KING D

KING D
Kisah Hope


__ADS_3

Gaes mohon doanya lagi ya. Baby Zacky kena infeksi paru-paru sejak tgl 30 dan sampai skg masih dirawat di NICU🥺 Doakan semua yg dokter usahakan utk kesembuhan Baby Z dijabah oleh Allah. Amin❤️ Doakan lele dan keluarga selalu sehat dan diberikan kesabaran yg luas menanti kesembuhan Zacky. Amin🙏


---- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Hope dan lelaki berbaju putih panik. Terlebih, tabung yang memperangkap keduanya terus tenggelam ke dasar lautan. Naas, tabung pria berpakaian putih terbentur ujung batuan karang hingga timbul retakan besar pada penutup.


KRAK!!


"Hah, hah," engah lelaki bertopeng panik saat melihat penutup tabung retak semakin besar dan membuat air laut yang menggenangi tabung menyembur kuat ke dalam."No, no! Ayah!"


Pemuda itu berteriak seperti akan menangis dan berusaha menahan menggunakan dua tangannya agar air tak memasuki tabung. Namun, tekanan kuat air laut membuat tabung dengan cepat terisi air.


"Hah, hah! Argh!" erang pemuda itu dengan tubuh sudah basah kuyup karena terendam air. "Aku akan mati. Ayah ...," tangis pemuda itu yang akhirnya pasrah.


Ia membuka topeng yang selama ini menutup wajahnya. Lelaki itu membiarkan semprotan air laut membanjiri dalam tabungnya. Saat pemuda itu memutuskan siap untuk mati, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. Ia mencoba mengambil napas terakhir sebelum merendam wajahnya karena oksigen terakhir hanya tersisa pada penutup tabung.


"Herg!"


Lelaki itu melucuti pakaiannya dengan tergesa. Tabung sudah sepenuhnya terendam dan kini tergeletak di atas pasir lautan. Ia mencoba menahan napas semampunya sembari mencari sesuatu di kantong terdalam jasnya. Seketika, matanya melebar.


Sebuah suntikan dengan cairan warna hijau kebiruan ia dapatkan. Tanpa pikir panjang, ia menancapkan ujung jarum itu ke lengannya dan terus mendorong penekan agar cairan unik tersebut masuk sempurna ke tubuhnya meski harus menahan rasa sakit.


"Ohok!"


Sayang, tubuhnya yang terhimpit dalam luapan air laut membuat pemuda itu terpaksa menelan air laut yang kini menyiksa paru-paru. Saat pandangannya mulai kabur dengan tubuh lunglai karena tak sanggup melawan ganasnya air yang melahap tubuhnya, tiba-tiba ....


"Hargh!"


BLUB! BLUB! BLUB!


KRAKK! BRUSHH!


Di saat yang hampir bersamaan. Lelaki bernama Hope yang ikut terperangkap dalam tabung juga telah berusaha membuka tabung miliknya. Beruntung, air laut tak masuk ke dalam. Kesalahan Sengkuni yang terburu-buru, ia lupa jika Hope dan puteranya masih berpakaian lengkap di mana dalam kostum itu terdapat banyak perlengkapan.


"Hah, hah," engah Hope saat ia berhasil mengambil sebuah belati yang selalu disimpan dalam sepatu boots-nya.


Hope membuka penutup topeng dan menatap belati itu saksama dengan napas menderu. Kembali, kenangan masa lalu yang menghantuinya muncul dari senjata tajam itu. Satu-satunya pengingat akan tragedi yang membuatnya terpisah dari keluarga yang dicintainya.


DOR!


"Irina!" teriak William saat dirinya bersama Romeo dan Sia diamankan oleh anggota tim Silhouette dari serangan monster yang menyerang kala itu.


Mata William melebar saat melihat Hendrik menembak puterinya yang sedang berusaha untuk mengendalikan para monster. William yang terkurung dalam mobil anti peluru, membuatnya tak bisa menolong sang anak yang sedang sekarat di luar sana bersama orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads yang bertarung.


"Hentikan mobilnya! Irina bisa tewas!" teriak William panik dengan napas menderu.


Namun, anggota Silhouette yang fokus dengan tujuannya tak mengindahkan ucapan mantan Agent CIA tersebut.

__ADS_1


Sia terbaring tak sadarkan diri dalam sebuah tabung usai didiagnosis mengalami cacat organ usai melakukan percobaan dengan tabung ciptaan Jeremy kala itu. Sia dimaksudkan untuk dipindahkan ke laboratorium farmasi Elios yang berada di Italia untuk diobati. Sayang, saat perjalanan mereka mendapatkan serangan. Romeo ikut terluka karena serangan monster yang tiba-tiba. William menatap isterinya sendu yang terbaring pucat dalam tabung dengan Romeo di sisinya.


"Kalian berdua akan baik-baik saja. Aku harus menyelamatkan Irina," ucap William yang membuat mata Romeo melebar.


"Ayah!" teriak Romeo panik saat melihat sang ayah nekat membuka kaca mobil bagian belakang dan melompat keluar.


BRUKK!!


"ARGH!" erangnya yang nekat keluar dari mobil yang masih melaju kencang.


William merasakan tangan kirinya sakit akibat benturan kuat. Pensiunan agent itu berusaha bangkit meski dengan susah payah sembari memegangi lengannya yang sakit. Saat William berjalan tertatih meninggalkan mobil yang ditumpanginya, tiba-tiba saja, BRANGG!!


"Hah? Sia! Romeo!" teriak William ketika mendapati mobil yang ditumpangi oleh sang isteri dan anak lelakinya diserang oleh sekumpulan monster.


William dihujani kepanikan. Ia berlari mendatangi mobil sang isteri yang melaju tak tentu arah hingga bagian atas kendaraan itu tak terlihat karena banyaknya monster yang mengerubunginya.


BRANG!!


"Sia! Romeo!" panggil William dengan wajah tegang saat melihat mobil yang ditumpangi oleh keluarganya menabrak dinding bangunan.


William terus berjalan menuju mobil yang mulai mengeluarkan asap dengan tertatih. Malang, para monster melihat kedatangannya. Mereka kini beralih dengan mengincar mantan agent itu. Mata William melotot, ia menembaki para monster dengan pistol yang ia simpan di balik pinggangnya.


DOR! DOR! DOR! DOR!


"Hargh! Hargh!" William berteriak lantang seraya terus menembak menghabiskan seluruh peluru di pistolnya.


Satu per satu para monster ambruk dan berjatuhan usai terkena tembakan dari mantan agent tersebut. Namun, nasib baik tak berpihak pada William ketika pelurunya tak lagi bisa melindungi. William spontan berlari menghindari serangan. Ia melihat banyaknya senjata dari pasukan pelindung tergeletak di depannya. Pria itu dengan sigap mengambilnya. Ketika William telah membidik para monster dengan senapan laras panjang beramunisi dalam genggaman, tiba-tiba ....


"Argh!" erang William ketika sebuah belati tiba-tiba saja menancap di punggung tangan dan membuatnya menjatuhkan senapan.


Mata William langsung tertuju pada sosok di kejauhan dengan topeng dan pakaian warna hitam di sebuah jendela yang sudah kehilangan kaca. Napas William menderu. Saat ia mencabut belati itu dari punggung tangannya, sekumpulan monster yang sedari tadi mengincarnya mulai berdatangan.


"Harghh! Come on!" teriak William lantang yang nekat melawan sekumpulan para manusia sakit itu seorang diri.


Ketika William berlari kencang menjemput tantangan itu, tiba-tiba saja, BLUARR!!


Tubuh William terhempas ke belakang hingga terpental jauh. Mobil yang ditumpangi oleh Romeo dan Sia meledak hebat. Para monster yang terkena ledakan mengerang seraya berlarian tak tentu arah dengan tubuh terbakar. Beruntung, William tak terluka parah, tapi jantungnya berdebar kencang saat melihat mobil yang dikenalinya terbakar hebat.


"Sia! Romeo!" teriak William seraya berusaha bangkit dengan air mata mulai menggenang.


Praktis, hati yang berduka langsung menghampirinya. Saat ia siap untuk melangkah, seorang monster dengan tubuh terbakar melompat ke arahnya dan mencengkeram wajah William hingga suami Sia tersebut kembali jatuh ke tanah. William berusaha melepaskan tangan kotor manusia sakit itu dari wajahnya. Naas, William terkena dampak kobaran api karena tubuh monster itu berada di atasnya. William mengerang kesakitan, tapi ia melihat belati yang melukainya berada dekat dengan gapaian tangan.


"Argh!"


JLEB! JLEB! JLEB!


William menusuk tubuh monster itu ke sembarang tempat hingga lelaki yang telah menjadi monster itu tak lagi agresif. William bergulung ke samping dan melepaskan diri dari cengkeramannya. William segera melucuti pakaiannya yang terbakar meski ia terkena dampak dari serangan mematikan itu. Saat pria dengan manik mata warna biru tersebut susah payah melindungi nyawanya, para monster yang masih bertahan terlihat seperti mengejar seseorang di kejauhan.


Mata William melotot ketika menyadari jika anak laki-lakinya Romeo Tolya masih hidup. Namun, nyawanya kini sedang berada di ujung tanduk karena diburu para monster. William berlari kencang mengabaikan semua rasa sakit demi menolong sang anak.

__ADS_1


"Hargh!" erang William yang berhasil berlari menyusul dan mulai menyerang para monster dari belakang.


William langsung mengincar leher para monster yang berhasil ditangkapnya. Pria itu menggorok dengan cepat satu per satu buruannya hingga korbannya berjatuhan dengan luka robek di leher.


"Romeo!"


"Hah, hah, Ayah!" jawab Romeo saat mendengar namanya dipanggil.


Anak lelaki itu spontan menoleh ke belakang. Namun sial, seorang monster dengan cepat melompat ke arahnya dan menerkam remaja itu.


BRUK!!


"AAAA! AYAH!" teriaknya panik.


William dengan sigap mendatangi monster itu dan menarik pundaknya. Romeo menahan tubuh monster yang menindihnya dengan satu kaki dan dua tangan agar giginya yang rusak tak menggigit.


"Hargh!"


JLEB! JLEB! JLEB!


BRUKK!!


"Hah, hah," engah Romeo usai melihat sang ayah muncul di belakang monster itu dengan menusuk punggungnya berulang kali.


"Bangun, cepat!" pinta William.


Romeo bergegas bangun dan meraih tangan sang ayah yang berhasil menyingkirkan tubuh monster itu. Saat William dan Romeo berlari untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba, BLUARR!!


"ARGHH!"


Romeo dan William terpental saat sebuah gedung di sampingnya meledak hebat entah apa pemicunya. William dan Romeo yang tak siap dengan hal itu terpental jauh hingga tak sadarkan diri. Saat William terbangun, ia berada di dalam sebuah tabung dengan Romeo di sisi. Mereka berdua bangun bersamaan tanpa orang-orang yang dikenal.


Saat itulah, William bertemu Sengkuni di mana pemuda itu menjanjikan akan membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah mencelakai Irina dan Sia, asalkan dia berpihak padanya. Sengkuni mengatakan jika dia sempat menyelamatkan Irina dan Sia, tapi orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle mencuri tabung dua orang itu. William yang sebenarnya masih mengalami lupa ingatan akhirnya disadarkan oleh Sengkuni melalui beberapa video cuplikan yang sudah ia manipulasi kebenarannya. William terkejut dan merasa dibohongi selama ini oleh orang-orang di sekitarnya.


Dia tak menyangka jika Sia, Amanda Theresia, keluarga Boleslav dan lainnya adalah mafia. Buruknya, ia hidup dalam kendali mereka. William yang kalut dengan mudah diperdaya oleh Sengkuni. Hingga Sengkuni menawarkan sebuah kesepakatan.


Ia bersedia menolong dengan mencari tahu keberadaan tabung Sia dan Irina asalkan William membantunya. William setuju dengan hal tersebut. Sayang, wajah William menjadi rusak akibat serangan monster kala itu. William menutup wajah dan tubuhnya yang penuh luka termasuk hatinya dengan pakaian pemberian Sengkuni, termasuk Romeo.


Hingga Sengkuni memberikan kabar jika Irina Tolya masih hidup, tapi melakukan operasi plastik agar tak diincar oleh anak buah Hendrik yang masih memburunya. William percaya dengan ucapan Sengkuni. Terlebih, pemuda itu menunjukkan sosok Irina Tolya yang saat itu bergabung dengan tim Marco-Polo dari video-video yang berhasil diambil saat anak buah Sengkuni mengikuti pergerakan tim putera Lopez tersebut. William dan Romeo lega.


Sebagai balas jasa, William membantu Sengkuni mencari tabung-tabung yang berada di markas jajaran 13 Demon Heads dan The Circle sekaligus ikut balas dendam karena ditipu selama ini. Sengkuni mengatakan jika diantara tabung-tabung itu terdapat Sia di dalamnya. William gencar melakukan pencarian karena Sengkuni mengatakan jika para mafia itu sengaja mengambil Sia untuk dijadikan salah satu pasukan monster akibat sang isteri cacat organ. Namun, Sengkuni mengatakan jika diantara para mafia itu memiliki kemampuan tak lazim dan bermaksud untuk mengambil kekuatan mereka.


Sengkuni meyakinkan William jika kemampuan unik itu bisa menyembuhkan Irina dan Sia nantinya. William lagi-lagi percaya dengan perkataan Sengkuni. William yang pernah berhadapan langsung dengan para monster tak ingin sang isteri berubah menjadi monster. William menjadi gelap mata dan budak Sengkuni demi menyelamatkan keluarganya.


Namun, harapan William kembali pupus saat menyaksikan Irina Tolya tewas ketika berhadapan dengan anak buah Hendrik meski sudah dibantu oleh tim Marco-Polo. Padahal, Irina Tolya yang ditunjukkan oleh Sengkuni bukanlah puteri kandungnya, melainkan gadis lain pilihan Sengkuni demi melancarkan rencananya selama ini. William yang kembali terpuruk, kini hanya bisa mengharapkan Sia sebagai tujuan akhir hidupnya.


Meski demikian, Romeo yang memiliki pemikiran sendiri, tapi tak pernah diutarakan kepada sang ayah demi keselamatan, meyakini jika yang diucapkan dan ditunjukkan oleh Sengkuni selama ini adalah sebuah tipu muslihat. Diam-diam, Romeo menyelidiki demi mencari kebenaran itu. Hingga akhirnya, ia melihat sosok Irina Tolya ketika ditangkap oleh Sengkuni di mana ia yakin jika wanita bermanik hijau itu adalah kakak perempuannya.


***

__ADS_1


wah dapat tips. tengkiyuw ya. lele padamu💋



__ADS_2