KING D

KING D
Langkah Selanjutnya


__ADS_3

Beruntung, kondisi Yusuke dan orang-orang yang digantung oleh Reina mulai membaik. Meski demikian, mereka mengalami dehidrasi karena hanya diberikan makan sehari satu kali oleh puteri dari Sakura tanpa minum.


Orang-orang malang itu dirawat secara khusus di ruang medis dan dijaga oleh Sakura.


Malam itu, semua orang berkumpul di luar markas untuk melakukan pemakaman terakhir bagi Red.


Orang-orang dalam jajaran Boleslav dan Theresia terlihat begitu terpukul atas kematian Red yang mengenaskan.


King D terpaksa tak mengikuti prosesi dan memantau dari pusat kendali karena Fara masih dalam pengaruh cuci otak Hope.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"D?" panggil Irina saat menyusul sang kekasih yang tampak murung.


"Kita harus pikirkan lagi rencana selanjutnya, mengingat kondisi Fara yang tak memungkinkan jika ikut bersamaku," jawab King D dengan sorot mata terfokus pada layar.


Irina duduk perlahan di pangkuan sang kekasih. King D terkejut, tapi tersenyum kemudian saat menyambut sikap manja sang kekasih.


"Sebaiknya, kita bagi dua tim saja. Sebagian ke Italia untuk membangunkan Yu Jie agar membantu mencari tahu tentang perubahan dalam diri kawan-kawan, dan sisanya pergi mendatangi Giamoco Island untuk memastikan kondisi markas di sana. Bagaimana? Arthur memutuskan untuk menjaga Jumbo Island bersama dua orang Black Armys," ucap Irina seraya memandangi paras rupawan putera Javier tersebut.


King mengangguk pelan. Irina ternyata sudah menyiapkan hal tersebut. Ia menunjukkan selembar kertas pada pemimpin kelompoknya. King D menerima pemberian Irina dan membaca tulisan itu saksama.


"Apakah ... mereka sudah tahu tentang rencana ini?" tanya King D menatap kekasihnya lekat.


"Ya. Mereka mengatakan siap jika kau memberikan izin. Selain itu kata Jason, helikopter milik nyonya Manda masih tersimpan di hangar bawah tanah berikut persediaan bahan bakar. Kau tak perlu khawatir," jawab Irina dengan senyuman seraya mengelus kepala King D lembut.


Pria tampan itu memeluk Irina erat dan menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih.


Wanita cantik bermata hijau itu tersenyum tipis seperti tahu jika kondisi mental King D tertekan di mana ia tak pernah mengalami masa-masa sulit seperti ini.


Dulu, banyak para mafia senior yang turun tangan membantunya jika suatu krisis terjadi. Kini, putera Lysa Herlambang diamanatkan sebuah tugas berat dan dipercayai oleh banyak orang untuk menyelesaikannya.


King D merasa ia dipaksa siap untuk hal yang tak pernah ia persiapkan sebelumnya.


"Tidurlah, D sayang. Esok pagi hari baru menunggumu. Aku ada di sana untuk menemanimu," ucap Irina lembut seraya meraih wajah pria itu lalu mengecup bibirnya.


King D terlena dengan ucapan dan perilaku manis sang kekasih. King D membalas ciuman itu mesra dengan Irina masih dalam pangkuannya.


Keduanya saling terbuai dan semakin tak bisa membendung cinta kasih masing-masing. Tubuh keduanya semakin rapat dengan gairah makin memuncak.


"D! Eh?!" pekik Obama langsung memekik saat melihat pasangan kasmaran itu sedang memadu kasih.


Praktis, kedatangan Obama yang tiba-tiba, membuat keduanya salah tingkah.


"Tak nikahin paksa loh kalian berdua, walaupun yakin meski pada girang," ucapnya sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


Irina tersipu malu dan beranjak dari pangkuan sang kekasih. Irina menundukkan wajah ketika melewati Obama saat keluar dari pusat kendali.


King D menahan senyum lalu memutar kursinya hingga kini, dua lelaki itu saling berhadapan.


"Ada apa?" tanya King D santai seolah hal tadi bukan masalah besar.


"Gayamu sok keren padahal itu kemaluwanmu membesar to. Tak aduin Baba sama Mimi loh," sindirnya. Praktis, tawa King D meledak. "Malah cengengesan. Mau tanya, dapet izin gak dari saran Irina? Kalau yes, Otong mau kasih tau ke yang lain," tanya Obama masih memasang wajah garang.


"Ya. Aku mengizinkan. Aku ... minta tolong ya," jawabnya dengan wajah merah padam menahan tawa.


Obama tak menjawab dan langsung beranjak pergi. King D masih tersipu malu bahkan tak bisa menahan tawanya karena kepergok oleh kawan semasa kecilnya yang blak-blakan menyindir dirinya.


Larut malam. Hangar bawah tanah tempat helikopter dan beberapa kendaraan tempur ciptaan Boleslav Industry disimpan dengan apik.


Entah apa yang terjadi pada Fara, tapi gadis manis itu begitu lengket pada Marco. Namun, pria bermanik merah itu terlihat risih pada sikap Fara yang selalu menempel padanya.


"Polo! Singkirkan dia dariku!" pekik Marco mendesis kesal karena Fara selalu memegang lengannya.


"Dia menyukaimu. Mau bagaimana lagi? Kau lebih suka dia menusukmu dengan rambut jarum atau membiarkannya mengekor padamu?" jawab Polo santai saat mereka berada di samping helikopter untuk menyiapkan perbekalan dan perlengkapan untuk misi menuju Italia.


Marco berdecak kesal, tapi ia memilih opsi kedua. Fara selalu tersenyum dan menunjukkan taringnya yang selalu ia sikat tiap saat agar selau bersih.


Marco hanya bisa pasrah dan menerima takdir barunya sampai ingatan Fara kembali. Marco merindukan masa-masa bertengkar dengan gadis manis itu ketimbang sikap manja Fara seperti saat ini.


Ternyata, Reina mengenali sosok Fara. Ia bahkan menunjukkan beberapa video saat mereka dulu sering bermain bersama ketika saling berkunjung.


Tampak keduanya akrab, meski Reina tak menunjukkan wajah ceria seperti Fara.


Di ruang makan markas Jumbo Island yang sudah dihadiri oleh beberapa orang untuk rapat kecuali Reina, Fara, Marco dan Polo.


"Oke, aku tak masalah. Namun, sidik jari siapa yang bisa membangunkan Yu Jie?" tanya Jason yang akan ikut terbang ke Italia bersama Daniel, Fara, Marco, Polo, dan Nero.


"Database jajaran 13 Demon Heads menulis jika yang bisa membukanya Jordan, Sandara, dan Damian," jawab Daniel usai melihat catatan sistem keamanan tabung.


"Sayangnya, pelacak di tabung Jordan belum terdeteksi oleh sinyal di ponselku. Asumsiku ada dua hal yang menyebabkannya. Pertama, dia berada dalam lingkup pemancar fatamorgana yang diaktifkan. Kedua, tabung itu rusak pada sistem pelacak," jawab Jason terlihat cemas.


Ia meletakkan ponselnya di atas meja usai menambahkan nama Marco dan Nero pada sistem keamanan markas di Jumbo Island setelah mengetahui jika Polo tak teridentifikasi.


"Kalau begitu, alternatif kedua. Di mana Sandara atau Damian?" tanya Arthur menatap Daniel lekat.


Daniel kembali membuka brankas digital itu, tapi ternyata, untuk mengetahui lokasi Sandara dibutuhkan akses khusus. Ia lalu mencoba mencari tahu sidik jari siapa yang bisa membuka tabung Damian.


"Pencarian orang-orang yang memiliki wewenang untuk membuka tabung membuatku seperti di dalam labirin," keluhnya seraya menekan-nekan layar tablet dengan malas. "Hempf, tabung Damian hanya bisa dibuka oleh Yu Jie, Hadi dan Bayu. Dengan begini, aku harus melacak lagi di mana keberadaan dua anggota The Kamvret itu," sambungnya terlihat pusing dengan tablet dalam genggaman.


Semua orang menahan senyum dan sabar menunggu. Daniel terlihat serius hingga matanya melebar.

__ADS_1


"Oh, kita beruntung. Tabung Hadi dan Bayu berada di Laboratorium Farmasi Elios di Italia," jawabnya dengan senyum terkembang.


"Sungguh? Jika benar, kenapa pusat kendali di markas Italia tak menjawab panggilan kita? Sinyal tabung terlacak, bukankah itu berarti jika pemancar fatamorgana tak diaktifkan?" tanya King D heran.


"Ya, itu benar. Semoga tak ada hal buruk terjadi. Lebih baik, kalian hati-hati," sahut Irina. Nero dan Jason mengangguk dengan wajah serius.


"Oke, kita sudah sepakat. Tim yang dikomandoi oleh Daniel akan terbang ke Italia menggunakan helikopter dari jajarannya. Lalu ... tim King D akan akan pergi ke Giamoco Island untuk memastikan kondisi markas usai penyerangan yang dilakukan oleh Hope. Kita percayakan markas di Jumbo Island kepada Arthur dan dua Black Armys yang sudah kembali pulih," ucap Sakura yang sudah ikut bergabung usai memastikan kondisi para pasiennya. Semua orang mengangguk paham.


Usai rapat, orang-orang beristirahat di kamar yang dulunya ditempati oleh para pekerja di pabrik senjata Boleslav tersebut.


Sedang Yusuke dan timnya, masih berada di ruang medis untuk masa pemulihan sebelum bertugas kembali.


Namun, Obama malah sibuk memperbaiki helikopter King D ditemani oleh bosnya berikut Daniel dan Arthur.


"Haha! Ternyata Red palsu gak bawa semua harta kita!" ungkap Obama senang saat ia membuka bagian bawah dudukkan kursi di kabin depan di mana beberapa barang tersimpan apik di sana.


"Heh, kau cerdik juga, Otong," puji Arthur berikut King D dan Daniel yang ikut mengintip di belakang.


"Woo, ini jenius. Di atas rata-rata cerdik! Ajaran bapak kalau kudu antisipasi dengan segala bentuk serangan serta ancaman," ucapnya mantap seraya mengecek seluruh persenjataan yang tersimpan.


Arthur dan Daniel hanya tersenyum lalu kembali memperbaiki pintu yang rusak. King D dan Obama membiarkan persenjataan dan perlengkapan tersebut tetap dalam bak di bawah penutup dudukkan.


King D lalu keluar dari helikopter untuk mengisi penuh bahan bakar untuk penerbangannya nanti dengan persediaan yang tersedia di hangar tersebut.


Diam-diam, kotak medis Elios yang berisi serum unik berhasil diamankan oleh Obama di bawah dudukkan pilot. Obama terkekeh karena King D tak menyadari hal tersebut.


"Bos D ini ternyata memang kurang peka. Sepertinya doi lupa dengan ajaran para senior. Apa iya kudu dilatih lagi biar insting manusia dan hewan dalam dirinya bangkit ya? Kok dia kaya lemot bin lelet gitu," guman Obama saat melihat King D sedang mengisi bahan bakar helikopter dari balik jendela pilot.


Usai memastikan kondisi helikopter aman dan siap lepas landas esok hari, empat lelaki itu kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.


Hingga akhirnya, pagi menjelang. Tim yang dikomandoi oleh Daniel bersiap untuk terbang ke Italia usai mengecek kembali semua persiapan.


Usai sarapan, mereka terbang dengan helikopter milik Ibu dari Jason. Marco dan Polo secara bergantian akan bertukar tugas untuk menjadi pilot atau co-pilot.


King D terlihat cemas karena harus berpisah dengan sang adik. Namun, Marco berjanji akan melindungi Fara.


"Aku percayakan Fara padamu, Marco. Jaga dia dan terus hubungi aku," pinta King D sangat sebelum mereka berpisah.


Marco mengangguk mantap dan segera pergi meninggalkan King D yang mengawasi dari ruang pusat kendali markas di Jumbo Island.


***



Uhuy makasih tips dendanya mak sis. kwkwkw. king D slow update krn fokus tamatin Monster Hunter dulu ya. Insya Allah Agustus nanti udh daily update minimal 1 eps. Kwkwkw. Lalu tgl 25 nanti novel The Ghost Writer sudah mulai publish ya❤️

__ADS_1


__ADS_2