KING D

KING D
Misi Demon Kids*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Perusahaan Farmasi Elios, Italia. Siang hari.


Mata dan mulut dua anggota The Kamvret tersebut terbuka lebar. Mereka kaget saat mendapatkan kunjungan tamu yang tak lain adalah para anggota Demon Kids di mana selama ini, kisah petualangan mereka di Planet Mitologi dianggap hanya khayalan belaka. Namun, melihat hal-hal aneh yang terjadi, terlebih kemampuan unik dari para manusia setelah disuntikkan serum khusus, membuat semua orang tak dapat lagi menyangkal hal tersebut.


"Hehe, wajahmu jelek sekali, Paman," kekeh Vadim yang berjalan dengan gagah memasuki gerbang perusahaan farmasi tersebut.


"Kok udah bangun? Kok bisa!" pekik Yono.


"Mau tau aja atau mau tau banget?" ledek Jubaedah centil.


"Kemayu," gerutu Hadi dengan wajah sebal.


Jubaedah dan lainnya terkekeh.


"Hei," sapa Buffalo yang datang dengan Rangga dan Gibson.


"Loh, kamu ikut ke sini juga, Fal?" tanya Yono melotot.


"Jujur, aku pun tak tahu apa pun. Namun, aku sama penasarannya dengan kalian. Jadi ... kita nikmati saja pertunjukannya," jawab Buffalo santai, tapi tidak demikian dengan dua anggota The Kamvret tersebut.


Kumpulan pemuda dan pemudi itu berjalan dengan langkah mantap memasuki pintu utama perusahaan di mana bangkai para monster telah dibersihkan. Yono dan Hadi yang penasaran, mengikuti anak-anak para mafia itu dengan banyak pertanyaan. Buffalo berjalan di samping Rangga. Putra kesayangannya itu dengan penuh perhatian terus menggandeng tangan sang ibu yang masih berduka karena kehilangan sosok orang terkasih.


"Eh, mau ke mana? Itu pintu gak bisa di— weh!" pekik Yono karena pintu yang selama ini tertutup bisa terbuka dengan mudahnya.


"Kau ini kenapa, Paman? Dari tadi bingung sendiri," tanya Pasha berkerut kening.


"Lha itu gak bisa dibuka lho. Termasuk pintu akses ke ruang bawah tanah. Semua terkunci!" pekik Hadi menggebu.


"Masa sih?" ledek Jubaedah.


"Tak kuncir loh bibir dowermu pakai kawat. Bapak anak sama aja," keluh Yono, tapi membuat semua orang tertawa.


"Jadi ... apa yang disembunyikan dalam pintu ini?" tanya Buffalo tenang.


"Lihat saja," jawab Rangga dengan senyuman.


PIP!


"Selamat datang, Gibson," ucap sistem dengan suara Sandara.


"13 Demon Kids!" serunya mantap.


"Pemindaian dilakukan," ujar sistem yang tiba-tiba memancarkan sinar warna biru dari bagian atas pintu ke kumpulan orang-orang di depan persegi panjang besi kokoh tersebut.


Buffalo, Yono dan Hadi tertegun. Mereka tampak tegang, tapi anggota Demon Kids terlihat santai dengan hal tersebut.


"Akses diterima. Silakan masuk," ucap sistem yang kemudian membuka pintu di mana selama ini benda berwarna putih tersebut tertutup rapat.


GREKKK!!


"Oh!" pekik Buffalo dengan mata melotot saat melihat banyak orang berpakaian putih dalam ruangan besar tersebut.


"Mereka ...."


"Anakku!" teriak Yono girang dan langsung masuk begitu saja saat melihat seorang remaja berparas Jawa tersenyum padanya.


"Mereka ... mereka ...," tunjuk Hadi sampai tergagap.

__ADS_1


"Anaknya gak dipeluk nih, Pak?" tanya putri Hadi sambil memonyongkan bibir.


"Ealah, Nduk. Kamu di sini rupanya. Terus ... ibu sama yang lainnya mana?" tanya Hadi saat dihampiri sang anak dan malah bersikap kaku seperti bingung.


"Mereka aman, tapi belum waktunya bangkit," jawab putri Hadi dengan senyuman.


"Siapa anak-anak ini?" tanya Buffalo menyipitkan mata seraya memindai sekumpulan remaja dengan usia di bawah 20 tahun.


"Mereka adalah para generasi penerus yang diamanatkan oleh kami untuk menjaga aset. Selama ini, mereka sengaja dikurung di sini. Namun, sudah saatnya mereka untuk bekerja di lapangan. Anak-anak muda ini akan membantu kami memulihkan perekonomian dunia," ujar Laika.


"He? Mereka masih piyik kok disuruh kerja? Langgar undang-undang kalian," ucap Hadi protes.


Para anggota Demon Kids memasuki ruangan dan disalami oleh para remaja yang tampak sehat serta cendikia itu. Terlihat, beberapa meja kerja layaknya perkantoran di mana terdapat komputer, beberapa mesin, dan juga perlengkapan bengkel. Buffalo terkagum-kagum karena muda-mudi itu tampak cekatan dan pintar.


"Lalu ... apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian tak ditidurkan?" tanya Buffalo heran.


"Awal tahun kami dibangunkan lalu dibimbing oleh seorang mentor yang cukup bagus dalam mengajar. Dia sangat sabar dan pengertian. Dia sudah bangkit setahun yang lalu," jawab putra Yono.


"Sopo, Le?" tanya Yono bingung.


"Halo," sapanya.


"Sia!" pekik Buffalo, Yono dan Hadi dengan mata melotot saat melihat putri dari Amanda Theresia muncul di hadapan.


"Aku suka ekspresi kalian. Jadi ... selamat datang," ujarnya yang membuat semua orang tercengang.


"Lalu ... apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" tanya Buffalo mencoba mengikuti alur yang dihadapinya.


Sia dan para Demon Kids tersenyum. Bobby yang mengikuti jejak profesi sang ayah, berjalan menuju ke sebuah komputer dengan layar besar tertempel di dinding. Sia dan lainnya mendekat seperti menunggu sebuah momen tampilan dari monitor tersebut.


"Akses Bobby diaktifkan!" ucapnya mantap dengan telapak tangan kanan menempel pada sebuah papan pemindai di meja.


"Perintah dilaksanakan," jawab sistem.


Sebuah gedung yang berada di New York tiba-tiba saja memancarkan sinar dan menyorot ke atas langit. Gedung tersebut seperti sebuah bintang bercahaya dalam kegelapan karena fajar belum menyingsing. Bangunan tersebut ternyata memiliki cadangan energi yang terkoneksi dengan jaringan pusat tenaga listrik di kota besar tersebut.


"Itu apa?" tanya Buffalo bingung.


"Salah satu usahaku. Meneruskan usaha Theresia. Selama ini, aku bekerjasama dengan Paman Jordan dan Bibi Sia mengenai hal ini. Mereka mendukungku. Selain itu, aku kaya. Mereka menginvestasikan segalanya agar aku bisa merealisasikan hal ini," ujar Bobby mantap.


"Oh! Jangan-jangan ... usahamu waktu itu ... apakah salah satu hadiah dari O-o ...."


"Oag," jawab Demon Kids serempak.


"Ya. Kami kaya raya dan memiliki usaha seperti yang diimpikan," jawab Czar mantap.


"Woo kecil-kecil cabe rawit," celetuk Hadi, tapi mendapat sambutan meriah dari Demon Kids.


"Jadi ... kami akan mengaktifkan seluruh gedung perusahaan milik Demon Kids di mana tempat itu akan menjadi pusat untuk mengembalikan perekenomian di seluruh dunia secara bertahap. Urusan bangunan rusak dan kawasan porak-poranda di sekitar wilayah kekuasaan kami, itu tanggungjawab pemerintah," sahut Harun seraya memasukkan dua tangan ke saku celana panjangnya.


Buffalo dan para orang dewasa mengangguk meski wajah mereka tegang seperti mencoba menelaah maksud dari ucapan anak-anak mereka. Satu per satu, anggota Demon Kids mengaktifkan usaha mereka yang tersebar di seluruh dunia. Ternyata, mereka mengamanatkan aset-aset itu untuk tetap diawasi. Di tempat tersebut, juga terdapat manusia yang menjaga layaknya Pablo.


Orang-orang tersebut dipercaya untuk melindungi aset mereka selama ditidurkan dan wabah monster masih merajai dunia. Sebagai imbalannya, anak-anak para orang tua penjaga aset akan diamankan dalam tabung oleh para Demon Kids dan akan dibangkitkan secara otomatis di tahun 2070.


Tokyo, Jepang. Malam hari.


Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


"Kalian lihat itu?" tanya Isao ketika ia dan timnya sudah berani keluar dari apartemen untuk berkeliling melihat sekitar di waktu yang menunjukkan pukul 8 malam.

__ADS_1


"Lampu di bangunan itu menyala! Apakah ada orang di sana?" tanya Haruka penasaran.


"Entahlah. Ayo cari tahu!" ajak Isao dan para remaja itu mengangguk.


Orang-orang yang selamat di beberapa negara dan melihat beberapa bangunan pencakar langit memancarkan lampu terang, antusias untuk mencari tahu. Mereka memasuki gedung tersebut karena pintu utama terbuka secara otomatis. Siapa sangka, terdapat banyak robot pembersih di dalam ruangan hingga di beberapa lantai teratas. Tempat itu tampak begitu menjanjikan seperti tak terkena dampak monster.


"Bagaimana bisa?" tanya Buffalo kembali heran usai melihat tampilan dari layar di dalam gedung-gedung tersebut.


"Kami juga memasang persenjataan otomatis di luar gedung. Jadi ... hanya bangunan luarnya saja yang jelek, tapi bagian dalam tetap terawat," jawab Ryan usai menyalakan sistem di gedungnya yang berada di Swiss.


Buffalo dan lainnya dibuat kagum atas pemikiran cerdas anak-anak tersebut. Hadi tak menyangka, jika anaknya akan terlibat dalam proyek ini bahkan sudah bekerja di bawah naungan salah satu anggota Demon Kids, di mana dulunya mereka dianggap anak bawang dan hanya menjual mimpi. Kini, anak-anak itu membuktikannya.


Di tempat King D dan timnya berada. Siang hari.


Pesawat yang ditumpangi King D bersama kelompoknya tiba di Benua Eropa. Sayangnya, langit tampak tak bersahabat karena awan hitam menggentayangi mereka. Pesawat memasuki wilayah negara Portugal usai menyelesaikan misi di Florida. Akan tetapi, temuan mengejutkan dari William membuat mata semua orang melebar seketika.


"D! Lihat itu!" seru William seraya menunjuk. "Ada gedung dengan lampu menyala terang!"


"Apakah ... ada orang yang mengoperasikannya?" tanya Irina curiga.


"Haruskah kita mendarat?" tanya Arthur saat pesawat mereka hampir mendekati objek tersebut.


"Ya, daratkan. Kita harus tahu apa yang terjadi," jawab King D mantap.


"Oke!" sahut Martin yang dengan sigap mencari lokasi pendaratan terdekat.


Puing-puing di sekitar bangunan tersebut membuat pesawat yang memiliki fungsi layaknya helikopter harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Namun, mereka mendapatkan lokasi tepat di mana terdapat lapangan base ball tak jauh dari sana. Akan tetapi, King D, Irina, Junior, Romeo, dan William, memutuskan untuk turun dari pesawat menggunakan tali. Cahaya matahari yang menyelinap di balik gumpalan awan hitam menerangi jalan mereka saat menyusuri sekitar dalam redup.



Di Perusahaan Farmasi Elios, Italia.


"Hei, ada yang mendekati gedung! Ada orang di luar sana! Apakah ... mereka orang-orang kita?" tanya Bara curiga saat melihat tangkapan dari satelit yang menyorot wilayah sekitar gedung.


Sia dengan sigap mendekat ke arah papan pengendali untuk memperbesar tampilan mata GIGA. Terlihat, beberapa orang sedang berjalan mendekati gedung dengan persenjataan. Namun seketika, matanya melebar.


"William!" pekik Sia, Buffalo, Hadi dan Yono bersamaan.


Sontak, mulut Sia menganga lebar karena tak menyangka bisa melihat keluarganya lagi di mana Irina dan Romeo juga ikut serta dalam kelompok itu.


"Pastikan CamGun mengenali mereka!" titah Gibson panik.


Segera, Bobby memasuki sistem keamanan salah satu bangunan yang terkoneksi dengan GIGA DARA dari tempatnya berada. Semua orang tampak tegang saat sensor CamGun melakukan pemindaian, tapi seperti tak bisa menemukan kecocokan dari file penyimpanan. Lensa-lensa CamGun kotor tertutupi debu dan membuat tampilan buram sehingga menyulitkan proses pemindaian.


"Jangan sampai CamGun membunuh mereka!" seru Kenta panik.


Sia mematung seperti terkejut akan kemunculan keluarganya itu. Seketika, air mata harunya menetes. Ia tak percaya akan bisa bertemu lagi dengan keluarganya.


Akan tetapi, TET! TET!


"Ancaman. Target tak dikenali. Hancurkan," ucap sistem.


"What!"


DODODODOOR!


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


maap gaes tamatan King D ketunda lagi. terlebih setelah lele ternyata keterima jadi editor di salah satu PF. makin susah atur waktu. tapi ada kebanggan tersendiri karena dipercaya untuk handle beberapa author di bawah naungan lele. semoga ajaran lele gak menyesatkan sehingga nyemplung di empang piranha. kwkwkw. baiklah fokus lagi tamatin King D. lele usahain setidaknya sehari 1 eps ya. semangat!!


__ADS_2