
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Kastil Boleslav, Krasnoyarsk, Rusia.
DODODODOR!!
"Hati-hati dengan ekornya!" teriak Fabio saat mereka kini harus berhadapan dengan para monster binatang dan juga manusia.
"Gila! Mereka bermutasi!" sahut Lucas yang terus menggelontorkan amunisi dari persediaan dalam kastil.
"Kita kalah jumlah! Mereka terlalu banyak!" pekik Ritz tak kalah tegangnya karena mereka dikepung dari segala penjuru.
Anggota tim Marco-Polo berkumpul di dalam kastil lobi utama tak berpencar seperti para pejuang di markas lainnya karena para monster menyerang ketika mereka baru saja memejamkan mata untuk tidur. Tak ada persiapan, terlebih, kastil tersebut sudah pernah diserang hingga meruntuhkan beberapa sisi bangunan. Kastil masih dalam tahap perbaikan, tapi kini digempur lagi sehingga para pria itu dilanda kepanikan.
"Sial! Kita akan mati!" teriak Edward yang merasa mereka tak lagi mampu bertahan karena tak bisa kabur dari wilayah yang telah dipenuhi oleh para monster di segala penjuru.
Langkah mereka semakin menyempit dalam formasi lingkaran. Para monster terus melakukan serangan di luar lingkaran dan terus mendekat, mendesak kumpulan orang-orang yang ketakutan itu. Segala jenis senjata telah digunakan, tapi hanya berdampak minim pada para monster. Tiba-tiba ....
CRAT!!
"Arghh!" erang Lucas langsung roboh dan membuatnya berlutut saat ia mendapat serangan dari titik buta di punggung.
"Lucas! Lindungi dia!" teriak Fabio yang dengan sigap membalik badan saat melihat seekor monster yang bisa menyemburkan zat asam dari mulutnya.
Lucas melepaskan rompi anti peluru yang meleleh dan tembus sampai mengenai kulitnya. Para pria itu panik saat melihat Lucas terus mengerang menahan sakit dan bertelanjang dada karena pakaiannya rusak.
"Bertahanlah! Kami tak akan membiarkanmu mati! Harghhh!" pinta Edward yang kini berdiri di samping kawannya seraya melemparkan granat mini ke arah para monster.
Para pria itu makin terdesak hingga tubuh mereka saling berdempetan. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Lucas duduk di lantai dan dikelilingi kawan-kawannya yang sedang bersusah payah agar tak tewas dimakan para monster ganas itu.
"Sial! Sial! Sungguh cara mati yang tak pernah aku harapkan!" teriak Ritz kesal dengan rasa takut sudah menjalar ke seluruh tubuh hingga rasanya ingin menyerah karena tak sanggup bertahan lagi.
"Hah, hah, jangan khawatir! Aku akan menemanimu di neraka," sahut Edward, dan diangguki oleh kawan-kawan lainnya.
Lucas sampai memejamkan matanya rapat menahan tangisan karena tak menyangka jika hidup mereka akan berakhir di tempat itu dengan cara yang tragis.
DODODODOOR!!
"Hargghhh!" teriak para pria seraya menembaki para monster yang mencoba mendekat dalam formasi lingkaran.
DUAKK!!
"Argh!" rintih Fabio saat senapannya ditampik dengan salah satu kaki depan dari seekor monster beruang yang tubuhnya sangat besar.
__ADS_1
Fabio ketakutan dan langsung mundur ke belakang. Ia bergegas membuka penutup tas yang digendong oleh Ritz untuk mengambil granat. Namun tiba-tiba, JLEB!!
"Argh!" rintih Ritz jatuh berlutut saat seekor monster menusuk kakinya dengan ujung ekor seperti tombak dan membuat Fabio tak bisa mengambil granat dalam tas tersebut.
"Argh! Agg!" erang Edward ketika seekor monster tupai melompat dan menggigit tubuhnya yang berlapis pakaian tempur. Namun, gigitan buas itu ternyata mampu merusak lapisan anti peluru pada jas yang dipakainya. Praktis, hal itu membuat monster tupai lainnya yang melihat celah ikut mengerubungi pria malang itu. "Arrghhh!"
Satu per satu, anggota tim bentukan Marco-Polo tumbang. Mereka dikeroyok para monster yang begitu bernafsu untuk memangsa. Para pria itu berusaha untuk tetap bertahan dengan menusuk tubuh lawan menggunakan belati, tapi tak membuat hewan-hewan itu mati.
CRAT!!
"Arrghh!" rintih Fabio yang kini jatuh berlutut dan langsung mendapat serangan di punggung dari para monster kucing yang menggigit serta mencakar pakaian tempurnya hingga robek.
Rintihan para manusia yang disambut raungan para monster membuat kastil Boleslav di Krasnoyarsk ramai seketika.
Hingga tiba-tiba, DOR! BLUARRR! DOR! BLUARRR!
"Goarr!"
Para monster langsung menghentikan serangan kepada para pria anggota tim Marco-Polo saat menyadari datangnya perlawanan dari seseorang. Mereka lalu berlari ke arah penyerang meninggalkan empat pria tersebut.
"Hah, hah, kalian dengar itu?" tanya Edward yang sudah menggelepar di lantai dengan pakaian robek dan beberapa luka bekas cakaran di wajahnya.
"Oh! Lihat! Para monster itu meledak!" tunjuk Ritz yang tengkurap di lantai terlihat berantakan.
Fabio, Lucas, Edward dan Ritz perlahan bangun untuk mengetahui apa yang terjadi. Mereka terkejut saat melihat para monster seperti mengeroyok seseorang, tapi mereka kemudian terlempar dengan tubuh tersengat dan pada akhirnya tewas. Beberapa dari mereka juga meledak setelah terkena peluru yang bersangkar di tubuh. Empat orang itu berdiri sembari menahan sakit di tubuh melihat hal menakjubkan di kejauhan.
"Harrghh!"
DOR! CRETT!!
"Oh! Pistol itu melepaskan peluru setrum!" pekik Lucas menunjuk dan diangguki kawan-kawannya yang melihat hal tersebut.
SRING!
"Lihat! Senjata itu mirip dengan Silent Gold, tapi berwarna putih!" pekik Ritz saat melihat pedang laser yang digunakan sosok itu menebas para monster yang menghalangi jalannya.
Kepala empat pria itu sampai menoleh ke kanan dan ke kiri karena para monster berjatuhan usai gagal menjatuhkan sosok tangguh yang tiba-tiba muncul, bahkan tak tersentuh sedikit pun.
"Rawwrr!"
DOR! DOR! DOR! DOR!
DWUARR!!
__ADS_1
"Woah!" seru keempat orang itu langsung merunduk.
Sosok tak dikenal itu melepaskan tembakan ketika dari sisi belakangnya muncul empat monster manusia yang siap menerkam. Namun, orang itu sangat gesit seperti menyadari kedatangan lawan. Dengan sigap, orang itu menembakkan peluru ledak dan membuat empat monster tersebut meledak dari jarak 1 meter.
"Awas!" teriak Ritz menunjuk saat melihat segerombolan tikus monster mendatangi sosok berpakaian putih yang ternyata memiliki lapisan seperti anti air.
Darah monster yang menempel di pakaiannya tak meresap dan jatuh ke tanah dengan mudah. Sosok itu dengan sigap menoleh dan dengan cepat mengeluarkan sebuah senjata yang disarungkan pada bagian punggung berbentuk silinder. Empat pria itu melebarkan mata ketika sosok itu membidik sekumpulan monster tikus yang berlari dengan liar ke arahnya.
SHOOT! KRANG!
"Oh! Senapan itu menembakkan jaring besi!" pekik Fabio menilai.
Para tikus terperangkap, dan seketika, PIP! PIP! CRETT!!
"Cittt!"
"Wow!" teriak empat pria itu lagi ketika lampu kecil berwarna merah menyala.
Indikator yang terpasang pada jaring besi itu menyuarakan bunyi nyaring. Seketika, sengatan listrik menghanguskan para tikus monster hingga tewas. Saat para pria terpaku akan kemampuan senjata yang baru mereka lihat, begitupula kegesitan sosok tak dikenal itu, tiba-tiba ....
"Tangkap!" teriaknya yang membuat Edward dengan sigap menangkap senjata pelontar jaring besi tersebut.
"Ed, belakangmu!" pekik Ritz saat menyadari para monster tupai kembali menyerang mereka.
Edward yang telah melihat bagaimana menggunakan senjata itu, dengan cepat menembakkan jaring besi tersebut.
"Hei!" panggil sosok itu lagi yang kini melemparkan senjata tembak dengan peluru ledak di dalamnya.
Kali ini, Ritz menerimanya. Sosok itu juga melemparkan senjata tembak setrum kepada Fabio lalu sebuah ransel berwarna putih kepada Lucas. Orang-orang itu bingung ketika orang yang datang menyelamatkan mereka tiba-tiba berlari kencang lalu menghilang dalam kegelapan hutan.
"Pergi ke mana dia? Kenapa kita ditinggalkan? Dan sepertinya, dia seorang perempuan," tanya Lucas seraya membuka sleting pada tas yang diterimanya meski harus menahan sakit.
"Tak ada waktu untuk mencari tahu. Habisi para monster yang tersisa!" seru Fabio yang dengan sigap membidik para monster untuk dilenyapkan menggunakan senjata baru.
Kini, empat pria itu mampu membalik kedudukan. Para monster dibuat tak berdaya saat mereka dihujani jenis senjata baru pemberian sosok serba putih itu. Suara rintihan para monster saat kematian datang menjemput, membuat senyum para pria itu merekah.
"Yeah! Yeah! Kita masih hidup!" teriak Fabio senang dengan tangan terangkat ke atas karena berpikir akan mati mengenaskan tadinya.
Edward langsung roboh dan terlentang di atas lantai lobi kastil dengan mata terpejam diselimuti perasaan lega. Lucas meneteskan air mata haru karena tak menyangka bisa selamat dari serangan brutal para monster. Orang-orang itu tak pernah mengalami serangan monster separah ini. Ritz terkekeh dan masih berdiri di antara kawan-kawan dengan napas tersengal.
Terlihat, bangkai para monster tergeletak di segala penjuru memenuhi lobi kastil megah itu. Sayangnya, mereka kini harus berhati-hati dan memikirkan cara untuk membersihkan tempat itu agar darah hitam beracun tersebut tak mengkontaminasi para makhluk hidup yang sehat.
"Kita masih punya pekerjaan rumah," keluh Ritz dan wajah-wajah malas langsung terlihat dari para lelaki itu.
__ADS_1
***
baru kali ini ngetik 1 eps sampai lebih dari 12 jam dan baru terkirim😆 harap sabar ya krn setelah ini lele mau up Jono sebelum si embul oek lagi. jgn lupa vote vocer keburu angus~