Malek yang terlihat masih berusaha untuk menyelamatkan nyawanya dengan terus melakukan perlawanan menggunakan pedang Persia saat keluar dari sebuah pondok.
"Hah, hah," engah Malek dengan pakaian sudah robek dan mendapatkan luka cakaran serta gigitan di beberapa bagian, tapi lukanya tak separah Drake.
Pria tua itu sampai bersujud di atas tanah dengan tubuh gemetaran dan keringat bercucuran karena tak pernah bertarung sesengit ini sepanjang hidupnya. Ia sampai mengerahkan seluruh kemampuannya agar tak mati.
DUAKK! BUKK!
Malek menoleh saat Etra tak segan memukul dan menendang para monyet yang berusaha menangkapnya ketika berusaha mendatanginya.
"Ayo, Tuan!" ajak Etra seraya meraih lengan Malek lalu memapahnya.
"Cepat masuk ke markas! Sidik jari Tuan Malek dikenali database!" titah Iskra dari atas helikopter yang suaranya terdengar dari pengeras suara di badan helikopter.
Etra mengangguk dan segera berjalan dengan tergesa seraya memapah Malek. Pria tua itu berusaha keras untuk tetap bertahan sembari membantu dengan menembak menggunakan pistol karena sudah tak sanggup untuk menggunakan pedangnya lagi. Talora terus melemparkan granat tabung ke arah kumpulan monster yang kini mencoba meraih benda terbang tersebut dengan naik ke atap bangunan. Iskra melihat Etra berhasil masuk ke pintu markas dengan bantuan sidik jari pengenal dari Malek.
"Talora, sekarang!" teriak Iskra usai melihat tak ada lagi yang harus ia khawatirkan untuk dilindungi.
Talora mengangguk mantap dan segera beranjak dari dudukan. Ia mengambil sebuah benda seperti ikat pinggang yang ternyata berisi serentetan granat mini. Talora melihat ke bawah di mana para monster telah berkerumun saling menginjak membentuk piramida agar bisa menggapai helikopter.
"BOOM!" ucapnya seraya melemparkan satu per satu granat mini dari pintu helikopter yang terbuka.
BLUARR!!
"Harghh!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Suara raungan kematian yang disertai suara ledakan dahsyat bersahut-sahutan membuat Etra dan Malek yang sudah berada di dalam markas bisa merasakan getaran dari dentuman tersebut. Keduanya sudah roboh dan duduk menyender pada dinding dengan napas tersengal. Mereka lega karena berhasil membinasakan para monster yang berusaha merebut Camp Militer. Sayangnya, orang-orang itu tak tahu jika Drake dan Number Two telah berpulang karena mempertahankan markas peninggalan Komandan Zeno tersebut.
__ADS_1
***
brankas koin abis uyy. hari jumat nih. gak ada yang mau infaq kah ke lele? kwkwkw😆