
Semua orang tampak panik karena Hugo menunjukkan gejala lain dalam dirinya. Semua orang melangkah mundur, bahkan Cathy langsung ditarik oleh Souta karena menganggap Hugo sebagai ancaman.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris, Mongol, dan Rusia. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Pergi dari sini!" seru Jason lantang.
Seketika, "AAAA!" semua orang berlari begitu saja meninggalkan ruangan tempat orang-orang yang sedang terluka.
Para wanita Red Skull dan orang-orang yang tak mengalami cidera parah bergegas menuju helikopter untuk evakuasi termasuk tiga lelaki Mongol.
Cathy dibawa pergi oleh Souta untuk mengamankan orang-orang yang sehat agar tak terluka seperti yang lainnya.
Sedang Polo, Jason, Marco, dan Fara tetap berada di tempat tersebut karena Otong, King D serta Irina belum sadarkan diri.
"Bawa mereka ke Kastil Borka sekarang!" seru Souta dan diangguki para wanita Red Skull.
Para pengungsi dari Mongol dan Rusia segera masuk ke helikopter yang digunakan oleh para wanita Red Skull.
Benda terbang itu berhasil lepas landas dan segera pergi meninggalkan kastil Boleslav di Krasnoyarsk.
Sedang anggota tim Marco-Polo yang tetap ingin bertahan dibantu oleh Sarnai, Sakura, Daniel, Arthur, Souta dan Maksim, bersembunyi di balik puing-puing dengan senjata bius, siap untuk melumpuhkan Hugo jika menjadi agresif seperti King D.
"Hempf! Hempf!" dengkus Hugo dengan tubuh menegang terlihat jelas dari otot-ototnya yang mengeras seperti berusaha melawan sesuatu dalam tubuhnya.
Tiba-tiba saja, "Harghh!"
"Oh my God!" pekik Sakura langsung melotot ketika melihat Hugo begitu lincah bagaikan monyet karena langsung melompat dari posisi tengkurap.
Hugo melompat cukup tinggi dan kini tangannya bergelantungan di lampu hias ruangan yang masih kokoh.
Bidikan semua senapan langsung terarah padanya. Mata Hugo menjadi seperti Polo berwarna biru terang, dan hal itu mengejutkan semua orang.
"Hugo!" panggil Polo yang memilih untuk tak bersembunyi dan tetap menunjukkan diri meski senapan bius siap dalam genggaman.
Mata Hugo langsung terfokus pada Polo yang menatapnya tajam. Keduanya saling berpandangan seperti berbicara dalam diam. Tiba-tiba, BRUKK!!
"Oh! Lihat tubuhnya! Dia menjadi besar seperti gorila!" pekik Maksim sampai matanya melotot karena melihat otot tubuh Hugo perlahan membesar membentuk gumpalan keras layaknya binaragawan.
"Hugo. Ini aku, Polo. Kami semua temanmu. Tenanglah, kita kemari karena ingin menyelamatkan manusia, bukan untuk menyakiti mereka. Kau harus, percaya, padaku," tegas Polo tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Tubuh Hugo mendadak menjadi lebih tinggi karena Polo sampai mendongak saat lelaki itu berjalan dengan gagah mendekatinya.
Tiba-tiba, "Polo!" teriak Marco lantang saat Hugo tiba-tiba saja melingkarkan kedua tangan besarnya ke tubuh Polo hingga lelaki itu hampir tak terlihat karena dipeluk. Namun, hal aneh terjadi.
"Oh, aku merasa jantungku seperti akan meledak, Polo. Napasku tercekat dan ... tubuhku serasa keras bagaikan batu. Apakah ... apakah aku akan mati?" tanya Hugo yang suaranya mendadak menjadi besar layaknya raksasa.
Semua orang terdiam. Orang-orang itu terlihat bingung karena Hugo seperti tak berbahaya meski tubuhnya menjadi besar.
Saat Polo mencoba membebaskan diri dari pelukan kuat Hugo, lagi-lagi, TUK!!
"HARGGGH!" raung Hugo ketika sebuah suntikan bius yang ditembakkan oleh Maksim ternyata tak bisa menembus kulitnya.
Hugo meraung yang suaranya bagaikan seekor monster mengamuk. Siapa sangka, suaranya yang besar membuat debu-debu dan puing-puing kecil berjatuhan dari bangunan yang rapuh akibat ledakan.
"Ma-maaf, Hugo," ucap Maksim sampai tergagap. Pria gemuk itu langsung melemparkan senapan bius lalu mengangkat kedua tangan.
Jantung semua orang berdebar kencang karena perubahan baru dalam diri Hugo. Namun, mereka merasa jika Hugo bukan ancaman mengingat dirinya masih bisa mengendalikan diri dan tak kehilangan akal manusianya.
"Jangan membuatku marah, Paman! Suasana hatiku sedang kacau!" seru Hugo dengan suara menggelegar.
"O-oke," jawab Maksim mengangguk dengan wajah pucat karena takut.
Polo mendekati Hugo perlahan lalu menyentuh tangannya yang menjadi berukuran dua kali lipat darinya. Polo bisa merasakan jika tangan dan kulit Hugo keras seperti sebuah perisai.
"Apa aku menjadi seperti monster?" tanya Hugo terlihat sedih.
__ADS_1
"Tidak. Kau ... masih berwujud manusia. Hanya saja ...," jawab Polo terlihat bingung mengutarakan. Hugo menatap wajah kawannya lekat seperti menunggu kelanjutan penjelasannya. "Kau ... menjadi besar seperti raksasa. Dan aku, seperti manusia kerdil," jawab Polo jujur.
Tiba-tiba, "Huhuhu ... Cathy pasti akan mencampakkanku setelah melihat perubahanku ini, Polo. Aku pasti menjadi jelek dan menyeramkan," ucap Hugo malah menangis dan langsung duduk di lantai begitu saja, tapi membuat tanah bergetar.
Semua orang saling melirik dalam diam karena tak menyangka jika Hugo akan menangis.
"Ah, itu tidak benar. Kau masih tampan, keren dan bergaya," sahut Maksim menenangkan meski wajahnya tegang, tapi Hugo tetap menangis.
Semua orang menjadi iba, tapi Fara malah merasa aneh hingga keningnya berkerut.
"Perasaanku saja atau ... dia menjadi sedikit sentimentil?" tanya Fara bertolak pinggang.
"Jangan meledekku, Gadis bertaring!" seru Hugo marah, tapi masih meneteskan air mata.
Fara memicingkan mata, tapi tak terlihat tersinggung akan hal itu. Jason meminta kepada semua orang yang bersembunyi di balik puing untuk kembali berkumpul usai meyakini jika Hugo bukan ancaman.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Tak hanya kau saja yang mengalami perubahan, tapi hampir kami semua. Lihatlah sisi positifnya. Kau ... mm, menjadi besar, kuat, bahkan anti peluru! Itu hebat!" sahut Marco seraya menepuk lengan kawannya yang berotot dan terasa keras.
Perubahan pada tubuh Hugo membuat semua orang malah sibuk mengamatinya. Maksim yang masih penasaran malah dengan sengaja menusuk ujung belati ke kulit Hugo, tapi lelaki yang sedang sedih itu seperti tak terusik dengan gangguan di sekitarnya.
"Kulitnya tebal seperti lapisan jaket anti peluru," bisik Daniel saat menekan-nekan lengan Hugo.
Saat semua orang sedang berusaha untuk menenangkan hati Hugo yang bersedih, lagi-lagi, "Huwaaa! Ada Hulk, tapi ... kaya Hugo?" teriak Obama yang sudah sadar dari pingsan, tapi terkejut karena mendapati sosok besar di depannya.
"Ih, bang Otong! Diem!" bentak Fara.
Obama langsung diam meski matanya berkedip berulang kali. Souta bergegas mendatangi Obama diikuti oleh Jason karena ingin memeriksa kesehatannya usai tersadar.
"Weladalah! Kastilnya simbah Mandy hancur! Pasti si biang kerok Hop-hop ini. Kurang asem bener itu muka plastik!" pekiknya geram seraya melihat sekitar saat tubuhnya dipindai oleh Jason.
"Syukurlah, dia tak apa," jawab Jason bernapas lega, begitupula yang lain.
"Hanya saja ... i-itu," sahut Souta menunjuk pelipis Obama yang ternyata sedang dijahit karena robek, tapi belum selesai sehingga jarum itu masih tergantung di sana.
"He? Apaan?" tanya Obama terlihat bingung, tapi akhirnya menyadari jika ada benda tergantung di samping kepalanya.
KRETTT!
"Huwaaa! Sakit! Ini apaan, Cukkk!" pekiknya langsung meraung kesakitan.
Souta dan Jason kebingungan, tapi dengan sigap, CLEB!
"Wadaw!" pekik Obama saat lehernya tertusuk jarum dari samping, tapi tak lama, BRUKK!!
"Berisik banget!" ujar Fara sebal, tapi berhasil melesatkan tembakan bius ke leher Obama hingga lelaki gundul itu pingsan lagi. "Udah diem tuh manusianya. Lanjutin jahitnya sebelum bang Otong bangun lagi," ucapnya santai lalu melangkah dengan gusar mendekati Hugo.
Souta mengangguk dan segera melanjutkan proses menjahit pada luka robek di kepala samping Obama Otong. Sedang Irina dan King D masih tak sadarkan diri.
"Bangunan di ruang bawah tanah masih utuh. Sebaiknya kita mengamankan diri di sana. Beruntung, Raden baik-baik saja," ajak Sarnai, dan semua orang mengangguk setuju.
"Raden? Raden putera Satria dan Tika? Dia juga di sini?" tanya Daniel sampai melotot.
"Akan kujelaskan nanti, Tuan," sahut Souta, dan semua orang yang baru tahu hal itu mengangguk pelan.
Barang-barang diamankan dan dibawa ke ruang bawah tanah di mana terdapat ruang medis, pusat kendali, barak tempat tidur para penjaga kastil yang dulunya di tempati oleh para Black Suit dan The Shadow, serta gudang penyimpanan.
Hugo yang tidak bisa memasuki pintu ruang bawah tanah karena tubuhnya yang besar, terpaksa tetap berada di ruang tengah kastil itu ditemani oleh anggota timnya yang tak mengalami cidera parah.
"Kau akan baik-baik saja," ucap Ritz menenangkan, dan Hugo hanya bisa mengangguk pelan.
Di ruang medis. Ruang bawah tanah kastil Boleslav. Krasnoyarsk, Rusia. Sore harinya.
"Bagaimana keadaan Irina dan King D?" tanya Sakura cemas.
"Mereka baik-baik saja tak mengalami luka serius pada organ dalam. Sepertinya, hanya butuh waktu untuk istirahat lebih lama mengingat mereka memiliki kemampuan tak lazim bukan manusia biasa lagi," jawab Jason usai melihat hasil pemeriksaan pada tabung buatan Elios Farmasi di mana tubuh King D dan Irina dibaringkan.
__ADS_1
"Baiklah, biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu," sahut Daniel, dan diangguki semua orang.
"Namun, Otong mengatakan jika Dominic tewas dan Hope mencuri persenjataan Vesper. Orang itu benar-benar keterlaluan," geram Arthur.
"Bener itu. Makanya, pas Otong sama bos D mau ke kastil Borka, eh ndilalahnya malah kena jebakan bom si kamprett Hop itu. Otong gak tau yang dicolong sama Hop apa aja. Ini gaswat, pakde dan bude-bude sekalian," jawabnya yang akhirnya sadar usai Souta selesai menjahit luka di kepala pria gundul itu.
Semua orang mengangguk paham. Jason mengajak Arthur ke pusat kendali untuk mencoba menghubungi anggota Red Skull yang sedang dalam perjalanan menuju kastil Borka di Kaliningrad.
Namun, kening Fara berkerut saat melihat Maksim dan Sakura seperti tak menua.
"Kok kalian masih keliatan kaya muda sih?" tanya Fara tiba-tiba.
"Mereka berdua curang," sahut Obama seraya mengelus kepalanya yang kini memiliki luka.
"Ha? Curang bagaimana?" tanya Fara terlihat bingung, tapi ucapannya membuat semua orang ikut penasaran.
"Itu karena, paman Maksim ditidurkan selama tiga kali. Dia melakukan uji coba terhadap tabung generasi pertama buatan tuan Kai, lalu generasi kedua buatan profesor Jeremy, dan tabung generasi ketiga buatan Sandara sampai akhirnya ia memutuskan menggunakan tabung generasi kedua karena harganya lebih murah," jawab Souta yang membuat mulut semua orang menganga.
Maksim terkekeh terlihat bangga akan hal itu. "Aku tak mau salah pilih, jadi kucoba saja semua. Memang kenapa? Aku kan pelanggan yang harus tahu kinerja dari produk yang kubeli. Selain itu, harganya mahal," ucap Maksim membela diri.
"Gak mau rugi banget. Sengaja biar awet muda," timpal Fara, tapi Maksim malah menguap seperti masa bodoh. "Kalau bibi Sakura?" tanya Fara masih penasaran.
"Aku memang ditidurkan cukup lama atas permintaan tuan Han bersama dengan puteriku. Hanya saja, aku tak tahu jika ternyata Alex tak ditidurkan bersama dengan kami usai aku mengetahui hal tersebut dari Maksim selama perjalanan menuju Rusia," jawab Sakura yang membuat semua orang mengangguk pelan.
"Oh! Reina! Reina sudah terbangun! Dia berada di Jumbo Island!" pekik Fara yang mengejutkan ibu dari gadis cantik itu.
"Apa? Puteriku sudah bangun dan berada di Jumbo Island? Bagaimana bisa?" tanyanya memekik, tapi Fara menggeleng.
"Seharusnya, kami pergi ke Jumbo Island karena Yusuke mengabarkan jika pasukan Hope menyerang Giamoco Island. Jason mengatakan jika tabung-tabung yang berada di kastil ini dipindahkan ke sana. Namun, Yusuke berhasil meloloskan diri mengingat mereka kalah jumlah dan persenjataan untuk melawan pasukan Hope. Mereka akhirnya mengungsi di Jumbo Island dan bertemu Reina di sana. Sayangnya, kami tak bisa menghubungi tim Yusuke. Kita harus bergegas ke pulau itu, Nyonya," sahut Souta dan diangguki Sakura.
Praktis, wajah semua orang tegang seketika.
"Begini saja. Kita tunggu King D dan Irina sadar lalu pergi ke Jumbo Island. Sayangnya, banyak orang yang terluka dan kurasa mereka akan menjadi beban jika ikut dengan kita. Maaf jika ucapanku sedikit kasar, tapi aku bicara fakta," tegas Daniel, dan semua orang mengangguk paham.
"Oh, aku punya ide. Bagaimana jika orang-orang yang masih sanggup bertempur pergi ke Jumbo Island? Sisanya, bertahan di kastil ini seraya ... yah, memperbaiki bangunan yang rusak. Untung saja tuan Antony sudah tiada. Jika ia masih hidup, pasti dia akan mengamuk karena rumahnya hancur," ucap Maksim membayangkan kengerian dari mendiang bosnya dulu.
Orang-orang yang mengenal sosok Antony Boleslav tersenyum tipis. Namun, usulan Maksim mendapat sambutan baik semua orang di ruangan medis tersebut.
"Okeh. Otong akan siapkan perlengkapan dan perbekalan," jawab lelaki botak itu lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan meski berjalan pincang karena kakinya mengalami keselo akibat tertindih puing.
Souta ikut membantu ditemani oleh Fara. Sedang lainnya, masih berkumpul di ruang medis.
"Aku akan bicara pada anggota tim Marco-Polo," ucap Maksim, dan diangguki Sakura serta Daniel.
Hari itu, kastil Boleslav di Krasnoyarsk terlihat sibuk meski bangunan megah dan mewah itu telah hancur sebagian akibat ledakan Tempurung ulah dari Hope.
Namun, semangat mereka untuk menyelesaikan konflik tak memudar, malah semakin menguat.
Ditambah, banyak manusia yang berhasil diselamatkan. Hal itu membuat harapan terasa nyata untuk mengembalikan populasi manusia dari kepunahan.
"Hei! Kami berhasil menghubungi helikopter Red Skull dan juga pusat komando di Kastil Borka!" seru Jason yang membuat ruangan tengah kastil menjadi ramai seketika karena semua orang berkumpul di sana.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Sarnai serius yang menjadi juru masak kelompok tersebut.
"Anak-anak yang ikut dalam kelompok Sakura-Maksim dari Seward, bersembunyi selama pasukan Hope menyisir sekitar dan mencuri barang-barang. Mereka mengatakan jika kastil Borka aman karena orang-orang Hope sudah pergi. Gadis bernama Mitha menjawab panggilanku. Malah katanya, mayat Dominic sudah dikuburkan olehnya dan teman-temannya. Gadis itu cukup tangguh," jawab Marco yang ikut ke pusat kendali bersama Polo untuk memastikan keselamatan orang-orang itu.
"Hah, syukurlah," ucap Sakura tampak bangga dan lega kepada kumpulan anak-anak yang pernah diselamatkannya saat di mansion Han, Boston.
"Baiklah. Kabar baik berpihak pada kita. Bersiap, dan kita akan pergi ke Jumbo Island esok hari," tegas Daniel dan diangguki semua orang di mana mereka akan dibagi menjadi dua tim.
Anggota tim Marco-Polo dan Sarnai akan menjaga kastil Boleslav termasuk Hugo berikut Raden karena kondisi fisiknya yang lemah.
Sedang tim King D yang berisi para mafia senior dan orang-orang dalam jajaran termasuk Marco dan Polo, akan terbang ke Jumbo Island.
***
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya diriku. Kwkwkw lele padamu❤️