
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
King D tak menyangka jika pantai yang mereka datangi sudah ramai orang. Cassie dan Barracuda telah berada di sana dengan beberapa kapal di dermaga. Terlihat sebuah kapal kargo dengan helikopter berada di atasnya di lautan. Para mafia yang terluka sedang diobati oleh tim medis di mana semua tim sudah berkumpul di tempat itu.
Para mafia saling melepas rindu dengan berpelukan dan mengobrol bersama. King D melihat ke arah Romeo di mana pemuda itulah yang menolongnya saat tercebur di lautan dan hampir tewas oleh hiu monster Sengkuni. Romeo memancing mereka ke tempat William yang sudah siap dengan bom-bom ciptaannya dari bahan-bahan temuan sepanjang keduanya berlayar hingga tiba di Australia.
Para hiu tewas terkena ledakan dari dalam air. King D diobati oleh William dan Romeo di atas kapal. Di sanalah, King D baru sadar dan mendapatkan banyak informasi dari William mengenai Sengkuni. Meskipun King D sudah kehilangan kemampuan serum pengubah, tapi semangatnya untuk memenangkan perang, membuatnya kembali bangkit.
"Kau tak butuh serum untuk mengalahkan Sengkuni, King D. Berjuanglah demi orang yang kaukasihi. Lindungi Irina, dan selamatkan teman-temanmu yang tersisa. Kami akan membantumu," ucap William meyakinkan calon menantunya.
King D mengangguk mantap dan bergegas kembali ke pulau saat William mengarahkan kapalnya ke pantai. William mengikuti King D untuk memastikan pria itu membunuh Sengkuni. Namun, melihat King D terluka dan seperti tak tega untuk menghabisi nyawa pemuda itu, William memutuskan untuk menjadi Dewa Kematian Sengkuni untuk membalas dendam usai mengetahui jika dirinya telah dihasut hanya karena kerinduannya pada Sia dan Irina.
"Ayo," ajak King D untuk menemui Romeo, putra William dan Sia.
Praktis, mata Irina melebar. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan adiknya lagi setelah sekian lama. Irina berlari kencang diikuti William di belakang. Irina tak menyadari jika pria yang menusuk Sengkuni adalah ayahnya.
"Kakak!" panggil Romeo berlari kencang menyambut pelukan sang kakak.
King D tersenyum haru. Ia melihat William kini berdiri di samping lalu menatapnya lekat.
"Sir," panggil King D gugup.
"Aku minta maaf atas kebodohanku selama ini, King D. Sengkuni berhasil meracuni pikiranku," ucapnya dengan pandangan tertunduk.
"Kenapa Anda bisa bersekutu dengannya, Tuan?" tanya King D sopan karena bagaimanapun, William adalah calon mertuanya.
"Ia mengatakan tahu tentang Sia. Namun, aku juga mendengar jika Sia telah tewas. Aku ... tak tahu mana yang benar," jawabnya sedih.
"Sia masih hidup, Tuan William. Dia aman di bunker rahasia bersama lainnya," sahut Melody berjalan mendekat dengan Eva di sampingnya. Praktis, mata William melotot.
"Sia masih hidup?" tanyanya memastikan. Dua gadis cantik itu mengangguk.
Sontak William meneteskan air mata haru. King D ikut bahagia mendengar hal tersebut. William spontan memeluk King D dan hal itu membuat putra Javier canggung seketika. King D menepuk pundak William dengan ragu, tapi membuat orang-orang yang melihatnya tersenyum.
__ADS_1
"Kau payah. Kau memalukan Mimi dan Baba," ujar Lysa berjalan mendekat seraya melipat busurnya.
King D langsung melepaskan pelukan William dan menatap wajah ayah ibunya dengan pucat.
"A-aku ...."
"Setelah ini pergilah ke Camp Militer. Kau tak boleh pulang, tak boleh menikah dengan Irina sampai dinyatakan lulus oleh para pengajar. Sepertinya, tidur terlalu lama dalam tabung membuat otakmu tumpul begitupula dengan kemampuan bertarungmu," sahut Javier tak menatap anak lelakinya dan malah memandangi Fara yang sedang mengobrol dengan seorang pria.
King D merasa tertohok, tapi mengangguk.
"Itu siapa? Fara terlihat akrab dengannya," tanya Lysa curiga.
"Itu Marco. Pacarnya Fara. Anaknya Bude Lopez sama Pakde Brian, tapi mereka berdua udah wasalam. Kembarannya namanya Polo, dia ... eh, lah, ditinggal. Woo gak sopan. Otong lagi mengenalkan calon mantu!" pekik Obama karena Lysa dan Javier langsung berjalan tergesa mendatangi anak gadis mereka.
King D yang tak ingin ikut campur, memilih untuk tetap berada di samping William yang kini mendatangi Irina.
"Ayah ...," panggil Irina dengan mata berlinang mendekati William.
"Oh, ayah kira kau sudah tewas saat kejadian tragis itu, Irina. Ayah takut sekali," ucapnya memeluk anak perempuannya erat dengan mata terpejam.
Namun, matanya kini beralih ke Sengkuni yang dibawa naik ke sebuah kapal bersama Dayana, Junior, dan Cassie. King D yang penasaran meminta agar bisa menyusul ke kapal kargo, di mana Sengkuni akan bertemu dengan ibunya. Match mengantarkan King D di mana Irina, William dan Obama ikut menemani.
Saat King D memijakkan kakinya di atas kapal kargo, matanya melebar saat melihat seorang wanita tua duduk di kursi roda ditemani oleh orang-orang yang dikenalinya dari jajaran 13 Demon Heads. King D tak menyangka jika Sandara telah menua dan terlihat sakit karena menggunakan selang oksigen.
"Gusti ...," panggil Sandara lirih mengulurkan tangan ke arah anak lelakinya.
Sengkuni memalingkan wajah seperti enggan untuk menemui sang ibu.
"Gusti. Semua hal buruk tentang ibu itu hanya ada dalam pikiranmu. Semua itu tidak benar," ucap Dayana menatap saudaranya lekat.
"Apa maksudnya?" tanya King D heran.
"Sengkuni ternyata memiliki kelainan. Ia ... mengidap delusi. Singkatnya, ia mengalami gangguan mental. Dia tak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Nama Sengkuni, sebenarnya ia yang menciptakan sendiri, tapi menyalahkan Sandara. Ia merasa orang-orang tak mencintainya. Ia merasa dirinya adalah penguasa. Sengkuni terobsesi pada kekuatan dan kekuasaan Vesper dari cerita Satria. Ia mengimajinasikan dirinya seperti neneknya, tapi ... diatasnya, seperti Dewa. Saat Sengkuni tahu jika terdapat serum pengubah dari Planet Mitologi, hal itu makin memperkuat keyakinannya untuk mewujudkan mimpinya," ucap Jordan yang tiba-tiba muncul dari belakang King D dan mafia lainnya.
__ADS_1
King D yang baru mengetahui hal itu menatap Sengkuni lekat di kejauhan. Sedang Jordan tak terlihat setua Sandara. King D bingung, tapi memilih untuk mencari tahu nanti di saat yang tepat.
"Lalu ... dari mana Bibi Sandara tahu jika Sengkuni akan berulah?" tanya King D lagi.
"Sandara juga melakukan eksperimen dengan dirinya. Ia menggunakan kemampuan dari Boas. Saat ia menyentuh kepala anaknya, Sandara bisa melihat isi pikiran Sengkuni. Tentu saja hal itu membuat Sandara takut dan segera melakukan antisipasi. Ia mempercayakan Dayana untuk mencoba menyembuhkan saudaranya melalui pendekatan, tapi ... percuma. Saat ia tahu segala usaha dengan cara normal sia-sia, akhirnya Sandara melakukan rencana terselubung yang melibatkan kami dan lainnya," sahut Eva yang menyusul dengan kapal lain ke kapal kargo.
Kini semua semakin jelas. King D bisa melihat sebenarnya hal ini adalah masalah dari satu orang saja, tapi berimbas ke seluruh dunia. King D terlihat marah dan ia berjalan mendekati Sengkuni dengan langkah gusar. Semua orang tertegun.
"Apa semua kegilaan yang kaulakukan tak cukup, ha? Kau membuat dunia hancur dan orang-orang tak bersalah tewas! Meskipun kau anak dari Bibi Sandara, aku tetap tak bisa memaafkanmu! Seluruh tubuhmu sudah penuh dengan dosa, Sengkuni!" teriak King D marah mencengkeram kuat sisa pakaian di tubuh pemuda itu.
"Harghh!"
Lagi, para mafia dibuat tertegun ketika Sengkuni membalas King D. Luka di tubuh pemuda itu telah sembuh. Ia menyerang King D dengan brutal, dan hal itu membuat semua orang bersiaga.
"Gusti, hentikan!" teriak seorang pria dengan suara besar yang mengejutkan semua orang.
Sengkuni yang berhasil menjatuhkan King D dan menindihnya, langsung menoleh ke asal suara. Matanya melebar ketika melihat seorang pria membuka jubah dan penutup kepala yang menutupi sosoknya.
"A-ayah ...," panggil Sengkuni tertegun saat melihat Raden telah berubah wujud dengan sosok lain yang tak kalah mengerikan dengan dirinya.
"Sudah cukup, hentikan. Kemarilah, dan minta maaflah pada ibumu. Dia menderita karenamu," ucap Raden seraya mengulurkan tangannya yang berubah menjadi bersisik seperti ular.
Sengkuni mengangguk pelan dan beranjak dari tubuh King D. Ia berjalan menuju ke arah ayahnya dan menyambut genggaman tangan. Sandara tersenyum dengan tangan terulur ke depan. Dayana dan Junior yang berdiri mengapit sang ibu menatap Sengkuni lekat yang memasang wajah datar.
"Gusti, kemarilah. Ibu sangat me— ohok!"
"Dara!"
"Ibu!"
Praktis, mata King D melebar saat melihat aksi keji Sengkuni terhadap ibunya sendiri.
***
__ADS_1
maap jarinya gak bisa direm. jangan lupa serahkan semua harta kalian ya. lele padamu❤️