KING D

KING D
Disembunyikan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Tentu saja, gerakan yang terkesan sebagai aksi penentangan itu membuat mata semua orang melotot seketika. King D tetap berdiri tegak dengan sorot mata tajam menatap pejabat yang menolak keputusannya.


"Harg!" raung pria itu siap memukul King D dengan botol kaca dalam genggaman. Namun, CRETT!!


"Arg!"


BRUKK!


King D tertegun saat melihat sang Wakil Presiden menggunakan pistol setrum ke arah pejabat itu. Dengan sigap, Match menangkap tubuh lelaki yang mengejang di lantai karena tersengat lalu membawanya pergi untuk diamankan.


"Maaf, aku tahu jika senjata tajam dan api dilarang. Oleh karena itu, aku masih menyimpan senjata ini," jawabnya tenang.


"Terima kasih, Wakil Presiden," jawab King D dengan anggukan.


"Pikiran dan hati orang itu teracuni, Tuan Presiden. Dia bisa membahayakan di kemudian hari," ujar pejabat asal Vietnam.


"Tenang saja. Kita akan tahu saat menginterogasinya dengan gas halusinasi sesuai prosedur. Setelah kita tahu niatan buruknya, penghapusan memori terpaksa dilakukan. Itu sudah tertuang dalam undang-undang," jawab King D tenang.


"Kami mengerti. Segera dilaksanakan," ucap tim dari orang-orang gabungan kubu mafia dan pemerintah.


Orang-orang itu pergi meninggalkan ruangan tempat inkubasi dilakukan untuk mengurus seorang pejabat yang dirasa akan membuat kedamaian rusak jika pemikiran buruknya tetap melekat.


"D," panggil Sia sedih.


"Jangan khawatir, Irina wanita yang kuat. Dia akan baik-baik saja termasuk Bibi Sakura," jawabnya meyakinkan.


Romeo dan tim dari gabungan mafia, pemerintah serta sipil, bergerak untuk melakukan pencarian. King D tetap berada di Black Castle di mana tempat itu dijadikan pusat pemerintahan dan kediaman Presiden berikut orang-orang dalam jajaran. King D yang tak bisa melihat Sia cemas karena mengkhawatirkan kondisi anak perempuannya, terpaksa membocorkan hal itu pada mertua.

__ADS_1


"Apa? Irina masih hidup?"


"Sssttt ... maaf, tapi jangan katakan hal ini pada siapa pun. Kami sengaja melakukannya karena khawatir orang-orang tak bisa menerima perbedaan dari Irina. Anda paham dengan maksud saya?" tanya King D saat mengajak Sia mengobrol di kamar.


"Ya, ya, aku paham. Lalu ... di mana Irina sekarang?" tanya Sia cemas.


King D menjawabnya dengan senyuman. "Besok, Paman Jordan akan mengajak Anda keluar dari Black Castle. Anda sudah cukup membantu, Mom. Sebaiknya, Anda fokus pada kehamilan Irina. Maaf, aku tak bisa mendampingi meskipun Irina paham konsekuensi itu," ucap King D terlihat sedih.


Sia mengangguk paham seraya menepuk pundak menantunya. Hatinya lega karena ternyata Irina baik-baik saja. Tim pencari dan penyelamat memberikan kabar jika Sakura ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di tepi laut, tapi tidak dengan Irina. Tim menyimpulkan jika tubuh Sakura terbawa arus sampai ke pantai. Romeo terlihat sedih dan panik. King D akhirnya meminta kepada Romeo dan orang-orang yang seharusnya diinkubasi untuk kembali ke Black Castle karena sudah tiga hari melakukan pencarian.


"Aku belum menemukan Irina! Aku tak bisa diinkubasi sekarang!" seru Romeo menolak dari sambungan telepon.


"Percayalah padaku, Romeo. Lebih baik kau diinkubasi sekarang. Masalahnya, tes darah awalmu ini menunjukkan jika butuh sampai tiga kali suntikan penetral untuk membuatmu kembali menjadi normal. Kau menggunakan serum ilegal bukan ciptaan ilmuwan Sandara, tapi dari Sengkuni. Ada beberapa kandungan dalam senyawa itu yang tak bisa dinetralisir dengan sekali suntikan. Kau mengerti yang kukatakan?"


Romeo baru menyadari hal itu dan mengangguk. "Baiklah, aku akan pulang. Namun, teruslah mencari Irina, D. Aku percaya padamu," pinta Romeo sedih sedang berdiri di tepi pantai.


"Pasti. Pulanglah bersama lainnya," pinta King D dan Romeo akhirnya setuju dengan ajakan itu.


Kastil Boleslav, Rusia.


"Irina!" seru Sia saat melihat putri cantiknya berdiri menyambut kedatangan orang-orang itu di rumah peninggalan keluarga Boleslav.


Saat semua orang bergembira karena Irina terlihat baik-baik saja, orang-orang itu kembali dikejutkan saat muncul sosok berparas cantik dan berambut merah terang. Junior berada di sisi wanita itu dengan pakaian serba putih seperti biasa.


"Kau ...."


"Hai," jawab Sandara dengan senyum manis.


"Kau masih hidup?" tanya Sia tertegun.

__ADS_1


"Begitulah. Banyak alasan jika harus kujabarkan," jawabnya tenang.


"Oh, kalian para mafia gila. Senang sekali membuat orang sepertiku mengalami kesedihan bertubi-tubi," gerutu Sia, tapi disambut tawa para pendengar.


"Ayo," ajak Jordan kepada para tamunya untuk masuk ke ruang rahasia di mana Irina, Sandara dan Junior menyambut mereka saat sudah masuk dalam kastil.


Sia yang baru tahu alasan kenapa Irina harus disembunyikan bisa memahami kekhawatiran sang anak. Sandara menjelaskan beberapa kemungkinan ketika tiga janin itu akan lahir nantinya. Ajaibnya, janin dalam rahim Irina diperkirakan terus berkembang lebih cepat dari kewajaran manusia normal yang dibutuhkan 9 bulan, sedangkan kelahiran bayi wanita bermata hijau itu hanya membutuhkan waktu 6 bulan saja.


"Aku bisa merasakan calon bayiku sangat agresif, Mom," ujar Irina seraya mengelus perutnya dengan wajah tegang.


"Jangan takut. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu stres atau bisa mengakibatkan masalah selama masa kehamilan," ujar Sandara seraya mengelus kepala Junior lembut yang berjongkok di samping kursinya.


"Oke," jawab Irina seraya menatap Junior yang tampak bahagia karena disayangi oleh ibunya meski berwujud cukup mengerikan.


"Tinggallah di sini. Semua keperluan medis akan aku persiapkan," ujar Jordan dan diangguki sang istri Presiden.


Selama enam bulan, King D berikut semua orang sibuk untuk membangun kembali dunia yang telah hancur akibat wabah monster. Tiap negara yang ditunjuk, mulai dipulihkan satu per satu dengan semua sumber daya. Para Demon Kids mengerahkan robot-robot ciptaan mereka untuk membersihkan gedung-gedung dan beberapa wilayah agar bisa segera digunakan terutama penghasil pangan. King D diam-diam selalu memantau perkembangan Irina melalui telepon satelit yang diberikan khusus oleh Jordan. Namun, siapa sangka jika sambungan itu diketahui oleh tiga orang dan mereka sudah berada di Kastil Krasnoyarsk saat mengetahui jika Irina siap melahirkan.


"Kalian?" tanya King D melotot saat ia baru saja tiba, tapi mendapati Q, Eiji dan Monica di pintu utama kastil.


"Kau beruntung, D, karena kami melindungi sambunganmu. Sepintar apa pun Jordan, dia masih kalah jenius dengan kami bertiga, heh!" ucap Q seraya menikmati apel merah dalam genggaman.


Jordan yang mendengar hal itu memilih diam enggan berkomentar dan tetap memasang wajah datar. Hingga tiba-tiba ....


"Harghhh!"


"Oh! Apa itu?" pekik Eiji sampai terperanjat karena kaget.


"Irina!" seru King D langsung berlari secepat kilat bahkan pergerakannya hampir tak terlihat.

__ADS_1


***


lagi pengen cepet2 selesein king D biar kiarra bisa up dulu walaupun baru dikit babnya😆 doain lancar ya segala urusan lele. amin❤️


__ADS_2