
Kemunculan Sig memberikan angin segar pada jajaran 13 Demon Heads. Selain itu, banyaknya informasi yang dimiliki oleh pemuda itu, membuat para mafia semakin gencar melakukan persiapan untuk mengamankan seluruh markas dan juga memikirkan strategi melawan Hope.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
April Minggu Keempat. Keesokan harinya.
"Meksiko jatuh. Sayang sekali," ucap Yusuke terlihat lesu.
"Papa," ucap Lucy dengan wajah berkerut menahan kesedihan karena sang Ayah telah pergi untuk selamanya.
Yohanes ikut merasakan kepedihan itu di mana dua anak Carloz masih bisa bertahan sejauh ini dan ikut dalam misi menyembuhkan Bumi dari wabah monster.
"Kita harus segera menyelesaikannya. Jangan tunda lagi," tegas Yohanes tampak serius dari sambungan teleconference.
"Ya, kami paham. Orang-orang yang akan membantu Q menjaga markas Greenland sedang dalam masa adaptasi. Mereka sudah berhasil dibangunkan. Besok kami akan terbang ke Inggris. Kami harap, 4P yang dikomandoi Agent S akan mendapatkan hasil mengejutkan dari penyelidikan di Islandia nanti," ucap King D memaparkan informasinya.
Semua mafia yang terhubung mengangguk paham. Tim Barracuda juga telah berlayar untuk mendatangi markas lain yang masuk dalam rute kunjungan mereka. Maksim, Souta dan Sig akan berlayar sampai ke Colombia karena merasa jalur air lebih aman ketimbang darat. Semua tim bergerak termasuk Sakura, Yusuke, Reina, Lucy, dan Venelope.
Mereka kini meninggalkan Giamoco Island menuju ke New York untuk mencari tahu keadaan Apartemen Theresia serta memastikan keadaan Mix and Match di mana info terakhir yang didapat jika mereka berdua seharusnya menjaga tempat tersebut, tapi sampai sekarang tak ada kabar. Bruno, Robin, Pink, dan Amber dipercaya menjaga Giamoco Island.
Kini, markas di Giamoco Island, Jumbo Island, Greenland, Jeju Island, Kastil Borka dan Kastil Krasnoyarsk Rusia, Newfoundland and Labrador, Siberia Bojan, India Jamal, Oman Javier, Kastil Hashirama Jepang, Black Castle, dan Grey House sudah aktif.
Saat semua orang sedang sibuk mengamankan markas dan tetap terhubung, panggilan masuk dari tim Jason.
"Hei! Ada panggilan dari Italia! Ini berasal dari Laboratorium Farmasi Elios!" pekik Q yang menjaga pusat komando di Greenland.
Praktis, King D dan lainnya yang sedang bersiap untuk keberangkatan esok hari segera mendekati salah satu orang kepercayaan kubu Theresia tersebut.
"Jason, ini Q. Bagaimana keadaanmu?" tanya putera dari mendiang Mr. Vigo tersebut.
"Oh, Paman Q! Senang akhirnya bisa mendengarmu," jawab Jason yang akhirnya bisa berkomunikasi dengan timnya.
Irina lalu duduk dengan wajah sendu. King D dan lainnya seperti tahu apa yang akan disampaikan oleh puteri dari Sia tersebut.
"Paman Jason," panggilnya lirih.
"Hai, Irina. Kami berhasil tiba dengan selamat. Laboratorium aman. Namun tampaknya, para penjaga telah tewas. Kami melihat bangkai mereka sudah tak berbentuk. Kemungkinan besar karena melawan para monster. Polo dan Marco sedang mengeceknya melalui rekaman CCTV laboratorium untuk mengetahui kronologi kejadian," jawabnya semangat.
Irina terlihat berusaha untuk menahan air matanya.
"Paman Jason. Amanda Theresia tewas. Anak buah Hope membunuhnya," ucap Irina yang praktis membuat sambungan komunikasi itu hening seketika.
Irina mencoba untuk tetap tegar. King D meminta Irina untuk kembali beristirahat. Junior menemani saudarinya itu sampai ke kamar.
"Paman Jason," panggil King D menggantikan Irina.
"Ba-bagaimana bisa, D? Kenapa ibuku bisa tewas? Bukankah ... ia seharusnya masih dalam tabung? Apa yang kulewatkan?" tanyanya dengan isak tangis.
King D akhirnya menceritakan kronologi tewasnya Amanda Theresia. Jason terlihat tak bisa membendung dukanya. Deru tangisnya terdengar begitu memilukan. Semua orang diam karena tak ingin menambah kesedihan itu.
"Tolong awetkan mayat mommy. Aku akan menjenguknya usai dari Italia," pintanya.
"Maaf, Paman. Hanya saja ... mayat ibumu sudah menjadi abu. Dia terbakar habis," jawab King D yang belum menceritakan kondisi mayat isteri Anthony Boleslav tersebut.
"Bagaimana bisa? Apa yang Hope lakukan hingga mommy menjadi abu!" pekiknya marah.
"Bukan Hope, tapi ... Irina," jawab King D pelan.
__ADS_1
"What? Irina? Apa maksudmu?" tanya Jason terdengar bingung.
Semua orang di pusat komando menatap King D lekat.
"Kau ingat saat pertarungan terakhir? Ketika Irina melawan para monster dan membuatnya sekarat hampir tewas?"
"Ya, aku ingat? Lalu ... apa hubungannya?" tanya Jason tergesa.
"Saat Irina coba disembuhkan dalam tabung, Bibi Sandara mengatakan jika panas tubuh Irina tak wajar dan hal itu dikendalikan langsung oleh perasaannya. Hal ini hanya diketahui olehku, Otong, dan juga Yu Jie. Oleh karena itu, Bibi Sandara selalu meminta padaku dan Otong agar mengawasi Irina. Jangan sampai ia marah atau bisa meledak. Dampaknya, Irina akan tewas begitupula semua orang yang masuk dalam jangkauan ledakannya. Dia ... seperti bom, Paman. Dan ketika ia memeluk Nyonya Manda yang telah tewas tertembak, tampaknya amarah Irina atas kematian ibumu memicu panas itu. Akibatnya, jasad Nyonya Manda terbakar ketika Irina memeluknya. Hal itu ... di luar kesadarannya," jawab King D menjelaskan dengan pelan.
Jason terdiam entah apa yang dipikirkan. Lama keheningan itu menyelimuti pusat komando yang terhubung dengan tim Jason di Laboratorium Farmasi Elios.
"Aku mengerti," ucapnya kemudian meski terdengar lirih.
"Selain itu, Om Jason. Mbah Mandy cacat organ dalam. Detektor pemindai mengatakan kalau masa idupnya cuma bertahan 3 bulan. Mbah Mandy tau itu, makanya simbah pengen bantu selesein semua, eh ... takdir Tuhan bilang lain. Ikhlasin ya," sahut Obama menambahkan.
"Cacat organ? Ya Tuhan ...," ucap Jason kembali bersedih.
"Jason. Sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu. Fara sudah menyiapkan tempat. Biar aku yang ambil alih dari sini," ucap seorang pria yang diyakini adalah Daniel.
Orang-orang yang terhubung menunggu dengan sabar informasi selanjutnya dari Italia.
"Maaf. Hanya saja, kamera tak bisa digunakan. Panggilan ini hanya berupa suara. Akan kami coba perbaiki. Namun, sejauh ini Italia aman. Kami tak menemukan jejak monster. Kami juga akan mengunjungi kediaman Jordan di Napoli serta rumah dinas milik Afro sebagai tempat tinggal para pekerja di mana Hadi dan Bayu dulu tinggal. Sayangnya, kami tak bisa memasuki ruangan tempat tabung disimpan. Kami tak memiliki akses tersebut," jawab Daniel.
"Lalu ... siapa yang bisa membuka pintu akses tabung?" tanya King D penasaran.
"Para Demon Kids, Sandara, dan Jordan. Namun, melihat sistem keamanan aktif, seharusnya tabung-tabung yang disimpan di dalamnya aman. Hanya saja, ada yang aneh. Sinyal menemukan jika ada tabung lain di luar ruangan itu dan sedang diselidiki oleh Marco dan Polo," imbuhnya.
"Baiklah. Terus kabarkan hal ini pada kami, Paman. Berhati-hatilah," pinta King D.
"Baik. Aku pergi dulu. Semoga keselamatan menyertai kita semua," jawab Daniel lalu memutus panggilan komunikasi ke semua markas.
Daniel dan anggota tim yang tak bisa masuk ke dalam ruangan penyimpanan tabung, bergegas menuju ke lokasi lain di mana tabung yang berisi Hadi dan Bayu berhasil ditemukan oleh Nero. Meskipun cucu Bojan tak mengenali mereka, tapi ia seperti menyadari jika dua orang itu adalah anggota mafia dalam jajarannya.
"Ya, benar! Itu mereka berdua!" ucap Daniel dengan napas tersengal karena harus berlari.
"Apakah ... mereka berdua yang nantinya bisa membangunkan Damian, lalu ... Damian membangunkan Yu Jie, lalu berlanjut ke lainnya?" tanya Nero memastikan.
"Ya. Jika data dari database benar, memang seperti itu seharusnya," jawab Daniel dengan anggukan.
Fara dan lainnya segera berkumpul. Jason yang diminta untuk beristirahat enggan melakukannya. Ia ingin melihat proses pembangkitan dua orang itu karena membutuhkan bantuannya. Namun, hal aneh terjadi saat Fara menyadari jika dua pria Jawa itu melakukan gerak-gerik tak wajar.
"Eh, kok gitu?" ucapnya keheranan.
"Hem, ada apa?" tanya Nero saat melihat kening Fara berkerut.
Entah apa yang gadis bertaring itu pikirkan, Fara malah menyentuh tabung tersebut. Praktis, semua orang panik dan langsung menjauh. Namun, sistem keamanan tabung tak menyala dan tak melakukan proteksi.
"Oh! Bagaimana bisa? Apakah ... tabungnya rusak?" tanya Daniel sampai melotot ketika Fara mengangkat penutup tabung milik Hadi di mana pria itu memang terlihat aneh tak seperti orang-orang yang tidur dalam tabung.
"Ngok!"
"Eh! Di-dia mendengkur?" tanya Nero sampai terperanjat.
"Om Bayu tidur, sama seperti Om Hadi. Lihat!" ucap Fara saat membuka penutup tabung keduanya.
Praktis, mulut orang-orang di tempat itu melebar. Tak lama, Marco dan Polo datang sambil berlari tampak tergesa.
__ADS_1
"Hei, kami menemukan sesuatu dari rekaman CCTV! Kalian pasti ... wow!" seru Marco langsung menghentikan laju lari ketika melihat dua orang dalam tabung mendengkur dengan keras.
"Soal apa? Mereka berdua?" tanya Daniel menebak.
"Ya. Mereka ... em, mereka sudah bangun sejak satu bulan yang lalu. Dan mereka ... berhasil melindungi laboratorium. Hanya saja, tampaknya mereka terperangkap tak bisa keluar karena di luar gedung banyak monster berkeliaran. Jadi ... mereka sepertinya bermaksud untuk tidur lagi dalam tabung, tapi ... tak bisa mengaktifkan sistemnya," jawab Polo terlihat ragu dalam menjelaskan.
"Woah ... ada yang terbangun lagi. Namun, jika dilihat dari hasil pemindai organ, mereka baik-baik saja. Hanya ... sudah tua," ucap Nero seraya membaca hasil analisis dari alat pemindai saat tabung berhasil dibuka Fara tanpa membuatnya terbunuh.
Tiba-tiba, Jason terkekeh. Semua orang menatap pria itu saksama di mana tadi ia terlihat sedih.
"Dua anggota The Kamvret ini sangat beruntung," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Baiklah kalau begitu. Bangunkan. Kita membutuhkan mereka," pinta Daniel.
Fara dan lainnya mengangguk siap. Fara sengaja memencet hidung Bayu, dan Nero mengikuti caranya. Dua pria yang kini memiliki brewok dan kumis itu terlihat tak nyaman dengan tidurnya.
Tiba-tiba saja, "Hah! Hah!"
Fara dengan sigap melepaskan apitan jarinya dan menjauh, begitupula Nero ketika berhasil membangunkan senior mafia dalam jajaran 13 Demon Heads tersebut. Hadi dan Bayu langsung duduk meski masih dalam tabung dengan wajah kucal seperti bangun tidur.
"Waaaa!" teriak Bayu sambil menunjuk saat mendapati Fara berdiri di depan tabungnya.
Hadi ikut melotot dan panik. Namun, keduanya malah menutup tabung kembali seraya mengarahkan pistol ke hadapan Fara berikut Marco dan Polo yang disembunyikan dalam tabung.
"Wow! Wow! Hei, ini kami!" teriak Daniel langsung mendekati tabung sambil mengangkat kedua tangan.
Mata Bayu dan Hadi melotot. Jason ikut mendekat ke arah tabung dan tersenyum. Perlahan, penutup tabung kembali terbuka meski keduanya masih mengarahkan pistol ke orang-orang yang kini mengerubungi tempat istirahat mereka.
"Kok mirip Daniel ya, Kang?" tanya Bayu menatap Daniel lekat.
"Ho-oh. Yang ini juga mirip sama anak kembarnya Boleslav. Siapa itu namanya, lupa to," sahutnya menatap Jason lekat.
"Ini memang kami," jawab Jason dengan senyuman.
"He? Yang bener? Buktinya apa? Awas boong, tak dor mati sampeyan," tanya Hadi masih mengarahkan moncong pistol.
"Bagaimana caranya? Entahlah. Namun, aku Jason. Saudara kembar Jordan. Lalu ... dia paman Daniel," jawab Jason lugu.
"Oh! Pakai detektor kebohongan saja!" sahut Fara cepat, dan anggota timnya mengangguk.
"I-itu kenapa taringnya mencuat kaya vampir? Mukanya gak asing. Terus yang ono noh, Kang. Matanya biru dan merah. Siapa ya? Manusia apa makhluk jadi-jadian? Monster jenis baru apa gimana? Cuma kok ... bisa ngomong dan kayaknya terpelajar," tanya Bayu bingung saat menatap si kembar Maco dan Polo.
"Oh, kami ... anak kembar dari Brian dan Lopez. Aku Polo dan dia saudaraku, Marco. Salam kenal," jawab Polo sopan.
"Woo iya. Lopez punya anak kembar ya. Lha bapak ibumu mana?" tanya Hadi seperti mulai percaya meski pistol masih ia genggam dan diarahkan ke tubuh si kembar itu.
"Mereka ... sudah tewas. Banyak para mafia lainnya yang meninggal sejak wabah monster menyebar," jawab Marco terlihat sedih.
"Banyak yang mati? Siapa aja? Awas boong!" tanya Bayu saat Fara memegang alat detektor kebohongan yang sudah diaktifkan, dan kini diberikan pada Bayu agar dua anggota The Kamvret itu percaya.
Polo menarik napas dalam. "Red, Jamal, Hakim, P-807, Yuri, Merry dan Galina Red Skull, Jeremy, Carloz, Bojan, Pion Diego, Dominic, Bykov, dan Alex. Sisanya ... masih ada lagi, tapi mungkin kalian tak mengenalnya," jawab pria dengan manik mata warna biru terang tersebut.
Hadi dan Bayu lemas seketika. Pandangan mereka tak menentu. Jason, Daniel, Fara, Nero, dan Marco yang memiliki kenangan dengan orang-orang itu ikut sedih saat teringat akan kematian mereka yang tragis.
***
__ADS_1
okey mau info aja. akhirnya novel The Ghost Writer udah tamat sesuai jadwal. sekarang lele akan fokus up King D ya sembari nyicil untuk novel baru ada 2 nih. Neon Blink-Blink dan Jono The Gamer. Kapan releasenya tunggu aja infonya. Ditunggu sedekah tips koin, poin, dan juga vocer ya keburu angus. Met weekend dan lele padamu❤️