KING D

KING D
Kebangkitan Durriyah, Buffalo dan Martin*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Markas Jeju, Korea Selatan.


Praktis, kebangkitan isteri Seif membuat Maksim dan Number 5 melebarkan mata seketika. Wanita itu sudah terlihat tua, tapi masih perkasa seperti anggota SYLPH lainnya.


"What?" tanyanya garang karena ditatap oleh dua pria tua di depannya.


"No, no," jawab Maksim dengan gelengan.


Durriyah yang sudah tahu misinya segera menyiapkan diri. Maksim dan Number 5 yang penasaran, mengikuti wanita itu saat menenteng dua koper besar berisi persenjataan dari markas tersebut.


"Kau ... mau ke mana?" tanya Number 5 yang mulai pulih dari lukanya dan tak memakai perban lagi.


"Jordan memintaku membersihkan Kamboja dan Vietnam. Itulah alasanku dibangkitkan," terang Durriyah dengan wajah datar seraya berjalan menuju ke tempat kendaraan-kendaraan disimpan.


"Oke. Jadi ... kau sudah tahu apa yang harus dilakukan?" tanya Maksim gugup karena wanita itu seperti mengabaikannya.


"Daripada kalian hanya sibuk menanyaiku, ikut aku pergi agar pekerjaanku cepat selesai," jawabnya seraya membalik tubuh dan menatap dua pria itu tajam.


"Mm ... ka-kami ...."


"Kalau tidak mau, diam," tegasnya lalu kembali membalik badan.


"Kami ikut!" sahut Maksim cepat dan diangguki Number 5.


Durriyah tersenyum karena berhasil mengajak dua pria tersebut. Ia terus berjalan hingga matanya mendapati sebuah mobil yang saat itu digunakan oleh para agent di mana kendaraan tersebut memiliki fungsi ganda sebagai speed boat.


"Kita akan menggunakan mobil itu?" tanya Maksim memastikan.


"Hem. Bukankah ada dua. Kita pakai keduanya. Aku hanya mau berdampingan dengan suamiku, tidak dengan kalian. Oia, di mana dia sekarang?" tanya Durriyah yang baru menyadari jika suaminya telah bangkit, tapi tak ada di sisi.


"Seif ditugaskan untuk ikut membasmi para monster. Tujuan akhir semua tim berada di Spanyol. Apakah ... kita akan ke sana juga nantinya?" tanya Number 5 memastikan.


"Ya, kita akan ke sana. Kalau begitu, kita harus cepat. Semoga gunung berapi itu belum muntah sampai semua limbah berhasil dikumpulkan," jawab Durriyah yang dengan sigap menyalakan mesin mobil tersebut.


"Wah, sepertinya kau terlihat begitu prima tak seperti kami yang harus beradaptasi," ucap Maksim heran.

__ADS_1


Durriyah tersenyum saat mengecek seluruh fungsi mobil di bangkunya. "Itu karena pil hitam yang kuminum. Obat itu sebenarnya hanya ada 5 buah dan dikhususkan untuk orang-orang terpilih, sepertiku. Obat itu membantu kami untuk beradaptasi dengan cepat termasuk pemulihan daya ingat dan kinerja tubuh," jawabnya santai seraya menekan layar sentuh mencari lagu asyik untuk menemaninya berkendara.


JENG! JENG! JENG!


"Wow, musik metal!" seru Maksim terkejut.


"Cepat! Kenapa kalian lelet sekali? Siapkan perlengkapan! Aku tak mau kalian menyerobot persediaanku selama menjalankan misi!" teriak Durriyah garang yang membuat dua pria itu langsung kabur seketika.


Di tempat Martin berada.


Pria berambut gondrong beruban itu kebingungan saat mendapati dirinya tak berada di kediaman, Colombia. Martin seperti orang linglung karena sendirian dan tak ada satu pun manusia di sekitarnya.


"Aku ... di mana?" tanya Martin bingung sembari mengenakan pakaian tempur dan mempersiapkan senjata yang didapat dari dalam tabung miliknya.


Martin menelan pil hitam sama seperti yang dilakukan oleh Durriyah, Sun dan Afro. Pria tua itu bingung karena tempatnya berada seperti di sebuah ruangan khusus dan hanya terdapat pintu yang tak bisa dibuka.


"Pasti ada yang tak beres. Sial, sambungan komunikasi dengan Jordan hanya satu arah. Aku tak bisa mengirimkan pesan apa pun keluar. Pasti hal buruk sedang terjadi. Oleh karena itu, aku bisa berada di sini," ujarnya seraya melihat sekitar.


Martin mendekati pintu besi itu. Ia diam sejenak lalu mendekati tabung miliknya. Martin mendorong tabungnya sampai menempel ke arah pintu besi tersebut. Pria berambut gondrong itu meletakkan telapak tangan kirinya ke badan tabung, lalu muncullah tombol layar sentuh di hadapan. Martin menekan nomor 00 dengan wajah tegang lalu berlari menjauh dari tabung dan berjongkok di sudut ruangan.


Tiba-tiba, PIPIPIPIPI!! BLUARRR!!


"Uhuk! Woah ...," ucap Martin seraya berdiri perlahan dan mengibaskan tangan ke depan wajah karena debu yang berterbangan.


Martin melangkah keluar dari lubang ledakan. Ia berjalan menuju ke arah cahaya di mana dirinya yakin jika matahari sedang berada di puncak. Martin terlihat waspada saat ia mendapati beberapa bangkai monster tergeletak di dalam ruangan yang dilewatinya termasuk koridor. Moncong pistol di arahkan ke depan tubuhnya dan siap untuk ditembakkan. Namun seketika, matanya melebar dan membuat langkahnya terhenti saat ia menyadari di mana dirinya berada ketika sudah berada di luar bangunan.



"Oh, shitt! Bagaimana bisa aku berada di sini? Cuba?" tanyanya memekik saat melihat bangunan tua pembangkit listrik tenaga nuklir yang terbengkalai.


Martin terlihat bingung dan mengawasi sekitar. Di diam sejenak terlihat berpikir keras. Martin yang penasaran akhirnya menaiki menara yang roboh untuk melihat sekitar dan berharap bertemu manusia bukan para monster.


"Argh, hah," engahnya saat ia sudah berhasil tiba di atap.


Mata Martin menyipit. Ia mengambil teropong yang disediakan dalam tabung di mana terdapat pakaian tempur, gelang detektor monster, kacamata night vision, pistol berikut amunisi, botol kosong, belati, senapan hit, granat mini, granat tabung, dan 3 jenis Rainbow Gas dengan bom termasuk penawarnya. Semua benda itu ia masukkan dalam kantong jas anti peluru dan kantong celana tahan api yang dikenakannya.


"Sial, tak terlihat tanda-tanda kehidupan. Namun, gelang ini tak menyala merah. Mungkin benar jika Cuba sudah bersih sepenuhnya dari para monster. Baiklah, akan kuikuti instruksi misimu, Jordan. Kuharap bisa bertemu dengan lainnya. Sangat menyebalkan jika harus bekerja sendiri di usiaku yang sudah renta ini," gerutu Martin yang kemudian kembali turun perlahan.

__ADS_1


Pria itu terpaksa berjalan kaki karena tak menemukan kendaraan apa pun untuk dipakainya menuju ke lokasi yang ingin didatangi. Ia ingat jika rumah Tobias berada di negara itu. Sayangnya, ia tak berencana datang ke sana. Ia harus segera pergi ke dermaga dan mencari kapal untuk menyeberang meninggalkan Cuba menuju Florida.


Jordan mengabarkan jika Safa dan Arthur pergi ke tempat tersebut untuk menggagalkan peluncuran roket yang bermuatan serum monster terakhir. Martin akan mencari tahu alasannya dibangkitkan lebih awal kepada para mafia yang akan ditemuinya nanti.


Di tempat Buffalo berada.


Salah satu mantan bodyguard Vesper meneteskan air mata hingga wajahnya berkerut saat ia mendapati makam dengan nisan bertuliskan nama suaminya, Drake. Buffalo yang diberikan nama Alodie France oleh Vesper kala itu tak bisa menghentikan isak tangis. Hatinya terguncang hingga tubuhnya bergetar dengan sendirinya tak bisa membendung duka akan kepergian sang kekasih hati.


"Drake ...," ucapnya sedih yang jatuh berlutut di hadapan makam sang suami.


Tempat itu resmi ditinggalkan oleh tim yang dikomandoi oleh Iskra usai mendapatkan perintah dari Jordan. Click and Clack ikut meninggalkan Grey House karena mereka bertugas untuk membersihkan China dari para monster yang tersisa bersama Tim Iskra. Buffalo yang bangkit di Camp Militer bisa melihat drum-drum berisi limbah monster di pekarangan seperti siap untuk dijemput.


Buffalo yang ditugaskan untuk melenyapkan para monster di Laos dan Myanmar, tampak enggan melakukannya. Hatinya terlalu sedih untuk bertempur di mana ia sangat berharap bisa berkumpul dengan keluarganya saat bangun nanti. Buffalo duduk di samping makam Drake dan melipat kedua lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya dan memeluk dua lututnya erat.


Cukup lama wanita itu berada di luar gedung bahkan tak peduli saat suara gemuruh di langit membawa angin kencang dan butiran air pertanda hujan lebat akan segera datang. Benar saja, tak lama guyuran air dari langit membasahi wilayah tersebut. Air mata Buffalo telah menyatu dengan hujan yang seolah ikut bersedih atas kematian Drake.


"Apa yang harus kukatakan pada Rangga?" tanya Buffalo dengan wajah berkerut menatap nisan suaminya.


"Kau tak perlu mengatakan apa pun padaku, Mom. Aku akan selalu mendampingimu," ucap seseorang yang berdiri di kejauhan dengan suara besar. Praktis, mata Buffalo melebar saat ia menoleh dan mendapati putranya sedang berdiri dengan senyuman. "Aku akan membantumu. Sepertinya, dia menepati janjinya untuk membangunkanku seperti permintaan kala itu. Apakah ... kau kini percaya padaku jika aku tak membual?" tanya Rangga yang telah menjadi pria perkasa seperti sang ayah sembari berjalan mendekat.


Buffalo berdiri perlahan ketika anaknya mengulurkan tangan dan melindunginya dari tetesan hujan dengan payung.


"Kau sudah bangkit?" tanya Buffalo menatap putranya saksama yang terlihat seperti Drake meski tak mirip sepenuhnya.


"Sempat terjadi perdebatan antara aku dan teman-teman Demon Kids kala itu mengenai permintaan siapa yang akan diwujudkan. Hanya saja, rasanya aneh saat pria rupawan seperti malaikat itu datang melalui mimpi dan menanyakan waktu kebangkitanku. Dia memberitahu tentang kondisi Bumi saat ini dan keluarga kita. Jadi, ini keputusanku," jawabnya tenang.


"Ibu ... entahlah, Rangga. Ibu tak bisa berpikir jernih. Namun, melihat kau berada di sini bersamaku, membuat duka ini bisa kutepis," ucap Buffalo seraya memegang kedua pipi anaknya lembut.


"Aku mengerti. Masuklah, kau bisa sakit. Kali ini, biarkan aku yang mengambil alih untuk misimu, Mom. Percayakan padaku," ujar Rangga seraya merangkul pundak sang ibu dan mengajaknya masuk ke dalam gedung. "Relakan kepergian ayah. Dia sudah damai di alam sana. Ayah tak akan sendiri karena ia berkumpul bersama kawan-kawan dan keluarga yang pergi lebih dulu darinya. Oke?" pinta Rangga memberikan pengertian pada sang ibu.


Buffalo mengangguk setuju dengan senyuman. Siapa sangka, kebangkitan Rangga yang tak disangka oleh Jordan, membuat kening pria itu menyipit.


"Rangga dan anak-anak Demon Kids membuat perjanjian dengan Oag saat mereka menyebutkan permintaan hadiah kala itu usai memenangkan permainan Maniac. Tampaknya, mereka tak jujur sepenuhnya padaku dan Sandara. Hem, licik dan cerdik," ujar Jordan saat melihat pergerakan Buffalo dan Rangga dari kamera CCTV yang sudah bisa diakses jarak jauh dengan satelit GIGA di mana semuanya kini telah terkoneksi secara online.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


Wah dikit lagi menuju tamat kuy😍 Padahal udh banyak adegan yang lele buang loh biar padat ceritanya dan tamat tepat waktu. Selamat akhir pekan dan selamat merayakan imlek bagi bagi kalian yg mengimaninya. Lele padamu💋


__ADS_2