KING D

KING D
Giamoco Island


__ADS_3

April Minggu Ketiga.


Setelah kepergian tim yang dikomandoi oleh Daniel, tim King D bersiap. Hanya saja, mereka masih menunggu pemulihan dari Yusuke serta lainnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Aku dapat kabar dari Inggris. Kalian diminta untuk berkunjung ke sana setelah menyelidiki Giamoco Island," ucap Arthur usai bertugas di Pusat Kendali Markas Jumbo Island.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya King D curiga.


"Entahlah, tapi sejauh ini tak ada keluhan yang disampaikan oleh penjaga di sana," jawab Arthur seraya menaikkan dua bahunya.


"Baiklah. Lalu ... apakah markas lainnya ikut memberikan kabar?" tanya King D yang berdiri di samping helikopter untuk melakukan pengecekan ulang sebelum kendaraan terbangnya siap diberangkatkan.


"Ya. Maksim dan Souta sudah bertemu dengan anggota tim Marco-Polo yang menjemput. Mereka sudah menyerahkan para sipil untuk diangkut ke Rusia. Namun, Maksim dan Souta mengatakan ingin menyusuri tepian sampai ke Meksiko. Mereka mendapatkan informasi dari salah satu pengungsi jika sebelumnya ada beberapa orang selamat dan memilih untuk menetap di negara tersebut. Maksim dan Souta ingin memastikannya, jadi ... mereka tak jadi menyusul kemari," jawab Arthur yang membuat kening para pendengar berkerut.


"Meksiko? Di mana tepatnya? Bagaimana markas kita di negara itu? Bukankah ... ada pabrik ganja milik Lucy di sana peninggalan Oma?" tanya King D penasaran.


"Itulah yang sedang ingin dibuktikan oleh Maksim dan Souta. Orang itu mengatakan jika kelompoknya dulu bersembunyi di sebuah pabrik ganja yang memiliki sistem persenjataan otomatis. Namun, orang itu tak tahu siapa yang melindungi mereka selama ini karena lelaki itu bisu."


"Bisu? Siapa orang dalam jajaran kita yang bisu?" tanya King D heran. Semua orang menggeleng tidak tahu. "Lalu ... apakah paman Maksim dan Souta menanyakan bagaimana caranya orang itu bisa disekap oleh Hope dan keluar dari Meksiko?"


"Ya. Katanya saat itu mereka ditugaskan untuk mencari makanan di sekitar pabrik. Bisa dibilang seperti mendapatkan tugas piket. Dia bersama lima orang membawa sebuah mobil jenis pick up dengan persenjataan untuk melindungi diri jika diserang oleh monster. Lalu mereka bertemu dengan kelompok Hope," ucap Arthur yang diakhiri dengan helaan napas.


"Hope lagi. Otong gemes sumpah sama manusia jadi-jadian itu. Nero bilang udah dimampusin, tapi ada Hope lain lagi yang ngaku-ngaku jadi Red. Jangan bilang itu manusia kloningan yang bisa membelah diri jadi banyak buat nyusahin kita. Lha kalau dipikir-pikir, pergerakan Hope itu cepet loh. Tar tau-tau ada di sana, nanti ada di sini, besok di sebelah sono. Itu sengaja pasti, yakin Otong," ucap lelaki gundul itu seraya bertolak pinggang.


"Hem, pemikiranmu ada benarnya, Otong. Kau pintar juga," ucap King D, dan Obama tampak bangga akan dirinya karena dua alisnya bergerak naik turun seraya memamerkan giginya yang kuning.


Reina menatap Otong dengan kening berkerut entah apa yang dipikirkan.


"Sayangnya, orang-orang itu terlalu senang ketika tahu jika ada manusia lain yang selamat. Orang yang memberikan informasi pada Souta dan Maksim malah menunjukkan lokasi tempat mereka bernaung ke pabrik ganja itu. Namun, setibanya di sana, orang itu tak sadarkan diri. Saat terbangun, ia sudah berkumpul bersama manusia sehat lainnya di sebuah kontainer. Orang itu tak tahu bagaimana nasib kawan-kawannya dan si bisu yang melindungi kelompoknya selama ini karena mereka tak ikut dalam kontainer tersebut," terang Arthur panjang lebar.


"Gaswat, D. Kalau si bisu orang dari jajaran kita dan ketangkep si Hope, nanti kasusnya kaya si Red. Disalahgunakan untuk nysup ke markas, nyolong senjata dan tabung. Jangan-jangan kasus di Kastil Borka juga ulah dedemit itu. Dia bisa masuk dari mana coba? Red 'kan dikenali sistem wong doi orang kepercayaan mbah Mandy," ucap Obama kembali mengutarakan pemikirannya.


"Sepertinya Hope ini memang mengincar orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," sahut Reina dengan wajah datar.


"Kami juga berpikir demikian. Bahkan aku merasa, sepertinya orang itu memiliki dendam pribadi pada kita. Tabung-tabung dicuri. Sepertinya, ia mencari seseorang dari tabung-tabung tersebut, atau dia memang hanya menginginkan tabung itu demi sebuah tujuan," sahut King D.

__ADS_1


"Lalu ... kapan kita pergi? Semakin lama kita di sini, semakin kita tertinggal jauh dari pergerakan Hope. Atau ... biarkan Yusuke dan lainnya menyusul. Kesehatan mereka belum pulih. Jika dipaksa ikut, malah akan merepotkan. Minta mereka langsung terbang saja ke Inggris tak perlu menyusul kita ke Giamoco Island," tegas Reina yang membuat Sakura kembali menatap anaknya tajam.


"Hem, ide bagus. Baiklah kalau begitu," ucap King D yang sependapat dengan pemikiran Reina yang kritis.


"Kalau begitu, kita bertemu di Inggris saja. Aku masih harus memastikan kesehatan Yusuke dan lainnya sebelum melanjutkan misi," jawab Sakura yang tampak kesal dengan anak perempuannya.


King D merasa tak enak hati dan sedikit bingung dalam bersikap, tapi akhirnya ia mengangguk setuju.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang. Tunggu apalagi?" ajak Reina yang tampak cuek jika sang ibu marah padanya.


Sakura mendesis kesal, tapi memilih diam dan membiarkan puterinya untuk bertindak karena tak ingin berdebat.


King D dan timnya segera bersiap untuk keberangkatan siang itu tanpa Sakura, Yusuke, Venelope, dan Lucy.


Mereka akan menyusul menggunakan helikopter lain milik Boleslav Industries yang disimpan dalam hangar.


"Hati-hati. Jangan gegabah dan jangan main hakim sendiri," tegas Sakura saat melihat anak gadisnya sudah duduk di bangku memasang wajah datar.


"Hem. Sampai jumpa. Jaga dirimu, Bu," jawab Reina tenang tanpa ekspresi di wajah.


Irina yang duduk mendampinginya terlihat canggung. Wanita cantik bermata hijau itu tersenyum dan melambaikan tangan saat pintu helikopter ditutup.


Benda terbang itu berhasil meninggalkan pulau tanpa kendala untuk menuju ke Giamoco Island yang masih berada di Benua Amerika, Ontario, Canada dan tak jauh dari Jumbo Island.


Penerbangan kurang lebih sekitar 1 jam karena Obama menggunakan kecepatan penuh usai helikopter kembali berfungsi normal.


Pemindai dan sistem persenjataan otomatis diaktifkan selama helikopter melintas di atas permukaan. Mereka melewati banyak perkotaan meski terlihat sunyi tak ada kehidupan.


Reina tampak takjub karena matanya terlihat bergerak asyik menatap ke luar jendela saat helikopter itu terbang melintasi beberapa wilayah.


"Bagaimana, Otong? Apa ada jawaban dari markas di Giamoco Island?" tanya King D penasaran.


"Negatif," jawab Obama terlihat serius karena menara di pulau Giamoco mulai terlihat.


"Bersiap. Kita akan mendarat," tegas King D dan semua orang mengangguk paham.


King D dan lainnya melihat sisa peperangan yang dibiarkan berserakan di sekitar pulau. Beberapa serpihan dari puing baik senjata, bangunan, ataupun bekas kendaraan terbakar masih berbekas di sana.

__ADS_1


"Hope tak kembali lagi ke sini," ucap Reina terlihat yakin.


"Kita akan pastikan hal ini, Reina. Tetap di dekat kami, jangan berpencar tanpa perintah. Kau paham?" tanya Irina menatap puteri Sakura lekat.


Reina mengangguk pelan dan tampak siap karena sudah menggenggam pedang di tangan kanan dan pistol di tangan kiri. King D, Irina, dan Reina turun dari helikopter.


Obama mengamankan benda terbang itu karena khawatir akan dicuri lagi seperti kasus Marco meski sistem persenjataan sudah diaktifkan.


"Oke. Kita berpencar. Tak ada pemancar fatamorgana aktif di tempat ini. Semua sambungan komunikasi terhubung dengan lancar. Waspada," ucap King D serius.


"Yes, Capt!" jawab Reina, Irina, dan Obama serempak.


King D melihat Reina seperti seorang prajurit terlatih. King D yang tak begitu mengenal Reina merasa jika gadis itu bisa melindungi dirinya sendiri karena tampak waspada dan tahu bagaimana menggunakan senjata.


Reina terlihat berhati-hati saat melangkah. Matanya bergerak seperti memindai sekitar dengan pedang dan pistol sebagai senjatanya.


Tiba-tiba, "Awas!" teriak Reina saat ia akan melangkahkan kaki di atas pasir, tapi dengan sigap menariknya dan kembali mundur ke belakang.


Irina dan King D yang sedang melangkah langsung menghentikan langkah dengan wajah tegang.


"Ada apa? Apa yang kaulihat?" tanya King D berdiri mematung dengan senapan laras panjang dalam genggaman.


"Ranjau aktif. Mereka dikubur dan tertutup pasir. Cerdik sekali, tapi tak bisa mengelabuhiku," jawab Reina tersenyum miring saat ia menyingkirkan tumpukan pasir dengan ujung pedangnya hati-hati.


"Dia jeli, King D. Aku merasa seperti amatiran," kagum Irina, dan King D mengangguk setuju.


"Kalian memang amatir. Aku bisa melihatnya saat kalian turun dari helikopter. Bisakah kugantikan tugasmu sebagai pemimpin tim, King D?" tanya Reina yang mengejutkan King D, Obama dan Irina karena permintaan sepihak itu.


Suasana hening seketika. King D diam sejenak lalu tersenyum tipis dari tempatnya berdiri.


"Yes, Mam. Silakan ambil alih komandoku, kecuali helikopterku," tegasnya.


"Pilihan tepat, D," sahut Reina.


Irina dan Obama menghela napas panjang. Mereka membiarkan Reina memimpin meski tak bisa dipungkiri jika sifatnya sedikit menjengkelkan.


***

__ADS_1



masih eps bonus dari tips denda kemarin ya. kwkwkw nakal sih😆 jangan lupa yg belum favoritin novel The Ghost Writer bisa diintip, dikomen, like, rate bintang 5 dan votenya ya. tengkiyuw lele padamu


__ADS_2