
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Pion Darion yang baru menyadari kebodohannya karena teralih pada rasa sakit di wajah, membuatnya kini dalam bahaya. Darion dengan sigap mencari cara untuk memutus tali dari tombak JERA meski ia tahu jika tali tersebut sangat kuat dan hanya bisa dipotong menggunakan laser dari pedang Silent Blue atau Gold. Sedang, ia tak memilikinya.
"Ak! Ak! Ak!"
"Sial!" teriaknya marah dan panik dalam satu waktu karena para monyet monster siap untuk mencabiknya. "Argh! Masa bodoh jika Arjuna akan memarahiku! Aku masih sayang dengan nyawaku!" pekiknya seraya meletakkan sebuah TEMPURUNG di dinding menara benteng lalu mengaktifkannya.
Pion Darion mengambil tombak JERA lainnya dan membidik dinding bangunan yang terletak lebih rendah dari tempatnya berada.
PIPIPIPI! SYUUTT!!
"Ak! Ak! Ak!"
BLUARRRR!!
Bom dari Tempurung ciptaan BinBin meledak hebat dan membuat menara itu runtuh seketika di bagian atas. Para monyet monster yang bergelantungan pada tali tombak JERA terjatuh dan tertimpa puing-puing bangunan bagaikan hujan. Suara dentuman keras yang membuat tanah bergetar karena puing menghantam permukaan dengan keras, mengakibatkan para monster yang berada di bawah menara berlari menghindar. Sayangnya, busur yang ia kaitkan pada pagar menara sebagai penopang terlepas karena dinding telah hancur.
"AAAAA!" teriaknya saat tali yang dipegangnya berayun kuat dan membuat tubuhnya menghantam dinding bangunan tempat ujung tombak JERA tertancap.
DUAKK!!
"Argh!"
BRUKK!!
Pion Darion jatuh saat genggaman talinya terlepas. Tubuh bagian depan dan wajahnya menabrak dinding dengan keras. Pria tua itu tergeletak di atap bangunan kastil di mana serangan para monster masih gencar dilakukan.
Di tempat Dexter berada.
"Hah? Apa yang terjadi?" pekik Pion Dexter saat mendengar suara bangunan runtuh tak jauh dari tempatnya berada.
Dexter yang memanfaatkan tiap senjata CamGun yang ditemukannya, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya menggunakan sepatu magnet. Ia sengaja tak menapak di tanah karena para monster butuh waktu untuk memanjat dinding. Pria itu geram karena listrik padam. Jika saja listrik bisa menyala, semua monster yang mencoba membobol kastil Hashirama pasti sudah tewas karena banyaknya persenjataan Vesper yang tak diterapkan di markas lainnya.
__ADS_1
"Hah, hah, hah!" engah pria tua itu saat ia berlari di atap bangunan menuju ke pos Darion di mana para monster mengejarnya dari permukaan.
Pion Dexter melempari para monster dengan granat tabung yang membuat orang-orang sakit itu jatuh satu per satu, tapi tak menewaskan mereka. Dexter kesal bukan main karena lawannya bukan manusia biasa. Ditambah, mereka kini seperti kanibal karena memakan manusia.
"Hah?" kejutnya saat melihat menara tempat Darion bertugas runtuh. Jantung Dexter berdetak kencang karena khawatir jika rekannya tewas akibat serangan para monster. Tiba-tiba, "Argh!" rintihnya saat seekor monster monyet menerkamnya dari belakang hingga membuat pria itu jatuh ke atas genteng kastil dan malah membuatnya jebol.
BRAKKK!!
"Argh! Aggg!" erangnya saat punggungnya terbentur lantai. Ditambah, seekor monster monyet ada di atas tubuhnya sedang mencabik pakaian tempur yang ia kenakan dengan beringas. "Menyingkir dariku, Monyet jelek!" teriaknya marah dan berusaha menyingkirkan hewan itu dari atas tubuhnya.
Namun lagi-lagi, "Ak! Ak! Ak!"
"Arrghh!" erangnya saat lubang atap tempatnya jatuh tadi dimasuki oleh monyet-monyet monster yang dengan rakus menggigit tubuhnya.
Pion Dexter meraung karena ia dikerubungi makhluk-makhluk ganas itu. Tenaganya tak cukup untuk melawan. Terlebih, hewan-hewan itu sudah terkontaminasi dan menggila. Darah mulai menyeruak dari luka cakaran dan gigitan yang membuat Dexter merasa jika kematian akan datang padanya sebentar lagi. Ia tak tahan dengan rasa sakit yang diderita oleh tubuhnya.
"Arghh! Harghh!" teriaknya mencoba untuk bertahan, tapi rasa sakit luar biasa disekujur tubuh tak sanggup ia tahan hingga memilih untuk segera mendatangi kematian. "Jika aku harus mati, kalian harus ikut bersamaku!" teriaknya marah.
"Keparatt kau, Tobias."
KLIK! DUKK!! BLUARRR!!
"Akkk!" rintih para monyet saat Pion Dexter mengaktifkan granat itu dan menghentakkannya kuat ke lantai.
Seketika, granat mini meledak hebat. Para monster monyet yang tak menyadari jika kematian telah menunggu mereka, tak bisa menghindar. Dexter tewas bersama para monster yang berhasil membuatnya menderita sebelum kematian merenggut. Suara ledakan kembali membuat pion Darwin panik dan langsung menoleh. Pria itu ikut terluka parah karena darah dari cakaran para monster membuat monster lainnya berambisi untuk menyantap tubuhnya. Tubuh pria itu sampai bergetar hebat dengan pandangan mulai kabur tak lagi bisa bertahan.
"Jika kalian berdua mati dan aku masih hidup, jangan harap aku mau membiayai hidup keluarga kalian!" teriaknya marah, tapi hatinya bersedih.
Tubuh Pion Darwin sampai membungkuk karena kedua tangannya sudah tak lagi bisa memegang senjata, apalagi menggunakannya. Ia melihat para monster kembali berdatangan dari arah lain. Darwin yakin, jika Dexter dan Darion telah dijatuhkan. Ia memejamkan matanya rapat dengan wajah tertunduk berusaha untuk menahan kesedihan atas kehilangan kawan-kawannya.
"Aku tak pernah bermimpi atau pun berharap akan mati dengan cara seperti ini. Konyol sekali," kekehnya dengan air mata menetes tak sanggup menahan duka di hatinya.
"Meawww!"
__ADS_1
Pandangan Darwin terangkat saat melongok dan mendapati para monster mulai menaiki dinding menara. Darwin berusaha menarik pistol di pinggang belakang dengan sisa tenaga. Benda tersebut adalah senjata terakhirnya. Ia menarik napas dalam lalu meletakkan ujung benda itu di pelipis kanan. Darwin siap untuk mati dengan cara bunuh diri ketimbang tewas karena disantap oleh para makhluk mengerikan itu.
"Konyol memang, tapi ini lebih baik," ucapnya lirih dengan pandangan sayu dan tubuh sudah tak mampu lagi berdiri tegap.
Saat Darwin siap menembak kepalanya sendiri, tiba-tiba, JLEB!!
"Oh!" kejutnya ketika tiba-tiba saja seekor kucing yang sedang melompat ke arahnya tertancap anak panah. Mata Darwin melebar dan mematung saat melihat kucing monster itu tergeletak di lantai menara meski masih berusaha untuk bangkit. "Hargh!" erang pria itu lalu menginjak kepala monster berkaki empat tersebut kuat menggunakan sepatu magnet.
Darwin bingung karena tak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang menolongnya. Kacamata night vision miliknya telah rusak karena serangan para monster yang mencoba untuk membunuhnya. Darwin dengan sendirinya menurunkan pistol dan kembali mendekat ke arah pagar menara. Ia melihat para monster jatuh satu per satu dengan anak panah tepat mengenai kepala mereka. Darwin bingung dan tak tahu dari mana arah serangan itu karena kegelapan menyelimuti dan para monster berada di seluruh tempat. Hanya cahaya dari pantulan bulan sebagai penerang.
Hingga tiba-tiba, "Wow!" kejutnya saat sebuah CD melayang ke arahnya dan ada selembar kertas tergantung di sana. "Jangan mati. Kau masih memiliki hutang uang kepada tuan Arjuna dan berjanji akan melunasinya setelah bangkit nanti. Sudah kubilang jangan berjudi! Inilah akibatnya!" ucap Pion Darwin saat membaca tulisan pada kertas itu dan ada sebuah nama di bagian bawah. Praktis, matanya melebar seketika.
"Li-Lian?" ucapnya tergagap dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sang isteri, tapi tak terlihat olehnya. Darwin masih berdiri dan mengamati pertarungan yang terjadi di bawah di mana dirinya yakin jika tak mungkin Lian melakukannya sendiri. "Oh. Apakah ... Rui dan Mei ikut membantu? Mereka bangkit?" tanyanya bingung dan keinginannya untuk mati sirna.
Namun seketika, matanya melebar saat melihat orang-orang berpakaian warna-warni muncul dengan seragam bercahaya layaknya lampu. Darwin sampai terperangah ketika melihat pergerakan orang-orang itu yang berjumlah hingga 11 orang.
"Si-siapa mereka?" tanyanya semakin dilanda kebingungan.
"Papa!" teriak seseorang yang membuat mata Darwin terbelalak lebar karena mengenali suara itu.
Pria tua itu dengan sigap mencari teropong miliknya yang terjatuh dan segera digunakan.
"Ryota!" pekiknya saat mengenali salah satu anak Tora yang kini sudah beranjak dewasa.
Mata Darwin melotot ketika menyadari jika yang menolongnya adalah anak-anak Tora, tapi tak terlihat adanya Kenta dan Azumi. Anak perempuannya berikut anak dari Darion dan Dexter juga ikut terlibat dalam pertarungan melawan para monster ganas itu. Pria tersebut lalu melihat tiga orang dengan pakaian berwarna putih yang menyala terang, tampak begitu gesit saat menjatuhkan para monster menggunakan panah yang ternyata memiliki peledak. Darwin menajamkan penglihatannya dari teropong night vision.
Seketika, matanya kembali melotot saat dugaannya benar jika mereka adalah Rui, Mei, dan Lian. Praktis, perasaan berkecamuk antara senang, bingung, panik dan cemas, bercampur menjadi satu yang membuat pria tua itu hanya menonton dari atas menara.
***
Kalau bisa dapat hadiah gratis kenapa beli? Yang belom join ke GC WA Family Mafia segera tinggalkan no hp di kolom komentar ya biar bisa ikutan event giveaway. Karena lele gak tau kapan lagi bisa kasih giveaway lagi karena kerempongan yang semakin menggila. Tengkiyuw lele padamu
__ADS_1