KING D

KING D
Krasnoyarsk, Rusia*


__ADS_3

Tim King D yang mengendarai helikopter bergegas menuju ke Kastil Krasnoyarsk kediaman Jason di Rusia.


Penerbangan kurang lebih hampir 5 jam itu sengaja digunakan tanpa melakukan aksi penyelamatan seperti sebelumnya.


Di mana kali ini, mereka sedikit terburu-buru karena menemukan manusia selamat dan harus segera diamankan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Mongol. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Oke, kalian ingat instruksi misi yang sudah kusampaikan tadi?" tegas Jason yang menutupi sosok setengah ikannya dengan menggunakan sepatu dan sarung tangan agar para manusia itu tak takut.


"Ya. Kami mengerti, Tuan Jason," jawab Sarnai sebagai pemimpin kelompok orang-orang Mongol itu.


Malam itu, helikopter King D sengaja tak mendarat di Kastil melainkan di wilayah yang masih masuk dalam kekuasaan Boleslav di pintu gerbang terjauh.


King D yang masih masa pemulihan dari lukanya, dituntut untuk tetap siaga bersama orang-orang yang ikut dengannya.


"Bagaimana, Sayang?" tanya lelaki dengan manik mata berwarna merah biru terlihat begitu terang di malam yang gelap karena tak ada cahaya lampu selain kabin di helikopter.


"Aku bisa merasakan keberadaan para monster, tapi mereka sedikit jauh dari sini," jawab Irina dengan mata terpejam saat ia berdiri di pintu helikopter yang terbuka.


"Ada monster?" tanya salah seorang anggota dari kelompok Mongol terlihat panik.


"Sudah kubilang, jangan khawatir. Kalian aman di sini. Oleh karena itu, biarkan mereka yang bertugas. Jangan ribut dan tetap siaga," tegas Jason, dan orang-orang itu mengangguk paham meski terlihat wajah tegang di rupa mereka.


King D melangkah turun diikuti Irina. Anggota Marco-Polo yang ikut dalam tim terlihat siaga dengan senapan laras panjang dalam genggaman.


King D menggunakan kemampuan berlari cepatnya menuju ke gerbang perbatasan memasuki kastil milik mendiang Boleslav tersebut.


"Otong. Kau mendengarku?" tanya lelaki tampan itu melalui sambungan radio.


Namun, tak ada jawaban. King D semakin yakin jika Pemancar Fatamorgana diaktifkan. Lelaki itu melihat sekitar dan mendapati sebuah pohon yang akan dia panjat.


Sayangnya, "Agh! Sial, sakit sekali," keluhnya karena luka di bahu membuat pergerakannya terbatas.


King D mencoba memutari bagian luar tembok kastil megah itu perlahan. Ia yang sudah mengetahui seluk-beluk kastil tersebut tampak berhati-hati seperti waspada akan sesuatu.


Benar saja, KLEK!


Mata King D melebar saat ia menginjak sebuah perangkap untuk mengaktifkan sistem persenjataan.


DODODODODOR!


"King D!" seru Irina langsung menoleh ke asal suara karena mendengar suara peluru ditembakkan dari senapan mesin.


Saat Irina akan berlari, dengan sigap, Jason memegang tangannya.


"Jangan gegabah. Ingat rencana kita," tegas Jason memegangi lengan keponakannya. Irina mengangguk meski terlihat cemas. "Edward!" seru Jason, dan lelaki itu dengan cekatan menerbangkan dua buah drone keluar dari helikopter.


Ritz ikut membantu dengan menerbangkan dua drone lainnya ke sisi lain yang sudah dipetakan oleh Jason selama penerbangan.


Saat benda terbang tersebut menuju ke arah King D, tiba-tiba saja mesin pada benda itu mati dan jatuh dengan keras tersangkut di pohon.


"Ada anti-drone! Dia menjatuhkannya!" seru Edward yang membuat Jason mengangguk cepat.


Lelaki itu dengan sigap mengeluarkan ponselnya. Ia seperti melakukan sesuatu seraya berjalan keluar dari helikopter.


"Semuanya. Ayo!" ajak Jason dan para lelaki perkasa itu mengangguk.


Irina ditinggal bersama orang-orang Mongol tersebut. Raden yang masih lemah hanya bisa berbaring di ranjang pasien dengan Obama yang tampak siaga di bangku kemudi.


Jason mengajak anggota tim Marco-Polo memasuki sebuah jalan lain. Bruno dan lainnya tampak siaga saat Jason melepaskan sarung tangan dan menempelkan kedua telapak tangannya ke sebuah papan pemindai yang tertutup oleh tumbuhan merambat.


"Meskipun tanganku sedikit berubah, seharusnya sidik jariku masih sama. Ayolah," ucapnya seraya mensejajarkan tubuh dengan papan pemindai. "Jason, Jordan, si kembar Boleslav," ucapnya dengan suara riang seperti orang bernyanyi seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Orang-orang saling melirik karena melihat sikap Jason seperti anak-anak. Namun, PIP! KLEK!


"Selamat datang, Jason Boleslav," ucap sistem keamanan dengan suara wanita.


Semua anggota tim Marco-Polo terkejut karena pintu besi itu terbuka. Mereka yakin, jika suara dengan gerakan kepala itu adalah kode untuk membuka pintu besi tersebut.


Saat Jason akan mendorongnya, tiba-tiba, "Paman!" teriak King D yang muncul dari balik hutan seraya berlari kencang.


Jason terkejut dan langsung menoleh. Namun ternyata, "Roarrr!"


"AAAA!" teriak Chen terkejut saat muncul beberapa ekor anjiing dengan mata merah menyala dari balik pintu besi dalam kastil. Praktis, suasana mencekam seketika.


Bruno dan Robin dengan sigap menembaki para anjiing yang terlihat beringas seperti sudah terkena dampak dari serum monster. Ditambah, luka pada King D membuat para hewan itu bernafsu untuk memangsanya.


Jason segera berlari menghindar dibantu oleh Chen karena ia hampir saja diterkam oleh seekor anjiing.


"King D! Senjata bius kita tak mempan memperlambat serangan mereka!" seru Hugo yang jatuh terlentang di atas tanah sedang menahan gigitan anjiing buas itu dengan senapannya.


King D yang diserang tampak kewalahan karena kuku tajam hewan-hewan itu berusaha mencabiknya.


"Argh!" erang King D saat melemparkan salah satu anjiing hingga terhantam dinding kastil. Tiba-tiba, "Harrghhh!"


"Oh!" kejut Fabio saat King D seperti berubah menjadi sosok lain seperti kala itu ketika marah.


Kuku-kukunya meruncing dengan warna mata berubah layaknya hewan predator. Semua orang bersiaga dan terus menembaki anjiing-anjiing yang menyerang mereka.


CRATT!!


"D-dia ...," ucap Jason sampai tergagap.


"Jason! Pintunya terbuka dan tak ada anjiing yang keluar dari sana!" seru Lucas saat ia berdiri di samping pintu.


Jason mengangguk dan segera berlari memasuki terowongan menuju ke dalam kastil diikuti oleh semua orang.


King D tak segan menggigit dan mencakar hewan-hewan berbulu yang kini mulai terlihat tak berdaya saat bertemu lawan terkuat mereka.


"Harg, hagg!" erang King D yang naluri manusianya telah tergantikan oleh hewan predator dalam dirinya.


Namun, usaha King D berhasil untuk membunuh para hewan yang terkena serum monster tersebut.


Saat King D sedang merangkak untuk melihat sekitar, "Ya Tuhan! King D!" seru Irina yang ternyata ikut menyusul bersama Sarnai.


"Hempf, hempf," engah King D dengan mata tersorot tajam ke arah wanita cantik itu.


Sarnai dengan sigap mengarahkan moncong senapan ke tubuh King D, tapi Irina menahan dan meminta agar disingkirkan. Nafas King D memburu dan terlihat seperti siap untuk menyerangnya.


"D, ini aku, Irina. Tenanglah," ucap Irina pelan seraya melangkah maju perlahan dengan dua tangan disodorkan ke depan.


Namun, lelaki yang berubah wujud itu seperti tak mengenali sang kekasih. Sarnai kembali mengarahkan moncong senapannya tampak begitu tegang.


Terlebih, saat melihat banyak anjiing-anjiing tewas dengan tubuh tercabik yang diyakini adalah ulah dari pria bernama King D.


"Sayang, aku ... AAA!" teriak Irina ketika King D melompat dan langsung menerkam wanita berambut panjang itu.


"Irina!" teriak Sarnai membidik tubuh King D yang kini berada di atas Irina.


Puteri dari Sia tersebut menahan amukan King D yang berusaha untuk menggigitnya. Terlihat, wanita cantik itu bersusah payah menahan serangan King D hingga tubuhnya memerah.


"Arrghhh!" erang Irina lantang dan membuat mata hijaunya menyala seketika.


King D tampak terkejut hingga bola matanya melebar. Irina langsung menangkap kepala sang kekasih dengan dua tangannya.


King D memegang tangan Irina kuat mencoba untuk dilepaskan, tapi Irina terlihat begitu fokus dengan yang dilakukannya.

__ADS_1


Sarnai terlihat kebingungan, tapi akhirnya ia sudah memutuskan. Sarnai membidik lengan King D untuk ditembak, tapi tiba-tiba, DOR! DOR!


"Hah?!" kejut Sarnai dan Irina saat terdengar suara tembakan dan King D roboh dengan tubuh lemas.


BRUKK!!


"Oh, D?" panggil Irina dengan warna mata hijau langsung memudar, dan kini digantikan dengan rasa cemas menyelimuti hatinya.


"Irina!" panggil Jason saat keluar dari pintu tempat ia masuk tadi bersama beberapa orang.


"Bibi Sakura? Paman Maksim?" panggil Irina terkejut saat melihat dua senior mafia keluar bersama Jason.


"Kau tak apa?" tanya Sakura langsung mendekat dan membantu Irina bangun.


"Ya, hanya ... luka sedikit," jawabnya karena lengannya sempat terkena cabikan kuku tajam King D.


Maksim segera mendekati King D yang jatuh tengkurap karena peluru bius yang ia tembakkan dan tepat mengenai dua bongkahan pantatnya.


"Lihatlah dia. Lebih mengerikan ketimbang monster," ucap Maksim sampai menelan ludah.


"Oh, tapi lihat. Kukunya kembali seperti semula berikut gigi dan juga matanya," sahut Chen saat melebarkan kelopak mata King D karena lelaki itu masih membuka matanya sedikit sebelum pingsan.


Sarnai yang bingung hanya bisa melihat orang-orang itu. Irina dan Sakura mendekati Sarnai dengan senyuman.


"Panggil Obama dan minta dia kemari. Semua sudah aman terkendali berkat bantuan Jason," ucap Sakura dan Sarnai mengangguk.


Sarnai ditemani oleh Bruno dan Robin kembali ke helikopter. Sedang sisanya terlihat berusaha keras untuk memindahkan King D.


Sayangnya, ucapan Obama benar adanya. Tubuh King D berat dan tak ada yang mampu membopongnya.


"Kenapa dia berat sekali seperti seekor gajah?!" pekik Maksim sampai wajahnya berkerut saat mencoba untuk mengangkat kepala King D.


"Hah, entahlah. Namun, jika dibiarkan berada di luar akan berbahaya," jawab Hugo dengan napas terengah.


Irina berjalan mendekati King D perlahan dengan mata terpejam. Semua orang menyingkir seperti memberikan jalan bagi wanita cantik itu. Saat Irina membuka mata, kilau hijau itu kembali menyala.


Wanita cantik itu dengan mudah mengangkat tubuh King D dan membopongnya. Maksim dan semua orang hanya bisa menganga ketika Irina terlihat sendu saat berjalan memasuki terowongan dengan King D dalam gendongannya.


"Kukira tersekap dalam kastil dengan para monster sudah hal paling buruk yang kuhadapi sejauh ini. Namun, melihat keanehan pada dua orang itu, sepertinya ada yang lebih mengerikan lagi," ungkap Maksim dengan wajah lugunya.


Jason tersenyum tipis, tapi mengajak orang-orang untuk segera masuk. Ia meminta kepada Lucas dan Fabio berjaga di pintu untuk menyambut orang-orang Mongol yang akan datang ke tempat tersebut.


Hugo, Chen, Edward, dan Ritz bergegas menyingkirkan bangkai para monster lalu menumpuknya, tapi Maksim malah mendatangi para anjiing itu seraya memegang sebuah belati dengan sarung sudah membungkus dua tangannya.


CRATT!


"Wow! Apa yang kaulakukan, Paman?!" pekik Chen langsung melangkah mundur saat ia hampir saja terkena darah monster.


"Bukankah kalian sudah tahu jika darah monster sangat ampuh untuk membuat kita terkamuflase? Kalian kira, aku dan Sakura bisa bertahan dalam kastil dengan banyak monster di dalam karena apa? Itu karena ideku untuk melumuri tubuh kami dengan darah mereka," jawab Maksim santai yang sudah menyiapkan sebuah ember untuk menampung darah bangkai hewan tersebut.


"Ka-kau menyembelihnya," ujar Edward seraya menelan ludah saat Maksim dengan santai sambil bersiul menggorok leher salah seekor anjiing yang sudah terjangkit wabah monster.


"Pergi sana. Kalian menganggu," protes Maksim, dan semua lelaki itu memilih menyingkir karena enggan berdebat.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya diriku. lele padamu😆 jangan lupa vote vocernya keburu angus, vote poin, like dan juga rate bintang 5 bagi yang belom. tengkiyuw❤️


__ADS_2