
Jangan lupa vocernya di vote ya gaes dan juga tips poin yg udah kamu kumpulin dari misi serta mulung di GC tetangga. Kwkwkw😆 Yg punya koin ditunggu sedekahnya😍 Mumpung beby undul lagi pules bobo up lagi aja. Tengkiuw lele padamu💋
----- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Shamsa dan anggota timnya berlari sekuat tenaga karena sosok manusia dengan bentuk tak lazim seperti campuran beberapa binatang itu berlari mengejar.
"Gunakan semuanya! Jatuhkan dia atau kita akan tewas di tempat ini!" teriak Shamsa seraya mengambil sebuah granat mini dari dalam saku rompi anti peluru.
Semua orang tetap berlari sembari menyiagakan senjata untuk melakukan perlawanan.
"Gibran! Lindungi aku!" teriak Irsyad saat ia berhenti berlari dan kini membalik tubuhnya untuk membidik monster itu.
Gibran yang mendengar hal tersebut dengan sigap mengarahkan moncong senjata. Amir dan lainnya yang mendengar hal itu ikut menghentikan langkah dan membidik makhluk tersebut.
"Haaa!" teriak Irsyad saat ia menggelontorkan seluruh pelurunya untuk menjatuhkan lawan.
"Harghhh!" raung manusia itu saat tubuhnya terkena peluru-peluru tajam pembunuh.
Hanya saja, hal tak terduga terjadi. Makhluk yang diyakini berjenis kelamiin laki-laki itu menggunakan dua tangan besarnya seperti berlapis batu layaknya tameng untuk melindungi tubuh. Peluru-peluru yang ditembakkan Irsyad seperti terpental dan tak menembus kulit.
"Dia anti peluru! Senjataku tak mempan!" teriak Irsyad yang merasa usahanya percuma dan langsung melemparkan senapannya begitu saja karena sudah kehabisan amunisi.
"Mundur! Mundur!" teriak Shamsa yang tak jadi menembak usai mendengar pernyataan Irsyad.
Para anggota militer gabungan dari Timur Tengah itu panik karena musuh mereka kali ini layaknya sebuah tank lapis baja, tapi berwujud manusia. Mereka kembali berlari di mana sosok itu lebih mengerikan ketimbang sekumpulan para manusia sakit.
"Goarr!" raung makhluk itu yang membuat Shamsa dan lainnya menoleh seketika.
"Awas!" teriak Etra saat melihat monster itu mengangkat sebuah mobil dan melemparkannya ke arah tim gabungan tersebut.
"Amir!" teriak Talora saat melihat Amir malah berdiri terpaku saat mobil itu terarah padanya. Benar saja, "Tidak!"
BRANGG!!
"Amir! Amir!" teriak Gibran dengan mata melotot saat melihat tubuh kawannya terlindas oleh badan mobil yang dilemparkan makhluk itu. Amir tewas seketika dengan tubuh tertindih dan remuk.
"Arrghhh! Kurang ajar! Tak bisa dimaafkan!" teriak Irsyad marah besar.
Praktis, kawan-kawan Amir yang diliputi amarah dan duka melampiaskan kesedihan mereka dengan balas dendam.
__ADS_1
"Bunuh dia!" teriak Shamsa yang tak kalah sedihnya dengan melemparkan granat mini ke arah makhluk itu.
"Goarrr!"
Makhluk itu meraung usai mendapatkan serangan bertubi-tubi dari sisa persenjataan yang mereka miliki. Makhluk itu dikepung dari segala penjuru di mana Shamsa dan timnya tak membiarkan buruan mereka kabur.
"Pastikan dia mati! Dia harus mati!" teriak Etra marah besar dengan mata merah karena berlinang air mata menahan kesedihan.
Kepulan asap dari Rainbow Gas menutup sosok itu. Talora yang tak puas, menambah dengan melemparkan granat tabung ke arah makhluk mengerikan tersebut. Shamsa yang tak kalah sedihnya ikut melemparkan granat mini ke lawan hingga tak terlihat lagi pergerakan dari sosok tersebut.
"Tangkap!" seru Irsyad saat melemparkan serum penawar dari dampak Rainbow Gas kepada kawan-kawannya.
Shamsa dan yang lain segera menyuntikkan cairan itu ke tubuh. Etra membungkam mulutnya rapat saat melihat jasad Amir sudah tak berbentuk karena kepalanya pecah. Orang-orang itu memalingkan wajah tak tega melihat kengerian tersebut bahkan tak sanggup untuk menguburkan mayat kawan mereka.
"Horg ... horg ...."
Praktis, suara raungan dari makhluk itu membuat air mata yang telah menetes berhenti seketika. Mata Shamsa dan lainnya melebar. Mereka yang sudah kehabisan senjata api dan bom kini hanya bisa mengandalkan pedang Persia sebagai pelindung. Orang-orang itu tampak tegang dengan sorot mata terfokus pada bayangan di balik kepulan asap yang bergerak mendatangi mereka.
"Demi Amir, habisi dia!" teriak Shamsa mengomandoi kawan-kawannya.
"Heyah!" teriak Irsyad dan yang lain saat mereka berlari kencang ke arah makhluk tersebut.
"Goarr!" raung makhluk itu yang ternyata masih sangat mampu untuk bertarung padahal sudah cidera parah.
Shamsa yang tak rela kawan seperjuangannya mati sia-sia, nekat melakukan perlawanan. Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Shamsa, Etra, Talora, Irsyad, dan Gibran, mengerahkan seluruh kemampuan dalam permainan pedang untuk menjatuhkan musuh. Orang-orang itu tahu jika sosok tersebut kebal terhadap senjata, tapi mereka tak menyerah.
"Harghhh!"
"Yeah! Aku berhasil mengenainya!" teriak Talora senang, tapi ternyata hal itu malah membuat sosok tersebut semakin marah.
"Goarrr!"
"AAAAA!" teriak orang-orang itu saat tangan besar makhluk tersebut menghempaskan tubuh lawan ketika mengepung.
Etra dan lainnya jatuh dengan keras ke tanah. Mereka merintih kesakitan karena terluka dan berdarah. Makhluk itu kembali mendekat dengan menunjukkan giginya yang tajam seperti gergaji, berkepala gundul, memiliki ekor berujung runcing layaknya tombak, dan berkulit pucat putih seperti Junior.
"Hah, hah," engah Gibran saat ia menjadi sasaran pertama dari makhluk yang ingin membunuhnya.
"No! Gibran!" teriak Shamsa dengan mata melotot saat mahluk itu menjulurkan tangan besarnya seperti batu untuk menangkap pria tersebut. Praktis, mata Gibran melebar seketika.
Namun tiba-tiba, "Harrghh!" raung makhluk itu saat wajahnya terkena cairan pekat berwarna biru yang membuatnya langsung melangkah mundur.
Mata orang-orang asal Timur Tengah itu melebar. Mereka menoleh dan mendapati sosok yang tak kalah seramnya seperti melakukan perlawanan kepada makhluk bertangan besar tersebut. Shamsa dan lainnya mematung saat melihat leher lelaki itu memunculkan bentuk yang membuatnya seperti memiliki kelopak besar layaknya bunga.
__ADS_1
Lelaki itu tampak seperti menantang sosok bertangan besar tak terlihat takut. Gibran segera berdiri dan mendatangi Irsyad. Ia meminta kawannya untuk menyingkir karena baginya sosok yang muncul itu menolong mereka.
"Lihat kakinya. Dia seperti manusia ikan, tapi ... entahlah," ucap Talora berkerut kening terlihat ngeri.
"Hei, hei, kemari!" panggil Gibran yang bersembunyi di balik sebuah perahu.
Talora segera berdiri dan disusul oleh anggota lainnya untuk berlindung. Mereka mengintip di balik perahu yang ditumpuk dengan perahu lainnya di dekat dermaga. Mata mereka terfokus saat melihat lelaki itu terus menyemburkan cairan dari mulutnya ke arah lawan hingga perlahan, kulit sosok bertangan besar seperti meleleh.
"Wow! Kalian lihat itu? Siapa orang aneh itu? Apakah ... dia salah satu kawan kita?" tanya Etra penasaran.
Shamsa yang bingung mencoba menghubungi Rohan, tapi tak ada jawaban.
"Shitt!" pekik Shamsa kesal karena telepon satelitnya rusak akibat terhempas saat melawan sosok mengerikan tersebut.
"Bagaimana sekarang? Apakah Q bisa melihat keberadaan kita?" tanya Talora penasaran.
"Entahlah. Jika pelacak di seragam kita tak rusak berikut kamera yang terkoneksi dengan satelit, setidaknya mereka mendapatkan informasi mengenai kejadian ini," tegas Gibran.
"Sebaiknya kita segera pergi selagi lelaki aneh itu melawan makhluk seram. Ini kesempatan kita," ujar Irsyad dan diangguki oleh kawan-kawannya.
Orang-orang itu memilih pergi dan menyerahkan pertarungan terakhir kepada sosok tak dikenal. Mereka yang melihat jika orang itu seperti bukan dari jajaran karena tak memakai seragam, memilih untuk tak mencari tahu. Tujuan mereka untuk menyelamatkan King D.
"Hei, kemari!" panggil Irsyad saat berhasil mendapatkan sebuah kapal dengan mesin yang bisa menyala dan tersedia beberapa jeriken berisi bahan bakar cadangan di geladak.
"Kita beruntung. Ayo!" ajak Shamsa yang dengan sigap melepaskan tali yang mengikat kapal itu.
Kapal berhasil meninggalkan dermaga untuk menjemput King D. Gibran dan lainnya meneropong dari atas kapal di mana mereka melihat jika sosok yang membantu berhasil mengalahkan manusia seram itu. Namun seketika, mereka terperanjat ketika lelaki yang menolong mereka menoleh dan seperti bisa melihat ke arah teropong padahal jarak sudah cukup jauh.
"Di-dia melihat kita?" tanya Etra dengan jantung berdebar.
"Entahlah," jawab Gibran gugup dan segera masuk ke dalam kapal diikuti yang lain.
Siapa sangka, ternyata ada sosok lain yang ikut mengawasi pergerakan tim Shamsa dari balik kegelapan. Ia menutupi tubuhnya dengan pakaian serba hitam dan hanya sepasang matanya saja yang terlihat. Sosok itu melirik ke arah lelaki yang berhasil mengalahkan makhluk mengerikan ketika berjalan menuju ke pantai.
"Kita di mana, Romeo?" tanya William yang sudah bangun dari tidurnya.
"Libya," jawab lelaki itu yang membuat mata William melebar.
"Libya? Cepat sekali," tanyanya heran, tapi Romeo hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Kau pasti lapar. Aku menangkap banyak ikan, hanya saja ... tak tahu cara memasaknya. Bisakah kau memasak untukku? Aku lapar, Ayah," rengek Romeo.
William tersenyum dan mengangguk pelan. Romeo terlihat senang saat ayahnya dengan sigap menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sosok yang mengawasi dari kegelapan mengendap pergi tanpa suara. Namun, Romeo seperti menyadari jika diperhatikan. Hanya saja, saat ia menoleh ke tempat tersebut, sosok itu sudah menghilang dari tempatnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya William heran dengan membawa setumpuk kayu untuk dibuat api unggun.
"Ha? Tak ada. Jadi ... kita akan membakar ikan seperti saat berkemah? Wah ... ini pasti seru!" ujar Romeo yang membuat William mengembangkan senyuman.