KING D

KING D
Tak Bisa Dibangkitkan?*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Kemunculan Neil selaku putera dari Jonathan Benedict dan Cassandra Flame tentu saja mengejutkan semua orang. Namun, puteri dari Sierra yang akrab dipanggil Hihi tak terlihat bertarung bersama Neil. Sedang remaja lelaki dengan kemampuan mata putihnya, ternyata memiliki keunikan untuk mengendalikan pergerakan binatang.


Neil mendekati Click and Clack yang tampak kaget dengan fenomena unik di hadapan mereka. Terlebih, kulit Neil menjadi pucat. Bola matanya berubah putih, tapi sekitar matanya menjadi hitam. Dua pria gundul yang terluka parah itu tegang saat putera Jonathan mengambil pistol dari dalam tas keduanya lalu berjalan kembali ke sekumpulan anak buah Hope. Neil menatap tujuh orang itu dengan wajah datar ketika orang-orang itu mengerang kesakitan akibat luka gigitan dan cakaran dari pasukan binatang Neil.


"Menyingkir," titahnya kepada para hewan.


Seketika, hewan-hewan itu berlari menjauh usai membuat lawan mereka terluka parah.


DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!


Mata dari anggota tim Fara yang masih berada di helikopter melebar saat Neil menembak mati anak buah Hope. Marco segera mendaratkan helikopter di halaman luas Black Castle, tak jauh dari tempat Neil berada. Hewan-hewan itu berkumpul menjadi satu seperti menjaga jarak dengan para manusia berkemampuan khusus. Fara dan lainnya berjalan mendekati Neil dengan gugup. Pemuda itu masih berdiri diam menatap tujuh anak buah Hope yang telah tewas terkena tembakan tepat di kepala.


"Neil?" panggil Fara takut.


"Neil! Hei, ini Papi! Neil! Apa kau mendengarku?" panggil Jonathan dari sambungan komunikasi yang terhubung dengan tim Fara.


Seketika, pemuda itu terperanjat dan langsung mengedipkan mata berulang kali. Praktis, mata putih dan kulit pucatnya hilang. Hewan-hewan yang berada di sekitar tempat itu langsung berhambur pergi masuk ke hutan, termasuk ular dan tikus ke terowongan rahasia.


BRUK!


"Neil!" panggil Nero langsung berlari mendekati Neil ditemani Fara.


Pemuda yang memiliki paras seperti Jonathan ketika masih muda dulu tampak linglung. Ia ambruk seraya memegangi kepalanya dan mengedipkan mata berulang kali.


"Agh! I-ini bagaimana?" tanya Loria bingung karena saat tangannya berlendir, benda lengket itu menempel di pakaian tempur Polo.


Pria bermanik biru itu ikut bingung karena keduanya menempel erat dan malah terlihat seperti sepasang kekasih yang saling berpelukan.


"Hehe, hehe, kalian terlihat manis berdua," kekeh Marco berkesan meledek.


"Fara! Katakan padaku apa yang terjadi!" pinta Jonathan terdengar panik.


Fara menatap Neil lekat yang seperti orang pusing. "Neil, kau tak apa? Apa kau mengingatku?" tanya Fara memandangi pemuda beralis tebal itu saksama.


"Ya. Aduh, aku mual," keluhnya dengan mulut seperti orang mengunyah sesuatu dengan kening berkerut.


Fara segera menyingkir karena takut terkena muntahan Neil jika benar terjadi. Sedang Marco dan Nero terlihat cemas ketika memeriksa keadaan Click and Clack yang terluka parah.


"Kita harus segera mengobati mereka. Luka mereka serius dan tak main-main," ucap Marco terlihat khawatir.


"Oh, Click! Clack!" seru Neil saat menyadari dua orang kepercayaan ayahnya mengerang kesakitan karena luka di sekujur tubuh. "Ayo, bawa mereka masuk!" ajak Neil yang langsung bergegas berdiri dan menunjukkan pintu rahasia untuk memasuki kastil.


Polo akhirnya nekat melepaskan pakaian tempurnya. Loria tersipu malu melihat tubuh bagian atas Polo terekspos mata lugunya. Pria bermanik biru itu hanya tersenyum simpul dan membiarkan tangan Loria yang menempel di bajunya untuk membawa pakaian tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana helikopter kita?" tanya Fara bingung.


"Tinggalkan saja. Cukup bawa perlengkapan yang bisa diamankan. Aku khawatir jika anak buah Hope masih ada yang berkeliaran di sekitar tempat ini," pinta Polo yang kini membantu Clack berdiri kemudian ia gendong di punggung.


"Oh! Gunakan saja motor ini. Aku rasa, terowongannya cukup dilalui," ujar Nero memberikan usulan usai melihat ukuran terowongan.


"Ya, saran bagus. Ayo, Polo!" ajak Marco, dan Polo mengangguk setuju.


Click and Clack diboncengkan pada bagian belakang motor trail yang dimodifikasi tersebut. Nero mematahkan tombak runcing agar tak mengenai penumpang di depannya. Loria membantu Fara mengambil beberapa barang dalam helikopter. Terlihat, para monster sibuk mendapatkan serangan balasan dari persenjataan otomatis yang tiba-tiba saja aktif di seluruh titik terluar Black Castle.


Tim Fara selamat dan berhasil lolos dari kejaran karena dilindungi oleh CamGun. Para monster mulai berjatuhan satu per satu dan tak bergerak lagi. Neil menutup pintu dan ikut mengendarai motor seraya memberikan tumpangan pada Fara. Sedang Loria membonceng Nero menyusuri terowongan hingga ke titik di mana kendaraan tersebut tak bisa digunakan lagi.


PIP! KLEK!


"Mama!" panggil Neil ketika mendapati seorang wanita cantik berambut panjang tersenyum padanya.


Marco dan Polo yang baru pertama kali melihat isteri Jonathan tampak canggung ketika ditatap olehnya.


"Masuklah. Kalian aman di dalam. Bawa Click and Clack ke ruang medis. Neil, antarkan mereka," pinta Cassie, dan remaja berambut cokelat itu mengangguk pelan.


Satu per satu, tim dari Fara masuk ke dalam. Cassie melihat empat motor di parkir pada terowongan khusus secara berurutan. Wanita cantik itu keluar dari pintu besi dan mendekati benda tersebut. Loria yang masih berada di dekat pintu mengamati wanita berambut pirang itu saksama ketika ia seperti mengamati benda tersebut.


"Dasar ceroboh," ucap Cassie ketika ia mendapati sesuatu sampai matanya menyipit.


"Ada apa, Tante?" tanya Fara yang ikut mendekat karena penasaran.


KLEK!


"Oh!" kejut Loria.


Fara dan Loria baru menyadari jika lukisan itu adalah sebuah almari di mana terdapat banyak senjata tersusun rapi di dalam rak khusus yang tertanam dalam dinding. Cassie mengambil sebuah senjata berbentuk segitiga layaknya pistol dengan peluru bulat. Cassie kembali mendatangi pintu masuk tempat para tamunya datang. Mata Loria dan Fara melebar ketika Cassie menembakkan peluru-peluru bulat itu ke arah motor.


DUK! DUK! DUK! DUK!


"Oh! Benda-benda bulat itu menempel pada motor-motor tersebut!" seru Fara dengan mata melebar.


Tiba-tiba saja, Cassie menutup pintu besi tersebut, dan BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!


"Wah! Apa itu barusan?" tanya Loria sampai terperanjat seraya mendekap baju Polo erat.


Cassie mengembalikan senjata HIT ke dalam rak lalu menutup pintu lukisan. "Kalian harus lebih jeli lagi. Motor itu dipasangi pelacak. Mereka mengincar jalan masuk Black Castle. Hemp, ini gawat karena satu jalan masuk sudah ketahuan. Namun, tak apa, itu urusan mudah. Aku akan memasang banyak perangkap di sepanjang koridor terowongan," jawab Cassie yang membuat dua gadis itu membuka mulutnya lebar. "Jadi ... kalian siapa? Wajah kalian tampak tak asing. Selain itu, sistem keamanan tak menganggap kalian ancaman. Pasti data kalian sudah dikenali GIGA," tanya Cassie menatap dua gadis cantik di depannya lekat.


"Tante lupa? Aku Fara, puteri dari Tobias dan Lysa. Lalu ... dia Loria, puteri dari Tessa dan Kim Arjuna. Lalu orang-orang yang sudah pergi duluan mereka—"


"Aku mengenalnya. Si kembar dengan dua warna mata berbeda itu Marco dan Polo. Putera dari Brian dan Lopez. Lalu ada Nero, putera dari Sun dan Sisca. Jadi ... sudah banyak yang bangkit ya? Sepertinya, keadaan sangat gawat di luar sana," sahut Sierra yang tiba-tiba muncul dengan sepatu robot dan piyama tidur sutera, mirip seperti yang dikenakan oleh Cassie hanya saja berbeda motif.


"Wah, dia cantik sekali. Siapa dia?" tanya Loria penasaran.

__ADS_1


"Kau tak tahu? Mereka berdua isteri dari Om Jonathan," jawab Fara berbisik.


Loria ber-Oh dengan anggukan entah dia lupa atau memang tak tahu, tapi wajah lugunya menunjukkan ia baru mengetahui hal tersebut.


"Jadi, bagaimana? Mereka sudah mati?" tanya Cassie menatap Sierra saksama.


"Hem. Untung saja generator cadangan bisa diaktifkan. Hampir saja para monster itu berhasil membobol kastil melalui atap. Hanya saja, ugh, pasti sangat menjijikkan di luar sana. Bau bangkai itu akan sangat menyengat," keluh Sierra dengan wajah sebal.


Cassie tersenyum tipis. "Jangan khawatir. Kita akan bangkitkan beberapa orang untuk membersihkannya. Selain itu, ada kawan-kawan Neil yang akan membantu. Benarkan, Loria, Fara?" tanya Cassie seraya menaikkan salah satu alis.


"He?" jawab Fara dan Loria spontan karena merasa akan diberikan sebuah pekerjaan besar.


Di ruang tempat penyimpanan tabung. Black Castle, Inggris.


"Kenapa Hihi tak bisa bangkit?" tanya Jonathan melalui sambungan telepon satelit karena menara komunikasi Black Castle rusak.


"Entahlah, Papi. Prosedur pembangkitan juga telah dilakukan dengan semestinya. Namun, program tabung seperti menolaknya. Hihi masih tertidur. Bagaimana?" tanya Neil heran ketika tangannya menyentuh tabung Hihi dan aksesnya diterima, tapi proses membangkitkan tak berjalan.


"Ya sudah, biarkan saja. Mungkin Hihi lelah dan ingin tidur lebih lama. Aku tak tahu apa yang dilakukan oleh Sandara pada anak gadisku itu. Namun, jika sampai wabah ini berakhir dan Hihi tak bisa dibangkitkan, aku tak segan membuat perhitungan dengan Sandara," jawab Jonathan kesal.


"Nathan! Sepertinya hal sama juga terjadi pada Gibson. Aku tak bisa membangkitkannya," sahut One tiba-tiba dari sambungan tersebut yang mengejutkan semua orang.


"Oh, benarkah? Apakah sistem mengatakan hal sama jika waktu kebangkitan dan akses khusus tak sesuai?" tanya Jonathan.


"Ya. Ini aneh. Apakah ... anak-anak yang tergabung dalam Demon Kids dan menggunakan tabung Sandara diberikan sebuah instruksi khusus?" tanya One terdengar bingung.


"Entahlah, kita harus mencari tahu. Jumlah anak-anak Demon Kids sangat banyak hampir 30 orang jika tak salah," sahut Verda.


"Lebih tepatnya 27," timpal Neil yang membuat semua orang terkejut mendengar penuturannya. "Gibson, Jubaedah, Rex, Ryan, Tina, Timo, Laika, Czar, Bara, Rangga, Mandarin, Azumi, Kenta, Nicolas, Harun, Lazarus, Boas, Vadim, Pasha, Bobby, Oscar, Peter, Rocky, Bruce, Teddy, Jimmy, dan Hihi."


"Ba-bagaimana kau tahu tentang hal itu?" tanya Sierra ikut kaget karena pengetahuan Neil tentang Demon Kids.


"Hihi mengatakan banyak hal padaku. Bahkan, saat ia menawarkan apakah aku mau memiliki kekuatan super dari darah peri Boas ketika di Planet Mitologi? Dan ya, aku menyetujuinya. Siapa sangka yang diucapkan oleh Hihi benar. Katanya, saat aku mendapatkan kekuatan itu, aku diminta untuk segera mencobanya untuk membuktikan apakah berhasil atau tidak. Ternyata ... berfungsi dengan baik. Ini keren," jawab Neil senang, tapi membuat semua orang yang mendengar mengedipkan mata dalam diam.


"Mm, maaf. Apakah ... kau juga tahu, jika beberapa dari kami memiliki kemampuan unik sepertimu meski dengan beragam jenis?" tanya Polo.


Neil mengangguk pelan dengan senyuman. Kembali, orang-orang dibuat kaget akan hal tersebut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy dapet tips koin😍 makasih ya lele padamu💋 besok lagi ya. kwkwkw edisi nglunjak biar semangat tamatin💪

__ADS_1


__ADS_2