KING D

KING D
Era Evolusi*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Kematian William menjadi pukulan berat bagi semua orang yang mengenalnya. Sia tak bisa menutupi kesedihannya dan menangis terisak sembari memeluk tubuh sang kekasih. Nicolas merasa bersalah karena sistem persenjataan otomatis tak mengenali William. Ia juga heran, bagaimana bisa database tak menyimpan nama orang-orang itu. Saat semua orang dirundung duka, Junior tiba-tiba menarik ujung bawah dari jas anti peluru King D. Sontak, pria itu menatap Junior saksama.


"Hoh, hoh," ujar Junior yang membuat kening King D berkerut.


"Katakan saja. Aku tak mengerti apa yang ingin kau ucapkan, Junior," pintanya.


Akan tetapi, Junior menggeleng. Ia memegang kalung translator di lehernya. King D berjongkok untuk memeriksanya. Ternyata, benda itu rusak, tapi seperti disengaja. King D berasumsi jika itu ulah dari Sengkuni yang saat itu pernah menculiknya juga. Junior melakukan bahasa isyarat, dan tiba-tiba, Jubaedah mendekat.


"Juby bisa bahasa itu. Juby bisa terjemahin," ucapnya.


"Bagus," sahut King D mantap.


Sia yang mendengar percakapan orang-orang itu berusaha menahan isak tangis. Semua orang kini menatap Junior, King D dan Jubaedah saksama.


"Oh! Junior bilang, saat ia diminta sama Gusti untuk meretas sistem GIGA, ada beberapa daftar mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang sengaja dihapus sama saudaranya itu. Salah satunya William," ucap Jubaedah yang membuat mata semua orang melebar.


"What! Kejam sekali. Dia menjadikan ayahku sebagai Hope dan malah membuatnya target! Tak bisa dimaafkan!" teriak Romeo garang dengan air mata sudah membanjiri wajah.


"Hoh, hoh!"


"Oh, katanya namamu juga!" imbuh Jubaedah yang membuat napas Romeo memburu.


"Arghh! Sengkuni!" teriaknya marah yang membuat wujud manusia setengah ikannya tampak mengerikan.


Orang-orang melangkah mundur termasuk Junior seperti ketakutan.


"Untung saja saat kau menjadi Merman, kau tak berwujud seperti itu, Timo," bisik Bara, dan diangguki oleh putra Jeremy tersebut dengan wajah tegang.


"Tenangkan dirimu, Romeo. Sengkuni sudah mati. Aku bisa pastikan itu. Aku juga sangat menyesal dan sedih karena petaka ini berimbas pada Tuan William, calon mertuaku. Bagaimanapun, aku tetap merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersamanya meski hanya sebentar. Kita semua tahu jika Tuan William orang yang baik, hanya saja ... ia selalu bertemu dengan orang-orang jahat yang memanfaatkannya. Namun, kini Tuan William sudah tenang. Tak ada lagi yang akan menjadikannya musuh dalam selimut. Dia seorang pejuang dan siap mati dalam keadaan apa pun," ujar King D yang membuat Sia mengangguk membenarkan meski air matanya menetes.

__ADS_1


"Ya, dia sangat kuat. Dia seorang agen yang hebat. William bisa bertahan selama ini karena sangat mencintai keluarganya. Ia rela ingatannya dihapus demi Sia. Pengorbananmu untuk semua umat manusia akan dikenang, Tolya," ucap Buffalo ikut bersedih.


"Terima kasih," ucap Sia yang terlihat mulai bisa menerima kepergian sang kekasih hati untuk selamanya.


Teringat jelas kenangan orang-orang itu yang mengenal sosok William. Seorang agen CIA yang awalnya ditugaskan untuk menyelidiki dan menangkap seorang mafia dengan julukan 'Scorpion' yang tak lain adalah Julius Adam, ayah Sia. Namun, penyelidikannya meluas hingga harus menentukan pilihan sulit antara bergabung dengan mafia 13 Demon Heads incaran CIA dan seluruh militer dunia, atau tetap mengabdi pada agensinya. Dengan segala pengorbanan yang merenggut banyak nyawa, Sia menjadi pelabuhan terakhir meski harus merelakan diri dan melupakan semua hal termasuk cintanya.


"Aku akan memakamkan Tuan William dengan layak, Nyonya Sia. Aku rasa, jasad Tuan William dikebumikan saja. Jika diawetkan dalam tabung, aku khawatir jika Anda dan keluarga akan sedih karena ... maaf, tubuhnya telah rusak," ujar Nicolas.


"Ya, aku paham hal itu. Terima kasih," jawab Sia dengan senyum kaku.


Irina memeluk sang ibu dan keduanya kembali meneteskan air mata. Romeo menenggelamkan wajahnya ke dada sang ayah dengan tangisan yang sama. Semua orang terdiam dan hal itu membuat suasana duka makin terasa. Di sisi lain, meninggalnya William, membuat semua orang yang terhubung dengan ponsel satelit kiriman King D ikut bersedih. King D menginformasikan kejadian yang menimpa timnya. Banyaknya anggota dalam jajaran 13 Demon Heads yang kehilangan nyawa, membuat semua orang berduka.


"Kami paham kondisi kalian di sana. Kami semua sudah berkumpul di La Palma untuk pembasmian terakhir. Segeralah kemari dan bawa muatan limbah baru untuk dimusnahkan. Pembersihan tahap kedua sedang dilakukan oleh seluruh tim yang ditugaskan," jawab Venelope.


"Aku mengerti," jawab King D lalu memutus panggilan di mana Venelope meneruskan pesan itu ke seluruh jajaran melalui Q.


Jordan yang mengetahui hal tersebut diam. Dulu, ia pernah mengutuk William karena pria itu penyebab kematian sang ayah. Namun, lambat laut dendam itu memudar. Ia kini menjadi seorang ayah dan bisa merasakan apa yang dipikirkan ayahnya kala itu. Melihat William melindungi Junior, membuat pria itu menaruh hutang budi padanya.


DUK!


"Oh!" kejutnya saat melihat sang isteri membuka mata dengan tubuh terapung dalam tabung.


Sandara menggeleng dan mengulurkan tangan ke arah dinding kaca. Jordan tersenyum karena tak menyangka jika sang istri sepertinya mengalami pemulihan lebih cepat dari sebelumnya. Jordan mendekat dan meletakkan telapak tangan di mana jari-jari sang istri menempel di balik kaca.


"Aku tahu!" pekiknya lalu pergi dengan tergesa meninggalkan tabung.


Sandara diam dengan wajah sayu di mana kondisinya masih lemah dan masih dalam proses pengobatan.


Di sisi lain. Jordan dengan sigap memasuki ruangan khusus di mana terdapat lemari pendingin berisi beberapa ampul di sana. Jordan mengambil dua buah ampul dan melakukan ekstraksi seperti ingin mengimplementasikan cairan tersebut. Pria itu tampak berhati-hati saat melihat hasil campurannya berhasil dan siap disuntikkan. Ia menggunakan penjepit untuk memindahkan dua tabung itu yang selanjutnya siap digunakan.


__ADS_1


Sandara memejamkan mata dengan wajah pucat. Jordan mendekati wadah khusus yang tersambung ke tabung oksigen sebagai suplai untuk pernapasan Sandara. Ia mematikan salah satu keran lalu membuka wadah itu. Ia menuangkan cairan tersebut yang nantinya akan mengubah menjadi gas dan bisa dihirup.


Jordan kembali memutar keran setelah dirasa apa yang ia percayai akan menolong sang istri. Perlahan, muncul gas warna biru keunguan di dalam masker tembus pandang yang memerangkap wajah Sandara. Mata Jordan melebar saat tubuh Sandara seperti tersentak karena reaksi dari serum tersebut. Wajahnya serius seketika.


"Kau membutuhkannya, Sayang. Bukankah ... kau selalu membayangkan bisa memiliki kekuatan Mitologi seperti para Demon Kids dalam kisah mereka?" ujar Jordan yang membuat Sandara melebarkan mata, tapi tak bisa melakukan apa pun.


Jordan berdiri dan mengamati perubahan dari efek serum Mitologi tersebut kepada tubuh sang istri. Lama proses adaptasi itu menunjukkan hasilnya hampir seharian penuh, tapi tampak berbuah manis. Senyum Jordan terkembang ketika tubuh Sandara tak lagi tersentak. Lukanya seperti menutup dengan sendirinya meski sangat lama bagaikan waktu berjalan lambat, tapi pasti.


Kulitnya yang keriput mulai mengencang layaknya wanita muda. Seketika, mata Sandara terbuka. Bola matanya tampak berbinar. Pandangannya terfokus pada sang suami yang berdiri tegap di depan tabung seraya mengulurkan tangan. Sandara tersenyum di balik masker.


Di tempat King D berada. Keesokan harinya.


Jasad William dimakamkan di halaman belakang gedung di mana seharusnya tempat tersebut digunakan sebagai taman, tapi berubah fungsi menjadi tempat mantan agen itu dikuburkan. Nama William terukir pada nisan sebagai pahlawan pembasmi wabah monster di dunia. Nicolas berharap, semua orang yang nantinya akan berkunjung ke gedungnya itu tahu, jika William salah satu orang yang harus dihargai perjuangannya.


"Maaf, Nyonya Sia. Apakah ... Anda akan tetap di sini atau ikut dengan kami ke La Palma?" tanya King D sopan.


"Aku akan ikut meneruskan perjuangan suamiku. Aku tak mau lagi berpisah dengan keluargaku. Aku ikut," jawab Sia mantap dan mendapat sambutan pelukan hangat dari Irina serta Romeo.


King D mengangguk siap berikut Junior. Sedang para Demon Kids, tetap fokus pada misi mereka untuk mengembalikan perekonomian dunia dan juga tatanannya dalam pemerintahan baru.


"Dunia tak lagi sama. Kita sudah melihat dampak mengerikan skala internasional. Selanjutnya, kita akan hidup dalam era baru. Era Evolusi," ucapnya mantap.


"Wow, era evolusi. Apakah karena perubahan bentuk dan kemampuan dalam diri kita, termasuk para monster yang bermutasi? Bukankah Bibi Sandara memiliki penawarnya dan bisa mengubah kita menjadi manusia normal lagi?" tanya Romeo menyipitkan mata.


"Ya, itu benar. Kitalah para pejuang Evolusi," tegasnya yang membuat semua orang tampak bangga dengan dagu terangkat.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


duh maapkan ya jadwal update king D jadi molor apalagi semenjak lele jadi Edican (Editor Cantik) kwkwkw makin semrawut deh. lele udah mengeluarkan jurus biar bisa mengatasi semua, tapi ya begitulah. selamat akhir pekan LAP. lele padamuđź’‹


__ADS_2