
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Kapal yang digunakan Souta, Maksim dan Sig untuk berlayar sampai Colombia berhasil tiba dengan selamat saat tengah hari. Terlihat bendera dengan tiga warna itu berkibar di sebuah bangunan yang memiliki mercusuar dekat tepi pantai. Sig tersenyum tipis saat menggunakan teropongnya seperti ingin memastikan sesuatu.
"Kenapa kau tersenyum? Apakah bendera itu sengaja kau tempatkan di sana sebagai suatu tanda?" tanya Souta yang ternyata mengamati gerak-gerik Sig.
"Anda pintar, Paman. Jika bendera itu masih berdiri kokoh di sana, itu berarti orang-orang yang kuselamatkan kala itu masih bertahan hidup. Namun, jika bendera itu tak ada, tandanya mereka pergi meninggalkan Colombia atau sebagian dari mereka telah mati," jawab Sig serius.
"Apakah ... ada yang menjaga bendera itu?" tanya Maksim penasaran saat kapal yang mereka kendarai masih menyusuri tepian belum berlabuh.
"Kita akan cari tahu," jawab Sig tenang.
Sig lalu mengambil pistol suar yang tersedia dalam kapal. Ia menembakkan peluru dari benda itu ke atas langit. Tentu saja suara ledakannya bagaikan kembang api membuat Souta dan Maksim langsung bersiaga dengan senapan dalam genggaman karena takut lokasi mereka ditemukan oleh para monster atau anak buah Hope. Sig menyipitkan mata melihat ke arah sekitar mercusuar saat kapal masih melaju perlahan.
Tiba-tiba, "Hoi! Hoi!" panggil seseorang yang berlari ke arah pantai seraya melambaikan tangan dan membawa bendera Colombia seperti sebuah tanda.
Praktis, senyum Sig merekah. Souta dan Maksim terlihat senang karena ternyata ada manusia yang selamat. Kapal segera dirapatkan dan tiga orang itu turun bersamaan mendatangi seorang pria yang berlari dengan wajah gembira ke arah mereka.
"Kau kembali seperti janjimu, Sig!" ucap lelaki dengan brewok menutup rahang bawahnya.
"Tentu saja, Paman. Aku bahkan membawa bala bantuan. Bagaimana, apakah orang-orang bertopeng itu masih kembali?" tanya Sig serius.
"Ya. Aku sempat melihat ada kapal melintas di perairan ini sekitar 3 hari yang lalu. Orang-orang itu bersenjata. Kapal yang digunakan juga besar dan ada kontainer di atasnya. Aku bersembunyi dan sempat khawatir jika mereka merapat. Namun, kapal itu terus berlayar menjauh hingga aku tak melihatnya lagi. Aku takut, Sig. Aku takut mereka akan datang lagi dan menjadikanku monster seperti kawan-kawan sebelumnya," jawab lelaki itu dengan suara bergetar.
"Aku mengerti. Apakah kendaraan itu masih aman? Kita harus bergegas kembali ke mansion untuk memindahkan orang-orang," tanya Sig, dan diangguki pria itu. "Oh iya, hampir lupa. Paman Souta, Paman Maksim. Kenalkan. Pria baik ini bernama Pedro. Dia orang asli Colombia. Dia yang menjaga tempat ini dan sebagai penghubung ke Blue Mansion selama aku pergi," ucap Sig memperkenalkan.
"Halo, aku Maksim," sapa pria gemuk itu seraya mengajak berjabat tangan.
"Aku Souta," sahut pria asal Jepang itu yang gantian berjabat tangan.
"Aku sangat senang karena akhirnya Sig kembali bersama kawan-kawannya. Jadi, ayo. Aku sudah siap untuk pergi dari tempat ini," jawabnya usai menyalami Maksim dan Souta.
Pedro mengajak kawan barunya mengitari mercusuar sampai ke sebuah hutan. Ternyata, ada sebuah helikopter yang ditutupi oleh semak seperti sengaja diamankan. Senyum Maksim dan Souta merekah karena Sig sudah menyiapkan hal ini sebelumnya. Maksim dan Pedro menyiapkan helikopter agar siap untuk diterbangkan. Sedang Souta dan Sig memindahkan barang-barang dari kapal untuk diangkut ke helikopter.
__ADS_1
"Yeah, berangkat!" seru Maksim terlihat begitu siap meninggalkan wilayah pantai menuju kediaman peninggalan Erik Benedict.
Tampak kota-kota yang dilewati selama mereka terbang sudah ditumbuhi oleh tanaman-tanaman liar. Souta dan Sig terlihat siap dengan senapan dalam genggaman jika melihat pergerakan para monster. Suara baling-baling helikopter yang berisik pasti mengundang perhatian mereka. Namun, tempat-tempat yang dulunya dipadati oleh populasi manusia dengan berbagai aktifitas terlihat sepi layaknya kota mati.
Mobil-mobil tergeletak begitu saja di beberapa ruas jalan yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Kepanikan ikut melanda Colombia bertahun-tahun silam ketika wabah monster mulai menyebar dan dianggap ancaman skala internasional.
"Apakah benar hanya kami yang tersisa di negara ini?" tanya Pedro dengan wajah sendu terlihat begitu sedih.
"Kita pasti bisa mengembalikan tatanan dunia jika wabah monster berhasil kita tuntaskan, Pedro. Kau harus yakin dan berjuang," tegas Maksim menyemangati.
Pedro mengangguk dan terlihat kembali tegar karena merasakan harapan jika mimpi itu akan segera terwujud. Penerbangan yang memakan waktu selama beberapa jam akhirnya berakhir. Terlihat bendera Colombia berkibar di menara Blue Mansion Colombia. Wajah Maksim berbinar, begitupula semua orang dalam helikopter tersebut. Helikopter mendarat di halaman mansion tanpa kendala meski hunian itu terlihat sepi.
"Di mana semua orang?" tanya Pedro heran karena tak mendapati satu pun kawannya yang menyambut kehadiran mereka.
"Waspada," tegas Maksim seraya menyiagakan pistol dalam genggaman.
Pedro terlihat pucat dan takut. Ia berlindung di belakang Maksim karena percaya jika pria gemuk itu memiliki kemampuan. Souta turun dari helikopter bersama dengan Sig yang berjalan lebih dulu darinya.
"Apa orang-orang bertopeng itu datang kemari dan membawa mereka?" tanya Pedro cemas.
Souta dengan sigap membidik ke arah mata Sig tertuju yakni pintu utama mansion. Maksim ikut bersiaga dengan mengarahkan moncong senjata ke sisi sebelah kanan. Pedro mengikuti gaya tersebut dengan mengambil sisi kiri untuk diamankan.
"Jangan menembak. Tahan," tegas putera dari Jordan tersebut. Tiga orang itu mengangguk pelan meski terlihat tegang.
Benar saja, tiba-tiba pintu mansion terbuka. Terlihat seorang wanita yang tampak berantakan dan takut akan sesuatu.
"Anggie!" panggil Pedro yang mengenali wanita itu.
Saat Pedro akan mendekatinya, Sig dengan sigap memegang bahu pria itu. Pedro menghentikan langkah saat Sig menatapnya tajam. Pedro kembali melangkah mundur dan mengarahkan moncong senapan ke sisi kiri.
"Ada apa, Sig?" tanya Souta ikut curiga.
"Seharusnya ada banyak orang di sini, tapi aku hanya mendengar suara Anggie saja sejak mesin helikopter dimatikan. Ada yang salah. Hati-hati, Paman," jawabnya pelan.
__ADS_1
Souta dan Maksim mengangguk pelan. Pedro terlihat pucat dan memilih untuk tetap bertahan dengan posisinya.
"Sig," panggil Anggie terlihat sedih.
"Ada yang ingin kausampaikan? Kau terlihat ketakutan," tanya pemuda itu dengan wajah serius.
Anggie mengangguk. "Tempat ini ditemukan oleh mereka. Aku sengaja ditinggal sendirian untuk menyampaikan pesan padamu," jawabnya seperti orang akan menangis. Praktis, mata para lelaki itu melebar seketika.
"Katakan apa pesannya," jawab Sig tetap tenang.
"Dia meminta kawan-kawanmu yang memiliki kemampuan khusus untuk menyerahkan diri dalam keadaan tak sadarkan diri. Bulan Mei, minggu kedua, dia meminta semua orang dalam jajaranmu ke Australia, laboratorium milik Victor. Jika kalian menolak dan tak datang seperti permintaannya, dia akan meledakkan semua tabung yang berhasil ditemukan sebagai hukuman karena membangkang. Dia juga akan membuat semua manusia yang berhasil diselamatkan untuk dijadikan monster. Ia akan menggunakan kawan-kawan kita untuk membunuh orang-orang yang tak menuruti permintaannya! Kau harus menyerahkan diri, Sig! Kau harus!" teriak Anggie terlihat begitu frustasi hingga mencengkeram kuat rambutnya.
Maksim dan Souta tertegun mendengar penuturan wanita berambut hitam itu. Pedro langsung berlari mendatangi wanita malang yang kini ambruk di lantai terlihat begitu tertekan. Sig diam dengan pandangan tertunduk seperti memikirkan hal ini dengan serius.
"Tidak, Sig. Jika sampai Hope mendapatkan kemampuan unik itu, sama saja perjuangan kita selama ini untuk melawannya sia-sia," tegas Maksim menatap Sig tajam yang masih diam saja.
"Itu benar, Sig. Kami orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads bahkan The Circle pernah mengalami kejadian lebih buruk dari ini. Ancaman Hope masih bisa kita akali. Kita hanya harus saling percaya dan bekerja sama. Aku yakin, kita akan menemukan solusi dari tekanan yang ia berikan," sahut Souta meyakinkan.
Sig menaikkan pandangan. Ia menatap Souta dan Maksim bergantian. Dua mafia senior itu balas menatap Sig tajam terlihat yakin dengan pemikiran mereka.
"Aku setuju dengan pemikiran kalian. Baiklah. Kita harus hubungi semua markas tentang hal ini. Minta diadakan pertemuan khusus. Kali ini, kita harus serius. Sudah cukup bermain petak umpet dengan Hope," jawab Sig mantap.
"Yeah! Kau memang keturunan Boleslav sejati, Sig! Ayo, jangan takut. Kami akan melindungimu, meski kenyataannya terbalik," jawab Maksim yang membuat Souta dan Sig terkekeh pelan.
Malam itu. Sig, Maksim dan Souta berhasil mengaktifkan sambungan komunikasi di pusat kendali Blue Mansion Colombia untuk menghubungi para mafia dalam jajaran. Tentu saja hal ini mendapatkan sambutan meriah dari orang-orang. Namun, permintaan untuk pertemuan akbar seluruh markas ditunda karena menunggu kabar dari tim yang masih bertugas di lapangan agar semua informasi yang didapat bisa dibahas serentak. Sig dan timnya menyetujui hal tersebut.
Pedro dan Anggie yang diyakinkan oleh Maksim jika mereka pasti akan berhasil mengalahkan Hope dibuat pasrah dengan rencana tiga orang itu untuk menyerang kelompok topeng putih. Maksim mengajak para penghuni mansion berkumpul di ruang tengah untuk menonton sebuah tayangan dari televisi layar lebar di sana.
"Aku tahu jika rasanya sulit bagi kalian untuk mempercayai jika kami bisa menumpasnya. Oleh karena itu, silakan nikmati waktu kalian dengan menonton tayangan dari hasil rekaman nyata yang berhasil diamankan oleh jajaranku sebagai bukti jika Hope hanyalah kerikil," ucap Maksim bangga seraya memegang sebuah remote.
Sig dan Souta menahan senyum ketika Maksim menayangkan sebuah rekaman peperangan yang pernah dilakukan oleh para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads melawan musuh-musuhnya. Praktis, mata Anggie dan Pedro melebar. Mereka sampai mengabaikan cemilan yang disajikan oleh Souta dari stok makanan di rumah itu hasil pertanian robot. Sig ikut menikmati tayangan di mana kali ini, rekaman yang dipertontonkan belum ia saksikan. Souta dan Maksim tampak bangga saat menunjukkan kehebatan kawan-kawannya ketika menghadapi lawan dengan gagah berani layaknya tentara.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE
Masih menanti tanda2 brojol debay. Kwkwkw doain lele selalu sehat. Amin. Jangan lupa serahkan seluruh harta kalian karena King D akan segera tamat. Tengkiyuw lele padamuđź’‹