KING D

KING D
Prancis*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Prancis. Kediaman Darwin Flame.


Pagi itu. Jason dan Daniel yang sudah melakukan penyelidikan selama sehari penuh bersiap untuk memasuki mansion peninggalan Flame tersebut. Kamera CD telah memastikan jika hunian itu kosong. Pemancar Fatamorgana terlihat aktif dan hal itu meyakinkan keduanya jika sebelumnya ada seseorang yang sengaja melakukannya agar komunikasi terblokir.


"Ayo," ajak Daniel.


Jason mengangguk siap dengan tas ransel berisi perlengkapan selama mereka menyelidiki rumah mewah tersebut. Daniel yang sudah mengetahui seluk-beluk rumah tersebut dengan cepat memberikan arahan pada Jason untuk mengikutinya. Jason yang sudah mulai terbiasa dengan senjata, ditambah memiliki kemampuan unik layaknya Merman atau duyung dalam kisah Mitologi, semakin memperkuat inderanya akan keadaan di sekitar.


"Daniel," panggil Jason yang membuat langkah orang kepercayaan Boleslav itu berhenti seketika. "Aku bisa mencium adanya air mengalir dalam mansion ini seperti sedang digunakan," imbuhnya dengan hidung bergerak seperti mengendus dan mata berubah layaknya predator air.


Daniel diam sejenak seperti takjub akan kemampuan unik putera majikannya itu.


"Lalu?"


"Aku rasa, ada orang di dalam mansion yang keberadaannya tak tertangkap kamera CD," jawabnya.


Praktis, Daniel langsung siaga seketika. Pria itu meminta Jason untuk memimpin jalan ke tempat air tersebut. Jason seperti bisa merasakan keberadaan air di sekitar mansion ketika tangannya berselaput muncul lalu meraba-raba permukaan tanah. Bahkan, ia malah menjauh dari hunian megah tersebut. Daniel bingung, tapi memilih untuk percaya pada indera Jason yang menurutnya akan membawanya ke suatu tempat tak dikenal.


"Stop!" seru Daniel langsung memegang pundak Jason dan memintanya merunduk. Jason segera melakukan yang diperintahkan Daniel meski wajahnya tegang. "Kau benar. Lihat," bisik Daniel saat ia melihat pergerakan dari balik semak. Tampak seseorang berjalan mengendap seraya menenteng dua buah jeriken berisi air. Kening Daniel berkerut saat melihat pergerakan orang itu yang bergerak menuju mansion. Jason melihat Daniel dengan sigap menggunakan teropong untuk memastikan pengamatannya. "Oh! Itu ...."


DOR! DOR!


"Argh!" erang Jason langsung jatuh tersungkur di atas rumput ketika lengannya terkena tembakan.


Beruntung, ia mengenakan jas anti peluru sehingga benda tajam itu tak melukai tubuhnya. Seketika, wujud Merman-nya sirna dan membuatnya kembali seperti manusia normal.


DUAK!! BRUKK!!


"Daniel!" seru Jason saat Daniel tiba-tiba ditendang dari samping dan tepat mengenai kepalanya.


Daniel ambruk dalam kondisi tak sadarkan diri karena tak siap dengan serangan tersebut. Jason merangkak dan mendatangi Daniel yang terluka pada pelipis dengan tergesa. Orang itu mengenakan sepatu besi. Namun, Jason menyadari jika jenis sepatu itu adalah sepatu magnet.


"Kau?" ucap Jason dan pria itu bersamaan saat keduanya saling bertatapan tajam.


Tiba-tiba saja, laki-laki itu melangkah mundur tampak terkejut. Jason ikut gugup, tapi terus menatap pria yang dikenalnya lekat.


"Kau sungguh Jason? Da-Daniel?" tanyanya dengan kening berkerut seraya menunjuk.

__ADS_1


"Ya, ini kami. Kau sudah bangkit? Mana lainnya? Mana isterimu?" tanya Jason.


Pria itu diam sejenak lalu melihat sekitar. "Kita buktikan jika kau benar Jason dan dia Daniel. Ikut denganku," ajaknya.


Jason mengangguk. Ia dengan sigap menggendong Daniel di punggung. Pria itu menatap Jason lekat entah apa yang dipikirkan. Ia kembali menenteng dua buah jeriken putih berisi air menuju ke sebuah pintu yang tertutup oleh tanaman merambat.


"Jika kau sungguh Jason, kau pasti bisa membuka pintu ini," tegasnya.


Jason melihat kamera yang tertutup tanaman merambat. Pria itu menyingkirkan tanaman hijau tersebut agar komputer bisa memindai mata keturunan Boleslav tersebut.


"Pemindaian retina diterima. Selanjutnya pemindaian 10 sidik jari," ucap sistem.


Jason masih membungkuk agar Daniel tak jatuh dari punggungnya. Ia meletakkan dua tangannya ke papan kaca pemindai usai menyingkirkan tanaman merambat yang menutupi sensor tersebut. Jason melirik pria dengan jambang dan kumis menutup paras tampannya.


PIP!


"Selamat datang, Jason Boleslav," ucap sistem yang mengejutkan pria itu.


"Dia juga," tegasnya seraya menunjuk Daniel.


Jason mengembuskan napas malas, tapi melakukan permintaan tersebut. Daniel yang pingsan membuatnya kesulitan untuk melakukan pemindaian retina, tapi akhirnya berhasil. Sidik jari Daniel juga dikenali. Sistem mengizinkan Jason dan Daniel masuk.


"Puas? Bagaimana denganmu?" tanya Jason kesal.


"Selamat datang, Zaid."


Dua pria itu saling bertatapan lalu tersenyum.


"Silakan," ucap Zaid. Jason segera melangkah masuk ke dalam.


Jason terlihat gugup ketika Zaid menjadi pemandu jalan saat mereka memasuki terowongan bercahaya redup. Cukup jauh mereka berjalan hingga sebuah cahaya terang terlihat dari halaman luas di tengah mansion seperti taman. Jason mengenali tempat itu di mana dulu ia pernah berkunjung usai perselisihan antara Demon Heads dan The Circle tak terjadi lagi.


"Rasanya memang kurang tanpa keledai King D. Oia, bagaimana kabar hewan seperti kuda itu?" tanya Jason seraya mengikuti Zaid yang membawanya ke suatu tempat.


"Hewan itu sudah lama mati. Kau tak ingat? King D sampai demam karena berduka atas meninggalnya hewan kesayangan pemberian Tobias itu," jawab Zaid yang membuat Jason ber-Oh karena lupa akan hal tersebut.


PIP!


"Masuklah," ajak Zaid saat sebuah pintu besi terbuka.


"Oh!" kejut Jason ketika melihat sosok lain di dalam rumah itu.

__ADS_1


"Kau?" tanya wanita cantik itu seperti mengenali sosok pria yang datang bersama suaminya.


"Kak Yena!" seru Jason gembira.


Yena segera berlari mendatangi Jason dan memeluknya. Ia melihat saudaranya itu menggendong seorang lelaki yang tampak tak asing.


"Dia mirip dengan ...."


"Ya, dia Daniel. Maaf, bisakah kubaringkan dia di sana. Paman Daniel berat," keluh Jason.


Yena memberikan tempat duduknya tadi untuk Daniel yang tak sadarkan diri. Jason terlihat lelah, tapi seketika senyumnya terkembang usai melihat Yena dan Zaid di depannya.


"Kalian sudah bangkit? Selama ini berada di sini? Kenapa kalian tak menghubungi markas?" tanya Jason heran.


"Kami pernah melakukannya, dan yang datang bukan orang-orang jajaran 13 Demon Heads ataupun The Circle. Melainkan, orang-orang baru yang mengaku sebagai penyelamat, memakai topeng putih dan ketuanya bernama Hope," jawab Zaid serius.


"Kalian sudah bertemu dengan mereka? Lalu?" tanya Jason dengan mata melotot.


"Saat kami berdua terbangun, bukan berada di sini. Melainkan di toko milik Sandara di Paris. Beruntung aku dan Zaid bangkit bersamaan, tapi ... lebih seperti sengaja dibangunkan entah oleh siapa. Saat kami menyadari jika ternyata wabah monster belum usai, tentu saja kepanikan menjadi makanan utama sehari-hari. Kami lalu mencoba menghubungi semua markas dalam jajaran dan berhasil. Saat itu kalau tidak salah, markas di Black Stone Turki menjawab. Tentu saja kami senang. Kami diminta untuk tetap di butik dan salon milik Sandara sampai tim penjemput datang. Kami sudah bersiap," jawab Yena semangat.


"Black Stone Turki? Milik paman Eko ya?" tanya Jason memastikan. Yena dan Zaid mengangguk membenarkan.


"Hingga akhirnya kami melihat kedatangan orang-orang itu. Namun, kami baru sadar jika orang-orang itu tak dikenali oleh sistem keamanan toko ketika meminta topeng-topeng tersebut di buka. Dari sana kami baru sadar jika orang-orang itu adalah musuh. Aku dan Zaid langsung kabur melarikan diri dengan kendaraan milik mereka. Kami hampir terbunuh karena mereka tak segan menembak. Beruntung mobil yang kami curi memiliki persenjataan. Jadi, kami balas menyerang," jawab Yena panjang lebar menceritakan kisahnya bersama sang suami.


"Lalu?" tanya Jason hingga keningnya berkerut.


"Kami tahu jika tak bisa lolos. Namun, kami melihat peluang. Mobil curian itu kami tinggal karena khawatir dipasang pelacak dan semacamnya. Untung saja jarak menuju rumah Darwin tak begitu jauh. Kami berjalan kaki dan bersembunyi di bangunan sekitar hingga akhirnya tiba di sini. Karena insiden itu, kami setuju untuk tak menghubungi markas lagi dan menutup diri di tempat ini," imbuh Zaid yang membuat mulut Jason menganga lebar.


Jason diam sejenak terlihat serius memikirkan hal itu. "Lalu ... apa kesimpulan kalian dari insiden ini?" tanya Daniel tiba-tiba yang ternyata sudah sadar entah sejak kapan.


"Heh, dia menguping," kekeh Zaid, dan diangguki Yena dengan senyuman.


"Kami sempat mengamati beberapa sinyal ketika berada di toko milik Sandara. Saat kami mencoba untuk melakukan panggilan, ada sekitar lima markas yang aktif. Islandia di perusahaan Robicon Coorporation, Black Stone Turki, Laboratorium Australia milik Victor, Cuba kediaman Tobias, dan Indonesia kediaman Tuan Herlambang," ucap Yena yang membuat mata Daniel dan Jason terbelalak lebar seketika.


"Sungguh? Tempat-tempat itu aktif sebelumnya?" tanya Jason. Yena dan Zaid mengangguk pelan.


"Hanya saja setelah insiden itu kami menyimpulkan. Jika markas-markas tersebut sepertinya sudah dikuasai pihak musuh. Buktinya, ketika kami berhasil menghubungi Black Stone, bukan orang-orang kita yang datang, tapi orang lain. Selain itu, sistem tak mengenali mereka. Intinya, kita sudah dibobol," tegas Zaid yang membuat dua orang dalam jajaran Boleslav tersebut lemas seketika.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2