KING D

KING D
Rencana Cadangan Sengkuni


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Saat semua orang dirundung hati yang gembira karena tugas di wilayah pertambangan batu bara bisa diselesaikan dengan cepat, King D menyadari sesuatu.


"Di mana Romeo?" tanyanya seraya memindai sekitar.


Praktis, kepala semua orang menoleh untuk mencari keberadaan adik Irina tersebut.


"Romeo!" panggil Irina panik dan segera keluar dari tabung.


"Biar aku saja," tegas King D.


Semua orang menatap putra Javier tersebut yang sedang memejamkan mata dengan tubuh tegap seperti menyiapkan sesuatu. Perlahan, tangan King D terangkat ke atas dan matanya terbuka. Orang-orang dibuat tertegun ketika sekumpulan burung datang dari dalam hutan dan terbang ke arah King D.


"Oh, lihat! Mereka membentuk formasi!" seru Irina menunjuk saat hewan-hewan terbang itu seperti mengarahkan ke suatu tempat.


"Ikuti burung-burung itu! Mereka tahu di mana Romeo berada!" titah King D.


William dan lainnya berlari kencang. Junior digendong Irina di punggung. Terlihat, wanita cantik itu seperti bisa membawa beban berat di tubuhnya.


"Cuit, cuit, cuit!"


"Romeo!" panggil William ketika mendapati putranya berada di dalam hutan dan terlihat baik-baik saja.


Romeo meninggalkan pertempuran saat melihat sang ayah melemparkan granat tabung. Romeo menghindar dan masuk dalam hutan. Namun, hal itu memberikannya ide lain.


"Hei, maaf membuat kalian khawatir. Hanya saja, aku sudah membongkar muatan kita. Ayo, bersih-bersih," ucapnya yang berdiri di atas drum penggiling.


"Sialan kau. Kukira kau mati," gerutu William, tapi Romeo terkekeh.


Drone-drone yang digunakan oleh mereka saat di Filipina ikut diangkut. Romeo, Irina dan Junior melakukan pembersihan menggunakan drum-drum yang akan diisi dengan limbah monster. Alat pelacak pada drum sudah diaktifkan dan terhubung pada GIGA.


"Halo, Paman Jordan. Apa lokasi pada drum sudah kau terima?" tanya Irina dari telepon satelit.


"Kerja bagus, Irina. Aku melihat ada banyak kendaraan tambang tak jauh darimu berada, termasuk sebuah helikopter. Kalian bisa menggunakannya untuk mengangkut drum-drum penggiling yang belum terisi limbah bangkai monster. Bergeraklah menuju Balikpapan. Di bandara, GIGA menangkap jika terdapat para monster yang terperangkap di tempat tersebut," jawab Jordan menginformasikan.


"Aku mengerti," jawab Irina lalu memutus sambungan.


"Jadi, bagaimana?" tanya William dengan napas tersengal usai membereskan bangkai monster di kawasan tambang.


"Kita ke Balikpapan. Kurasa, para monster sudah banyak yang dibereskan. Secara tak langsung, Sengkuni membantu tugas kita karena ia mengumpulkan para monster di Australia untuk membunuh kita," ujar Irina.


William mengangguk pelan, tapi tiba-tiba ia memegangi kepalanya dengan wajah berkerut.


"Ayah, kau kenapa?" tanya King D yang memberanikan diri memanggil William dengan sebutan itu.


"Agh, tiba-tiba saja ... aku ingat sesuatu. Saat menjadi Hope," jawabnya dengan tubuh membungkuk.

__ADS_1


"Tentang apa, Ayah?" tanya Romeo ikut mendekat.


"Serum monster. Sengkuni masih menyimpan serum pengubah itu di suatu tempat, dan jika tak salah ... oh shitt!"


"Apa?" tanya Irina ikut melotot.


"Sengkuni akan meluncurkan serum monster ke langit lalu menyebarkannya lewat udara. Ia sudah mensetelnya secara otomatis sebagai bentuk tindakan jika rencananya gagal. Kita harus menggagalkan peluncuran itu!" jawab William panik.


"What!" pekik semua orang dengan wajah tegang.


Praktis, informasi dari William membuat jajaran 13 Demon Heads dan The Circle yang telah diberitahukan oleh Q melalui komunikasi GIGA menyebabkan kepanikan. William tak ingat, kapan tepatnya serum itu akan diluncurkan, berikut lokasi peluncuran.


"Ciri-cirinya. Mungkin kau ingat seperti apa wujudnya!" pekik Q panik dari sambungan telepon satelit. "Aku akan membantu mencarinya jika kau bisa menyebutkan secara spesifik bentuk bangunan, atau lokasi tersebut," sambung pria berkacamata mata itu ikut berdebar.


William diam dengan mata terpejam, tapi tetap ia tak ingat. Mantan agent itu menggelengkan kepala. Tentu saja, informasi yang mengejutkan itu membuat para pendengar menjadi cemas.


"Kita akan menjadi monster? Apakah kita akan saling membunuh?" tanya Mitha sedih menatap para sipil yang bernaung di Kastil Borka, Rusia.


"Aku tak mau itu terjadi. Sebaiknya ... kita ikut membantu meski tak tahu seperti apa wujudnya. Namun, jika serum itu diluncurkan ke langit, pasti dibutuhkan benda berukuran cukup besar layaknya roket dan juga alat pendorong," ujar Ganzorig.


"Apakah dibutuhkan listrik bermuatan besar dan lintasan panjang mengarah ke langit?" tanya Mitha lagi.


"Ya, bisa jadi," jawab Ganzorig yakin.


"Di mana ada tempat seperti itu? Seperti ... meluncurkan roket ke bulan?" sahut Turgen.


Praktis, ucapan Turgen membuat mata orang-orang yang mendengarnya melebar seketika.


"Cape Canaveral!" seru Q yang langsung mengarahkan pencarian ke Amerika Serikat, tepatnya di Florida.


Semua orang yang terhubung dengan teleconference itu dibuat tegang. Mereka menunggu kabar dari Q untuk penyelidikannya.


"Dapat! Terlihat tempat peluncuran memang terpasang roket dengan tipe satelit. Tampaknya, akan ada satelit yang diluncurkan ke angkasa," ucap Q.


"Jika meledak di angkasa, tak akan berdampak apa pun pada makhluk hidup di Bumi," sahut Monica.


"Kita harus pastikan titik ledaknya. Bagaimana jika roket itu meledak sebelum menembus atmosfer Bumi? Gas itu akan terbawa angin, terhirup oleh makhluk hidup, dan taraaa!! Kita semua menjadi monster," sahut Eiji berspekulasi.


"Apakah serum anti monster tak bisa menyembuhkan kita?" tanya Sakura.


"Kita tak tahu jenis serum monster yang digunakan Sengkuni. Jika salah memberikan penawar malah bisa membunuh orang tersebut. Selain itu, jika kita semua terkena gas dari serum monster, siapa yang akan menyembuhkan?" tanya Daniel serius.


King D memejamkan mata karena tak menyangka jika hal buruk masih akan terjadi di saat-saat mereka siap untuk mengembalikan keseimbangan Bumi. Suara orang-orang yang berdebat dari telepon membuatnya berpikir serius.


"Siapa yang jaraknya paling dekat dengan Florida?" tanya King D dengan telepon satelit dalam genggaman.


"Tak ada," jawab Q serius.

__ADS_1


"Mungkin aku dan Safa? Meskipun masih sangat jauh menuju ke sana, tapi ... kami berada di Benua Amerika," sahut Arthur.


"Ya. Kami saja yang pergi. Akan tetapi, tugas membereskan monster dan bangkainya, terpaksa kami tinggalkan," sambung Safa.


"Kami mengerti. Baiklah, pergi ke Florida dan kabarkan tentang temuan kalian ke sana. Hati-hati," pinta King D.


"Yes, Sir!" jawab keduanya serempak lalu menutup panggilan.


Para mafia yang ditugaskan di lapangan mempercepat kinerja meski kepanikan melanda.


"Irina, tolong hubungi Tim Polo," pinta King D.


Irina menggunakan telepon satelit modifikasi ciptaan Eiji untuk menghubungi Polo yang berada di Benua Afrika.


"Mereka akan mati. Florida masih dihuni oleh banyak monster. Ingat tragedi yang kuceritakan dan menewaskan ibuku serta mafia lainnya saat menjelajah Amerika kala itu?" ujar Polo serius dengan tim yang ikut bersamanya.


"Lalu bagaimana?" tanya Loria ikut cemas.


"Aku bisa ke sana. Aku harus memastikan roket di Cape Canaveral tak berisi serum monster. Selain itu, jika benar tempat tersebut adalah lokasi peluncuran, pasti Sengkuni memasang perangkap agar kita tak menggagalkannya. Akan sangat berbahaya bagi Paman Arthur dan Safa jika mereka hanya berdua. Selain itu, mereka tak memiliki kemampuan seperti kita," jawab King D.


"Aku ikut," sahut William seraya mendekat.


"Jangan kau pikir bisa pergi sendirian tanpa mengajak kami," imbuh Romeo dengan tangan melipat depan dada.


King D tersenyum saat Irina dan Junior yang berjongkok di sampingnya menganggukkan kepala.


"Baiklah. Lagipula, aku juga ingin kalian ikut. Aku bosan sendiri," ucapnya.


"Semoga beruntung," ujar Goran lalu menutup panggilan.


Irina segera menghubungi Eva dan Melody setelahnya. Dua perempuan cantik itu paham kondisi yang sedang dihadapi. Mereka akan menjemput drum limbah di Kalimantan yang sudah terisi bangkai monster dan siap untuk dilenyapkan.


"Semoga beruntung, King D. Kami akan tetap fokus untuk membereskan para monster yang tersisa," ujar Eva.


"Terima kasih. Kalian berhati-hatilah," jawab King D dengan senyuman.


"Kenapa kita tak pernah menyelesaikan tugas sesuai instruksi misi? Kenapa selalu ada perubahan saat sedang dilakukan? Kenapa ... ah sudahlah," keluh Melody yang akhirnya pasrah.


William dan lainnya terkekeh karena putri James tersebut menggerutu. King D menutup panggilan. Romeo dan lainnya saling berpandangan karena King D terlihat serius dengan misi barunya.


"Akan tetapi ... bagaimana kita sampai ke sana? Tempat itu sangat jauh," tanya Irina bingung.


"Estafet," jawab King D seraya melirik Romeo dan William.


Ayah anak itu mengangguk dengan senyuman. Sedang Irina, dengan kening berkerut tak bisa menebak isi pikiran tiga lelaki di depannya.


***

__ADS_1



uhuy makasih tipsnya mas koyo. nyambi masak uyy😆 jangan lupa sedekah poin, koin, vote, rate bintang 5, like, komen dan vocer ya. tengkiyuw 💋


__ADS_2