KING D

KING D
Informasi Yang Mengejutkan


__ADS_3

Tak lama, terlihat sebuah jet ski mendatangi kapal di mana King D dan Polo berada. Obama Otong berboncengan dengan Irina menuju kapal karena mencemaskan keadaan kawan-kawan mereka.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Hei, bagaimana?" tanya Irina saat tangannya disambut oleh Polo yang membantu naik ke atas kapal.


"Sepertinya hal ini memang janggal. King D sedang menginterogasi lelaki tersebut di dalam. Sebaiknya, kita waspada," jawab Polo serius.


Obama Otong segera bergegas naik ke atas kapal dan memasuki anjungan. Terlihat, King D dan lelaki perenang itu sedang duduk berhadapan. King D sedang mengobati luka lelaki itu karena sayatan di punggung tangan.


"Oh!" kejut lelaki itu saat melihat beberapa orang masuk ke ruangan.


"Jangan takut, mereka kawan-kawanku," tegas King D seraya menoleh ke arah tiga temannya.


"Kalian para manusia yang selamat dan tak terjangkit wabah monster?" tanya perenang itu tampak gugup.


"Aku juga terjangkit sepertimu. Namun lihat, aku baik-baik saja. Sebenarnya, pengidap serum monster bisa disembuhkan, asalkan dia masih dalam fase pertama," jawab Irina serius.


"Fase pertama. Apa itu?"


"Sepertimu. Manusia sehat, darah masih merah dan segar. Para manusia dengan ciri-ciri seperti itu masih dibisa ditolong. Hanya saja, kami minta maaf. Kami tak tahu jika orang-orang yang mengejarmu adalah manusia dalam fase pertama. Jika kami menyadari hal tersebut, mungkin kami masih bisa menolong mereka," jawab King D tampak lesu.


"Oh! Bagaimana jika gunakan cara timku?" sahut Polo memberikan masukan.


"Cara apa tuh?" tanya Obama tampak serius.


"Kami berikan gas bius pada mereka. Memang tak bisa membuat mereka pingsan, tapi keagresifan mereka menurun. Saat mereka sedang linglung, kita bisa mengidentifikasi orang-orang itu sebelum melakukan tindakan pembasmian. Bagaimana?"


"Dia benar, D. Rasanya aku juga tak tega saat kita harus membunuh mereka dengan cara keji. Aku yakin, diantara orang-orang itu masih ada yang bisa ditolong," sahut Irina memelas.


King D ditatap tajam oleh semua orang untuk menunggu keputusannya.


"Baiklah, kita akan terapkan protokol baru. K-0," jawabnya. Semua orang mengangguk pelan. "Otong, tolong informasikan hal ini pada semua anggota. Kita akan menerapkan protokol K-0 saat melihat kawanan para monster," titahnya.


"Asiap, Bos!" jawabnya mantap dan segera menghubungi semua anggota tim melalui earphone.


Tentu saja, metode baru itu disambut baik oleh semua orang. Perenang itu masih terlihat pucat dengan tubuh gemetaran seperti orang demam.


"Aku yakin kau bisa sembuh meski tak maksimal. Serum monster yang sudah mengalir dalam darahmu, tak bisa dihilangkan, tapi bisa ditekan penyebarannya dengan pengendalian diri," ucap Irina yang kini menggantikan tugas King D untuk merawat lelaki itu.


"Menekan penyebaran dengan mengendalikan diri? Apa maksudmu, Nona?" tanya pria itu dengan tubuh dibungkus handuk oleh King D.


"Kau tak boleh marah. Emosi yang meluap-luap akan membuat serum monster di dalam tubuhmu bangkit. Jika kau tak bisa menekannya dengan tetap tenang, berpikiran positif, kau akan berubah menjadi seperti mereka. Dan jika sudah memasuki fase kedua, akan sangat sulit untuk disembuhkan lagi," jawab Irina menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tak mau menjadi seperti mereka. Akan kuikuti semua saranmu. Tolong aku, Nona," pintanya sangat seraya memegang tangan Irina.


Dengan sigap, King D langsung melepaskan genggaman itu. Semua orang terkejut, tapi Irina tersenyum.


"Jangan sentuh isteriku," tegas King D melotot.


"Oh, maaf. Aku tak tahu. Aku tak sengaja melakukannya. Aku sungguh minta maaf," ucap lelaki itu tergagap karena mata King D menyala terang.


"Hem, isteri?" sahut Irina tersenyum licik.


King D tak menjawab dan memilih untuk beranjak. Obama dan Polo terkekeh pelan, tapi ditahan karena takut King D malu dirinya diledek.


"Polo. Kau bisa mengendarai kapal?" tanya King D saat sudah di geladak.


"Hem. Namun, aku harus mengeceknya terlebih dulu. Apakah benda ini bisa berfungsi atau tidak?" jawabnya, dan King D mengangguk pelan.


Tak lama, Irina muncul dan memeluk sang kekasih dari belakang. King D diam saja masih terlihat serius mengawasi sekitar di mana terlihat orang-orangnya sedang membakar mayat para monster di pantai.


"Jangan cemburu. Aku hanya mencintaimu," ucap Irina dengan senyuman.


"Aku tahu. Sayangnya, orang lain belum tentu tahu hal itu," jawabnya masih berwajah masam.


Irina tersenyum dan mengangguk pelan seraya meletakkan dagunya di pundak kanan sang kekasih.


Tiba-tiba, BREM!


"Baiklah. Kita bertemu di pantai. Aku dan Irina akan pergi dengan jet ski untuk menyiapkan pengobatan bagi lelaki itu. Mm ... siapa namanya?" jawab King D menoleh ke arah anjungan.


"Azfar. Namaku Azfar dan aku sebenarnya bukan berasal dari sini. Aku tinggal di Pakistan, Islamabad," jawabnya seraya memegangi selimutnya erat.


"Kamu sampai ke Iran dalam rangka apa?" tanya Obama, tapi membuat kening lelaki itu berkerut. "Jiah, lupa. Dia gak pakai alat translator. Polo, pinjemin punyamu dulu dong," pintanya seraya mengulurkan tangan.


"Jika aku memberikannya, aku tak akan mengerti yang kauucapkan," sahutnya terlihat enggan.


"Makanya belajar bahasa Indonesia! Bego dipelihara!" jawab Obama mengaum.


"Aku tahu bahasa Indonesia, tapi bahasamu aneh. Ibuku saja tak pernah bicara dengan logat dan bahasa sepertimu. Aku hanya tahu bahasa Indonesia baku!" timpalnya terlihat kesal di tempat kemudi kapal.


"Kau bisa bahasa Indonesia?" tanya King D heran dan kembali mendekati anjungan.


"Ya. Aku juga baru menyadari saat kalian mengobrol ketika di markas Rusia. Aku dan Marco sengaja diam saja. Ibuku Lopez yang mengajarkan pada kami saat masih kecil. Namun, karena kami sering bertemu dengan orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, kami hampir lupa dengan bahasa itu. Hingga kami mendengar kalian mengobrol lagi dan mencoba untuk mengingat ajaran penting itu," jawab Polo terlihat seperti mengingat kenangan tersebut.


"Padahal kalian dicuci otak kok masih bisa ingat ya?" tanya Obama heran.

__ADS_1


"Gas halusinasi tak mengubah kemampuan seseorang, Otong. Serum itu hanya menghapus kenangan yang diperlukan. Oleh karenanya, saat kita menggunakan kacamata itu, kita tahu, apa saja yang sengaja dihapus dan dibiarkan untuk tetap diingat," jawab King D serius.


"Woo iya, baru paham eke. Padahal Otong gak terkena dampak, tapi malah lupa. Hahaha!" jawabnya santai, tapi membuat King D berwajah malas seketika.


Irina hanya menahan senyum melihat Obama yang tampak mirip dengan ayahnya—Eko.


"Nanti saja kita menginterogasinya. Serum penawarku sedang beradaptasi dengan kekebalan tubuhnya. Jangan membuat Azfar tertekan. Ayo, kita segera berkumpul bersama yang lain," tegas King D, dan semua orang mengangguk pelan.


King D dan Irina berboncengan mengendarai jet ski sampai ke pantai. Terlihat, keduanya menikmati momen meski situasi masih terasa tegang karena kemunculan para monster yang tak diduga.


"Bagaimana?" tanya King D saat ia melihat kawan-kawannya berkumpul usai membakar mayat.


"Mereka semua tewas, tak ada yang selamat. Aku merasa berdosa saat tahu jika sebenarnya mereka masih bisa diselamatkan," ucap Robin tampak lesu di mana sebelumnya ia begitu bersemangat membasmi para monster.


"Itu di luar dugaan kita. Namun, mulai sekarang. Kita lakukan protokol K-0," tegasnya, dan semua orang mengangguk paham.


Tak lama, yacht merapat. Azfar tampak sedih saat melihat orang-orang yang dulu disekap bersamanya kini telah tewas terbakar.


Polo merangkul lelaki malang itu dan mengajaknya ke helikopter untuk segera dilakukan tindakan pengobatan lanjutan.


Di dalam helikopter King D.


"Irina akan mengajarkan pada kalian untuk menyembuhkan pasien yang terkena dampak serum monster. Perubahan suhu mereka berubah drastis. Intinya, jangan sampai suhu mereka panas atau hal itu akan memicu kebangkitan serum monster dalam tubuh meski sudah diberikan serum penawar," tegas King D berdiri menghadap kawan-kawannya, termasuk Azfar yang kini sudah menggunakan alat komunikasi dan earphone translator sehingga mengerti apa yang diucapkan orang-orang itu ketika menggunakan bahasa selain Inggris.


"Mungkinkah, saat dia berenang karena air laut yang dingin membuat serum monster tak menyebar dengan cepat dan merubahnya?" tanya Hugo menduga.


"Hem. Bisa jadi," jawab King D seraya menatap Azfar yang kini hanya mengenakan celana dalaam saja. "Alat pemindai ini digunakan untuk melihat fungsi organ dalam manusia. Apakah normal, atau tidak. Jika dia terjangkit serum monster, pasti suhunya di atas 40 derajat. Napas mereka tersengal dan jantung mereka berdetak lebih cepat seperti orang berlari. Selain itu, kulit mereka keriput dan yang pasti, darah mereka berwarna hijau kehitaman," tegas King D seraya menunjukkan alat pemindai.


Benda itu berbentuk seperti setir mobil, tapi setengah lingkaran dengan sebuah kamera pada bagian depan, dan layar menghadap ke arah pengguna.


Kamera tersebut mengeluarkan sinar warna biru ketika melakukan pemindaian. Semua orang tampak serius mendengarkan.


Azfar melihat bekas luka sayatan di punggung tangannya. Akhirnya ia tahu alasan pria bermata biru melukai tangannya.


Ternyata, ia ingin melihat apakah dia masih bisa ditolong atau tidak. Perlahan, senyum lelaki itu terbit meski hanya di sudut.


Irina akhirnya mengajak orang-orang dari anggota tim Marco-Polo untuk melihat proses penyembuhan dari Azfar.


Tampak, lelaki asal Pakistan itu gugup, tapi Irina meyakinkan jika dia akan baik-baik saja. Irina membuka peti berisi balok es yang sebenarnya disiapkan untuknya sebagai antisipasi.


Namun, Irina yang lebih berpengalaman, membiarkan Azfar untuk berbaring di atasnya. Semua orang tampak serius untuk mengetahui teknik penyembuhan tersebut.


***

__ADS_1



Wokeh, doain lele sehat karena direncanakan per minggu depan mau dobel up termasuk monster hunter karena kata dokter, perkiraan lele lahir awal Okt atau akhir Sept. Jadi, takut ngutang alias eps tanggung dan ditagih up pas lele lagi rempong-rempongnya jadi percepat aja. Trims vote tipsnya. Lele padamu❤️


__ADS_2