KING D

KING D
Hampir Terlupakan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Reina terkejut akan temuannya itu. Ia mencoba masuk ke ventilasi tersebut, tapi ukuran tubuhnya tak mencukupi. Gadis itu mendesis kesal dan memilih untuk memberitahukannya pada anggota tim.


"Reina!" panggil Sakura dengan napas tersengal saat muncul dari persimpangan koridor setelah timnya berhasil melumpuhkan sisa monster terakhir.


Gadis Jepang itu segera turun dari langit-langit ruangan dan mendatangi sang ibu dengan tergesa.


"Mom! Aku menemu—"


PLAK!


Semua orang terkejut termasuk Reina sendiri. Sebuah tamparan kuat dilayangkan Sakura ke pipi kiri sang anak. Wajah Reina sampai berpaling dengan bekas merah di pipi.


"Kau sungguh keterlaluan, Reina. Kau gadis egois. Kau tak memikirkan anggota kelompokmu. Kau pikir, kau siapa? Pemimpin tim? Jangan berlagak, Reina. Sejauh ini kau selamat karena orang-orang yang melindungimu, bukan sebaliknya. Jangan besar kepala," tegas Sakura yang membuat Yusuke dan lainnya memilih diam tak ikut campur.


Wajah Reina kembali pada sang ibu dan menatapnya sendu dalam diam.


"Begitu kita keluar dari New York, kau akan kutidurkan lagi. Aku tak menerima penolakan. Membangkang, jangan panggil aku Ibu lagi. Aku dan ayahmu Alex tak pernah mendidikmu menjadi gadis yang congkak," imbuhnya menatap tajam sang anak.


Reina mengangguk dengan pandangan tertunduk. Lucy dan Venelope mencoba menenangkan Sakura dengan menepuk pundaknya. Yusuke yang merasa jika tempat itu sudah tak bisa dipertahankan lagi, meminta kepada timnya untuk kembali ke helipad. Namun tiba-tiba, panggilan masuk dari Match.


"Kau ingin kami memastikan mayat dari Mix?" tanya Yusuke mengulang.


"Ya. Selain itu, pastikan ruangan GIGA SIA tetap terkunci rapat tak bisa dibobol," tegasnya.


"Baik, kami mengerti," jawab Yusuke lalu memutus panggilan.


Anggota tim pria Jepang itu mengikuti di belakang dengan amunisi kembali terisi penuh. Reina mengurungkan niat untuk memberitahukan temuannya kepada anggota tim usai ditegur sang ibu. Gadis itu diam saja mengikuti di barisan belakang saat mereka menyisir sampai ke ruangan tempat GIGA SIA berada.


"Oh, shitt!" pekik Venelope langsung memalingkan wajah saat melihat seseorang tewas di depan pintu masuk GIGA SIA disimpan, tapi tanpa kedua tangan dan kepala. Seperti sengaja diambil karena potongan dari penggalannya rapi.


"Siapa dia?" tanya Lucy sampai berkerut kening terlihat ngeri.


Reina diam saja tak menjawab, tapi Yusuke seperti menyadari sesuatu.


"Reina? Apa pendapatmu?" tanya pria itu seraya melirik puteri Sakura tersebut.


"Itu Mix. Foto saja mayatnya agar Match bisa memastikan," jawabnya dengan wajah datar.


Sakura dengan sigap memotret temuan mengejutkannya itu dengan kamera ponsel miliknya. Yusuke dan lainnya lalu berdiri di depan pintu masuk GIGA SIA di mana bagian depan pintu besi itu terdapat kamera pemindai.


"Dikenali. Yusuke Tendo, Reina Akiara, Sakura, Venelope Flame, dan Lucy," ucap GIGA yang membuat senyum orang-orang itu merekah. "Maaf, kalian tak diizinkan masuk. Akses terblokir. Segera pergi dalam hitungan lima. Lima, empat, tiga, ...."


Praktis, mata para mafia itu melebar. Yusuke segera menggiring orang-orangnya agar meninggalkan tempat GIGA SIA bersemayam.

__ADS_1


"Hah, hah, sepertinya yang dikatakan Match benar. GIGA SIA sudah tak bisa disentuh. Namun, aku rasa itu hal baik. Setidaknya, teknologi Theresia tak dicuri," ucap Lucy saat ia dan timnya sudah di pintu keluar.


"Sebaiknya kita segera kembali ke atas untuk membicarakan hal ini lebih lanjut dengan Match," ajak Yusuke dan semua orang mengangguk setuju.


Di helipad Apartemen Theresia, New York, Amerika.


Yusuke dan kawan-kawannya tak menyangka jika Match bisa menangis saat mengetahui sahabat seperjuangannya Mix telah tewas mengenaskan, hampir seperti cara meninggalnya Red. Hal ini sontak membuat seluruh orang dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle yang terhubung dibuat tidak percaya. Sakura dibantu oleh Venelope dan Lucy mengobati tangan Match agar tak membusuk. Pria itu sengaja dibuat tak sadarkan diri agar proses pengobatan tak membuatnya semakin kesakitan.


"Hope sudah keterlaluan! Pasti ia menggunakan data dari Mix untuk menyusup ke markas kita. Sebaiknya, kita lakukan protokol penghapusan data lagi, D," ucap Arthur geram.


"Ya, kau benar, Paman. Segera lakukan prosedur tersebut di seluruh markas yang telah aktif. Kita harus bergegas mendatangi beberapa markas yang belum bisa dihubungi. Aku khawatir Hope akan mencuri aset-aset berharga kita yang sampai sekarang belum diketahui alasan tindak kejahatannya," tegas King D.


Para mafia dengan sigap melakukan protokol penghapusan data untuk orang-orang dalam jajaran Theresia yang telah tewas.


"Eh, tunggu. Bagaimana dengan isteri Mix and Match? Apakah ... mereka juga tewas?" tanya Seif yang membuat semua orang baru menyadari keberadaan anggota Red Skull tersebut.


"Bukankah Marry telah tewas? Galina bangkit karena menggantikannya," sahut Maksim menjelaskan.


"Ya, itu benar," sahut para wanita Red Skull yang menjaga Kastil Borka Rusia.


"Lalu ... bagaimana dengan isteri Match? Roza? Apakah tabungnya bisa kaulacak, Q?" tanya Drake yang menjaga Camp Militer China.


"Tidak. Meskipun Yusuke dan timnya mengatakan jika GIGA SIA beroperasi, tapi sepertinya tabung-tabung kita tak semuanya bisa terdeteksi. Ini memang aneh, dan aku sangat khawatir terjadi hal buruk dengan lainnya," ucap Q panik. "Apalagi tabung Renata dan Bobby juga tak diketahui keberadaannya sampai saat ini. Ya Tuhan," imbuhnya frustasi seraya mengusap wajah.


King D dan timnya yang kembali terbang menggunakan helikopter menuju Inggris hanya bisa diam memikirkan hal ini dengan serius.


"Baiklah. Kami akan segera pergi meninggalkan tempat mengerikan ini," jawab Yusuke yang dengan sigap mendatangi bangku pilot.


"Terus terhubung dan berikan kabar terbaru atas misi kalian. Aku masih menunggu hasil penyelidikan di Perancis kediaman Darwin Flame dan juga Blue Mansion Colombia. Hati-hati," tegasnya.


"Yes, Sir!" jawab semua petugas di seluruh markas serempak.


King D menyudahi sambungan komunikasi mereka. Jonathan yang sedari tadi menyimak dan duduk sendirian pada bangku kabin belakang, seperti memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Paman?" tanya Irina ketika ia hendak ke toilet dan melewati keturunan Benedict itu.


"Tak ada. Aku mau tidur dulu. Bangunkan jika sudah sampai di Black Castle," pintanya lalu beranjak dari dudukkan menuju ke tabung.


Irina mengangguk dan melihat Jonathan merebahkan dirinya dalam tabung seperti tak ingin diusik. Saat wanita cantik itu usai menuntaskan kegiatannya di toilet helikopter, tiba-tiba saja ....


PIP POP! PIP POP!


Sontak, semua orang dalam helikopter yang menyadari nada peringatan itu siaga seketika. Jonathan ikut terbangun dan segera berdiri.


"Selidiki!" pintanya yang diangguki King D dan Irina.

__ADS_1


Orang-orang dalam helikopter mencoba memindai sekitar karena suara peringatan ditemukannya tabung berbunyi. Mereka menggunakan kamera yang terpasang pada badan luar helikopter untuk mencari tahu meski dalam kegelapan.


"Di sana!" pekik Irina yang membuat Jonathan dan King D langsung mendekati gadis berambut panjang itu. Mata mereka melebar ketika melihat sekumpulan monster seperti mengeroyok sebuah benda.


"Ada tabung dengan manusia di dalamnya!" seru King D saat mempertajam bidikan kamera tersebut.


"Pasti sistem keamanan tabung rusak! Para monster itu tak terkena dampak!" seru Jonathan menduga.


"Cus, D!" teriak Obama dari bangku pilot.


King D mengangguk siap. Jonathan segera mempersiapkan keponakannya untuk kembali beraksi. Irina dengan sigap mengaktifkan dua CD untuk melindungi sang kekasih.


KLEK! PIP! PIP! PIP!


"Go! Go!" seru Jonathan saat Irina sudah menerbangkan dua CD keluar dari helikopter. Dua benda terbang bersenjata itu membidik para monster dalam kegelapan. Praktis, suara gemuruh rendah helikopter membuat para monster teralihkan tak menyerang tabung lagi yang sampai terbalik.


"Harghh!"


"Habisi mereka, Tong!" teriak Jonathan yang ikut mengawasi dari pintu helikopter.


"Siap!"


KLIK! BOOM! BOOM! BUZZ!!


Obama meluncurkan Rainbow Gas untuk melumpuhkan para monster. Manusia-manusia sakit itu mengerang kesakitan dan satu per satu dari mereka ambruk usai terkena dampak. Kali ini, tak ada aksi penyelamatan karena mereka dikejar waktu untuk mengungkap siapa jati diri Hope.


"Irina!" seru Jonathan.


KLIK! DODODODOR!


Irina merampungkan tugasnya dengan memberondong para monster yang sudah menggelepar di atas tanah dengan peluru-peluru tajam CD. King D melihat peluang tersebut dan segera melompat dari atas helikopter dengan pinggang terkait tali. Jonathan ikut melindungi King D dengan menembaki para monster yang berusaha untuk menangkapnya.


"Argh! Dasar pengganggu! Mati kalian!" seru Jonathan mengamuk karena semakin banyak monster yang muncul ke area itu.


King D berlari kencang dan berhasil tiba ke tempat tabung berada. King D yang awalnya ragu untuk menyentuh tabung itu akhirnya meyakinkan diri jika sistem keamanan tabung telah rusak sehingga tak terkena dampak yang bisa membuatnya tewas.


"Argh!" erang King D saat membalik tabung tersebut dengan sekuat tenaga. Saat King D membersihkan kaca penutup tabung, matanya melebar seketika. "Oh!" serunya panik.


BUK! BUK! BUK!


"Keluarkan aku! Keluarkan aku cepat!" pinta orang dalam tabung itu yang ternyata dalam kondisi sudah bangkit dari tidurnya.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ lele padamu💋 adeh lele meriang uyy. doain cepet sembuh ya soalnya kalo masih sakit gini bisa ketunda tamatan King D dan peluncuran novel baru si Jono. itu dulu infonya. lele mau balik rehat lagi. kalo ada typo koreksi aja tar lele benerin pas udh mendingan.


__ADS_2