KING D

KING D
Mengulang Tragedi Masa Lalu


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


King D tampak serius usai mendengar ucapan sang istri. Irina juga terlihat cemas seraya mengelus perutnya.


"Rahasiakan ini dari semua. Aku tak mau mereka mengetahuinya. Aku ingin bicara dengan Paman Jordan," ucap King D yang diangguki Irina dan Sakura.


Putra Javier beranjak dari ruang medis untuk mencari keberadaan Jordan. Indera penciuman, pendengaran dan mata King D semakin kuat dari hari ke hari padahal dulu kekuatannya sempat sirna. King D merasa jika dirinya telah berubah banyak termasuk cara berpikir semenjak disuntikkan serum Mitologi.


"Paman."


"Oh!" pekik Jordan terkejut sampai hampir menjatuhkan gelas yang akan diminumnya.


"Maaf. Hanya saja, ini mendesak," ucapnya seraya memasuki kamar Jordan.


Pria bermata biru itu menatap King D saksama dan mengangguk pelan. Keduanya pergi ke bunker khusus tempat penyimpanan barang-barang berharga Black Castle peninggalan leluhur 13 Demon Heads. Di ruangan itu, King D menceritakan kekhawatirannya. Tentu saja, hal tersebut membuat Jordan ikut terkejut dan memikirkannya dengan serius.


"Aku sangat yakin. Janin dalam rahim Irina akan berkembang cepat tak seperti manusia normal. Semua orang pasti akan waspada terutama pihak pemerintah. Aku tak mau mereka meragukan kita lagi dan memulai perang baru," terang King D.


"Aku mengerti. Aku terpikirkan ide gila. Namun, kurasa ini akan menjadi pilihan terbaik bagi semua," ujarnya.


"Oke, katakan," sahut King D terlihat siap.


Siapa sangka, ternyata ide dari Jordan disetujui oleh sang Presiden. King D menemui Irina yang masih berada di ruang medis ditemani Sakura. Pria itu tak bisa menyembunyikan rencana Jordan karena Sakura telah mengetahui kehamilan sang istri. Mau tidak mau, ia akan dilibatkan. Saat Irina dan Sakura mendengarkan penjelasan King D dengan serius ....


"Sungguh?"


Praktis, kepala tiga orang itu menoleh seketika. Sig datang karena mendengar pembicaraan tersebut. Indera pendengarannya yang tajam, membuat King D terpaksa melibatkan putra Naomi-Jordan.


"Aku bisa menjaga rahasia. Percayalah," ujarnya meyakinkan.


King D mengembuskan napas panjang. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menepuk pundak pemuda itu. Sig terlihat senang dan berjanji tak akan membocorkan rencana penting tersebut.


BIB!


"Tuan Presiden. Anda ditunggu di ruang pembangkitan tabung. Para manusia yang mengalami proses inkubasi telah bangkit dan sedang dilakukan pemeriksaan menyeluruh," ucap GIGA yang suaranya terdengar di pengeras suara ruangan.


"Aku mengerti. Terima kasih," jawab King D yang kemudian pergi diikuti oleh Sig.


Sakura mengangguk pelan tanda ia paham apa yang harus dilakukan karena dilibatkan. Ia dan Irina pergi meninggalkan ruang medis terlihat serius seperti akan melakukan sesuatu.


Ruang Penyimpanan Tabung, Black Castle, Inggris.


Kedatangan King D mendapat sambutan hangat dari orang-orang yang berkumpul untuk melihat proses pembangkitan hari itu.


"Bagaimana?" tanyanya seraya mendekat ke arah Rayya.


"Hasilnya bagus. Namun, untuk memastikan serum Mitologi telah hilang sepenuhnya, kami harus melakukan cek darah," jawab Rayya seraya menoleh ke arah Fara yang sedang dipindai oleh Roxxane.


"Lakukan prosedur seperti yang seharusnya, Bibi. Aku percaya padamu."


Rayya mengangguk pelan. Sang Presiden berjalan mendekati Lysa dan Fara yang duduk dengan lemas. Para perempuan lainnya duduk berjejer seperti mengobrol ringan usai dipindai.


"Bagaimana? Apa kalian merasakan sesuatu?" tanya King D di depan dua perempuan yang disayanginya.


"Aku mual, tapi lapar," jawab Fara seraya mengecap mulutnya seperti ingin memakan sesuatu.


"Pisang?" tawar Marco seraya mendekat.

__ADS_1


Fara diam sejenak lalu menggeleng pelan.


"Sebaiknya kau jangan dekat-dekat denganku, Marco. Itu tak baik untuk kesehatan hatiku," jawab Fara yang membuat King D diam sejenak, tapi kemudian terkekeh pelan.


"Hai, Fara. Aku Rangga, putra Buffalo dan Drake. Kau harus cek darah sebelum keputusan lanjutan untuk pemberian serum penawar atau tidak," ucap pemuda gagah dengan kulit hitam eksotis.


"Ah, ya," jawab Fara dengan pandangan langsung berpaling ke arah Rangga yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kudengar kau suka pisang. Aku memiliki kebun pisang dengan beragam jenis di kebunku, Indonesia. Seharusnya tahun ini panen. Apakah kau ingin ikut denganku jika hasil tes menyatakan kau normal dan bisa kembali beraktivitas?" tanya Rangga dengan senyum terkembang.


Fara tampak terkejut. Ia melirik ke arah Marco lalu kembali menatap Rangga.


"Mm, bolehkah aku bertanya?" tanya Fara gugup masih duduk di tepi ranjang.


"Tentu saja," jawab pemuda itu santai.


"Apakah ... kau seiman denganku? Maksudku ... agamaku ...."


"Ya, aku sama sepertimu. Harun, Jubaedah dan Rex beragama Islam. Kenapa?" tanyanya tenang menatap Fara saksama.


"Ya, aku mau. Aku akan ikut," jawabnya langsung meraih tangan Rangga dan berdiri di sisinya.


Rangga balas tersenyum lalu berpamitan dengan orang-orang di ruangan tersebut.


"Kau tahu, dampak positif dari tabung yang menidurkan kita?" tanyanya seraya berjalan perlahan. Fara menggeleng pelan. "Kita menjadi hampir seumuran."


"Ah, ya. Itu benar. Senang mengenalmu, Rangga," jawab Fara canggung.


King D melirik Marco yang menatap tajam adiknya di kejauhan hingga sosok Fara tak terlihat.


"Sungguh malang nasib pisang di tanganmu karena harus menjadi pelampiasan amarah," ucap King D yang membuat Marco baru menyadari perbuatannya.


"Tuan Presiden," panggil Sig seraya mendekat. "Mereka sudah bersiap," imbuhnya. King D mengangguk.


"Nyonya Presiden," sapa para pejabat saat melihat kedatangan Irina dan Sakura. Irina menjawab sapaan itu dengan senyuman dan anggukan.


"Jadi, kau akan pergi ke perusahaan Lazarus di Edinburgh?" tanya King D saat sang istri merangkul lengannya mesra.


"Ya. Bibi Sakura akan mengantarku untuk melihat persiapan perusahaan milik Lazarus. Kau tahu 'kan jika nantinya beberapa sipil akan bekerja untuknya dalam sektor perikanan dan pengelolaan produk budidaya laut?" tanya Irina dengan senyum menawan.


King D menatap wajah sang istri dengan tatapan sayu lalu memeluknya erat. Semua orang terdiam melihat Presiden mereka tampak cemas akan sesuatu.


"Baiklah, hati-hati. Kau wanita tangguh dan pintar, Sayang. Kau pasti bisa melewati semua meski aku tak ada di sisimu," ucap King D lirih seraya melepaskan pelukan lalu memegang wajah sang kekasih.


"Aku tahu," jawab wanita bermata hijau itu dengan senyuman seraya membalas sentuhan tangan King D di kedua pipinya.


"Maafkan, kami tak bisa mengantar," ucap salah satu pejabat asal Inggris.


"Tak masalah. Kalian fokus saja pada pemulihan perekonomian. Baiklah, aku pergi dulu," ucap Irina seraya menyalami beberapa orang termasuk ibunya.


"Bisakah kau tunda keberangkatanmu setelah Romeo diinkubasi?" tanya Sia penuh harap.


Irina tersenyum lalu memeluk sang ibu erat.


"Aku hanya pergi sebentar. Kita akan bertemu lagi. Aku terlalu menyayangi untuk meninggalkanmu, Mom," jawabnya tenang, tetapi malah membuat Sia menangis.


"Sudah, kau pergi sana. Kau malah membuat Ibu menangis," kritik Romeo

__ADS_1


Irina terkekeh dan mengangguk. Irina diantar oleh King D dan beberapa orang dari jajaran serta pejabat pemerintah ke helikopter yang terparkir di halaman Black Castle. Sakura dengan sigap menjadi pilot di mana helikopter jenis baru itu bisa dikemudikan satu orang saja.


"Bye!" seru Irina seraya melambaikan tangan ketika baling-baling besar itu mulai bergerak cepat dan menghempaskan benda-benda ringkih di dekatnya.


King D tersenyum meski wajahnya tegang ketika benda terbang tersebut meninggalkan Black Castle. Sang Presiden menoleh ke arah Sig dan Jordan yang berdiri bersamaan lalu keduanya masuk ke dalam tanpa ekspresi. Sedangkan Sia tampak cemas karena harus berpisah dengan putrinya lagi.


"Mari, Ibu. Di luar dingin," ajak King D karena musim telah memasuki dingin dan kemungkinan besar akan bersalju.


Proses pemeriksaan kesehatan para perempuan yang diberikan serum penetral terus dipantau secara ketat oleh tim medis dan pejabat pemerintah. Hingga akhirnya, saat petang hampir menjelang, hasil tes diumumkan.


"Nama-nama yang kusebutkan tadi dinyatakan normal. Selamat!" seru Roxxane yang disambut jabat tangan meriah semua orang.


Para perempuan itu disalami dan diberikan ucapan selamat. Saat proses inkubasi kedua siap dijalankan untuk orang-orang yang telah didaftarkan, tiba-tiba ....


"Tuan Presiden! Tuan Presiden!" panggil Sig masuk ke ruang penyimpanan tabung dengan tergesa.


"Ada apa?" tanya King D langsung menoleh.


"Helikopter! Helikopter yang ditumpangi Nyonya Irina dan Sakura jatuh di sungai! Tubuh mereka tak ditemukan!" seru Sig yang membuat mata semua orang melebar.


"Tidak, Irina!" teriak Sia histeris dan langsung dipeluk kuat oleh Romeo.


"Kerahkan tim pencari dan penyelamat! Susuri sekitar sungai sampai lautan!" titah King D dengan wajah tegang.


Sig mengangguk dan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads bersiap. Mereka meninggalkan ruangan dengan tergesa.


"Aku memiliki kemampuan berenang yang handal. Aku bisa membantu!" sahut Romeo cepat dengan kepanikan terlihat jelas di wajahnya.


King D menatap Romeo lekat dan mengangguk. Sia yang mendengar hal tersebut memaksa untuk diikut sertakan.


"Maaf, tapi Romeo sudah masuk dalam daftar untuk diinkubasi," ucap tenaga medis dari pihak pemerintah.


"Kau jangan membuatku marah atau aku tak segan untuk merobek tubuhmu dalam air dan mencerai-beraikannya!" teriak Romeo garang hingga mata predator airnya menyala terang.


Para sipil langsung melangkah mundur terlihat takut. Napas para mafia memburu dan menatap tajam sekumpulan orang-orang dari pihak pemerintah.


"Kau harus diinkubasi sesuai jadwal, tanpa pengecualian. Kemampuanmu sangat berbahaya dan bisa disalahgunakan," sahut pejabat asal Italia tegas.


"Kemampuan Romeo sangat dibutuhkan. Selain itu, Irina adalah kakaknya. Apakah hati nurani kalian ikut lenyap bersamaan dengan wabah monster?" tanya King D dengan mata tiba-tiba menyala merah terang dan taring di giginya perlahan memanjang.


Semua orang tegang seketika.


"Ti-tidak, Tuan Presiden. Ma-maafkan ucapan saya," jawab pejabat itu dengan wajah tertunduk meski sesekali menatap King D dengan takut-takut.


"Kau ... kupecat dari jajaran pemerintahan, Tuan Yofalen. Anda akan ikut bekerja bersama sipil karena mengabaikan kemanusiaan dan menunjukkan sisi egois yang sudah disepakati untuk ditinggalkan jauh-jauh demi Era Evolusi," ucap King D berbisik menatap tajam lelaki itu.


"Ta-tapi ...."


"Keputusan Presiden! GIGA! Sampaikan ke rakyatku yang berada di seluruh penjuru dunia. Bagi yang menolak kuberikan waktu tiga hari untuk langsung menghadap sesuai undang-undang. Selama menunggu penolakan, Tuan Yofalen akan di penjara!" titahnya lantang.


"Laksanakan, Tuan Presiden. Mengirimkan rekaman ke seluruh markas aktif," ucap GIGA yang membuat tegang semua orang. "Pengiriman selesai."


"Hargh! Kau tak pantas jadi Presiden!" teriak pejabat itu yang tiba-tiba saja mengambil sebuah botol kaca lalu berlari kencang ke arah King D.


Praktis, mata semua orang melebar seketika.


***

__ADS_1


gemes pengen up😆 jangan lupa vote vocernya ya keburu angus. tengkiyuw 💋


__ADS_2