
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Markas milik Lysa Herlambang. Newfoundland and Labrador.
Penyerangan menyeluruh yang dilakukan oleh Sengkuni membuat semua markas aktif dalam jajaran 13 Demon Heads dilanda kepanikan. Pesawat-pesawat kargo yang berisi muatan para monster bermutasi tak segan menjatuhkan kerangkeng besi tersebut ke wilayah sekitar markas. Praktis, alarm tanda penyerangan langsung berbunyi nyaring. Para monster bisa merasakan keberadaan manusia sehat di mana rasa lapar dan haus memaksa mereka untuk dipuaskan dengan daging segar.
"Pastikan amunisi CamGun selalu terisi penuh!" teriak Safa lantang dari pusat kendali di mana seluruh wilayah terpasang pengeras suara.
Namun, suara yang diperdengarkan oleh Safa, mengundang para monster untuk semakin gencar memasuki hotel tersebut. Pion Dakota yang merasakan kesehatannya mulai menurun semenjak bangkit dari tabung menutupi ketidakberdayaannya dari semua orang dengan ikut bertempur. Ia menembaki para monster yang mencoba menerobos melalui atap bangunan meskipun semua pintu dan jendela telah ditutup rapat yang terkunci dari dalam.
PRANG!!
"Safa! Mereka nekat memecahkan kaca jendela!" pekik salah satu anak buah Yusuke bertopi hitam yang memantau dari sisi Utara terluar gerbang.
"Monster sialan! Akan kuurus! Jangan biarkan mereka menerobos lebih banyak lagi!" jawab Safa yang dengan sigap mempersenjatai dirinya untuk membunuh para monster karena berhasil memasuki hotel.
"Mereka memasuki lantai dasar!" timpal dari petugas lain saat melihat pergerakan para monster yang berhasil lolos dari tembakan CamGun.
Empat orang dari anak buah Yusuke yang tersisa bertugas di sisi Utara, Selatan, Timur dan Barat bangunan. Sedang Pion Dakota, bergegas masuk ke dalam hotel untuk memastikan seluruh amunisi pada senjata otomatis CamGun tetap terisi penuh. Senjata keluaran Boleslav Industries tersebut memang menjadi andalan utama dalam melindungi semua markas dalam jajaran karena dinilai tembakannya selalu tepat sasaran dan mudah dalam pengoperasian serta perawatan. CamGun tak pernah gagal dalam melindungi markas yang tergabung dalam jajaran, tapi kali ini, lawan mereka lebih gesit dan kuat karena bukan manusia biasa.
"Dakota! Kau di mana?" tanya Safa memanggil sang suami tiap ia melewati koridor karena kawatir bertemu dengan para monster.
Safa yang mengkhawatirkan kondisi suaminya itu bergegas mencari keberadaannya. Ia meninggalkan pusat kendali yang berada di basement dengan tergesa. Saat ia akan naik ke lantai satu dengan lorong yang lebih besar dan muat satu buah mobil, tiba-tiba, DOR! DOR! DOR!
Mata Safa langsung tertuju ke sisi Timur bangunan saat mendengar suara tembakan. Anggota SYLPH itu dengan sigap berlari dengan menyiagakan senjata di tangan kanan kirinya karena ia tahu jika lawannya kali ini bukan monster biasa, melainkan para monster yang bermutasi dan memiliki kemampuan seperti King D. Akan tetapi, mereka sudah kehilangan naluri manusianya.
Tiba-tiba saja, "Ugh!"
"Dakota!" teriak Safa saat melihat suaminya terpental jauh hingga pistol yang digenggamnya terlempar sampai ke depan kakinya.
Dakota mengerang kesakitan saat seekor monster berkaki empat seperti seekor anjiing dulunya, tapi memiliki ekor berujung tajam layaknya pisau, mengerang dengan menunjukkan gigi tajam yang disertai liur menetes menunjukkan kebuasannya.
"Arrghhh!"
DODODODOOR!!
"Goarrr!" raung binatang itu saat tubuh bagian sampingnya ditembaki oleh Safa karena insting wanita itu mengatakan jika suaminya akan dibunuh. Dakota terkejut dan menoleh ke arah Safa di mana kini monster itu mengincarnya. "Goarr!!"
"Safa!" teriak Dakota dengan mata membulat penuh saat melihat makhluk itu berlari kencang mengubah sasarannya.
Safa tertegun, tapi ia tak kehilangan akal. Dengan sigap, ia membuang senapan saat amunisinya telah habis dan tak membunuh monster itu. Ujung ekor yang tajam siap menusuknya. Mata Safa menajam dan tak terlihat gentar saat makhluk itu kini membidiknya.
"Goarr!"
"Aku tak takut padamu!" teriak Safa lantang yang dengan sigap berlari lalu menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
Monster itu terkejut, tapi dengan sigap membungkuk saat wanita tersebut berada di bawah tubuhnya. Safa segera menusukkan ujung pedangnya ke arah perut bawah monster itu, tapi ....
KLANG!!
"Hah!" kejutnya karena katana miliknya patah. Mata Safa melotot saat mengetahui jika tubuh monster itu memiliki lapisan keras layaknya Hugo. Safa pucat seketika.
"Goarr!!"
BRUKKK!!
"Argh!" erang wanita itu saat tubuhnya ditangkap lalu dilempar hingga menghantam dinding koridor dengan kuat.
Safa mengerang kesakitan karena wajahnya terbentur dinding dan membuat darah mengucur dari lubang hidungnya. Bau darah Safa membuat monster itu semakin agresif dan dengan cepat mendatanginya dengan buas. Safa melirik dan melihat monster itu siap membunuhnya. Safa yang kehilangan tenaganya memejamkan mata, siap menerima ajal.
"Garrrr!" raung monster itu hingga tubuhnya berdiri yang membuat Safa langsung membuka mata.
"Hah! Jangan sentuh isteriku, Monster jelek!" teriak Dakota marah yang menggunakan ujung ekor dari monster itu untuk menusuk punggungnya sendiri.
Senyum Safa terkembang saat melihat mantan pion The Circle itu berhasil membuat monster itu terluka.
KRASS!!
"Garrr!"
Makhluk itu kembali meraung saat Dakota menebas ujung ekor itu dengan belatinya. Ternyata, bagian ekor tak kebal senjata. Dakota menggunakan ujung ekor dari makhluk itu untuk melukai tubuh lawannya. Dakota menaiki tubuh monster dan terus menusuknya. Seketika, senyum Safa terkembang saat usaha Dakota berhasil dan menewaskan makhluk itu.
Safa mengangguk dengan senyum terkembang, dan Dakota ikut menunjukkan senyum yang sama. Akan tetapi, JLEB!!
"Ohok!"
"Dakota!" teriak Safa langsung melotot saat melihat bagian dada suaminya muncul ujung pisau yang sama.
Darah segar langsung menyeruak di sekitar luka tusukan itu. Napas Safa memburu di mana ia masih duduk di lantai karena tertegun dengan serangan seekor monster yang datang tanpa mereka sadari berada di belakang tubuh Dakota.
KRAUKK!!
"Tidak! Tidak! Dakota!" teriak Safa dengan air mata langsung jatuh begitu saja ketika melihat mulut anjiing monster itu terbuka lebar dan memakan kepala sang suami hidup-hidup. "AAAAA!" jerit Safa histeris melihat kematian sang suami di depan matanya yang dimakan hidup-hidup oleh monster itu.
Tubuh Safa bergetar hebat. Wajahnya telah banjir air mata saat melihat tubuh Dakota disantap hingga ke bagian pinggul lalu dipatahkan begitu saja. Suara remukan tulang dengan darah segar menetes dari rahang bergigi bagaikan gergaji itu, praktis membuat Safa mematung dengan wajah pucat seperti kehilangan separuh nyawanya. Safa menatap kaki Dakota yang masih bergerak seperti mengejang dan hal itu membuat tangisnya semakin memuncak.
"Harghhh!" teriak Safa menutup matanya rapat karena tak sanggup melihat kondisi sang suami yang tewas mengenaskan.
Safa yang diliputi duka mendalam, tak sadar jika teriakannya mengundang para monster yang berhasil melumpuhkan keempat penjaga dari anak buah Yusuke. Monster-monster itu memasuki hotel dan mendatangi Safa yang wajahnya sudah tergenang air mata. Saat para monster itu berebut untuk menyantapnya, tiba-tiba saja ....
BROOM!!
__ADS_1
"Goarrr!" raung para monster ketika tubuh mereka terdorong karena ditabrak oleh sebuah mobil yang memiliki ujung runcing dalam jumlah banyak layaknya durian, tapi berputar bagaikan mesin penggiling.
Monster-monster itu terlindas karena mobil tersebut memiliki bentuk yang tak wajar seperti perpaduan tendem roller pada bagian depan.
"Hahaha! Mampus kalian semua!" seru seorang lelaki dengan helm menutup wajahnya berikut pakaian seperti anti air agar saat terciprat darah monster tak menembus kulit. "Abisi mereka semua, Kang!" seru seseorang yang mengemudikan mobil penggilas tersebut.
"Lagi dikerjain! Dikira kita bengong apa ya dari tadi?" sahut seseorang dengan logat Jawa yang melakukan tugas terakhir dengan memastikan para monster yang terlindas tewas.
Kepala-kepala itu ditebas menggunakan pedang Silent Gold dengan laser menyala terang. Para monster yang melihat serangan dari pihak lawan, segera melakukan aksi balas. Praktis, sopir mobil tersebut melebarkan mata seketika.
"Gaswat! Gaswat! Monster ngamuk!" teriak sopir tersebut panik.
Namun seketika, bagian atap mobil terbuka dan muncullah seseorang dengan senapan berlaras panjang membidik para monster yang berlari mendatangi mobil tersebut.
"Hem," ucapnya dengan senyuman saat membidik para monster yang siap melompat menghindari gilingan.
SHOOT! SHOOT! SHOOT!
CRATT! PESS!
"Goarr!!" raung para monster itu saat peluru yang ditembakkan pecah ketika mengenai tubuh mereka.
Isi peluru tersebut berupa cairan yang mampu melelehkan kulit keras para monster. Makhluk-makhluk berkaki empat itu menggelepar di lantai saat peluru-peluru tersebut terus ditembakkan dan membuat mereka tak lagi bisa melawan.
KRAKK! KRAKK!!
Mobil tersebut menggilas tubuh monster yang tergeletak di lantai dan dianggap menghalangi jalan mereka.
"Ada yang kabur!" pekik sopir tersebut saat para monster menyadari jika mobil berisi kumpulan orang-orang berpakaian warna-warni itu bukan tandingan mereka.
"Kang, kejar!" titah si penembak yang mengenakan seragam tempur warna kuning.
"Siap!" jawab seorang pria dengan pakaian berwarna putih langsung berlari diikuti oleh pria berseragam cokelat.
Pengemudi dengan pakaian berwarna hijau terus melaju kendaraannya secara perlahan sampai ke tempat Safa berada yang masih menutup dua telinga dan mata. Dua orang berpakaian hijau dan kuning itu turun dari mobil lalu berjongkok di samping Safa.
"Maaf kalau kita terlambat. Mereka terlalu banyak. Jalan kami terhambat, tapi ... sekarang sudah aman," ucap pria berpakaian kuning usai melepaskan helm-nya.
Safa yang merasa pundaknya dipegang oleh seseorang langsung menaikkan pandangan. Ia terkejut saat melihat dua wajah yang dikenalnya. Seketika, tangisnya mereda.
"Bi-Biawak?" tanyanya memastikan.
Biawak Kuning dan Hijau mengangguk membenarkan dengan senyum terkembang.
***
__ADS_1
wah tinggal 5 hari lagi menuju giveaway🎉 jangan lupa pelajari 10 novel lele yang dilombakan ya dan semoga menang biar bisa dapat hadiahnya❤️ semangat! Lele padamu💋