KING D

KING D
Kegelisahan King D*


__ADS_3

Obama Otong ditugaskan untuk menonaktifkan tiap ranjau yang ditanam oleh Hope di sekitar pekarangan vila Giamoco oleh Reina.


Beruntung, ia membawa banyak peralatan dari pabrik senjata Boleslav Industries untuk digunakan mengakali ranjau-ranjau tersebut. Namun, Obama memiliki pemikiran lain.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Jeng Reina!" panggil Obama dengan membawa alat pemindai ranjau dalam genggaman.


Reina dan Irina berhasil menarik tabung di laut yang menyimpan Jonathan Benedict usai sistem mengidentifikasi dirinya.


Dua perempuan itu menggunakan jaring tali yang dilontarkan dari tombak JERA di tepi pantai. Sesudahnya, mereka segera mendatangi Obama dengan tergesa.


"Ada apa?" tanya Reina serius.


"Ini saran aja loh ya. Lebih baik, biarin aja itu ranjau berserakan di halaman. Kita tinggal bilang aja sama orang-orang dalam jajaran untuk menggunakan pemindai saat mendatangi pulau. Hal ini bermanfaat bagi kita sebagai salah satu senjata ampuh. Misal ya to, tetiba diserang oleh para monster, kita gak perlu repot abisin amunisi. Biar aja para monster meledak saat mendatangi vila. Kita tinggal duduk manis sambil makan jagung bakar kaya nonton kembang api, tapi meletus di darat," jawab Obama dengan senyum merekah.


Irina tersenyum tipis karena sependapat dengan pemikiran Obama. Wanita bermanik hijau itu melirik Reina yang terlihat memikirkan ide Obama dengan serius.


"Oke, aku setuju. Kabarkan pada mereka semua," jawab Reina dengan wajah datar.


"Asiap, Bu Bos!" jawab Obama dengan hormat.


Pria gundul itu dengan sigap mendatangi King D yang berada di pusat kendali. Sedang Reina dan Irina, kembali fokus pada tabung Jonathan untuk dipindahkan ke dalam helikopter tanpa membuat sistem keamanan mencelakai mereka.


Hanya saja, karena tabung tak bisa dibuka, dua perempuan cantik itu akan meminta tolong kepada orang-orang di Black Castle untuk membukanya.


Sayang, menurut informasi dari penjaga di Black Castle Inggris setelah dihubungi King D, data orang-orang yang tercatat masih tertidur.


Sore itu, Obama dan King D menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam dan di luar vila. Termasuk membersihkan puing hingga malam menjelang.


Mereka menumpuk para mayat seperti gunung di tepi pantai. Setelahnya, mereka akan menguburkan mayat-mayat itu dalam satu liang agar tak memakan banyak tempat.


Dua lelaki itu juga melucuti beberapa benda yang dirasa masih bisa digunakan sebagai perlengkapan tambahan.


"Aku jadi teringat akan sosok paman BinBin," kekeh King D saat menemukan banyak senapan masih beramunisi dari para mayat.


"Iya ya. Ada orang kaya gitu? Herannya, kita malah ikut-ikutan. Nular kayaknya itu ajaran Mbah BinBin," sahut Obama seraya mengambil topeng anak buah Hope lalu memakainya.


King D hanya terkekeh dan melanjutkan melucuti perlengkapan dari mayat-mayat tersebut untuk dikumpulkan lalu disortir ulang.


Larut malam, Reina bersama King D, Otong, dan Irina berkumpul di ruang tengah vila Giamoco untuk membahas tentang insiden di pulau pribadi tersebut.


"Ternyata, setelah aku mengkonfirmasi tabung temuan kita, para penjaga di Black Castle mengaku jika tabung Jonathan hilang," ucap King D melaporkan.


"Siapa yang berjaga di Black Castle?" tanya Reina penasaran.


"Click and Clack. Seharusnya, saat Clack bangun, Click tertidur. Lalu, saat Click bangun, Clack akan ditidurkan lagi. Seperti itu terus selama lima tahun. Namun anehnya, mereka berdua bangun bersamaan dan tak bisa ditidurkan kembali. Menurut informasi keduanya, tabung mereka sepertinya sengaja dirusak dan tak bisa diperbaiki karena ada komponen yang hilang," jawab King D serius.


"He? Jangan bilang ulah si Hope lagi," timpal Obama menduga.


"Entahlah. Namun, saat keduanya terbangun, masih ada penjaga di Black Castle. Mereka adalah anggota Black Armys. Dua prajurit itu mengaku selama menjaga kastil, tak pernah ada penyusup ataupun penyerang. Bahkan, monster tak ada. Karena dirasa aman, dua orang itu lalu meninggalkan Black Castle untuk mengecek kediaman Ivan Benedict karena penjaga di sana tak merespon. Namun, kabar terbaru yang didapat, dua Black Armys itu tak menjawab panggilan sampai sekarang. Semua hal aneh ini, hanya bisa kita duga jika Hope pelakunya," jawab King D menjelaskan.


"Terus, sekarang bagaimana, Jeng Reina?" tanya Obama menatap puteri Sakura lekat yang terlihat serius menyimak.

__ADS_1


"Kita tetap antarkan tabung ini ke Black Castle. Namun, minta petugas untuk menjaga markas Giamoco karena tempat ini sudah kita amankan. Jika dibiarkan tak diawasi, Hope bisa datang kembali dan mengakuisisinya," jawabnya tenang.


"Lalu ... siapa yang akan ditugaskan? Jumlah kita tak banyak," tanya Irina bingung.


"Kita bisa meminta kepada anggota tim Marco-Polo dan Red Skull untuk berjaga. Kirim saja yang sudah memiliki pasangan. Pasti mereka tak keberatan," jawab King D dengan senyuman.


"Hahai! Sekalian produksi anak biar populasi manusia tetap lestarikah? Ya, bagus juga idenya. Ya wes, Otong hubungi Rusia dulu," jawab lelaki gundul itu dengan sigap berdiri.


"Siapa yang memintamu melakukannya? Kau lupa, aku pemimpin kelompok misi ini. Jika aku tak memberikan perintah, jangan berinisiatif," tegas Reina menatap Otong tajam.


Praktis, wajah King D, Irina, dan Otong serius seketika. Ketiganya menatap puteri Sakura lekat, tapi gadis itu memasang wajah datar. Saat Obama memilih untuk duduk karena tak mau cari ribut, Reina angkat bicara.


"Aku setuju. Minta dua pasangan dari dua kelompok itu kemari. Suruh datang segera karena kita tak bisa terlalu lama. Siapa yang kalian pilih, aku bebaskan. Aku mau istirahat dulu," ucap Reina yang membuat tiga orang itu melongo seketika.


"Woo ... ngerjain kita. Kurang asem!" pekik Obama kesal.


"Aku tahu yang kauucapkan, Otong!" seru Reina seraya melenggang pergi memunggungi tiga seniornya.


Obama gemas bukan main, tapi ia memilih untuk bersabar. Irina menemani Obama ke pusat kendali untuk mengabarkan hal ini kepada tim Marco-Polo dan Red Skull yang sudah dipilih oleh puteri Sia.


Sedang King D terlihat sibuk seperti menyusun sebuah rencana di helikopter.


"Hope sudah bergerak ke beberapa titik dari keseluruhan markas milik jajaran 13 Demon Heads. Banyak dari anggota jajaran yang tewas. Namun, terlalu cepat jika hanya dilakukan seorang diri dengan sedikit orang. Pasti dia memiliki pasukan, tapi ... siapa? Aku pernah melawan anak buah Hope sebelumnya. Aku cukup yakin jika mereka terlatih. Jebolan militer?" tanya King D menduga seraya melihat semua titik yang sudah ia tandai tempat munculnya Hope.


"Kita kalah jumlah dan persenjataan," sahut Reina tiba-tiba yang muncul di palka atas helikopter tempat biasanya King D berdiri untuk melakukan pantauan.


Reina duduk di bingkai palka dan membiarkan dua kakinya berayun. King D diam di tempatnya duduk pada kabin depan menatap Reina yang terlihat seperti mengawasi sekitar.


"Awalnya kami ingin membangunkan para senior. Bagaimana pendapatmu?" tanya King D menatap gadis Asia itu lekat.


King D mengangguk setuju. Tak lama, Irina dan Obama mendatangi keduanya ke helikopter karena sosok Reina terlihat di atap benda terbang tersebut.


"Bagaimana?" tanya Reina saat keduanya berdiri di samping helikopter.


"Bruno dan Robin akan kemari bersama pacar mereka, Pinky dan Amber Red Skull. Namun, karena jarak yang cukup jauh, sepertinya akan memakan waktu lama. Mereka juga harus melakukan pengisian bahan bakar ke beberapa bandara dan berharap, tak bertemu dengan anak buah Hope," jawab Irina menjelaskan.


"Kita akan membuang waktu," sahut gadis Asia itu seraya memalingkan wajah.


"Ingin coba hubungi Jumbo Island? Siapa tahu Nyonya Sakura dan lainnya sudah siap untuk menyusul kemari," saran King D.


Reina diam sejenak lalu mengangguk setuju. King D bergegas menghubungi markas di Jumbo Island.


Ternyata, Sakura dan lainnya siap terbang esok hari menggunakan helikopter. Mereka bersedia menjaga markas di Jumbo Island sampai tim dari Marco-Polo datang.


"Masalah terselesaikan," jawab King D dengan senyuman.


"Baru satu dari sekian banyak, D. Selama Hope belum ditangkap, hutangmu masih banyak. Kau terlalu cepat berpuas hati," sahut Reina ketus lalu melompat turun dari helikopter kembali berjalan menuju vila.


"Sabar, sabar. Orang cantik emang gitu. Ngeselin," sahut Obama berwajah masam.


"Irinaku cantik, tapi tak menyebalkan," sahut King D, dan wanita bermata hijau itu tersipu malu.


Sistem persenjataan di helikopter tetap diaktifkan. Obama memilih untuk tidur di helikopter sembari menjaga wilayah luar vila.

__ADS_1


Sedang King D dan Irina, bermalam di dalam vila dengan Reina sudah menempati sebuah kamar yang diyakini tempat Hope mengambil koper berlogo G.


Saat orang-orang itu terlelap, tiba-tiba saja panggilan komunikasi yang terhubung dengan earphone tiap orang menyala.


Praktis, mata para mafia itu kembali terbuka. King D dengan sigap duduk meski matanya masih merah.


"Siapa ini?" tanya King D yang menjawab pertama kali.


"D! Kau tak akan percaya! Kami menemukan banyak tabung dalam kondisi sudah terbuka selama penerbangan! Kami tak tahu bagaimana kondisi orang-orang itu karena tabung tersebut berada di beberapa tempat terbuka!" seru Marco yang membuat mata King D melebar seketika.


"Kalian ada di mana sekarang?" tanya King langsung berdiri di samping tempat tidur. Seketika, rasa kantuknya sirna.


"Kami masih berada di benua Amerika. Newfoundland and Labrador. Rencana, esok kami akan terbang melintasi lautan menggunakan pesawat yang berada di hangar tempat Safa dan Dakota bertugas. Mereka sudah menyiapkan pesawat dan bertukar dengan helikopter yang kami gunakan. Hanya saja, melihat hal aneh ini, kami jadi ragu jika harus ke Italia," jawab Marco yang membuat kening King D berkerut.


"Kirimkan semua foto atau video hasil temuan kalian sekarang," pinta Reina yang mengejutkan King D karena gadis itu menyahut.


"Mm, ini siapa?" tanya Marco heran.


"Reina. Berikan pada Polo. Aku ingin bicara padanya," pinta Reina yang membuat King D berkerut kening.


"Oh, oke," jawab Marco yang seperti memberikan telepon itu pada saudara kembarnya.


"Halo? Ya, bagaimana?" tanya Polo pelan.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Reina seperti berganti topik.


"Ya, kami baik. Kami baru tiba di sini, tapi ... tak ada kendala. Semua lancar sampai kami menemukan banyak tabung kosong sudah terbuka di beberapa tempat," jawab Polo terdengar gugup.


"Oh, begitu. Bisa kau kirimkan datanya padaku berupa foto, video dan catatan rinci tentang tabung-tabung tersebut?" pinta Reina.


"Ya. Kami menyempatkan untuk melakukan semua hal itu saat perjalanan menuju kemari. Baiklah, akan kukirimkan segera. Sebaiknya kau segera tidur, ini sudah larut malam. Maaf, jika mengusik waktu istirahatmu. Kami pikir, hanya King D atau Obama yang akan menjawab panggilan kami, tapi ternyata kau juga," jawab Polo sungkan.


"Aku kini pemimpin misi kelompok King D. Pria itu sudah memberikan komandonya padaku," jawab Reina yang membuat King D mengembuskan napas panjang.


"Oh, begitu. Baiklah," jawab Polo.


"Aku tunggu kiriman datamu. Selamat malam, Polo," ucap Reina lembut.


"Malam, Reina," jawab Polo lalu menutup panggilan.


King D berdiri dengan wajah lesu dan perlahan duduk. Ia diam dengan wajah tertunduk seperti memikirkan sesuatu.


Ia lalu melepaskan earphone di telinga yang selalu dipasang ke atas meja. King D merebahkan tubuhnya lagi seraya menatap langit-langit.


"Kenapa hal ini membuatku tak nyaman dan mengusikku? Haruskah ... kusingkirkan Reina?" gumannya pelan terlihat tertekan.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


selama beberapa hari ke depan jam update masih belum tentu ya. capek gile jadwalnya padat. kadang lele sempetin ngetik lewat hp sambil rebahan. kalo ada tipo maklumin aja ya. msh eps dr tips denda. lele padamu. kwkwkw😆


__ADS_2