KING D

KING D
Meninggalkan Oasis*


__ADS_3


King D yang mendapatkan kabar jika Obama Otong dan Rohan dalam perjalanan menjemput, segera menyiapkan diri bersama anggota timnya.


Para anggota militer gabungan yang selama ini bertahan di Oasis, tampak ragu dengan keputusan mereka. Memilih pergi atau tinggal. Orang-orang itu tampak berdiskusi dengan serius.


Namun, Jason yakin jika King D dan komplotannya sungguh mengenalnya dan ingin ikut bersama mereka.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Aku tak mau berdebat. Tujuan kami kemari sudah tercapai. Kalian mau ikut atau tidak, itu bukan prioritas kami. Nyawa Hakim bahkan terenggut di sini. Aku tak mau menyalahkan kalian atas tragedi yang terjadi," tegas King D berdiri tegap menatap orang-orang militer itu.


"Kami ikut berduka atas meninggalnya orang kepercayaanmu, King D. Kami juga minta maaf jika salah menilai kalian. Namun, setelah kami berunding, bisakah kami ikut denganmu? Kami merasa, tak ada harapan dan perjuangan lagi di tanah ini," jawab wanita dengan rambut dikepang dan memiliki tato di lengan.


King D menatap orang-orang itu tajam. Irina yang sudah sadar, begitupula Fara memilih diam tak ikut berkomentar.


Gadis cantik puteri dari Tobias tersebut masih terlihat sedih saat mengetahui Hakim telah tiada. Chen duduk menemaninya dalam helikopter karena Fara tampak terpuruk.


"Baik. Kalian kuterima. Namun, peraturan dariku sangat tegas. Jika kalian dirasa membahayakan kelompok kami nantinya, kalian akan kami usir dari istana dan dikeluarkan dari benteng. Tak ada perlindungan lagi bagi kalian saat di luar sana," tegas King D.


"Kami terima," jawab lelaki yang memakai kacamata hitam.


Orang-orang militer tersebut lalu mempersiapkan keberangkatan di sore hari itu. Kawan-kawan King D ikut mengemasi perlengkapan yang dirasa perlu untuk menunjang hidup mereka selama penerbangan kembali ke Oman.


"Sudahlah, Fara. Hakim tahu konsekuensi dari tindakan yang dia ambil. Jangan menyalahkan diri," ucap Chen menatap Fara lekat yang masih meneteskan air mata.


"Ha-Hakim tewas karenaku, Chen. Dia datang kemari karena keegoisanku yang ingin melihat Oasis. Seandainya saja aku bisa menahan diri dan menuruti perkataannya sampai keadaan aman, pasti hal ini tak akan terjadi," jawabnya sesenggukan.


Chen memberanikan diri mengelus pundak Fara untuk menenangkannya, tapi gadis cantik itu malah memeluknya.


Chen bingung, tapi menyambutnya dengan mengelus kepala gadis itu lembut.


Tiba-tiba, "Aww!" rintihnya langsung melepaskan pelukan. Chen terkejut sampai matanya melebar. "Kepalaku sakit. Oh! Kenapa ... aku merasa bagian sebelah sini seperti pitak?" tanya Fara seraya meraba-raba kulit kepalanya dengan kening berkerut.


"Coba kulihat," sahut Chen yang dengan sigap melihat kepala Fara. Pemuda itu takut jika gadis manis itu memiliki luka yang lain. "Eh?"


"Kenapa? Pitak ya?" tanya Fara langsung melebarkan mata.


"Mm, entahlah. Hanya saja kulit kepalamu sedikit merah. Mungkin karena Marco mencabut bagian di sebelah sini terlalu banyak," jawab Chen polos seraya menyentuh bagian yang terkikis itu.


"MARCO!" teriak Fara dengan mata perak kembali bersinar.


"Wow! Wow! Wow! Fara, stop! Rambutmu bisa kembali tumbuh. Aku punya ramuan untuk menumbuhkan rambut dengan cepat! Jangan khawatir!" seru Chen panik dan langsung menghindar karena rambut Fara mulai meruncing.


"He? Benarkah? Bisa tumbuh lagi?" tanyanya dengan wajah lugu tak garang lagi.


"Ya. Kau masih muda, jadi bisa tumbuh dengan cepat dan subur. Rambutmu sangat lebat. Pitakmu tak terlihat karena tertutupi rambut yang lain. Aku tahu beberapa model rambut. Dulu aku sering membantu adikku menata rambutnya sebelum berangkat sekolah," jawab Chen yang membuat mata perak Fara memudar begitupula rambutnya mulai lemas.


"Baiklah," jawabnya riang.

__ADS_1


Chen tersenyum dan kembali mendekat dengan merangkak. Fara terlihat sudah lebih baik setelah meminum obat pereda nyeri.


Irina yang melihat kedekatan Fara dan Chen hanya tersenyum dari tempatnya berdiri. Chen terlihat penuh perhatian mengepang rambut adik King D.


Fara duduk manis dengan kaki diluruskan di atas kabin helikopter, sedang Chen duduk di belakangnya pada bangku.


"Rambutmu panjang dan lebat. Apakah kau ingin menjadi Rapunzel?" tanya Chen, tapi Fara malah terkekeh.


"Babaku akan pusing membayar orang-orang yang ditugaskan hanya untuk merawat rambutku nanti jika menjadi Rapunzel," jawabnya terlihat tertarik dengan omongan itu.


"Ceritakan padaku tentang babamu. Boleh? Aku hanya penasaran bagaimana kehidupan seorang sultan? Apakah orang tuamu benar-benar kaya?" tanya Chen antusias.


"Kaubisa melihat buktinya dari istana babaku di Oman," jawabnya, dan Chen mengangguk setuju.


"Kalau ibumu bagaimana?" tanya Chen seraya terus mengepang.


Fara menceritakan tentang kedua orang tua serta kehidupannya sebelum wabah monster melanda.


Chen terlihat tertarik dan mendengarkan dengan serius seraya mengepang rambut Fara di dalam helikopter King D.


Tak terasa, matahari mulai tenggelam. Warna jingga mulai menghiasi langit Saudi Arabia. Fabio dan Lucas berhasil memperbaiki baling-baling helikopter King D dibantu Ritz serta Edward.


Hanya saja, kendaraan terbang itu tak bisa melaju dengan kecepatan normal karena menggunakan bahan seadanya dari temuan mereka di sekitar Oasis, tapi sang pemilik kendaraan sudah sangat berterima kasih.


"Nanti akan kita maksimalkan di bengkel istana babaku. Setidaknya, kita bisa pergi dari sini," tegas King D dihadapan dua teknisi itu.


King D mengangguk paham. Saat orang-orang itu berkumpul di sekitar helikopter yang baru selesai diperbaiki, tiba-tiba ....


"Hei! Itu Obama!" teriak Polo yang berdiri di atas helikopter King D sebagai pengawas sebelum berganti jadwal dengan Marco.


Praktis, wajah semua orang berbinar seketika. Obama dengan sigap mendaratkan benda besi yang memiliki baling-baling besar itu di atas tanah dan mempersilakan para penumpangnya masuk ke dalam.


"Cepat! Masukkan barang-barang kalian ke dalam sana! Kita bersiap pergi!" seru King D.



Semua orang mengangguk paham. Orang-orang militer gabungan berlari dengan tas besar dalam gendongan menuju helikopter yang akan membawa mereka pergi dari tanah subur di tengah padang pasir, tapi tak ada harapan lagi di sana.


Rohan keluar dari helikopter dan berlari mendatangi King D. Putera dari Lysa Herlambang tersebut menyambut kedatangan adik dari mendiang Jamal tersebut dengan pelukan hangat.


"Senang kaubisa bergabung dengan kami, Tuan Rohan Khrisna," ucap King D seraya melepaskan pelukan.


"Ya, aku cukup terkejut dengan hal ini, tapi ... aku sudah bisa mengerti kondisinya. Seharusnya, aku bisa beradaptasi dengan cepat," tegasnya mantap.


"Tuan Rohan. Salam," sapa Irina seraya mendekat dengan dua tangan saling ditelengkupkan di depan dada.


"Oh! Kau ... Irina Tolya?" tanya Rohan tampak terkejut melihat sosok wanita berparas cantik itu.


"Ya. Aku juga ikut terbangun tak lama setelah King D," jawabnya dengan senyum manis.

__ADS_1


"Hem, aku mendengar banyak dari Otong selama perjalanan. Aku turut berduka atas kematian Hakim. Dia lelaki yang sangat baik. Aku yakin, Javier bisa memahami hal tersebut," ucap Rohan, dan King D mengangguk pelan.


"Paman Rohan!" panggil Fara yang terlihat riang seraya berjalan keluar dari helikopter dengan tatanan rambut barunya.


"Hei, Fara! Wow, rambut baru? Kau terlihat cantik dan riang," sahut Rohan dengan senyum terkembang.


Fara memeluk Rohan seolah mereka sudah sangat akrab, padahal tidak demikian. Rohan tampak canggung, tapi memakluminya.


"Maaf. Beberapa dari kami harus ikut dalam helikoptermu. Milikku sedikit tidak stabil dan mungkin akan tertinggal untuk sampai ke Oman," tegas King D.


Rohan mengangguk paham dan meminta semuanya segera bersiap untuk lepas landas. Namun, Obama dan Rohan menyempatkan untuk mengunjungi makam Hakim sebagai penghormatan terakhir.


"Terima kasih atas pengabdianmu pada keluarga Sultan selama ini, Hakim. Doa baik kami selalu untukmu. Selamat tinggal," ucap Rohan seraya memegang nisan yang dibuat dari batang kayu oleh King D.


Suasana haru dan duka menyelimuti hati semua orang. Namun, orang-orang itu sadar jika Hakim tak mungkin kembali.


Mereka segera bersiap meninggalkan Oasis sebelum kegelapan menyelimuti wilayah itu sepenuhnya.


Menjelang petang, dua helikopter lepas landas. Ritz, Edward, Irina, Chen, Fara, King D, Fabio dan Lucas ikut dalam helikopter King D. Sedang lainnya, ikut di helikopter yang diterbangkan Obama Otong.


Dua benda itu melintasi gurun untuk kembali ke Oman. Senjata tetap disiagakan mengingat drone yang pernah menyerang mereka berhasil kabur sebelum dilumpuhkan.


King D menatap adiknya lekat yang terlihat nyaman bersama Chen karena meletakkan kepalanya di paha lelaki Asia itu.


Sedang Chen, tampak gugup karena dipandangi tajam oleh pria dengan dua warna mata berbeda. Fara terlihat pulas saat tidur selama penerbangan.


"King D, a-aku ...."


"Tak apa. Jika keberadaanmu bisa membuat nyaman Fara, tak masalah buatku. Aku tak mau menjadi Kakak yang kolot," tegasnya.


Chen mengangguk pelan terlihat gugup. Namun, ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu.


"Masalahnya ... sebelum aku dan kawan-kawanku bertemu kalian, aku ... sudah memiliki kekasih. Dia anggota Red Skull dan kini bersama kelompok tuan Maksim serta Sakura. Aku berjanji padanya akan menemuinya lagi usai misi selesai dan menikahinya. Aku menganggap Fara seperti adikku. Jadi ...," jawabnya terlihat pucat.


"Ah, aku mengerti. Siapa namanya?" tanya King D tetap tenang.


"Amy."


"Jangan khawatir. Kami bisa menjelaskan hal ini pada Fara. Mungkin, dia hanya mengagumimu karena bisa melakukan banyak hal menyenangkan untuknya," sahut Irina, dan Chen terlihat lega karena ucapan Irina barusan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya😍 Lele padamu💋 Besok lagi ya😆

__ADS_1


__ADS_2