
Kwkwkw dari kemarin pengen aja nandain itu peta. Jebule setelah ditandain, rame ya perjalanan tim King D gegara Sengkuni sentoloyo. Tapi dengan rute ini kalian jadi tau kemana perginya tim King D yang buanyak amat itu. Ini baru seumprit dr mereka.
Merah : Rute King D dari Cape Verde (kepulauan) > Dakar, Senegal > Guinea > Gabon > India dan akan berakhir ke Australia nantinya.
Hitam : Rute Tim Kolektor dari Yunani > Mauritania > Guinea > Gabon > India dan nantinya pisah karena mereka kudu ke Grey House, China.
Ungu : Ivan Benedict dari Inggris ke Gurun Sahara > Mauritania > Guinea > Gabon > India. Nah, kira-kira Ivan ikut King D atau para kolektor ya? Siapa mau nebak? Kwkwkw.
Biru : Tim Shamsa dari Oman > Libya > Selat Gibraltar > Gabon > India. Nah, mereka akan ikut ke China atau ke Australia bareng King D nih?
Kuning : Tim Fara dari Inggris ke Oman. Apakah mereka berhasil sampai ke Australia setelah pesawat diledakkan?
Jawabannya silakan tunggu di eps berikutnya entah ke berapa intinya tar juga ada penjelasannya. Kwkwkw😆
----- back to Story :
Kembali ke kejadian saat pesawat tim Fara diledakkan.
Praktis, kejadian itu membuat semua orang panik seketika. Marco dan Polo tak menduga adanya serangan dari pihak musuh. Pesawat jatuh dengan sangat cepat dan mustahil untuk bisa selamat.
"AAAAA!" teriak Fara yang masih duduk di bangku dan terikat oleh sabuk pengaman yang menahan tubuhnya.
"Fara! Fara!" panggil Marco keluar dari kokpit sembari menahan tubuh karena posisi pesawat tegak lurus.
"Kita harus segera keluar dari sini, Marco!" teriak Polo yang sudah siap dengan parasut, begitupula saudaranya.
"Selamatkan mereka!" teriak Marco, dan diangguki oleh Polo.
"Loria! Loria!" panggil Polo yang ikut berusaha menahan tubuh agar tak merosot karena pesawat turun dengan cepat. Loria menoleh di mana ia duduk di samping Fara terlihat ketakutan. "Gunakan bangku pesawat sebagai pijakan! Kami akan menangkap kalian berdua. Cepat!" pinta Polo seraya mengulurkan tangan dan menahan terjangan angin kencang dari lubang pesawat.
Terlihat jelas gadis itu ketakutan karena tubuhnya bergetar. Fara yang mendengar hal itu mengangguk cepat berusaha untuk menguatkan mentalnya.
"Mana Sig, Nero dan Neil?" tanya Marco saat tak mendapati tiga pemuda itu.
"Mereka tersedot lubang dan terlempar keluar dari pesawat!" jawab Reina yang dengan sigap melakukan seperti anjuran Polo untuk Loria.
Tentu saja, informasi dari Reina mengejutkan semua orang, tapi kondisi mereka juga tak menguntungkan. Jarak Reina yang lebih dekat dengan saudara kembar itu, membuat putri dari Sakura dengan sigap memanjat ke tempat Polo berada.
"Bagus, Reina! Kemarilah, aku akan menangkapmu!" seru Polo dengan tangan terjulur ke depan.
Loria melihat Reina bergerak cepat ke arah Polo. Jiwa bersaing Loria bangkit. Ia bergegas melepaskan seat belt dan mulai memanjat.
__ADS_1
"Aaaa! Loria, tunggu aku!" teriak Fara histeris.
"Cepat kemari, dasar manja!" teriak Marco kesal karena Fara tak segera bertindak.
Fara yang sebal segera melepaskan sabuk pengaman dan berpegangan kuat pada bangku-bangku sebagai pijakannya. Tiga gadis dari tim yang seharusnya pergi ke Australia karena tuntutan Hope, kini malah harus dihadapkan dengan bencana. Orang-orang itu terlihat bersusah payah menjaga kestabilan tubuh agar tak terperosot saat pesawat jatuh dari ketinggian.
"Cepat! Tak ada waktu lagi! Pesawat akan segera menghantam lautan!" teriak Polo panik saat ia melihat dari arah jendela jika jarak pesawat dengan permukaan laut tinggal 300 meter lagi.
"Heyah!" teriak Loria saat ia menggunakan kemampuan lendirnya untuk merekatkan tubuh Polo dengan dirinya.
Mata Polo melebar, tapi kemudian tersenyum dengan anggukan saat melihat dadanya terkena lendir lengket bagaikan lem itu.
"Ya! Gunakan lendirmu untuk merekatkan kita semua!" pinta Marco, dan diangguki Loria.
Gadis itu dengan cepat menempelkan lendirnya kepada Fara lalu direkatkan pada Marco. Fara dipeluk oleh Marco di mana mereka berdua siap terjun dari lubang pesawat sebelum menghantam lautan.
"Loria! Bawa Reina padaku!" pinta Polo saat Loria berhasil memeluk tubuh Polo karena ia menarik sulur lendirnya bagaikan ditarik tali. Namun, Loria tampak enggan dan malah memalingkan wajah. Reina menyipitkan mata dan terus berusaha mendatangi Polo dengan berpegangan kuat pada bangku-bangku.
"Pegangan!" teriak Marco yang sudah berdiri di lubang ledakan.
"Aaaaa!" teriak Fara histeris dengan mata melotot seraya memeluk Marco saat mereka terjun dari ketinggian ke arah lautan.
Marco dengan sigap menarik tali dari tas parasutnya. Ia berhasil mengembangkan parasut untuk digunakan berdua dengan Fara.
"Loria! Bawa Reina padaku!" teriak Polo yang sudah siap di lubang ledakan untuk melompat bersamanya.
Sayang, Reina masih berada cukup jauh dari jangkauannya karena pesawat berguncang hebat. Reina dan Loria saling bertatapan tajam seperti terjadi persaingan.
Dari luar, "Polo! Polo! Kau harus keluar sekarang!" teriak Marco panik dengan Fara dalam gendongan.
Polo tahu jika waktunya tak banyak lagi. Ia lalu melepaskan tas parasut dan dipakaikan ke punggung Loria. Gadis itu terkejut saat Polo melepaskan rompinya karena lendir menempel pada pakaian itu.
"Kau mau ke mana?" tanya Loria panik.
"Pergilah. Aku harus menolong Reina. Ia tanggungjawabku," tegasnya.
Loria terkejut. Saat Polo akan melangkah, tiba-tiba saja Loria melemparkan lendirnya seperti tali lalu menarik tubuh Reina.
"AAAA!" teriak Reina terkejut saat ia ditangkap oleh Polo yang dengan sigap memeganginya.
"Loria, kita harus— AAAAA!" teriak Polo dan Reina bersamaan saat tubuh mereka tertarik keluar karena Loria melompat begitu saja tanpa aba-aba.
Mata Marco dan Fara melotot saat melihat tiga kawan mereka keluar dari lubang pesawat, tapi tak terlihat parasut terkembang.
"Loria membawa parasutnya!" teriak Fara saat ia dan Marco terapung di lautan.
"Loria! Kembangkan!" teriak Marco di kejauhan.
__ADS_1
Loria yang sepertinya telah paham dengan apa yang harus diperbuat, segera menarik tali parasut itu. Seketika, kain besar tersebut terkembang di udara. Polo dan Reina tergantung di mana keduanya saling berpelukan meski wajah mereka pucat karena shock.
Tiba-tiba saja, "AAAAA!"
BYURR!!
"Polo! Reina!" panggil Marco panik karena Loria melepaskan tali lendirnya dan membuat dua orang itu terjebur ke lautan.
Beruntung, Reina dan Polo bisa berenang sehingga mereka tak tenggelam. Fara dan Marco bergegas mendekati dua kawannya yang kini muncul di permukaan. Sedang Loria, memasang wajah masam entah apa yang terjadi dengan dirinya.
"Hah, hah, kalian tak apa?" tanya Marco panik saat berhasil mendekati keduanya.
"Ya. Gila. Loria hampir membuatku terkena serangan jantung," ucap Polo dengan napas tersengal.
Reina mendongak ke atas di mana parasut Loria masih terkembang dan perlahan, tubuh gadis itu turun ke lautan. Loria memalingkan wajah dari Reina saat ia berhasil melepaskan pengait parasut lalu ikut tercebur ke lautan meski tak setinggi mereka berdua.
Aku tahu kau menyukainya. Polo ... bukan tipeku. Aku sudah memiliki kekasih dan sedang menunggu kebangkitannya. Jangan salah paham.
Praktis, mata Loria melebar. Ia langsung menoleh ke arah Reina yang tersenyum padanya. Loria tampak terkejut karena ia seperti mendengar suara Reina yang masuk ke pikirannya. Loria terlihat pucat dengan jantung berdebar.
"Polo. Pastikan Loria baik-baik saja. Sepertinya ia tegang hingga nekat melakukan hal gila itu. Setelahnya, bawa dia ke daratan. Jarak kita tak jauh dari sana," pinta Reina yang berusaha tetap mengapung.
"Oke!" jawab Polo yang dengan sigap berenang ke arah Loria.
Marco mengajak Fara dan Reina ke daratan. Beruntung, jarak mereka dengan pantai tak terlalu jauh. Mereka melihat moncong pesawat menghantam permukaan laut dengan keras dan terdengar suara ledakan di bawah air. Para mafia muda itu terdiam. Saat Polo berhasil mendekati Loria, gadis itu tampak gugup akan sesuatu karena tak berani memandangi pria bermata biru itu.
"Ayo, kita harus mencari lainnya. Aku khawatir mereka terluka parah," ajak Polo. Gadis cantik itu mengangguk pelan seperti canggung.
Saat mereka akan berenang ke tepian, tiba-tiba saja, "Marco! Awas!" teriak Polo saat melihat segerombolan orang bertopeng dan berpakaian putih, ciri anak buah Hope menyergap mereka.
"AAAA!" teriak Fara panik karena kedatangan orang-orang itu yang tiba-tiba.
Saat Reina, Marco dan Fara akan melawan, tiba-tiba, BUZZ!!
"Ohok! Uhuk!"
"Marco! Fara! Reina!" teriak Polo panik karena tiga orang dari kelompoknya pingsan seketika.
Polo bergegas berenang, tapi Loria dengan sigap memegang tangannya. Polo terkejut dan menatap Loria tajam.
"Kita disergap. Mereka mengincar kita. Ayo sembunyi dan selamatkan mereka saat kondisi aman. Menyelam!" bisik Loria dengan mata membulat penuh.
Polo merasa ucapan Loria ada benarnya. Keduanya segera menyelam dan berenang ke tepian, tapi mengambil jalan lain. Darah Marco, Fara dan Reina diambil oleh orang-orang bertopeng itu. Tiga mafia muda itu tak sadarkan diri dan tergeletak di atas pasir. Saat salah satu anak buah Hope mendekati bibir pantai dengan senapan dalam genggaman, kepalanya menoleh seperti mencari sesuatu.
"Di mana dua orang yang berada di laut itu?" tanya pria tersebut tampak kebingungan.
"Mereka kabur! Cari dan temukan! Jangan sampai mereka lolos atau Tuan Sengkuni akan membunuh kita. Ayo!" sahut seorang pria bertopeng mengomandoi anak buahnya.
__ADS_1
Polo dan Loria yang berhasil berenang sampai ke sisi lain dari pantai tersebut mendengar ucapan orang-orang bertopeng itu. Muda mudi itu saling berpandangan saat bersembunyi di balik semak.
"Sengkuni? Dia tadi mengatakan Sengkuni?" tanya Polo memastikan dan Loria mengangguk membenarkan.