
Tim King D meninggalkan Oman dan kini melintasi Teluk Oman menuju Iran. Banyak kapal-kapal di sekitar dermaga, tapi tak terlihat pergerakan baik manusia yang selamat atau para monster.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Padahal, mereka bisa selamat jika menggunakan kapal dan bertahan di perairan. Para monster tak bisa berenang apalagi melintasi perairan dalam," tegas Lucas, dan diangguki anggota tim Marco-Polo lainnya.
"Itukah cara yang kalian tempuh untuk sampai ke Seward Alaska?" tanya King D penasaran, dan orang-orang itu mengangguk.
"Selama aku berpetualang dari satu negara ke negara lain, jumlah manusia yang terjangkit memang lebih banyak dari pada yang sehat. Mungkin, para manusia sehat itu mati setelah diserang oleh para monster. Namun aku heran, jika para monster itu tak mendapat makanan, bukankah seharusnya mereka mati?" tanya Fabio dengan kening berkerut.
"Untuk itulah, aku sebenarnya ingin menangkap salah satu dari mereka dan menelitinya," ungkap Irina yang mengejutkan semua orang.
"Kau ingin menangkapnya? Lalu kau ingin melakukan eksperimen, begitu?" tanya Hugo sampai matanya melotot, seolah Irina ada di depannya, padahal tidak.
"Saat aku mengendalikan mereka, aku masih bisa merasakan jiwa orang-orang itu seperti kebingungan. Mereka bergerak menggunakan insting layaknya binatang kelaparan. Namun, binatang saja masih memiliki naluri. Aku yakin jika sebenarnya para monster bisa disembuhkan meski tak mungkin maksimal," tegasnya.
"Jangan lupa dengan orang-orang yang terjangkit meski bisa hidup normal, Irina. Oma Vesper, bibi Sandara, paman James, paman Tora, paman Jonathan, paman Jordan, bahkan kau. Kalian memang bisa mengendalikan kemunculan gejala serum monster, tapi sewaktu-waktu bisa muncul kembali jika terpicu. Bila tak ditangani dengan baik, kalian bisa seperti mereka nantinya," tegas King D menatap kekasihnya tajam.
"Jordan?" sahut Jason tiba-tiba yang membuat King D, Irina, Fara dan Otong menoleh ke arah lelaki tersebut.
"Ya. Jordan saudara kembarmu, Paman," ucap Fara.
"Aku memiliki saudara kembar?" tanya Jason tampak terkejut.
"Jangan bikin capek hati dan pikiran. Doi amnesia. Biarkan waktu yang mengembalikan ingatannya," sahut Obama yang sepertinya lelah karena pernah berusaha untuk membantu Jason mengingat masa lalu, tapi sia-sia.
Saat akhirnya mereka akan memasuki wilayah Iran, tiba-tiba ....
"Hei, lihat!" seru Edward saat melihat pergerakan dari pantauan kamera di tubuh bagian luar helikopter.
"Itu para monster!" seru Ritz seraya melakukan zoom in (memperbesar gambar) dari kameranya.
"Ada yang berenang di perairan!" seru Chen menambahkan ketika melihat para monster itu seperti mengejar sesuatu dan menceburkan diri ke dalam air.
"Lakukan protokol K-1!" seru King D.
"Yes, Capt!" jawab semua orang serempak.
Pintu helikopter dibuka dari dua sisi. Semua orang segera bersiap. Kali ini, Polo yang akan bertugas karena matanya mampu menangkap pergerakan dari jarak 1 km di mana matahari sedang bersinar terang.
"Maaf, Irina sayang. Namun, ada manusia yang harus diselamatkan meski hanya satu orang," ucap King D, dan wanita cantik itu mengangguk pelan. "K-1, now!"
Polo segera meluncur dengan tali pengait di pinggangnya. Delapan buah CD terbang melindungi pria bermanik biru tersebut. Helikopter mulai terbang rendah untuk aksi penyelamatan.
"Orang itu sepertinya ingin menuju ke kapal!" seru Polo saat melihat pergerakan lelaki yang sedang berenang ke sebuah yacht.
"Team K-1. Lindungi orang itu!" seru King D dari tempatnya duduk masih terlihat fokus mengawasi dari layar tablet di hadapannya.
Dengan sigap, delapan buah CD menembaki para monster yang berusaha untuk menangkap seorang manusia yang disinyalir adalah seorang laki-laki. Orang itu terus berenang bahkan tak meminta tolong.
Tentu saja, kehadiran helikopter besar itu menarik perhatian para monster. Terlebih, suara tembakan yang memekakkan telinga.
"Mereka mulai keluar dari sarang! Jumlah mereka sangat banyak!" seru Bruno dari tempatnya duduk dan bersiap dengan senapan mesin yang terpasang di samping pintu helikopter sisi sebelah kiri.
"Lumpuhkan mereka semua, Bruno!" seru King D.
"Dengan senang hati," jawab Bruno semangat. Dan seketika, DODODODODOR!!
Peluru-peluru tajam memberondong para monster yang ditembaki oleh kelompok King D dari atas helikopter.
__ADS_1
Obama berusaha untuk mengarahkan helikopternya ke tempat lelaki yang sedang berenang tersebut.
Namun sepertinya, orang itu begitu fokus hingga ia mengabaikan suara berisik di belakangnya.
King D mengamati pergerakan orang itu dari kamera helikopter dengan saksama seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa, D?" tanya Irina menatap kekasihnya lekat.
"Ada yang aneh, Irina. Biar kuselidiki," jawabnya tegas seraya berdiri.
"Aku ikut," rengek Fara.
"No. Stay," tegas King D menunjuk adiknya. Fara cemberut, tapi menurut.
Irina tampak bingung saat King D membuka bagian atas helikopter dan berdiri di sana. Obama mengarahkan helikopter ke yacht di mana orang-orang dari tim Marco-Polo berhasil melumpuhkan semua monster yang mencoba mengejar dengan masuk ke perairan.
"Haha! Aku menyukai benda ini!" seru Robin tampak gembira saat berhasil mengendalikan CD dari tempatnya duduk.
Fabio, Lucas, dan Edward ikut terkekeh di mana mereka juga menjadi pengendali dari drone-drone tersebut masing-masing dua unit.
Helikopter terbang melayang di atas yacht untuk menurunkan Polo dan King D. Obama kembali menerbangkan helikopter ke sebuah lapangan parkir di mana terdapat dermaga Sahahid Beheshti negara Iran.
Tim Marco-Polo diminta oleh King D untuk membereskan mayat-mayat para monster yang telah tewas dengan membakarnya.
King D khawatir, darah beracun mereka akan mengkontaminasi perairan dan membunuh ikan-ikan di teluk tersebut.
Irina dan Fara tampak cemas karena King D serta Polo hanya berdua saja di kapal milik orang asing yang tak diketahui siapa.
"Jangan khawatir. Otong akan cari kendaraan yang bisa bawa kita ke sana. Sabar," ucap Obama dan diangguki dua perempuan cantik itu.
Di kapal.
"Kita tunggu saja orang itu," tegas King D berdiri di geladak sembari menatap pria yang masih berenang dengan susah payah menuju ke kapal.
"Apa yang kaupikirkan, D?" tanya Polo karena merasa gerak-gerik King D aneh.
Namun, lelaki itu tak menjawab dan matanya tetap terkunci pada sosok perenang yang tak dikenalnya. Polo memilih diam dan bersabar menunggu jawaban.
Hingga akhirnya, "Hah, hah, argh!" erang perenang itu saat ia berhasil tiba di kapal dan menaiki tangga dari bagian buritan atau belakang kapal. "Hargghh, to-tolong aku ...," rintihnya terlihat seperti orang kesakitan.
King D segera menangkap kedua lengan lelaki itu yang tampak pucat. Namun tiba-tiba, "Harrghh!"
"King D!" seru Polo panik saat melihat perenang itu tiba-tiba beringas seperti ingin menyerang pemimpin kelompok mereka.
Mata putera dari Javier tersebut terbelalak. Ia langsung jatuh terlentang dengan dua tangan menahan tubuh perenang itu yang mendadak liar.
"Dia terkena serum monster!" seru King D lantang. Sontak, Polo terkejut. "Ambil penawar di kantong hitamku, Polo! Cepat!"
Polo dengan sigap melakukan yang King D perintahkan. Ia melihat sebuah suntikan. King D menahan serangan lelaki itu yang seperti ingin menggigit wajahnya.
Polo dengan sigap menggenggam suntikan itu dan CLEB! CESS!
"Argghh!" erang lelaki itu saat merasakan tusukan dari jarum suntik, tapi tak bisa menyerang Polo karena ia dipegangi kuat oleh King D.
Namun, serum penawar tersebut sepertinya membuahkan hasil. Pria itu mulai kehilangan keagresifannya dan perlahan tubuhnya lemas.
King D mulai merenggangkan cengkeramannya dan merebahkan tubuh lelaki itu ke lantai kapal perlahan.
"Kau sudah menduga hal ini?" tanya Polo dengan kening berkerut tampak waspada.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya merasa aneh. Dia tiba-tiba terkena dampak dari serum monster. Berarti sebelumnya, dia normal. Selain itu, lihatlah. Dia tampak baik-baik saja. Bandingkan dengan para monster yang kaulihat sebelumnya. Apa kau menyadari sesuatu?" tanya King D seraya berjongkok di samping lelaki itu yang tampak pucat dan masih mengeluh seperti menahan sakit di tubuhnya.
"Aku tak yakin. Aku hanya bisa mengetahuinya dengan cara ini," jawab Polo yang tiba-tiba ikut berjongkok dan SRETT!!
"ARGHH!" erang lelaki itu dengan wajah berkerut menahan sakit di punggung tangan ketika Polo dengan sengaja menyayatnya menggunakan belati.
"Darahnya merah. Kau benar, D. Dia manusia sehat sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Polo menatap pria itu saksama yang terlihat seperti kesulitan bernapas.
"D! Kau mendengarku?"
"Ya. Ada apa, Irina?" jawab King D dari sambungan earphone.
"Para monster ini ... ada yang aneh. Darah mereka masih merah. Kau ingat, jika orang yang terkena serum monster dengan fase kritis, darahnya akan berubah hitam kehijauan. Sedang darah orang-orang ini ... masih terlihat segar. Apa ... kita salah sasaran?" tanya Irina terdengar gugup.
Praktis, mata King D dan Polo melebar usai mendengar hal itu. Tiba-tiba ....
"Hah, hah, tolong, ergh, tolong," pinta lelaki itu seraya memegang kaki King D erat.
Mata pria bermanik merah dan biru itu menatap lelaki tersebut tajam.
"Ceritakan padaku," ucap King D serius.
"Dia menjanjikan keamanan pada kami. Hah, hah, awalnya benar, tapi tiba-tiba, orang-orang itu berubah. Aku sadar dengan apa yang akan terjadi. Lalu ... aku kabur, tapi ... tiba-tiba aku ditembak oleh sebuah peluru di leherku. Aku bisa melepaskannya, tapi setelah itu, aku merasakan perubahan dalam diriku. Aku ... aku ...," ucapnya tergagap.
Praktis, Polo dan King D langsung bertatapan tajam seperti menyadari sesuatu.
"Apa jumlah kalian masih banyak? Para manusia yang selamat?" tanya King D serius, tapi pria itu menggeleng.
"Mereka semua sudah berubah, bahkan isteri dan kedua orang tuaku," jawab lelaki itu yang pada akhirnya menangis.
King D langsung berdiri. Ia melihat ke arah pantai dengan sorot mata tajam. Ingatannya masih terekam jelas dari mana pergerakan para monster itu saat ia dan timnya memasuki Iran.
"Marco!" panggil King D lantang.
"Ya!"
"Susuri dermaga. Kau bisa mencium bau monster. Ikuti jejak mereka sebelum orang-orang itu sampai ke pantai. Pergilah ke arah Timur. Cobalah cari sebuah tempat seperti gudang, atau bangunan yang bisa menampung banyak orang sesuai jumlah manusia itu," tegas King D.
"Bukan gudang!" sahut lelaki yang memakai pakaian renang.
"Lalu?" tanya Polo berkerut kening.
"Kontainer. Kami disekap dalam kontainer kargo," tegasnya.
"Marco!" panggil King D lagi.
"Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku akan segera mencarinya!" jawab pria bermanik merah itu lalu memutus panggilan.
King D menatap lelaki itu tajam yang tampak pucat dan takut akan sesuatu.
"Ceritakan semuanya padaku, jangan ditutupi jika kau ingin sembuh dari serum monster yang menjangkitmu," tegas King D, dan lelaki itu mengangguk mantap meski napasnya tersengal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya😍Lele padamu😘 Selamat malam minggu❤️
__ADS_1