
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Para mafia di seluruh penjuru dunia yang baru tahu mengenai drum pembersih berikut gelang pendeteksi adanya monster, membuat mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Jordan dan Sandara. Namun, aksi pembersihan Bumi dari wabah monster berjalan dengan cepat sesuai rencana. Para mafia kini sudah tak takut lagi dengan para monster yang berkeliaran. Malah, mereka kini bernafsu untuk memburu dan melenyapkannya. Beberapa dari mereka menjadikan para monster yang tewas sebagai taruhan.
"Hahahaha! Aku sudah membunuh 5!" teriak Ryota—putra Tora dengan Lian—gembira dengan katana berlumuran darah hitam monster.
"Aku tak akan kalah! Heahhh!" seru Chiko—putra Tora dengan Rui—di mana keringat di tubuhnya mulai bercucuran karena harus membunuh para monster sebelum mereka merenggut nyawanya.
"Kalahkan aku, Chiko-kun!" seru Ryota yang umurnya lebih tua 1 tahun dari adiknya itu. Chiko terlihat sangat berusaha.
Anak-anak Tora dan anak-anak dari para Pion bersatu membasmi para monster di sekitar wilayah Jepang. Tujuan mereka adalah Markas Vesper yang dulu dijaga oleh Agent M dan S, di mana Sun diamanatkan untuk mengelola tempat tersebut.
"Hiro-kun! Segera bereskan bangkai-bangkai monster! Malam segera datang, kita harus cepat!" seru Ryota sebagai kakak tertua dalam kelompok itu di mana Kenta adalah putra Tora yang paling tua. Sayangnya, Kenta masih tertidur dan tak bisa dibangunkan, termasuk Azumi.
"Baik, Kakak!" seru Hiro selaku putra dari Tora dan Mei. "Ayo, bantu aku!" serunya mengajak adik-adiknya.
"Em!" jawab para gadis serempak dengan anggukan kepala.
Mereka mengendarai mobil bak dengan drum-drum penggiling dan penyedot berada di atas bak yang dijaga oleh saudara terkecil mereka, Raiden—putra Pion Darion dan Mei. Raiden dengan sigap menekan tombol penggiling usai kakak-kakaknya memasukkan bangkai monster sekaligus menyedot darah monster yang tergenang di sekitar. Para kakak tertua, sibuk membunuh para monster yang berkeliaran. Anak-anak itu sudah tumbuh menjadi kuat atas didikan para Pion saat tahu wabah monster terjadi.
Sebelum mereka ditidurkan, para Pion mengajarkan teknik bertempur dengan keras kepada anak-anak Tora dan anak-anak mereka. Kenta dan Azumi ikut membantu mendidik adik-adik mereka. Rui, Lian dan Mei begitu terharu karena tak menyangka jika anak-anak mereka sangat kompak meski berbeda ayah.
"Heahhh!" seru Kiarra selaku putri dari Tora dan Rui yang seumuran dengan Azumi.
"Bagus, Kia! Lindungi adik-adikmu!" seru Ryota yang terlihat mulai kewalahan karena para monster tak ada habisnya.
"Serahkan padaku!" serunya mantap dan berlari kencang menantang para monster yang dengan beringas siap menerkamnya. "Matilah!"
KRASSS!! CRATT!
"Kiarra! Darahnya!" teriak Aiko—putri dari Pion Dexter dan Rui—panik karena darah hitam monster mengenai wajah kakaknya itu saat gadis cantik tersebut menebas kepala seorang monster yang mencoba mendekati mobil.
"Kiarra! Menyingkir!" seru Ryota panik karena darah itu seperti masuk ke mulutnya. Kiarra melangkah mundur dengan wajah pucat.
__ADS_1
Michelle—putri dari Pion Darwin dan Lian—dengan sigap melompat turun dari atas mobil bak dan berlari mendatangi Kiarra.
BYURRR!!
"Berkumurlah, cepat!" serunya usai menyiramkan air dari botol ke wajah kakaknya agar darah monster tak masuk melalui kulit yang terbuka.
Kiarra dengan sigap berkumur dengan air dalam botol lalu memuntahkannya. Terlihat, cairan hitam dari darah monster seperti masuk ke mulutnya.
"Muntahkan paksa! Cepat!" seru Michelle lagi menatap wajah kakaknya lekat.
Kiarra menuruti perintah sang adik dengan muntah disengaja. Benar saja, ada cairan hitam yang seperti masuk ke tubuhnya. Gadis itu terlihat pucat dan ambruk di atas tanah usai memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kau tak akan mati, kau akan baik-baik saja," ucap Kiarra langsung memeluk sang kakak yang tampak takut karena tubuhnya gemetaran.
"Kita sudah tak memiliki topeng lagi!" seru Raiden memeriksa perlengkapan dari dalam tas dengan panik.
"Tak apa, aku akan baik-baik saja. Aku rasa ... darah monster belum terserap sepenuhnya oleh organ dalamku. Seharusnya, aku sudah mati. Aku sudah menghitung hingga 100 dan aku masih hidup," ucap Kiarra yang membuat para saudara dan saudarinya bernapas lega.
"Sebaiknya kau tetap disuntik serum anti-monster untuk berjaga-jaga," ujar Aiko cemas.
"Hah, hah, kita selamat. Sebaiknya ... kita istirahat di tempat ini dulu saja. Kita baru akan tiba di Markas Vesper-sama esok. Sangat berisiko jika pergi dalam keadaan gelap. Selain itu, membutuhkan waktu lama untuk pembersihan," ujar Ryota seraya melihat sekitar di mana sinar matahari sudah tak seterik siang tadi.
"Aku akan mencari tempat untuk beristirahat!" ucap Hiro mantap.
"Akan kutemani," sahut Chiko yang diangguki saudara lelakinya itu.
Ryota masih menggenggam pedang yang berlumuran darah hitam monster di tangan kanan. Matanya memindai sekeliling meski gelang besi sudah tak menyala merah lagi. Para mafia muda itu bernapas lega. Raiden membantu kakak-kakaknya melakukan penyedotan darah monster saat yang lainnya menggiling bangkai monster ke dalam drum khusus.
"Kiarra, kau tak apa?" tanya Ryota cemas saat melihat wajah adik perempuannya pucat.
"Yah. Aku hanya butuh istirahat sejenak. Maaf, aku tak berhati-hati," jawabnya sedih.
"Kakak! Kami menemukan tempat bagus yang memiliki atap taman!" seru Chiko dari earphone seraya memberikan tanda berupa gas warna merah muda dari atap bangunan.
__ADS_1
"Bagus. Tinggalkan mobil dan segera naik ke bangunan itu jika sudah melakukan pembersihan," titah Ryota.
"Em!" jawab semua saudara dan saudari Ryota dengan anggukan.
Kiarra yang diminta untuk beristirahat, pergi menuju bangunan yang ditemukan oleh dua saudaranya. Dari atas sana, mereka bisa melihat keadaan sekitar. Beruntung, rumah berbentuk unik itu memiliki genset sehingga lampu bisa dinyalakan.
Kiarra yang merasa lebih baik usai disuntik, menyiapkan makan malam untuk adik-adiknya dari perbekalan yang dibawa. Ia memasak menggunakan perabotan dapur yang ditemukan dalam rumah itu.
"Masak yang enak, Kak! Kami bekerja keras membersihkan bangkai monster!" seru Aiko yang secara estafet bersama saudara dan saudari lainnya menurunkan muatan untuk dimasukkan dalam rumah.
"Serahkan padaku!" jawab gadis cantik itu dengan semangat.
Kiarra yang merasa beruntung karena hampir saja tewas karena terkena darah monster, bergegas menyiapkan makan malam. Esok hari, mereka harus bergerak menuju ke markas peninggalan Vesper untuk mengambil tabung yang disimpan di sana.
Markas Vesper, Bali.
"Hem, anak-anak pintar. Para Pion mengajari mereka untuk bertarung dan bertahan hidup dengan baik," ujar Jordan yang mengawasi pergerakan mafia-mafia muda dari satelit.
Jordan melihat dari pantauan satelit Elios jika Tokyo masih dikuasi oleh para monster. Ia melirik ke arah tombol pembangkitan dari jarak jauh di mana ada beberapa tabung yang bisa ia buka sesuai dengan perjanjian tersembunyi dengan orang-orang itu sebelum ditidurkan.
"Haruskah aku membangunkanmu? Aku khawatir, para mafia muda itu akan tewas jika kuarahkan ke Tokyo. Kuharap kau tak keberatan jika kuminta pergi ke sana. Selain itu, seperti katamu sebelum ditidurkan. Pembangkitanmu di awal adalah bentuk permintaan maaf karena sudah melukai hati Sandara di masa lalu. Heh, kau masih mencintai istriku ya?" sindir Jordan.
Putra Boleslav tersebut melihat sebuah tombol yang berada di sebuah papan kendali paling kiri dengan 5 buah tombol berjejer di sana. Jordan terlihat berpikir serius dalam diam. Hingga akhirnya, tangan kanannya bergerak dan menekan tombol dengan huruf 'A' tertulis di sana.
KLIK!
"Prosedur pembangkitan jarak jauh dilakukan. Tabung Afro diaktifkan. Afro dibangkitkan," ujar sistem GIGA yang membuat senyum Jordan terangkat tipis.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE