
Halo LAP. Yg belom join GC buat ikutan give away nanti bisa DM lele di IG utk kasih no hp atau tinggalin di kolom komentar ya. Karena nanti teknis bagi2 hadiah by Zoom. Jadi kita nanti bisa meet up secara online. Kwkwkw kalian bisa tanya2 dan tegur sapa plus ikut acara. Estimasi waktu selama 2 jam gak usah lama2. 10 hadiah akan dibagikan. Itu dulu info dari lele. Novel Neon Blink Blink udah publish 60 eps jadi bisa maraton ya. Pengen tahu di mana bacanya, bisa tanya di GC WA atau DM di Instagram ya. Trims.
---- back to Story :
Sedang di sisi lain.
Tim dari para mafia muda yang diberangkatkan ke Australia seperti syarat ancaman Hope, singgah ke Oman sebelum melanjutkan perjalanan. Mereka yang penasaran bagaimana dengan kabar terbaru dari King D, ternyata harus dikecewakan usai mendengar laporan dari Rohan.
"Jadi, D sekarang di mana?" tanya Fara cemas.
"Komunikasiku dengan tim Shamsa terputus. Namun, aku berhasil menghubungi mereka saat berada di Libya. Hanya saja setelah itu, aku tak tahu lagi kelanjutannya. Selain itu, kita harus waspada. Hope berhasil meretas GIGA dan sekarang di bawah kendalinya. Aku tak tahu pasti bagaimana dia bisa melakukan hal itu, tapi kuyakin jika hal tersebut ada hubungannya dengan Junior. Kalian ingat, saat King D diculik, Irina dan Junior ada bersamanya. Namun, saat King D menghubungiku, hanya dia saja yang berhasil lolos dari cengkeraman Hope. Bisa jadi, Junior sekarang di bawah kendalinya," terang Rohan.
Praktis, informasi tersebut membuat para mafia muda tegang.
"Pantas saja kami tak bisa menghubungi markas selama perjalanan. Itu karena ulah Hope?" tanya Polo menduga, dan Rohan mengangguk membenarkan.
"Hope sialan. Orang itu benar-benar parasit. Aku penasaran, siapa dia sebenarnya. Aku hanya ingin tahu, semua kegilaan ini dia tujukan untuk apa," geram Marco.
"Kita akan tahu saat strategi kita berhasil. Selain itu, kita kehilangan satu orang lagi dari jajaran. Number 8 dari Barracuda tewas. Masalahnya, kami tak tahu bagaimana nasib Barracuda dan Jason usai bertempur melawan persenjataan Hope. Kita benar-benar seperti orang zaman purba karena kehilangan komunikasi dengan tim di lapangan," terang Rohan tampak tertekan.
"Aku rasa ada cara lain untuk saling memberikan kabar. Hanya saja, aku belum pernah mencoba untuk jarak tertentu. Jika saling berdekatan dengan radius sampai sejauh 1 kilometer, aku masih bisa menjangkaunya," ucap Reina yang mengejutkan semua orang.
"Kau memiliki kemampuan seperti komunikasi jarak jauh tanpa kabel?" tanya Rohan sampai matanya melebar.
Reina mengangguk pelan, tapi hal itu membuat orang-orang menatapnya saksama karena tak mengetahui hal tersebut.
Sedang di tempat Sengkuni berada.
"Tuan. GIGA melacak keberadaan tim dari 13 mafia yang memiliki kemampuan khusus sedang singgah di Oman. Kami menunggu perintah," ucap salah satu pria dengan topeng menutup sosok aslinya.
"Biarkan saja. Berikan mereka sambutan saat keluar dari markas. Pastikan darah orang-orang itu diambil sebelum membunuhnya," jawab Sengkuni santai seraya berdiri di depan sebuah layar seperti mengamati sesuatu.
"Laksanakan," jawab pria itu yang langsung pergi meninggalkan pusat kendali kediaman Victor.
Sedang Victor dan isterinya Aisha. Keduanya bernasib sama seperti tahanan yang telah bangun dan disandera oleh Sengkuni. Victor dan Aisha dikurung dalam jeruji besi yang dialiri listrik. Han dan James semakin tak bisa berbuat banyak saat melihat beberapa tabung yang diamankan oleh Victor di laboratoriumnya, kini dipasangi peledak.
__ADS_1
"Jika Sandara dan Raden tahu kau biang keroknya selama ini, mereka pasti sangat kecewa, Gusti," ucap Victor dengan wajah lebam karena dipukuli akibat menolak untuk memasang bom di tabung-tabung tersebut, termasuk tabung sang anak, Boas.
"Heh, harusnya aku yang kecewa pada orang tuaku. Mereka tak percaya dengan kemampuanku. Namun, aku berhasil menyadarkan beberapa orang dalam jajaran agar berpihak padaku. Sekarang, lihatlah. Aku mengendalikan semua," jawab Sengkuni santai seraya menikmati kentang panggang dalam piring di depan beberapa jeruji berisi tahanan.
"Menghasut? Kau pikir aku tak tahu? Kau membunuh para ilmuwan Sandara demi mendapatkan serum dari tubuh mereka. Kau gunakan serum itu untuk membentuk pasukan dan memperkuat dirimu," geram Han.
Sengkuni menyipitkan mata. "Kau tahu dari mana, Pak Tua?"
"Tindakan kejimu terekam oleh sistem GIGA saat menerobos sistem keamanan laboratorium farmasi Elios. Salah seorang ilmuwan mengirimkan video itu padaku sebelum ia tewas karena kekejamanmu. Kejahatanmu telah terbukti, Sengkuni," ucap Han sinis.
Seketika, wujud Sengkuni kembali berubah. Orang-orang tertegun, tapi tidak dengan Han.
"Kau mengingatkanku pada puteraku, Kim Arjuna. Beruntungnya, dia sadar saat kepedihan telah merenggut semua hal yang ia yakini akan memberikan kebahagiaan. Semoga kau masih diberikan kesempatan untuk menyesal sebelum kematianmu," imbuh Han.
"Diam! Diam! Tuan bangka sialan!" teriak Sengkuni marah.
"Kulihat, kau sepertinya ketakutan, Gusti. Apakah kau khawatir jika orang tuamu bangkit? Aku mendengar sebuah berita sebelum ditidurkan, Sandara akan bangkit di tahun ini, begitupula Jordan. Oleh karena itu, kau terburu-buru. Sayangnya, kau sendiri tak tahu di mana keberadaan tabung ibumu," sindir Aisha yang berjongkok di dalam sel karena tubuhnya dililit oleh rantai besi sehingga ia tak bisa bergerak.
Sengkuni memejamkan mata, tapi terlihat seperti menahan amarah. Ia lalu mengambil remote di meja samping tempat dirinya duduk. Seketika, mata Victor melebar.
"Tidak!"
"ARRGHHH!"
"Aisha! Aisha!" teriak Victor panik karena tubuh sang isteri yang dibelenggu rantai besi dialiri listrik hingga membuatnya tersengat.
Aisha mengejang sampai matanya berkedip tak beraturan. James dan lainnya ikut melotot melihat salah satu orang dalam jajaran disiksa oleh putera Sandara Liu.
"Itulah sebabnya aku benci wanita. Kalian berisik. Sok memberikan nasihat. Jika berbicara sangat pedas. Kau beruntung, Pak tua. Aisha menggantikan hukumanmu. Lain kali, hati-hati berucap," tegas Sengkuni seraya meletakkan remote itu kembali ke atas meja. Napas Han menderu. "Mungkin karena aku membenci orang yang hidup berpasangan, aku dilahirkan tidak dalam sebuah ikatan cinta, melainkan percobaan," jawabnya terlihat kesal.
"Apa maksudmu?" tanya James menyipitkan mata dengan tubuh dibelenggu rantai besi dan didudukkan pada sebuah kursi besi yang dialiri listrik.
"Aku tahu kenapa ibuku memilih ayahku Raden sebagai bibit. Hal itu dilakukan untuk membandingkan antara aku dengan Diana dan juga Junior. Setelah tahu hasil dari inseminasi kedua tak berdampak baik karena ternyata mereka sepersusuan, ibuku kecewa. Namun, lihatlah. Ibuku dan Jordan menghasilkan Junior yang jelek itu. Namun, ia malah menyayanginya. Dia, tidak menyayangiku. Dia menganggapku sebagai petaka bahkan memanggiku Sengkuni!" teriak Sengkuni marah seraya melemparkan garpu, sendok dan piring ke arah jeruji besi di depannya hingga makanan di piring itu berhamburan di lantai.
"Itu tidak benar. Semua orang tua menyayangi anak-anaknya meski jahat sekali pun," tegas Han.
__ADS_1
"Ahh ... seperti Vesper isterimu? Dengar, Pak tua. Keluarga kita sudah kacau balau. Keluarga bencana. Oleh karena itu, aku ingin merapikan semuanya. Jadi, diam saja karena seharusnya kalian semua sudah mati. Kalian beruntung karena ada tabung yang membuat hidup lebih lama. Hanya saja, waktu bagi kalian para mafia senior sudah habis. Seharusnya, kalian pasrah dengan kematian dan serahkan masa depan kepadaku," ucap Sengkuni kembali tenang dengan kaki kanan dipangku lutut sebelah kiri.
"Kepadamu? Lalu bagaimana dengan masa depan anak cucu kami?" tanya Victor geram.
"Aku akan mengayomi mereka. Melindungi dan mengasuh mereka. Layaknya ayah yang bertanggungjawab atas hidup anak-anaknya meski mereka bukan anak kandungku. Hanya saja, jika membangkang dan tak menurut, pasti ada hukumannya. Hehe," jawabnya dengan kekehan.
"Dasar bocah gila! Hentikan omong kosong ini dan akan kurobek mulutmu!" teriak James marah.
Sengkuni memutar bola mata dan malah menguap. Ia lalu pergi meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh jeruji besi berisi tahanan yang berhasil ditangkap dan kini dipenjara olehnya.
Keesokan harinya di Markas Oman. Minggu kedua bulan Mei.
Tim Fara siap untuk melanjutkan penerbangan menggunakan pesawat milik Jonathan di mana sebelumnya mereka pergi meninggalkan Black Castle dengan helikopter. Rohan dan para mafia senior tetap diminta untuk menjaga markas karena dikhawatirkan Hope menggunakan kesempatan untuk menyerang selagi para mafia muda dikirimkan ke Australia.
"Kami mengandalkanmu, Reina. Kuyakin kau bisa melakukannya," terang Rohan.
Reina mengangguk pelan dan segera memasuki pesawat. Pesawat pribadi itu siap lepas landas di landasan khusus wilayah Sultan yang telah diamankan dengan persenjataan otomatis buatan Vesper dan Boleslav Industries. Anggota militer gabungan yang tersisa, mengamankan jalur keberangkatan dengan senapan laras panjang dan seragam Black Armys dikenakan.
"Jalur aman! Kau siap berangkat, 13!" seru Rohan dari pusat kendali.
Marco yang menjadi co-pilot dan Polo sebagai pilot dengan sigap menerbangkan benda bersayap itu. Pesawat berhasil lepas landas dengan sempurna tanpa kendala meninggalkan markas Oman. Saat Fara dan lainnya berkumpul untuk mendengarkan strategi yang Reina kembangkan dari strategi para mafia senior sebelumnya, tiba-tiba saja ....
"Apa itu?" tanya Marco saat telinganya tiba-tiba saja mendengar suara benda seperti diluncurkan.
"Suaranya semakin mendekat!" sahut Fara yang ternyata ikut mendengar suara gemuruh itu.
Ketika Sig melihat ekor ularnya muncul dan berderik, mata para mafia muda itu melebar seketika.
"Tombak Jera!" teriak Neil ketika ia melihat dari samping jendela tempatnya duduk, sebuah tombak hitam dengan lampu berkedip melesat cepat ke sisi samping pesawat.
JLEB! PIPIPIPIP!
"Berlindung!" teriak Nero dengan mata membulat penuh.
BLUARRR!!!
__ADS_1
"AAAA!" teriak para mafia muda saat badan pesawat terbakar dan membuat lubang besar.
Benda terbang itu jatuh dengan cepat bersama dengan kobaran api dan kepulan asap yang pekat. Para mafia muda berteriak histeris ketika sebagian dari mereka tersedot dan terlempar dari luar pesawat tanpa parasut.