
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Kapal kargo berlayar menuju ke China, tempat markas Demon Kids berada. Pesawat-pesawat yang mengangkut para mafia dari Australia telah tiba di kawasan Kota Hantu dipiloti oleh Goran, Seif, si Dokter Gigi dan Yuki. One dan Verda tersenyum saat menyambut orang-orang dalam jajaran di wilayah khusus seperti telah dipersiapkan untuk mendaratkan pesawat. Satu per satu, para mafia itu berkumpul di sekitar pasangan tersebut terlihat bahagia.
"One! Verda!" panggil Victor dengan senyum terkembang saat dua orang yang dikenalnya datang menjemput.
"Hai! Kau terlihat tua, Vic," ledek One, tapi putra Bibi Mei tersebut tak tersinggung.
Victor dipeluk oleh pasangan suami istri itu. Namun, tak hadirnya Aisha membuat keduanya berkerut kening.
"Aku tahu yang kalian pikirkan. Dia ... tewas. Sengkuni membunuhnya. Bajiingan itu juga membunuh orang-orang kita. Meskipun dia anak Sandara, aku tetap tak bisa memaafkannya," jawab Victor dengan wajah dingin.
"Lelaki itu benar-benar kejam. Pikiran jahatku menyumpahinya mati dengan mengenaskan," sahut si Dokter Gigi.
"Aku juga sangat menyesalinya. Hanya saja, Sandara tak ada di sini. Kami tak bisa menghubunginya," jawab Verda yang membuat para mafia melebarkan mata seketika.
"Jangan bilang ada rencana di balik rencana!" sahut Goran marah.
"Kami juga terpisah dengan tim Jonathan usai mereka memindahkan anggota The Kamvret, Red Ribbon, para agent dan jasad dari kawan-kawan yang tewas ke pesawat. Mereka tetap terbang dengan helikopter, tapi ... kami tak tahu ke mana tujuannya. Kukira mereka mengikuti kami di belakang," sahut Reina.
Orang-orang itu berkerut kening karena merasa jika terdapat rencana lain yang tak diketahui.
"Hal aneh juga terjadi pada kami. Aku dan One bisa tahu kalian akan datang saat tiba-tiba saja ada drone yang terbang mendekat ketika menyusuri wilayah ini. Drone itu menuntun ke suatu tempat. Kalian tak akan percaya dengan apa yang kami temukan," ucap Verda dengan senyum terkembang.
"Apa itu?" tanya Loria mengerutkan mata.
"Ikut kami," ajak One.
Para mafia senior dan junior berjalan memasuki wilayah Kota Hantu yang tampak asri. Mereka kagum karena tak pernah menyangka jika tempat terbengkalai tersebut dimanfaatkan oleh Sandara untuk menyusun rencana. Orang-orang itu terus melangkah menuju ke daratan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti saat tiba di sebuah rumah yang tertutup pohon merambat.
One dan Verda berdiri di depan sebuah celah pintu tanpa penutup itu. Kening para mafia berkerut saat tiba-tiba saja terdapat sinar warna hijau yang memindai keduanya dari balik tanaman.
PIP!
"One dan Verda. Silakan masuk," ucap sistem yang membuat para mafia terkejut.
Verda dan One memasuki lubang pintu tanpa penutup dengan tenang, tapi sosok mereka menghilang saat sudah melewatinya.
"Woah! Apa itu?" tanya Agent K memekik.
__ADS_1
"Cepatlah masuk. Sebaiknya, per dua orang saja. Kami tunggu di dalam," jawab One yang suaranya terdengar dari balik lubang tersebut.
"Oke. Ini menyeramkan, tapi menarik," sahut Robin dan diangguki para mafia lainnya.
Marco dan Polo berdiri berjejer. Mereka penasaran apakah terpindai sistem atau tidak, dan ternyata mereka dikenali. Praktis, senyum keduanya terpancar. Hal serupa juga membuat anggota Red Skull dan tim Marco-Polo ikut gugup. Namun, mereka juga dikenali sistem. Satu per satu, para mafia tersebut memasuki lubang pintu tanpa penutup hingga mereka tak terlihat lagi.
Di balik lubang pintu.
Verda dan One menuntun mereka berjalan di sebuah koridor panjang tertutup layaknya terowongan. Para mafia tampak tegang saat melangkah. Mata mereka sibuk memindai sekitar yang hanya bercahaya lampu dinding redup. Hingga terlihat sebuah anak tangga menuju ke ruangan di lantai bawah. Benar saja, para mafia dibuat tercengang ketika berada di sebuah ruang bawah tanah yang cukup besar layaknya aula.
"Kalian ...?" tanya Fara dengan mata melebar sembari menunjuk.
"Kami adalah para manusia yang berhasil diselamatkan oleh Dayana Lubava ketika wabah monster terjadi. Kami dikumpulkan di tempat ini dan bergantian tidur dalam tabung yang jumlahnya terbatas," ucap seorang pria dengan pakaian berwarna putih layaknya petugas medis.
"Seragam yang kami kenakan sebagai penanda profesi sebelumnya. Putih untuk tenaga medis. Merah untuk petugas dapur. Hijau untuk para petani. Biru untuk para nelayan, dan masih banyak lagi," ujar seorang wanita berseragam merah.
Para mafia dibuat melongo karena berpikir jika para manusia yang tersisa hanya mereka saja dan sebagian dalam tabung, tapi ternyata salah. Terlihat banyak orang berlalu lalang di ruangan tersebut dengan seragam beraneka warna. Saat mereka dilanda kebingungan dan kagum dalam waktu bersamaan, tiba-tiba ....
"Selamat datang!" sapa seseorang seraya berjalan mendekat.
"Eiji?" tanya Seif melotot.
"Kau kira itu lucu, ha? Kenapa tak kau lakukan dari dulu? Kita bisa menyelematkan para manusia lainnya!" seru Agent X kesal.
"Kalian pikir membuat alat diam-diam tanpa ketahuan mudah? Kami sengaja tak memberitahukan pada siapapun kecuali Sandara, Jordan dan Dayana demi keamanan bersama! Apa kalian tak tahu, Sengkuni menyebarkan gas halusinasi kepada para Black Armys yang menjaga tiap markas tempat tabung disimpan. Dia menginterogasi mereka lalu membunuhnya. Sengkuni sangat licik dan picik, jika tak hati-hati, semua manusia akan lenyap tak bersisa!" jawab Monica marah.
Para mafia yang awalnya ingin marah langsung terdiam. Mereka merasa ucapan Eiji dan Monica ada benarnya.
"Kami melihat yang terjadi di luar sana. Usaha kalian untuk melenyapkan seluruh monster di dunia, melawan Sengkuni, dan hal-hal heroik lainnya, kami sangat kagum. Aksi kalian membuat kami semakin yakin jika petaka ini akan segera berakhir," ujar seorang wanita mengenakan seragam Coklat yang berprofesi sebagai teknisi.
Para mafia masih terdiam terlihat enggan berkomentar. Wajah mereka tampak seperti kecewa akan sesuatu.
"Yang paling menderita selama kalian mati-matian untuk bertahan hidup dan membasmi para monster adalah Sandara. Dia meminjamkan tabungnya kepada para manusia yang berhasil diselamatkan oleh Dayana agar bisa memantau pergerakan Sengkuni. Dia melakukan banyak hal untuk membantu kalian seperti menyiapkan stok bahan bakar di titik-titik yang sudah diperkirakan, memastikan markas tetap bisa menyediakan stok makanan dari robot-robot ciptaan Jordan, menyingkirkan para monster meski tak bisa membunuh mereka semua dan menjauhkan anak buah Sengkuni agar tak menemukan keberadaan kalian," sambung seorang pria berseragam hitam yang berprofesi sebagai penjaga wilayah itu.
"Jadi ... selama ini kita ditolong oleh Sandara dan orang-orangnya? Pantas saja, aku merasa janggal dengan banyaknya bahan bakar yang masih tersedia di beberapa bandara saat disinggahi," sahut Polo, dan diangguki kawan-kawannya.
"Sandara sungguh tak tidur selama ini?" tanya Jason terlihat sedih.
"Dia hanya tidur saat merasa kondisinya melemah. Itupun hanya 3 tahun atas desakan kami semua," jawab seorang wanita berseragam merah muda yang berprofesi sebagai petugas gudang penyimpanan.
__ADS_1
"Kenapa Sandara melakukan ini semua? Sejak dulu, anak itu selalu memiliki pemikiran sendiri atas sesuatu. Mirip seperti ibunya, tapi setidaknya ... Nona Lily lebih bertanggungjawab," sahut James terlihat kesal.
"Walaupun Sandara anak kandung Vesper, jangan samakan. Cara berpikir mereka berbeda, termasuk wataknya. Hempf, aku merindukan Nyonya Vesper terutama di saat genting seperti ini. Cara berpikirnya di luar nalar kita semua," sahut Agent J teringat akan kenangan lalu.
Para mafia yang mengenal sosok Vesper mengangguk dengan wajah sedih.
"Jangan ngungkit orang yang udah koid. Nanti Nyonya Vesper gak tenang lho di alam sono. Kasian," sahut Bambang The Kamvret. Orang-orang tersenyum tipis.
"Jadi ... sekarang apa? Kami sudah dikumpulkan di tempat ini, lalu ... apa selanjutnya?" tanya Marco penasaran.
"Kita menunggu sinyal. Dayana mengatakan, jika kondisi Bumi benar-benar telah bersih dari wabah monster, mereka akan datang. Kalian diminta kemari untuk diamankan sebelum protokol pemulihan diberlakukan," jawab Monica tenang.
"Ha? Opo meneh kui? Mereka ki sopo?" tanya Bejo malas.
"Demon Kids," jawab Eiji dan Monica serempak yang membuat para mafia terdiam untuk sesaat.
Di tempat King D berada.
"Kita ... mau ke mana?" tanya King D saat merasa jika kapal kargo yang ditumpanginya tak menuju ke China.
"Menyusul Sandara," jawab Melody dengan wajah datar memandangi lautan di kegelapan malam.
"Memangnya ... Bibi Sandara ada di mana? Bukankah kata kalian dia berada di Kota Hantu, seperti tujuan orang-orang yang pergi lebih dulu dengan pesawat?" tanya Irina menyahut.
Eva tersenyum. "Maaf, kami berbohong, demi keamanan bersama."
"Sebaiknya, kalian beristirahat. Perjalanan kita masih sangat jauh. Namun, kupastikan jika Sengkuni telah tewas. Tadi sebelum kita berlayar, William menggunakan drone bawah air untuk melihat keadaan. Jasad Sengkuni sudah tak berbentuk karena dimakan oleh para hiu monster. Hanya saja, aku yakin jika Bibi Sandara pasti sangat sedih karena kehilangan puteranya. Ia sangat menyayangi Sengkuni. Akan tetapi, Sengkuni memang tak bisa disembuhkan. Mentalnya terlalu sakit," sahut Melody yang diangguki Eva.
"Hem, melihat apa yang bisa dia lakukan dengan orang-orang dalam jajaran, aku cukup yakin jika dia memang sudah tak waras. Berulang kali ia berusaha untuk membunuhku, tapi ... aku selalu beruntung," ucap King D seraya memegang leher yang meninggalkan bekas gigitan taring Sengkuni ketika menghisap kekuatannya.
"Huss, jangan brisik ah. Ngantuk Otong," sahut Obama yang sudah siap untuk tidur dalam kontainer modifikasi layaknya kamar.
Hugo sudah mendengkur usai pertarungan melelahkan demi melenyapkan Sengkuni dan antek-anteknya. Ia tidur dalam kontainer beralas karpet dengan pintu terbuka lebar dan api unggun di bagian luar. King D dan lainnya tersenyum. Mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing yang sudah dipersiapkan.
Kapal kargo modifikasi tersebut sudah dilengkapi dengan auto pilot yang akan membawa mereka berlayar sampai ke tujuan. Meski demikian, Eva dan Melody tetap berjaga untuk memastikan rute mereka tak melenceng dari jalur.
***
akhirnya bisa up juga. alhamdulilah trims doanya para LAP semua. akhirnya babe lele udh pulang dari rs sore tadi❤️ semoga minggu depan upnya udh mulai rajin lagi ya, amin. trims udh sabar menunggu. lele padamu😘
__ADS_1