
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Praktis, semua orang tertegun saat King D berlari kencang melewati mereka. Monica dan lainnya bergegas menuju ke ruangan tempat Irina melahirkan karena suara raungannya seperti monster.
"Irina!" panggil King D panik ketika memasuki ruangan di mana sudah banyak orang di sana.
"Syukurlah kau di sini. Tolong kami!" pinta Sia panik karena dua tangan Irina dan kakinya sampai diikat pada ranjang.
Mata King D melebar melihat sang istri berubah menjadi predator seperti ketika bertarung dengan para monster di Australia kala itu. Sang Presiden dengan sigap mendatangi Irina dan mengamati tubuhnya saksama.
"Apakah dia sudah akan melahirkan?" tanyanya menatap Sandara.
"Yes! Hanya saja, aku tak bisa melakukannya sendiri," jawab Sandara terlihat panik.
"Oke. Katakan apa yang harus aku lakukan," ucapnya terlihat siap sembari melepaskan jasnya kemudian menggulung lengan baju.
"Kau pandu istrimu, aku dan Junior akan berusaha untuk menenangkannya. Fokus pada bayi yang akan lahir. Aku bisa merasakan calon anakmu cukup agresif," ucap Sandara yang kini berdiri di atas kepala Irina dengan kedua tangan dilebarkan seperti siap untuk menangkap sesuatu.
"Aku mengerti," jawab King D mantap yang kini berdiri di depan dua kaki sang istri yang dilebarkan.
"Aku akan membantu," sahut Sia dan diikuti Monica yang dengan sigap berdiri di sisi kiri King D.
"Now!" titah Sandara dengan kedua tangan langsung memegangi kepala Irina.
"Huuu ...." Junior meniupkan udara sejuk ke wajah Irina dari samping dan terus bergerak sampai ke perut.
Bocah lelaki berkulit pucat itu melakukannya secara terus menerus karena tubuh Irina memerah dan suhunya meningkat.
"Hemm ...." Sandara memejamkan mata seperti sedang menyalurkan suatu energi melalui tangan ke kepala wanita yang siap melahirkan tersebut.
King D lega karena sang istri mulai tenang dan kuku-kuku tajam di jarinya kembali masuk. Sia dan Monica memandu Irina untuk terus mengejan mengingat bayi yang akan dilahirkannya adalah tiga.
"Harghhh! Aggg!" raung Irina dengan mata predator menyala terang dan taring di giginya terlihat tajam.
"Kau bisa melakukannya, Irina! Kau bisa melahirkan normal!" seru Sia berusaha menenangkan dan memberikan semangat untuk sang anak.
"Arghhh!" Irina terus mengerang hingga seluruh tubuhnya menegang.
"Oh!" pekik King D dengan mata silver menyala terang.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Monica dengan jantung berdebar.
"Aku sudah melihat kepalanya!" jawab King D terlihat tegang.
Praktis, wajah orang-orang di tempat itu berbinar seketika. Sia dan Monica terus memberikan semangat kepada Irina yang keringatnya mulai bercucuran. Terlihat, wanita cantik itu berusaha keras untuk melahirkan. Tangan King D bergerak menuju ke arah kepala sang bayi yang mulai keluar.
Namun tiba-tiba, "Oh!"
"Ada apa, D?" tanya Sia menatap menantunya tajam.
"Ke-kepalanya masuk lagi," jawabnya bingung.
Mata Sia dan Monica melebar. King D didorong hingga pria itu berada jauh dari sang istri. King D yang bingung karena ini pertama kalinya menunggu kelahiran seorang bayi hanya bisa berdiri mengamati, tetapi perlahan ia mendekat.
"Mereka berebut untuk keluar," ucapnya pelan yang membuat kepala semua orang menoleh ke arahnya termasuk Irina.
"Apa maksudmu?" tanya Eiji ikut pucat.
King D meletakkan kedua tangannya di perut sang istri. Napas Irina tersengal, tetapi menyorot tajam sang suami yang kini menatap gerakan di perutnya seperti bayi-bayi itu berdesakan di dalam sana.
"Hei, ayah melihat kalian. Jangan berebut. Keluarlah satu per satu. Ayah akan menjemput," ucap King D lembut dengan senyuman.
"Keluarlah. Ayah di sini. Ayo," ajak King D.
Benar saja, muncul sebuah kepala. Irina bisa merasakan seorang bayi akan keluar dari jalan rahimnya. Mata predator Irina berubah menjadi hijau dan menyala terang. Sandara terkejut dan membuka matanya seketika. Kedua tangannya spontan terlepas dari kepala wanita cantik tersebut.
"Aggghh!"
"Hik, hik, oekkk!"
Mata semua orang melebar yang disusul dengan senyuman dan tepuk tangan. Monica dengan sigap membentangkan handuk untuk membungkus bayi yang King D gendong dengan senyuman lebar. Namun, Monica dan orang-orang bingung saat pria itu mengumandangkan azan ke telinga sang bayi yang menggeliat dalam gendongannya.
"Em." Suara manja dari sang bayi membuat rasa haru semua orang.
Perlahan, King D menyerahkan bayi pertama yang keluar yakni seorang laki-laki kepada Monica. Saat ia siap untuk mengambil anak kedua, ia tertegun ketika melihat bayi kedua dan ketiga sudah berada di luar rahim. Keduanya menggeliat di atas matras. Sia dan King D dengan sigap mengambil bayi tersebut yang keduanya berjenis kelamin perempuan. Sang Presiden dengan cekatan mengumandangkan azan kepada dua putrinya yang terlihat mirip layaknya kembar.
"Oh!" pekik Q seraya menunjuk.
"Tali pusarnya lepas!" seru Eiji melotot.
__ADS_1
Sia, Monica dan King D membuka bungkusan handuk tersebut. Benar saja, tali di pusar ketiga bayi terlepas dan jatuh di lantai. Seketika, mata tiga bayi itu terbuka. Semua orang terpaku saat melihat warna mata tersebut menyala terang.
"Matanya biru terang," ucap Jordan seraya mendekat ke arah bayi laki-laki yang digendong Monica. Istri Eiji mengangguk membenarkan.
"Dia bermata hijau. Dia sepertimu, Irina," ucap Sia dengan senyuman lalu menoleh ke arah putrinya yang tampak kelelahan. Senyum Irina terkembang penuh rasa haru menyeruak di hatinya.
"Yang ini bermata merah. Seperti ... mata Marco kala itu," ucap King D menatap putrinya yang memandangi saksama.
"RGB," ucap Sandara seraya berjalan mendekat.
"RGB?" tanya Irina dengan wajah sayu masih berbaring lemah di atas ranjang.
"Red Green Blue," jawab Sandara tenang lalu mendekati tiga bayi itu.
Tangan Sandara memegang kepala si bayi bermata merah dengan mata terpejam. Semua orang terlihat serius. Hingga tiba-tiba, senyum Sandara terkembang. Ia tak mengatakan apa pun dan bergerak menuju ke bayi bermata hijau lalu melakukan hal sama. Orang-orang saling melirik dalam diam karena bingung. Sandara masih diam saat ia kini mendekati bayi bermata biru. Kemudian, wanita berambut merah itu menoleh ke arah orang-orang di sekitarnya.
"Bisa katakan sesuatu?" tanya Sakura seraya berjalan masuk ke ruangan membawa tiga inkubator bayi yang bergerak otomatis mengikutinya.
"Aku tak ingin membongkar rahasia Tuhan. Namun, mereka spesial. Menarik, sangat menarik. Aku tak sabar melihat mereka tumbuh," jawab Sandara dengan senyuman lalu berjalan mendekati Irina.
"Wow! Aku penasaran," sahut Q sambil menganggukkan kepala.
King D membawa bayi dalam gendongannya ke arah Irina, begitu pun Sia dan Monica. Irina duduk perlahan dibantu oleh Sandara. Wajah perempuan itu begitu berseri, tak lagi terlihat seperti wanita yang berusaha mati-matian untuk melahirkan.
"Hai," sapa Irina saat menyentuh wajah tiga bayinya bergantian.
Irina mencium kening tiga bayinya bergantian. Disusul oleh King D lalu Sia. Sakura dengan sigap mengamankan tiga bayi itu dibantu Jordan dan Monica. Bayi-bayi ajaib itu dibawa ke ruangan khusus untuk dimandikan dan dirawat sampai Irina siap untuk bertemu dengan mereka lagi.
Sandara meminta agar semua orang pergi kecuali Sia, King D dan Junior. Semua orang mengangguk paham. Kabar gembira ini terpaksa dirahasiakan sampai waktunya tiba. King D membantu Sandara pasca persalinan sang istri. Junior tetap meniupkan napas sejuknya untuk menenangkan Irina.
"Terima kasih, Junior. Jika kau tak ada, mungkin aku sudah meledak atau terbakar," ucapnya dengan senyuman.
"Hoh! Hoh!" jawab bocah berkulit pucat itu seraya melompat-lompat terlihat gembira.
"Terima kasih, Sayang. Kau telah berjuang keras demi anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu," ucap King D sembari mengelus kepala sang istri yang rambutnya menutup sebagian wajah.
"Aku juga sangat mencintaimu, D," jawab Irina yang mendapat kecupan manis di bibir.
***
__ADS_1
lahiran versi baru. kwkwkw😆