KING D

KING D
Cape Canaveral, Florida*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Siapa sangka, para mafia yang saling bahu-membahu, membuat mereka bisa mendatangi La Palma meski sudah melebihi batas waktu. Tenaga, pikiran, dan mental mereka digempur habis-habisan untuk mengejar momen gunung meletus guna melenyapkan bangkai monster yang berhasil dikumpulkan. Drum-drum limbah seperti melakukan aksi bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai lava. Ledakan demi ledakan terdengar bersahut-sahutan saat drum-drum itu tertelan lahar panas. Orang-orang itu menangis karena tak menyangka bisa bertahan sejauh ini di dunia yang kacau dan melawan para monster.


"Berakhir sudah. Aku tak pernah menduga bisa ikut terlibat dalam aksi penyelamatan umat manusia dari wabah monster. Senang mengenal kalian," ucap Pedro dengan senyuman.


Para mafia yang berdiri di atas bukit melihat fenomena alam menakjubkan itu tersenyum. Para sipil dan para mafia saling berjabat tangan. Mereka berpelukan dan saling memberikan dukungan. Suasana haru menyelimuti hati semua orang, termasuk di tiga markas aktif yang selama ini memantau pergerakan orang-orang itu.


"Yeahhh!" seru para sipil di Kota Hantu yang disusul dengan tepuk tangan.


Eiji dan Monica tertawa gembira karena usaha mereka membuahkan hasil. Q yang kini menunggu kedatangan Sierra dan tim termasuk kebangkitan pasukan pria tampan tersenyum. Perasaan lega menghampiri dirinya. Q berjalan meninggalkan pusat kendali untuk merilekskan tubuhnya yang kaku karena sedari tadi duduk. Namun, wajah Jordan masih terlihat serius ketika pergerakan Tim King D yang menuju Florida tertangkap olehnya. Sedang Martin, begitu dirinya berhasil menyeberangi lautan dengan kapal temuannya, sinyal mantan anggota dewan 13 Demon Heads tersebut menghilang. Jordan terlihat begitu serius saat ia juga menunggu sinyal Safa dan Arthur.


"Ada apa di Cape Canaveral?" tanyanya penasaran dengan mata menyipit.



Florida, Cape Canaveral, Amerika.


Seperti yang dikhawatirkan oleh banyak orang. Ternyata para monster yang tersisa sengaja dipersiapkan oleh Sengkuni untuk siapapun yang ingin menggagalkan peluncuran roket. Sensor-sensor yang bekerja otomatis saat terdeteksi gerakan baik di udara, permukaan tanah, maupun jalur air, membuat jeruji besi yang mengurung para monster terbuka. Sistem persenjataan otomatis melakukan tugasnya meski Sengkuni telah tewas dan tak ada manusia yang mengoperasikannya.


"Safa!" teriak Arthur panik ketika helikopter yang mereka kendarai terbang tak terkendali dengan kepulan asap muncul.


Serangan senjata otomatis yang disiapkan oleh Sengkuni, berhasil memberondong mereka dari permukaan tanah. Helikopter yang dikendarai mereka menjauh dari lokasi peluncuran roket. Arthur dan Safa terpontang-panting di kokpit helikopter. Benda berbaling-baling besar itu siap menghantam tanah dan disambut kumpulan para monster yang siap memangsa mereka.


"AAAA!" teriak Safa lantang saat badan helikopter menabrak sebuah misil di Air Force Space and Missile Museum kawasan Cape Canaveral sebagai benda bersejarah bukti manusia Bumi berhasil mendarat di Bulan.


BRANGG!!


"Goarrr!" raung para monster hewan dari segala jenis yang berlari ke arah jatuhnya helikopter dengan kepulan asap pekat.


Safa dan Arthur terluka parah dengan darah mengucur dari lubang hidung karena hantaman kuat.


"Hah, agg ... a-aku akan menyusul Dakota," ucap Safa dengan suara parau siap menyambut kematiannya.


"Argh, si-sial ...," erang Arthur karena kakinya terjepit tuas pengendali yang patah dan membuat tubuhnya terjepit.


Safa yang merasakan bahunya mengalami patah tulang tak bisa bergerak. Dua orang itu terlihat bersiap menerima terjangan dari serangan monster dan sudah membayangkan rasa sakit luar biasa dari kebuasan mereka.

__ADS_1


"Shoot me, Safa! Shoot me!" teriak Arthur dengan napas memburu yang memilih mati ditembak daripada harus menderita karena gigitan monster.


Napas Safa terengah. Jarak makhluk-makhluk buas itu tinggal 300 meter lagi dari tempat mereka jatuh. Safa berusaha keras meraih pistol di balik pinggang meski harus berteriak karena merasakan tulang yang bergeser.


"Arrghhh!"


"Shoot me!" teriak Arthur lantang saat melihat seekor monster anjiing siap menerkamnya dari lubang pecahan kaca jendela helikopter yang jatuh terbalik.


DOR!


Safa dan Arthur memejamkan mata. Jantung mereka berdebar kencang saat mendengar suara letusan dari pistol. Namun, suara letusan itu tak berhenti karena diikuti suara ledakan seperti bom. Safa dan Arthur merasa jika kematian mereka tertunda, langsung membuka mata.


"I-itu ...," ucap Safa dengan mata melotot.


"Martin!" seru keduanya serempak dengan perasaan gembira.


Martin menggunakan sepatu roda entah ia dapat dari mana sembari melemparkan seluruh amunisi dari persenjataan yang dimiliki.


"Kita harus membantunya. Jumlah monster terlalu banyak!" ajak Arthur.


"Tinggalkan aku! Pergi dan amankan dirimu sampai tim penolong tiba!" perintahnya.


"Enak saja kau menyuruhku! Sudah cukup aku melihat kematian. Diam dan biarkan aku berpikir!" jawab Safa garang.


Arthur langsung terdiam di mana ia kini percaya jika anggota SLYPH memang terkenal galak dan tangguh. Arthur mengembangkan senyumnya karena Safa tak lagi menyerah dengan nyawanya dan kembali bangkit untuk menyerang. Safa mencari benda apa pun yang bisa digunakan untuk membebaskan Arthur sebelum para monster menyadari keberadaan mereka.


Akan tetapi, "Rawrr!"


"AAAA!"


"Safa!" teriak Arthur panik karena Safa diterkam oleh seekor monster kucing dan menggigit leher samping.


Bahu Safa yang terluka, membuat dua tangannya sulit untuk digerakkan meski sekedar untuk menyingkirkan monster tersebut. Suara gemuruh di langit makin membuat suasana mencekam karena hujan lebat seperti siap menerjang kawasan itu. Udara dingin mulai menerpa dan membuat Martin, Safa dan Arthur semakin kesulitan bertindak karena kegelapan mulai menyelimuti sekitar.


"Safa!" teriak Arthur yang masih berusaha keras membebaskan diri dari besi penjepit kakinya.


Leher Safa berdarah hebat karena gigitan tajam hewan bertaring itu dan membuat salah satu anggota SLYPH tersebut jatuh ke tanah dengan mata terbelalak.

__ADS_1


"Hargghhh!"


KLANG!


Jerih payah Arthur membuahkan hasil. Kakinya berhasil lepas dari besi yang menjepitnya setelah ia melepaskan sepatu magnet dan membiarkan kakinya telanjangg. Arthur keluar dari helikopter dengan napas tersengal karena melihat Safa dikeroyok oleh para monster kucing.


"Safa!" teriak Arthur lantang yang dengan sigap mengambil senapan laras panjang dari bangkai helikopter.


Saat Arthur membidik salah satu monster kucing itu, tiba-tiba, DOR!


"Oh!" kejut Arthur saat mendengar suara dari tempat Safa berada. "Safa!" teriak pria itu berlari kencang dan nekat memukul kucing-kucing monster menggunakan gagang senapan.


Mata Arthur melebar saat melihat Safa menggenggam pistol yang diyakini olehnya digunakan untuk bunuh diri tepat di pelipis karena tak sanggup menahan kesakitan karena lehernya robek dan menyemburkan darah segar.


"Argghhh! Mati kalian semua!" teriak Arthur murka lalu menembaki para monster kucing tanpa ampun.


Safa tewas dengan mata terbuka dan leher seperti hampir putus. Darah segar yang menyeruak dari luka koyakan itu membuat para monster di sekitar mendatangi jasad Safa. Praktis, hal itu membuat Arthur dalam bahaya besar.


"Arthur! Pergi dari sini!" teriak Martin yang sudah habis amunisi karena para monster hewan lebih beringas ketimbang para monster manusia.


Arthur yang terdesak mengangguk setuju. Martin meluncur dengan sepatu roda yang ia dapatkan dari sebuah kapal. Mereka berdua menjauh dari wilayah pertempuran menuju ke tempat roket berada. Arthur berlari kencang meski dikejar oleh sekumpulan monster kucing dan anjiing yang bernafsu untuk menyantapnya. Martin dan Arthur terpaksa meninggalkan jasad Safa karena tak mungkin bisa diselamatkan. Para monster serigala menyantap raganya dengan rakus seolah tak peduli dengan jiwa malang manusia tersebut.


"Harghhh!" teriak Arthur marah yang berusaha berlari kencang meski harus menahan sakit di kaki. Martin melindungi kawannya dengan senapan laras panjang milik Arthur yang ia rampas.


"Kita tak akan selamat! Tak ada tempat berlindung di sini!" teriak Arthur yang terus berlari dengan rasa takut menelan jiwanya.


"Aku tak peduli! Larilah sampai kau tak bisa berlari lagi!" balas Martin seraya menembakkan peluru-peluru pembunuh ke arah para monster.


Satu per satu, monster-monster hewan itu tumbang, tapi kemudian disusul oleh kawanan serigala monster. Martin yang telah kehabisan amunisi panik seketika saat dirinya kini diincar oleh hewan-hewan sakit itu untuk dijadikan santapan makan malam.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


uhuy novel buat lomba lele udah di acc mimin tinggal nunggu langkah selanjutnya. semoga lancar dan gak ada kendala. amin❤️ doain lele bisa crazy up king d biar segera tamat akhir bulan ini. tengkiyuw lele padamu💋

__ADS_1


__ADS_2