
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Tentu saja, King D dan para mafia yang tak mengetahui hal tersebut tertegun. Mereka langsung merapat untuk mengetahui lebih detail tentang King D yang ditunjuk sebagai Presiden Dunia.
"Awalnya kami berencana untuk memberitahukan hal ini saat semua sudah beres. Namun, mengingat banyak hal yang di luar rencana, kami putuskan untuk membongkar rahasia besar ini," ujar Melody terlihat tenang, tapi wajah para pendengar tegang seketika.
"Siapa saja yang tahu tentang hal ini?" tanya Irina serius.
Eva dan Melody menunjuk empat mafia senior yang berdiri di belakang King D. Praktis, mata orang-orang yang tak tahu hal itu terbelalak lebar.
"Ya, begitulah. Kami tahu tentang eksperimen Sandara, tapi tidak dengan rencana besarnya," sahut Lysa seraya melipat kedua tangan depan perut.
"Kenapa aku, Mimi?" tanya King D berkerut kening.
"Kau tak ingat? Oma Vesper percaya padamu. Entah apa yang ia lihat darimu, tapi kami semua ingat jika Vesper mempercayaimu akan suatu hal. Oleh karena itu, kami sepakat dan mempercayakan tugas berat ini padamu," sahut Javier menegaskan.
"Selain itu, para presiden di tiap negara yang bersekutu dengan kita sudah sepakat dengan hal ini. Kita sudah mendapatkan surat pernyataan kesediaan dari mereka untuk mengakuimu sebagai Presiden Dunia usai Hendrik tewas di tangan Arjuna," imbuh Naomi yang membuat King D tertegun sampai mulutnya menganga lebar.
"Oleh karena itu, begitu kita berkumpul dan memastikan semua monster telah lenyap, kontaminasi terhadap lingkungan kita bersihkan, tugas selanjutnya adalah membangkitkan orang-orang pemerintah yang bersekutu dengan 13 Demon Heads. Kita menjanjikan wabah monster musnah meski kondisi dunia masih belum stabil saat mereka bangkit nanti," sambung Arjuna.
King D memejamkan mata terlihat tertekan. Ia membalik tubuhnya seraya bertolak pinggang dan berdecak. Orang-orang paham jika pria itu tampak pusing dengan tugas berat yang harus diemban. Terlebih, tanggung jawabnya adalah seluruh dunia.
"Kami akan membantumu. Tak usah khawatir," sahut Zurna mantap.
"Kita kan udah sohib sejak piyik, Bos D. Otong siap jadi Menteri Kewaniitaan untuk bantu kamu," ucapnya mantap. "Wedyan, Presiden Dunia. Sayang, impian bapak melenceng. Kudunya kan Otong yang jadi presiden. Udah pakai nama Obama lho, eh malah King D yang jadi pemimpin, tapi gak papa. Otong tetep bahagia meskipun kamu tertekan, D. Hehe," kekeh Obama dengan senyum tengilnya.
King D memijat dahinya yang mendadak terasa berat. Tugas baru yang menunjuknya, membuat King D merasa petaka sesungguhnya baru saja dimulai.
"Kami sudah mengatur semuanya. Kau tinggal menjalaninya saja sesuai instruksi. Percayalah pada kami. Tak mungkin kami para orang tua menyesatkan anak-anaknya. Kami sudah memikirkan dengan matang semua risiko yang mungkin akan terjadi di kemudian hari," ucap Lysa seraya berjalan mendekat ke arah putranya lalu mengelus kepalanya lembut.
"Aku tahu, Mimi. Aku selalu percaya padamu dan Baba. Baiklah, katakan padaku apa yang harus kulakukan," ucap King D mulai bisa menerima takdirnya.
"Kau memang selalu bisa diandalkan. Kau anak yang berbakti, D. Mungkin kau tak akan pernah sempurna, tapi kau mau berusaha. Itu yang diperlukan dunia untuk masa kini," sahut Javier ikut mendekat lalu mengantukkan dahinya ke dahi sang putra. King D tersenyum.
Di sisi lain. Tempat tim Jonathan berada.
__ADS_1
Usai mengisi penuh bahan bakar di atas kapal kargo, helikopter kembali terbang menuju ke Filipina sesuai instruksi misi. Tampak bendera 13 Demon Heads berkibar di atas menara Red Mansion. Hanya saja, isi surat yang mengatakan mereka harus ke laboratorium, membuat Jonathan hanya melintasi kediaman itu.
"Ada bendera lagi di gedung itu!" seru Nero menunjuk dari jendela helikopter samping ia duduk.
"Oh, kalian dengar itu? Ada suara di gedung tersebut. Sepertinya, ada yang menjaga tempat itu. Hanya saja, anak buah Hope yang tersisa atau orang kita?" tanya Sig saat kemampuan mendengar supernya menangkap suara di kejauhan.
"Bagus, Sig," puji Cassie. "Sayang, jangan bengong saja. Pindai bangunan itu untuk memastikan orang di dalam sana bukan ancaman," tegas Cassie seraya mengaktifkan sistem persenjataan.
"Siap, Ayang Cassie!" jawab Jonathan semangat.
Helikopter terbang memutari gedung berupa apotek dan klinik yang digunakan Jeremy sebagai tempat kamuflase untuk menyembunyikan laboratorium ilegalnya. Semua orang tampak tegang dan bersiap dengan segala jenis ancaman.
"Ada 2 orang! Mereka bersenjata dan membidik kita dengan RPG di balik atap bangunan yang memiliki loteng!" seru Jonathan yang membuat semua orang melebarkan mata.
"Siapa?" tanya Cassie ikut siaga.
"Kalau dari lekukan bentuk tubuh sih perempuan. Dadanya nyumbul," jawab Jonathan mantap, tapi membuat orang-orang yang mendengar berkerut kening.
Benar saja, TET! TET! TET!
Dengan sigap, KLIK! DODODODOOR! BLUARRR! DUWARRR!
"Waaa!" jerit para penumpang yang tak siap dengan getaran besar yang mengguncang helikopter.
Ledakan besar terjadi di bagian depan dan samping helikopter yang membuat benda terbang tersebut berguncang hebat. Jonathan membidik arah luncuran misil itu, tapi seketika, Cassie menonaktifkannya.
"Loh, gimana sih, Yang?" tanya Jonathan bingung berikut para penumpang yang panik karena serangan tak terduga itu.
KLIK! NGEK!
"Kenapa kau membuka pintunya, Mom? Kau ingin membunuh anakmu yang tampan ini!" tanya Neil memekik.
Tiba-tiba saja, Cassie meninggalkan bangku kemudi. Ia mengaktifkan auto pilot untuk mengambil alih tugasnya. Cassie berdiri di samping pintu helikopter yang terbuka dengan wajah serius. Semua orang melongo.
"Rayya! Roxanne! Ini kami!" serunya lantang dengan suara terdengar cukup keras dari badan pesawat karena terdapat mengeras suara di sana.
__ADS_1
Han dan lainnya terkejut karena tak menduga hal itu. Namun, siapa sangka jika dugaan Cassie benar.
"Hei!" panggil seorang wanita keluar dari apotek seraya melambaikan tangan.
Tak lama, muncul wanita lainnya. Senyum Cassie terkembang. Han dan lainnya bernapas lega karena dua orang wanita itu adalah istri Jeremy. Rayya menunjuk ke sebuah tempat dan Cassie mengangguk paham.
Jonathan dengan sigap mengambil alih kemudi dan mematikan auto pilot. Helikopter mendarat di helipad yang tiba-tiba saja muncul dari bawah tanah yang sebelumnya tertutupi oleh bunga-bunga bermekaran. Helikopter berhasil mendarat dengan sempurna dan lantai itu membawa benda terbang tersebut masuk ke dalam.
"Woah, ini hebat! Ada ruang bawah tanah!" pekik Nero kagum.
Ruangan yang tadinya gelap itu tiba-tiba bercahaya terang karena lampu yang menyala. Mata para mafia muda makin melebar saat mengetahui jika di dalam ruangan besar itu menyimpan banyak kendaraan dengan berbagai jenis. Jiwa otomotif mereka bangkit seketika.
"Hei!" panggil Roxxane seraya berjalan mendekat dengan Rayya di sisinya.
Cassie dan semua penumpang turun, termasuk Han meski ia harus menggunakan kursi roda.
"Kalian berhasil tiba. Apakah ... ini pertanda jika Bumi sudah bebas dari wabah monster?" tanya Rayya seraya menjabat tangan orang-orang itu satu per satu.
"Kami rasa belum," sahut Sig yang kemudian menyerahkan surat temuannya kala itu di atas kapal kargo.
Rayya dan Roxxane membacanya dengan saksama. Dua wanita tua itu saling memandang dengan kening berkerut lalu mengangguk pelan.
"Kami sudah tahu tentang kematian Jeremy. Sungguh kami sangat sedih ketika mendapatkan kabar itu dari Dayana. Dia yang membangkitkan kami. Namun, mungkin itu sudah takdir Tuhan. Kami tak bisa menyalahkan Marco dan Polo," ujar Rayya.
"Kami sangat lega karena kalian mau memaafkan ketidaktahuan mereka. Dua pemuda itu cukup tangguh saat mendampingi kami ketika mencoba membasmi para monster berikut mengalahkan Sengkuni," sahut Han.
"Ya, kami mengerti. Sebaiknya kalian segera masuk. Tempat ini dikhususkan untuk suatu hal," pinta Roxxane.
"Suatu hal? Apa itu?" tanya Sarnai penasaran.
"Kalian akan tahu. Ayo," ajak Rayya.
Para mafia itu mengikuti dua wanita tua yang terlihat tangguh menuju ke sebuah pintu besi. Mereka penasaran, ada hal tersembunyi apa di balik sana.
***
__ADS_1
akhirnya lele sampai ke Depok dengan selamat. semoga up nya bisa rajin lagi meski kerempongan gak ada habisnya. tengkiyuw lele padamu❤️