KING D

KING D
Sebuah Bisikan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Sengkuni begitu gembira karena berhasil membuat lawan terberatnya kalah seperti yang diinginkan. Pemuda itu masih berdiri di atas drone untuk memastikan jika putra Lysa tersebut sungguh mati karena dimangsa oleh para hiu monster. Seorang pria bertopeng merah mendatangi Sengkuni menggunakan drone yang sama. Ia memberikan sebuah tablet di mana banyak kamera terpasang di kedalaman laut untuk menyaksikan kematian King D.


"Hehehe, dia sungguh lemah. Hah, tinggal sedikit lagi. Aku sabar menunggu," ucap Sengkuni yang melihat tubuh King D terus tenggelam menuju ke dasar.


Para hiu monster dengan agresif mendatangi pria malang itu karena lukanya masih mengeluarkan darah.


Saat Sengkuni tak sabar menunggu kematian King D, tiba-tiba, "Tuan!" pekik pria bertopeng merah saat melihat dari tampilan tablet, muncul seekor makhluk seperti Jason meski bentuknya sedikit lain.


Mata Sengkuni melebar dan membuat wajahnya tegang ketika orang itu menangkap tubuh King D lalu membawanya berenang dengan cepat.


"Siapa dia? Satu-satunya orang yang memiliki kemampuan layaknya Merman hanya Jason seorang!" teriak Sengkuni marah yang langsung melilitkan ekornya ke leher si pria bertopeng merah.


Praktis, anak buah Sengkuni yang tak lain adalah salah satu Hope dibuat terkejut. Ia berusaha melepaskan cekikan ekor Sengkuni di lehernya. Napas Sengkuni menderu dan melotot tajam pada sosok bertopeng merah.


"Argh!" teriaknya seraya melepaskan cekikkan.


"Hah, uhuk!" engah pria bertopeng merah sampai batuk-batuk.


Mata Sengkuni kini tertuju pada sosok yang mampu berenang dengan cepat. Makhluk itu membawa King D menjauh dari kamera. Sengkuni dibuat panik karena tiba-tiba saja, sosoknya menghilang karena tak terjangkau kamera. Para hiu monster mengejar sosok itu, tapi kemudian ikut menghilang.


"Jika sampai King D selamat, kau yang akan menggantikan kematiannya!" teriak Sengkuni marah menunjuk si topeng merah.


Orang itu mengangguk paham dan segera terbang menjauh. Sengkuni yang kesal melemparkan tablet itu ke lautan dan membuat sosok monsternya kembali terlihat mengerikan.


"Argh! Terlalu banyak pengganggu! Kumusnahkan kalian semua!" teriaknya marah dan bergegas kembali ke area pertempuran dengan mengendarai drone.


Sengkuni murka. Ia seperti siap untuk melakukan sesuatu. Perlahan, fajar mulai menyingsing dan menerangi permukaan di mana pertarungan antara manusia melawan monster masih berlangsung. Sengkuni terkejut saat tiba di area pertempuran dan melihat beberapa dari para mafia sudah berhasil dibebaskan oleh Irina dan Polo akibat bantuan King D kala itu.


Sengkuni marah besar. Ia mengangkat salah satu tangannya ke atas seperti memberikan sebuah komando. Irina yang melihat pergerakan Sengkuni di atas drone waspada seketika.


"Musnahkan," ucapnya dengan kepalan tangan terangkat ke atas.


Benar saja, "Misil!" teriak Irina ketika matanya menangkap luncuran misil dari empat sisi area pertempuran.


Sebuah mobil peluncur misil keluar dari persembunyian dan meluncurkan serangan ke para monster dan mafia-mafia tersebut. Praktis, mata Irina dan lainnya melebar. Kali ini, mereka pasti mati karena tak bisa menghindar. Senyum kemenangan Sengkuni terpancar dan membuat matanya melotot lebar, tak sabar menyaksikan kematian di depan matanya. Reina dan lainnya mematung saat melihat misil-misil itu mengarah ke mereka, siap untuk memusnahkan.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, SHUWW! BLUARR!


"Wow! Apa itu?" tanya Marco memekik sampai ia membungkukkan tubuh karena sebuah misil meledak usai menghantam sesuatu yang tak bisa dilihatnya.


DWUARR!! BOOM! BOOM!


Ledakan demi ledakan terjadi yang membuat misil-misil tersebut meledak hebat di udara sebelum mengenai target. Para mafia dan monster sama-sama dibuat bingung. Mereka mematung di tempat masing-masing. Mata Sengkuni melebar. Aksinya untuk membuat para manusia dan monster yang tersisa tewas tak berhasil karena digagalkan oleh sesuatu.


SHOOT! JLEB!


"Argh!" rintih Sengkuni saat tiba-tiba saja kaki kanannya terkena sebuah anak panah yang melesat cepat sampai-sampai ia tak melihatnya.


Mata semua orang kini terfokus pada Sengkuni yang mengerang kesakitan di atas drone. Namun, hal itu kembali membuat para monster menyerang para mafia yang masih berlumuran darah karena sengaja disiram.


"Goarrr!"


"Emph!" raung Uda Red Ribbon dengan suara tertahan karena dirinya dan beberapa mafia belum diselamatkan.


Seekor monster anjiing berlari ke arahnya dengan buas karena dirinya jatuh di tanah dalam posisi terlilit dan mulut disumpal sehingga tak bisa melakukan banyak hal selain berharap untuk diselamatkan.


"Errrr!" erangnya dengan mata melotot karena mulut monster bergigi gergaji itu siap meremukkan kepalanya.


"Eng?" kejut Uda karena anjiing itu tiba-tiba terkena tusukan seperti sebuah tombak di samping perut. Tubuhnya ditarik menjauh darinya. Uda melihat anjiing itu yang meraung-raung mencoba membebaskan diri. "Hmhmhmhm," tawanya gembira dengan mulut masih disumpal kain saat mengenali sosok yang menolongnya.


SRETT!


"Hah, hah, hahahaha! Kalian datang!" teriak Uda senang saat ikatannya dilepas dan sumpalan mulutnya ditarik oleh Neil.


"Maaf lama, Paman. Kacau di luar sana," jawab pemuda itu dengan wajah berbinar.


"Paman! Cepat kemari! Bau darah kalian memicu keagresifan para monster! Kalian harus dibersihkan!" panggil Fara yang muncul bersama Toras mengendarai sebuah mobil bak.


"Kami akan melindungi kalian! Cepat pergi!" seru Sig menggunakan kemampuan serum campuran makhluk Mitologi ditubuhnya untuk melawan para monster.


Tim dari Melody berhasil tiba dengan selamat. Orang-orang yang memiliki kemampuan khusus karena Sengkuni belum menghisap mereka, kini bertarung melawan para monster sekaligus membebaskan para sandera yang diikat dan disumpal mulutnya. Satu per satu, para mafia berhasil dibebaskan dan dibawa pergi oleh Fara dan Toras. Praktis, hal itu membuat Sengkuni marah besar. Terlebih, ada seseorang yang berani melukainya.


"Argh! Keluar kau! Pengecut!" teriak Sengkuni marah usai mencabut anak panah di kaki, tapi luka itu cepat pulih karena ia telah menyerap kekuatan penyembuh King D.

__ADS_1


"Kau berani berteriak pada istriku? Kau cari mati? Jangan kau kira aku tak berani menghajarmu, Gusti," sahut Arjuna tiba-tiba yang muncul dari kumpulan para mafia saat mereka sibuk menumbangkan para monster.


Praktis, mata Sengkuni melebar. Ia tak menyangka jika Kim Arjuna telah bangkit, dan Naomi yang kini membidiknya di sebuah bangunan tinggi dengan sebuah anak panah, siap untuk dilesatkan lagi.


"Turun kemari, Bocah ingusan! Jika bertemu ayahmu, akan kumaki dia karena tak becus mendidik anak!" teriak Arjuna lantang seraya mengarahkan ujung pedang Silent Blue ke wajah Sengkuni yang masih melayang di udara.


"Heh. Kau bicara tentang mengurus anak? Kau lupa, seperti apa kau di masa lalu hingga membuat Vesper nyaris mati? Berkacalah, sebelum menghujatku! Anak durhaka!" balas Sengkuni berteriak.


Praktis, ucapannya menyulut emosi Kim Arjuna.


"Wah, cari mati si Kun-kun. Biarlah. Junet sama Sengkuni emang cocok," sahut Biawak Putih yang ikut hadir bersama anggota mafia lainnya. Anggota Biawak lainnya mengangguk sependapat dengan wajah datar.


"Naomi! Jatuhkan dia! Biar kurobek mulutnya yang berbisa!" teriak Arjuna dari sebuah earphone yang terpasang di salah satu telinga sebagai alat komunikasi.


"Oke," jawab Naomi santai. Saat Naomi siap meluncurkan panahnya lagi, tiba-tiba, "Shitt!"


BLUARRR!


Praktis, ledakan yang terjadi di tempat Naomi berada membuat mata Kim Arjuna dan para mafia lainnya melebar. Rasa takut menyelimuti hati Arjuna karena khawatir jika isterinya terluka.


"Hahahaha! Kalian pikir sudah menang ya? Aku sudah mempersiapkan semua!" teriak Sengkuni dengan seringai monster.


Kembali, tangan kanannya yang mengepal ke atas ia hantam ke bawah dengan kuat. Seketika, terdengar suara raungan buas yang membuat para mafia di area pertempuran itu tegang seketika.


"Uedyan! Sengkuni mengorbankan anak buahnya sendiri buat dijadiin pasukan monster!" teriak Sumanto saat melihat orang-orang dengan seragam ciri khas anak buah Sengkuni muncul, tapi sudah berubah menjadi monster dan memiliki kemampuan tak lazim sepertinya.


"Jika semua manusia musnah, kau akan hidup sendiri, Sengkuni!" teriak Melody yang tak habis pikir dengan jalan pikiran putra Raden tersebut.


"Memang itu yang kuinginkan! Para manusia yang tersisa dalam tabung akan kubangkitkan setelah Dayana kutemukan. Akan kubersihkan pikiran mereka dari segala memori kelam untuk menemaniku menghuni Bumi. Kalian, dan para monster akan musnah. Selama para manusia masih memiliki ingatan masa lalu, Bumi tak akan pernah damai dan indah. Kalian semua parasit!" teriaknya mengungkapkan maksud dari aksinya selama ini.


Saat para mafia dibuat terkejut akan jalan pikiran Sengkuni, tiba-tiba saja, putra Raden tersebut terdiam. Ia seperti kaget akan sesuatu. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri dengan wajah tegang.


Gusti ... kau mendengarku? Kenapa kita tak bicara baik-baik? Aku menunggumu di pantai, ucap sosok itu yang masuk dalam pikiran Sengkuni.


Praktis, mata Sengkuni melebar seketika.


***

__ADS_1


kisah sedih di hari Minggu~ tak ada tips koin dinotifku, houwoo🎶


__ADS_2