
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Markas Hashirama, Jepang.
Penyerangan brutal oleh tentara sengkuni yang tak lain adalah para monster, membuat tiga pion yakni Darwin, Dexter dan Darion dibuat kewalahan. Mereka sengaja tak membangkitkan orang-orang dalam tabung karena berpikir rencana untuk melumpuhkan Sengkuni akan berjalan lancar. Namun, siapa sangka jika petaka malah mendatangi salah satu markas peninggalan Vesper yang kini dimiliki oleh salah satu keturunannya, Kim Arjuna.
"Mereka banyak sekali! Pesawat-pesawat itu langsung meninggalkan lokasi begitu menjatuhkan muatan!" teriak Darwin dari sambungan radio yang berjaga di menara tertinggi sisi Timur bangunan.
Tiba-tiba ....
"Hohoho. Bagaimana pasukanku, para pion? Kenapa kaget begitu? Seingatku, kalian orang-orang The Circle pernah menciptakan makhluk yang hampir sama seperti itu. Jadi ... kuciptakan lagi untuk mengenang masa lalu. Hanya saja kali ini kubuat mereka lebih istimewa, hehehe," ucap Sengkuni yang wajahnya muncul di seluruh layar dalam markas Hashirama karena GIGA sudah dikuasai olehnya.
Mata para pion melebar ketika mendengar hal itu disambungan komunikasi mereka. Pion Dexter yang sedang mengisi ulang CamGun ikut terkejut, saat wajah Sengkuni muncul di layar tablet di balik dinding itu.
"Jadi ... berjuanglah. Kurasa istilah ini sangat cocok untuk kalian. Senjata makan tuan, hahahahaha!" tawanya dengan wujud monsternya yang sudah tak disembunyikan lagi.
Jantung Dexter sampai berdebar kencang ketika melihat sosok Sengkuni yang juga memiliki kemampuan tak lazim seperti King D dan lainnya. Hingga tiba-tiba, BLUARRR!!
Terdengar suara ledakan besar dari sisi Utara. Darwin yang berada di menara tertinggi langsung meneropong wilayah itu. Praktis, matanya melebar saat melihat kobaran api besar disertai kepulan asap tebal membakar ruangan tempat genset tersimpan. Seketika, seluruh listrik padam. Para pion terkejut karena serangan itu datang saat malam hari. Sontak, suasana mencekam begitu terasa di mana cahaya lampu tak bisa membantu mereka untuk melihat para monster yang mulai menerobos benteng.
"Dexter! Darwin! Apa yang terjadi?" tanya Pion Darion yang menjaga sisi Selatan di atas menara benteng tempat tabung-tabung disimpan melalui sambungan radio.
Namun, sinyal mereka terputus. Para pion dibuat buta dan panik karena tak bisa saling menghubungi. Mereka harus berperang di malam yang gelap tanpa lampu untuk melawan para monster.
"Sial! Kalian tak bisa membunuhku begitu saja!" teriak Dexter geram dan segera memakai kacamata night vision untuk membantunya melihat dalam kegelapan.
Dua pion lainnya melakukan hal yang sama seperti satu pemikiran. Mereka yang sudah terlatih dan selalu terlibat dalam pertempuran terlihat siap meski lawan mereka adalah para monster.
"Di mana pun kalian berada, jangan sampai kalah! Aku belum siap bertemu Tobias di neraka," ucap Pion Darion seraya mengisi penuh amunisinya untuk melawan para monster yang terdengar mulai mendekat ke arahnya.
"Goarrr!"
"Demi The Circle!" teriak Pion Darwin dari atas menara saat ia melongok dari jendela bangunan tinggi menjulang itu.
Pria tua itu mendapati para monster berwujud kucing dengan mata merah menyala terang, bertaring panjang sampai ke dagu, memiliki cakar tajam dan ekor dengan ujung runcing. Praktis, lawan para Pion kali ini tak hanya manusia, melainkan hewan juga.
"Aku benci melakukannya. Jika Lian tahu aku membunuh kucing, bisa-bisa aku dihajar olehnya," guman Pion Darwin membayangkan wajah angker sang isteri.
Pria itu mulai membidik sasarannya untuk menembak, tapi tiba-tiba ....
"What!" pekiknya terkejut saat melihat kucing-kucing monster itu bisa memanjat menara dengan cepat.
Mata Pion Darwin melebar seketika karena tak menyangka hal tersebut. Ia segera bertindak dan dengan sigap mengarahkan moncong senapan ke kucing-kucing yang mulai mendatanginya.
"Haaa!"
DODODODOR!!
__ADS_1
"Meaw!" raung para kucing saat tubuh mereka terkena tembakan dan jatuh dari ketinggian.
Pion Darwin begitu fokus pada tembakannya karena hewan-hewan berkaki empat itu dengan gesit mampu menghindari serangan peluru. Darwin dibuat kerepotan karena hewan yang berubah wujud itu menyergapnya dari empat sisi. Darwin yang hanya manusia biasa dan memiliki titik buta, tak bisa melawan semuanya sekaligus. Ditambah, ia sudah tua dan kemampuan tempurnya mulai menurun.
CLEB!!
"Arrghh!" raung Darwin saat seekor kucing monster melompat ke bagian punggung di mana pion tersebut tak melihat serangan dari arah belakang.
Kucing itu dengan buas menusukkan dua taringnya ke pundak pria itu. Darwin segera mencengkeram kuat tubuh kucing itu dan menariknya paksa. Bahkan, pakaian tempur yang seharusnya anti peluru itu masih tak mampu melindungi tubuhnya dari tusukan mematikan taring hewan-hewan beringas itu.
CRAT!!
"Haaa!" teriaknya seraya melemparkan kucing tersebut dari atas menara usai berhasil melepaskan tusukan taringnya.
Namun, darah segar yang menyeruak dari luka tusukan itu membuat para kucing monster semakin bernafsu untuk menyerangnya. Darwin dibuat tak berdaya, tapi tetap berusaha melawan seraya menahan sakit di pundak kanannya.
"Harghhh! Aku tak akan kalah dari kalian semua!" teriaknya marah dengan kacamata malam masih terpasang rapat disertai serentetan peluru yang menghujani para monster kucing.
Di tempat Dexter berada.
CamGun yang tak bisa beroperasi karena listrik padam, terlebih genset juga telah terbakar, membuat pria berkulit hitam itu kerepotan saat menahan serangan para monster manusia yang ingin membunuhnya. Orang-orang itu semakin ganas setelah disuntikkan serum dengan kemampuan khusus. Dexter yang sudah sempat mengetahui perubahan dari orang-orang dalam jajaran Vesper tampak tak begitu terkejut dengan perubahan itu.
"Hidup lama ternyata membawa petaka! Jika tahu begini, lebih baik aku menua dan mati sebelum wabah terjadi. Merepotkan!" gerutu Dexter seraya menembak menggunakan senapan pelontar granat berisi Rainbow Gas bom ke arah para monster yang sedang berlari ke pintu sisi Barat kastil.
BLUARRR! BLUARRR!!
"Haarrrr!"
"Oh, shitt!" pekiknya dengan mata melotot karena para monster manusia itu tak terkena dampak sama sekali.
Hanya beberapa dari mereka yang terluka karena terkena ledakan dari granat tersebut. Para monster berhasil menerjang kepulan asap beracun dan kini mendatangi sisi Barat dengan gencar.
"Siaalll!!" gerutunya yang mengganti senjata dengan granat tabung.
KLANG! PIPIPIPIPI! DUWARRR!! DODODODOR!
"Harghh!" raung para monster manusia saat peluru-peluru tajam itu terlontar dan mengenai tubuh mereka.
Sayang, tembakan yang tak tepat mengenai kepala dan leher membuat beberapa dari mereka masih bisa menerobos. Pion Dexter dibuat tertegun karena lagi-lagi serangannya hanya berdampak minim bahkan hampir tak menewaskan lawan.
"Gila! Mereka bukan manusia! Mereka seperti zombie!" pekiknya tak habis pikir dan mulai ketakutan.
Dexter akhirnya mendekati senjata CamGun yang tak bisa dioperasikan secara otomatis. Ia mengganti penggunaan senjata itu dengan cara manual. Pion Dexter yang mengenakan sepatu magnet berjalan di atas tembok lalu berjongkok di samping CamGun yang terpasang tinggi di bawah atap kastil.
"Aku tak menyerah! Rasakan!" teriaknya lantang sembari mengarahkan senapan itu ke sekumpulan para monster yang kini mengincarnya.
DODODODOR!!
__ADS_1
Senapan CamGun memberondong sekumpulan para monster dan mulai menjatuhkannya. Untung saja pion Dexter sudah mengisi penuh amunisi untuk senjata itu. Pria tersebut bertahan di posisinya agar para monster tak berhasil menerobos kastil di mana bangunan besar itu merupakan peninggalan leluhur 13 Demon Heads, yakni Hashirama.
Sedang di tempat pion Darion berada.
Sisi Selatan juga digempur habis-habisan. Penggunaan semua jenis senjata yang dimiliki oleh Vesper Industries telah digunakan dengan maksimal olehnya. Sayangnya, lawan yang dihadapi telah memiliki kemampuan lebih sehingga sulit untuk dikalahkan.
"Rasakan ini!" teriak Pion Darion yang kini menggunakan senapan pelontar granat berisi Granat Mini.
DUWARRR!! BOOM! BOOM! BOOM!
"Goarrr!"
Ledakan demi ledakan terdengar untuk membunuh para monster dari kumpulan manusia dan hewan itu. Beberapa dari mereka tewas usai terkena ledakan besar tersebut. Namun, beberapa masih bertahan karena dilindungi oleh monster lain yang berada di depan.
"Sial! Kenapa Granat Mini yang kubawa hanya sedikit?" pekiknya kesal karena tak semua senjata bisa digunakan mengingat lawan kali ini tak menggunakan kendaraan.
Senapan Hit, Peleleh Logam, Umbrella, Tempurung dan Mini Domino tak bisa digunakan. Pion Darion dibuat pusing karena senjata yang bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan mulai menipis. Saat pria itu akhirnya mengambil tombak JERA untuk digunakan, tiba-tiba ....
"Meaw!"
"AAAA!" teriaknya lantang ketika seekor kucing melompat ke wajahnya dan membuat pria itu mundur ke belakang hingga terpepet dinding karena tak siap dengan serangan tersebut.
SRETT!!
"Argh!" rintihnya ketika cakaran tajam itu meninggalkan bekas di wajah hingga darah segar menyeruak dari luka robekan. "Heaaa!"
JLEB! BRUKK!
"Hah, hah, hah, sial sakit sekali!" rintihnya dengan tubuh membungkuk usai berhasil menusuk tubuh kucing monster itu menggunakan pisau dan menewaskan hewan tersebut.
Hanya saja, para monster itu masih gencar melakukan serangan. Pion Darion harus menahan sakit dan kembali ke pos. Ia menembakkan tombak JERA ke arah manusia monster yang berusaha memanjat benteng.
SHOOT! JLEB! CRATT!!
"Harghh!" rintih tiga orang manusia monster yang dadanya tertembus tombak JERA.
Sayangnya, Darion yang terluka dan tak fokus dengan senjatanya itu kembali terkejut saat kumpulan monster monyet menggunakan tali yang terlontar dari tombak JERA untuk bergelantungan sampai ke posnya.
"Idiot," ucap Darion dengan lesu saat menyadari kebodohannya.
Ia malah seperti memberikan akses bagi para monster untuk mendekatinya. Darion mematung saat melihat sekumpulan monyet monster itu mendatanginya dengan cepat.
***
yuhuu lele mau kasih info soal teknis giveaway nanti ya. simak baik-baik bagi yang mau ikutan. sampai tgl 25 November nanti, lele akan sertain gimana teknis acaranya. dan jangan lupa vote vocernya keburu angus. tips koin ditunggu. tengkiyuw lele padamuđź’‹
__ADS_1