
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Di tempat Afro berada. Tokyo, Jepang.
"Emph, sial. Badanku sakit semua. Pasti Jordan sengaja membuatku seperti orang payah," gerutu Afro saat mengendarai motor sport yang ditinggalkan di ruangan tempat tabungnya disimpan.
Helm yang dikenakan Afro memiliki alat pemindai dan dilengkapi komunikasi jarak jauh. Alat-alat itu terhubung dengan Jordan dan GIGA Vesper. Afro melihat dari kaca helm-nya saat instruksi misi tertulis dan dibacakan sistem.
"Kalian benar-benar keterlaluan. Kenapa menggunakan suara Nyonya Vesper? Kalian tahu 'kan, jika aku berhutang banyak padanya. Perintahnya, tak bisa kutolak," keluh Afro lagi seraya mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.
"Kenapa kau menjadi cerewet sekali sejak dibangunkan, Afro?" sindir Jordan.
Afro memasang wajah masam tak menjawab sindiran itu. Hingga tiba-tiba, PIP! PIP!
Afro melirik gelang besi yang menyala merah pada pergelangan tangan kanannya. Benar saja, "Harrghh!"
Afro tersenyum miring melihat kemunculan sekelompok monster dari balik bangunan gedung bertingkat di mana dulunya kawasan itu padat penduduk.
KLIK! SWOOSH!! SWOOSH!! BLUARRR!!
"Haarghhh!"
Luncuran mini misil dari bagian depan motor berhasil mengenai sasaran dan meledakkan para monster itu. Namun, gelang besinya masih menyala merah. Afro melirik ke atas bangunan dari jalanan aspal yang dilewati, tapi tak melihat tanda-tanda keberadaan monster.
Hingga tiba-tiba,"Hagg! Hagg!"
"Oh, shitt!" pekiknya saat menyadari ternyata para monster mengejarnya dari belakang. Afro melihat dari balik kaca dan mendapati sekumpulan monster anjiing berlari kencang, siap menerkamnya. "Rasakan!"
KLIK!! CURRR!! BRUKK!
"Aingg! Aingg!" rintih para anjiing monster saat kaki mereka tergelincir oleh minyak yang ditumpahkan oleh Afro dari tangki cadangan.
NGENGG!! CITT!
Afro memutar motor sport yang dikendarai dan kini posisinya berhadapan dengan para monster berkaki empat itu. Afro terlihat siap menantang musuhnya.
KLIK!! WHOOM!!
"Goarrr!"
Para anjiing monster terbakar hebat karena silinder besi di bagian samping kanan dan kiri depan pijakan kakinya menyemburkan api panas. Hewan-hewan itu berlari kesakitan dalam kobaran api ke berbagai tempat. Afro masih diam saja memindai sekitar di mana kota itu sudah resmi ditinggalkan oleh para manusia entah mereka berada di mana.
Tiba-tiba, "Apa itu?" tanyanya dengan kening berkerut.
Ternyata, apa yang dilihat Afro dari balik helm dilihat juga oleh Jordan. Suami Sandara memperbesar tampilan dari pencitraan satelit untuk melihat lebih jauh.
"Manusia! Ada manusia yang selamat!" teriak Afro dan Jordan bersamaan meski berada di tempat yang berbeda.
Orang-orang itu melambaikan tangan dan menyalakan semacam kembang api sehingga percikannya di hari menjelang petang terlihat olehnya.
"Jordan! Ada berapa banyak manusia di gedung itu?" tanya Afro melebarkan mata dan melihat beberapa jendela terbuka dengan orang-orang muncul di sana.
"Ada 11 orang! Selamatkan mereka, Afro!" seru Jordan.
Namun, Afro melihat gelang besinya masih menyala merah. Kepalanya kembali menoleh untuk memastikan keberadaan para monster yang belum tertangkap matanya.
"Berapa jumlah monster yang tersisa di wilayah ini?" tanya Afro dengan jantung berdebar tak sesantai tadi.
"105."
"Se-seratus? Seratus lima? Gila! Dan aku sendirian?" pekiknya dengan mata melotot.
"Kenapa? Takut mati?" ledek Jordan.
"Awas saja sampai kau muncul di hadapanku. Akan kuremukkan wajah tampanmu itu," geram Afro yang kemudian melakukan hal nekat seperti yang King D lakukan.
Afro menggulung jas anti pelurunya lalu mengeluarkan belati dari samping pinggul.
SRETT!! TES! TES!
"Semoga beruntung," ucap Jordan tersenyum miring.
"Aku tak butuh doamu," sahut Afro menyipitkan mata lalu merapikan kembali lengan jasnya di mana darah segar masih menetes.
Benar saja, "Goarrr!"
Afro menoleh ke asal suara di mana sekumpulan monster berlari dengan buas ke arahnya. Afro melirik ke arah gedung tempat para manusia tadi menampakkan diri, lalu menutup rapat jendela dan tirai. Afro menguatkan hati dan mentalnya di mana ia harus bisa menyelesaikan misinya di tempat itu dalam satu hari.
"Kemari kalian semua!" serunya lantang dan mempersiapkan diri bersama motor modifikasi ciptaan Jonathan Motor Innovation.
NGENGG!!
__ADS_1
"Goarrr!"
KLIK!! SWOOSH! SWOOSH! DUWARRR!!
"Garrr!"
Suara ledakan dari luncuran misil membuat kota yang tadinya sunyi menjadi riuh seketika. Kobaran api dengan para monster yang terbakar membuat Tokyo menjadi ladang pembantaian. Afro mengerahkan seluruh kemampuan dari motor modifikasi itu dengan segala jenis amunisi dan juga persenjataan yang diaplikasikan.
"Peringatan. Amunisi misil tersisa dua buah. Senjata penyembur api habis bahan bakar. Tangki minyak telah kosong. Sisa senjata, senapan otomatis 1000 peluru, asap kenalpot Rainbow Gas Hitam, dan gergaji mesin di sisi kiri dan kanan."
"Itu cukup untuk membunuh kalian semua!" seru Afro usai mendengar penjelasan dari GIGA yang terhubung dengan sistem persenjataan dari motor.
NGENGG!!
Afro melaju pesat mendatangi sekumpulan monster yang berlari di depannya. Mata Afro menajam saat ia sudah memperkirakan jarak untuk melakukan penyerangan.
CITT!! KLIK!! BUZZ!!
Afro menyemburkan gas beracun dari rainbow gas hitam melalui kenalpot ke arah para monster. Keturunan Elios itu segera menekan gas motornya lagi, tapi tanpa diduga ....
BRUKK!!
"Harrghhh!"
"Shitt!" pekiknya saat melihat seorang monster berhasil keluar dari kepulan asap hitam dan kini menangkap bagian belakang motor.
NGENGG!!
"Haarghh!" raung manusia monster itu saat Afro melaju kencang motornya di jalanan aspal yang ditinggalkan dengan tubuhnya terseret di bagian belakang.
Manusia sakit itu berusaha menggapai tubuh Afro meski kakinya terkikis oleh kasarnya permukaan aspal. Seolah, rasa sakit itu tak dirasakan dan digantikan dengan rasa lapar serta keinginan membunuh makhluk hidup bergerak di depannya.
"Haarghh!"
"Arghh!"
NGENGG! BRAKK!!
Motor yang Afro kendalikan jatuh menghantam mobil di tepian jalan. Tubuh Afro berhasil ditangkap dan membuatnya jatuh di aspal dengan keras bersama dengan monster tersebut.
"Menyingkir, Jelek!" amuk Afro saat pakaiannya dicabik oleh monster itu dengan tangan-tangan kotor. "Heahh!"
JLEB! JLEB! JLEB!
"Afro, awas darahnya!" pekik Jordan saat melihat dari kaca helm yang dikenakan Afro terciprat darah hitam monster.
Afro ikut terkejut dan segera menyingkir usai berhasil menusuk leher monster itu dengan belatinya. Monster itu meraung kesakitan. Afro menarik pistol di balik pinggang dan diarahkan ke wajah monster yang menggelepar di atas aspal.
DOR! BLUAR!!
"Wow! Apa itu? Peluru ledak?" tanya Afro terkejut karena kepala monster itu langsung tercerai-berai.
Afro melangkah mundur dengan takut saat melihat pistolnya.
"Ya, inovasi terbaru dari Sandara. Kau memiliki banyak amunisi peluru ledak di motormu. Segera selesaikan, dan jaga jarak agar tak terkena cipratan darahnya. Paman Drake tewas karena darah monster, semoga kau tidak bernasib serupa."
"Paman Drake tewas?" tanyanya mengulang dengan wajah tertunduk.
"Jika mati. Titip salamku untuk keluarga Boleslav di alam sana."
"Sialan kau. Sifatmu yang menjengkelkan seharusnya kau lenyapkan!" pekik Afro yang kini membidik para monster dengan pistol ia arahkan ke depan.
"Itu ciri khasku. Jangan iri."
"Cih. Menggelikan."
"Haarghhh!"
DOR! DOR! DOR! DOR!
BLARR!! CRATT!!
Satu per satu, para monster yang terkena bidikan peluru ledak Afro tewas berjatuhan di atas jalanan aspal. Darah-darah hitam menggenang di sekitar tempat itu termasuk bangkai-bangkai para monster yang tewas karena terbakar. Afro yang sibuk menghabisi para monster tak sadar jika dirinya diawasi dari balik jendela gedung tempat orang-orang berhasil bertahan.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
"Kalian lihat itu? Dia membunuh para monster seorang diri," ucap seorang wanita mengintip dari balik tirai jendela.
"Dia hebat sekali. Ia seperti tak takut menghadapi para monster yang berjumlah ratusan itu!" jawab seorang remaja dengan tubuh kurus.
"Kita harus membantunya!" sahut seorang pria muda.
__ADS_1
"Jangan! Ingat pesan ayah. Kita tidak boleh percaya pada orang-orang yang menyebut diri mereka penyelamat," sahut wanita muda itu.
"Ayah mengatakan jika orang-orang itu memakai topeng, tapi lihat dia. Seragamnya pun berbeda. Aku akan turun menemuinya. Kalian tetap di sini," ujar pria muda bertubuh kurus karena kurang asupan itu.
"Isao! Isao!" teriak wanita muda panik karena pria bernama Isao nekat keluar dari ruangan yang selama ini melindunginya.
Afro yang ingin segera menyelesaikan tugasnya itu bergegas menghabisi para monster. Ia tak mau saat kegelapan datang, dirinya harus berperang melawan monster sendirian di mana ia juga diminta untuk membereskan bangkai-bangkai tersebut. Saat Afro baru saja melemparkan pistol karena telah habis amunisi, tiba-tiba ....
"Tuan! Tuan!" panggil seorang pria yang berlari ke arahnya dengan pakaian lusuh.
Afro menoleh seketika, tapi hal itu membuat nyawa pemuda itu dalam bahaya.
"Awas!" seru Afro saat melihat tiga orang monster muncul dari balik dinding bangunan, siap untuk menerkam pemuda itu.
"AAAA!" teriak pemuda tersebut histeris dan berlari semakin kencang.
Akan tetapi, BRUKK!! SRAKK!
"Agh! Arggg!" erangnya ketika ia tersandung dan jatuh tersungkur dengan keras hingga membuatnya tengkurap.
"Hargghhh!" raung para monster siap untuk mencabiknya.
"Isao!" teriak seorang gadis dari jendela yang kembali terbuka.
"AAAA!" teriak Isao histeris ketika seorang monster melompat ke arahnya.
Namun, tiba-tiba, JLEB!! BRUKK!!
"Hargghh!" erang monster itu saat sebuah anak panah berukuran besar menembus dada dan membuat tubuhnya terdorong hingga menghantam tembok.
Mata Isao melebar saat luncuran anak panah lainnya menembus perut dua monster yang tersisa dan membuat mereka menggelepar di tanah.
"Bangun dan cepat kemari!" seru Afro saat ia menggunakan busur panah otomatis dengan anak panah berukuran besar seperempat tombak.
Isao menoleh ke arah pria yang wajahnya tertutup helm dengan anggukan cepat. Afro melihat seorang wanita dan anak kecil membuka jendela dan memanggil nama pria yang sedang diselamatkannya itu.
"Hah, hah, Tuan. A-Anda siapa?" tanya Isao menatap Afro lekat meski wajahnya tak terlihat karena kaca helm berwarna hitam.
"Kau bisa menembak?" tanya Afro sembari memberikan senapan laras panjang yang ia kalungkan di punggung.
"Ya. Aku pernah membunuh monster sebelumnya dengan senapan milik ayah. Ia dulunya orang militer, tapi sudah tewas," jawab Isao terlihat sedih.
"Aku tak butuh kisah tragismu. Bunuh para monster sebanyak-banyaknya. Aku lelah melindungimu," jawab Afro ketus seraya mengisi ulang anak panah di senjata busur otomatis.
Isao mengangguk pelan. Ia lalu melihat senapan laras panjang yang digenggamnya dengan saksama.
"Oh, monster!" teriak Isao saat melihat seorang monster muncul dari balik mobil.
"Tak usah memberitahuku. Bunuh dia!" teriak Afro marah karena merasa jengkel harus berkolaborasi dengan sipil.
Isao mengangguk paham dengan wajah pucat. Ia membidik monster itu meski tangannya gemetaran.
"Isao!" teriak wanita muda dari balik jendela.
Siapa sangka, panggilannya membuat para monster yang baru saja datang karena mencium bau darah Afro kini membidik gedung apartemen tempat para manusia bertahan.
"Tidak! Haruka!" teriak Isao dengan mata melotot saat para monster nekat memanjat bangunan berlantai 10 tersebut.
"AAAA!" teriak Haruka histeris dan segera menutup jendela kamarnya.
Afro melirik Isao yang tampak terguncang dan malah diam saja dengan senapan dalam genggaman.
"Lambat."
"Hah?" kejut Isao saat pria berhelm mengambil senapannya paksa.
DOR! DOR! DOR! DWUARR! BRUUKK!!
"Terakhir kali aku membantumu. Gadis itu mati, salahmu," ujar Afro seraya memberikan senapan itu lagi dengan kasar lalu berjalan meninggalkan pemuda tersebut begitu saja menuju motornya.
Isao terkejut, tapi dengan sigap membidik para monster yang berusaha memanjat.
"Heahhh!"
DOR! DOR! DOR!
Afro tersenyum tipis saat melaju motornya kencang. Lampu merah pada gelang besinya tak menyala lagi. Afro pergi meninggalkan pusat kota menuju ke sebuah tempat sesuai arahan dari GIGA.
"Hah, menyebalkan. Masih harus bersih-bersih. Eh, kenapa tak menyuruh mereka saja? Aku kan sudah menolong. Hem, ide bagus," ujar Afro saat melihat penutup pintu garasi di sebuah rumah terbuka.
Afro melangkah masuk ke ruangan tanpa cahaya lampu itu. Terlihat, drum-drum penggiling yang disembunyikan sudah berada di atas mobil bak. Senyum Afro terkembang.
__ADS_1
***
puanjang nih isi naskahnya. sudah hari Senin. jangan lupa vote vocernya keburu angus ya. btw ini kayaknya yg ngelike belom semua karena beberapa eps jumlah like gak sama dg sebelum atau sesudahnya. jangan bilang asik baca, scroll dan keliwatan. adeuh😩 ditunggu sedekah koin, poin, dan komennya ya. lele padamu 💋