
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Lysa dan lainnya terkejut saat tiba-tiba saja muncul pria berkepala gundul di depan mereka.
"Woah! Sialan kau, hampir saja aku percaya jika tuyul sungguh ada," pekik Lysa sampai memegangi dadanya.
"Otong akan carikan jalan lain agar kalian bisa keluar dari sini," ujarnya seraya menaiki tangga.
Saat Obama sedang serius melihat sekitar, tiba-tiba saja Torin menangis. Kepala semua orang kini tertuju padanya.
"Ada apa?" tanya Melody menatap Torin lekat yang meneteskan air mata tanpa suara.
"Dia mati. Yu Jie tewas," jawabnya seraya memeluk jasad istri Damian tersebut.
Praktis, mata para mafia itu melebar seketika.
"Tidak bisa dimaafkan! Mereka sudah keterlaluan! Aku tak peduli jika Sengkuni anak Sandara sekali pun! Ia harus mati di tanganku!" teriak Lysa geram dan langsung berdiri dari bawah tangga yang melindunginya.
"Mimi! Mimi! Waduh!" pekik Obama panik lalu menuruni tangga dengan cepat mengejar ibu dari King D tersebut. Akan tetapi, Zurna yang mendengar suara orang-orang berbicara di balik dinding, meninggalkan kelompok dan menaiki tangga. "Welah, iki pie to? Otong turun malah bude naik," ucapnya bingung, tapi pada akhirnya memilih untuk mengejar Lysa.
Di balik dinding. Neil, Nero dan mafia muda lainnya saling bahu membahu mengeluarkan tubuh Hugo yang tertimpa beton. Mereka menghancurkan puing-puing besar dan menyingkirkannya saat dua Hope masih disibukkan dengan serangan para agent dari helikopter.
"Cepat, cepat! Angkat! Argh!" erang Sig saat mencoba mengangkat sebuah beton yang sangat besar dibantu oleh Eva, Neil, dan Nero.
Namun tiba-tiba, "Awas!" teriak Hugo saat melihat salah satu Hope melemparkan granat ke arah mereka.
Praktis, mata para mafia itu melebar seketika.
DUK! BLUARRR!!
"Arghh!" rintih para mafia muda saat mereka terkena ledakan dari granat tersebut yang mengenai dinding.
Puing-puing bertebaran, tapi granat itu gagal meledakkan mereka. Mata para mafia melebar saat melihat Souta datang membantu dengan Junior masih berada dalam helikopter bersama para agent. Souta menendang granat itu saat dirinya berayun dari helikopter menggunakan tali dan berhasil menyelamatkan para mafia muda.
"Zurna!" panggil Souta saat melihat istri James muncul dari bingkai jendela di lantai dua yang sudah kehilangan kacanya. "Semuanya, menyingkir!" teriak Souta karena wanita perkasa itu mengepalkan tangan kanannya seperti siap untuk melakukan sesuatu.
"Heahhh!"
BRAKK!!
"Woah, kuat sekali!" pekik Nero sampai melangkah mundur.
Zurna memukul dinding beton yang menindih Hugo dan meremukkannya saat melompat dari ketinggian.
"Harghhh!" raung Hugo saat dirinya terbebas dan kini berdiri dengan napas memburu.
__ADS_1
"Bunuh mereka!" teriak Lysa garang sembari mengarahkan anak panah peledak ke salah satu drone.
Siapa sangka, para Hope mampu berkelit dari bidikan peluru-peluru pembunuh yang ditembakkan oleh Agent X. Tentu saja, dua orang yang berhasil lolos dengan kendaraan terbang berupa drone itu membuat para agent geram. Lysa yang tersulut emosi karena Yu Jie tewas, melampiaskan kemarahannya pada dua orang itu.
SHOOT! CLEB! BLUARRR!
"Dia mengenainya! Tak heran dia dijuluki The Eyes. Bidikan Lysa selalu tepat sasaran," kagum Agent O karena tembakannya saja meleset tak mengenai pria bertopeng merah.
Salah satu Hope jatuh dari drone yang meledak hebat dan mengenai dirinya. Pria itu menghantam atap sebuah rumah dengan keras hingga jebol. Lysa bergegas mendatangi buruannya itu diikuti oleh Obama dan Souta. Sedang Melody dan lainnya berusaha untuk menjatuhkan Hope terakhir yang begitu lincah mengendarai drone. Pria itu melakukan penyerangan dengan melemparkan granat ke arah para mafia yang mengejarnya di permukaan.
BLUARR! BRUGG!
"Awas!" seru Melody karena jalanan yang mereka lalui berada di antara bangunan-bangunan.
Para mafia itu berlari menghindar bahkan sampai bergulung-gulung di jalanan agar tak tertimpa puing. Mereka kembali terpisah. Nero dan lainnya beruntung karena dilindungi oleh tubuh besar Hugo yang menangkis semua puing saat akan menjatuhi mereka.
Hope terakhir melemparkan granat seraya terbang untuk menghambat pergerakan para mafia berkemampuan khusus itu. Melody melihat pria itu menyumpal lubang telinganya dengan sesuatu sehingga tak akan terkena dampak nyanyian hipnotis. Ternyata, pakaian tempur pria bertopeng memiliki banyak kantong dan disinyalir, digunakan olehnya untuk menyimpan senjata.
"Kita harus menjatuhkannya!" seru Irina lantang yang melihat pria itu terbang berputar dan siap melemparkan granat ke arah mereka.
"Oh, aku tahu!" seru Sig yang dengan sigap mengambil sebuah patahan papan kayu diantara puing. Hugo dan lainnya yang menyusul Irina berdiri di belakang Sig saat pemuda itu terlihat siap akan sesuatu. Benar saja, "Itu dia!"
Ternyata, DUK! BLUARR!
"Woah! Kau pintar, Sig!" teriak Nero kagum karena ternyata, Sig menggunakan papan kayu itu untuk memukul kembali granat tersebut layaknya bermain base ball.
"Ayo!" ajak Neil yang dengan sigap berlari mendatangi pria bertopeng itu.
Di waktu yang sama, Lysa dan Zurna memegang topeng merah pria yang diyakini adalah Hope. Dua orang itu sudah tak bergerak. Saat mereka melepaskannya, sontak mata dua wanita itu melebar seketika.
"Kau ...," ucap mereka tertegun karena mengenali sosok itu.
"Detektif Kwang!" pekik Zurna di mana pria itu sudah tewas dan kehilangan dua kakinya.
Sedang Lysa, tak menyangka jika salah satu Hope adalah Polisi Junho. Pria itu tewas dengan mata terbuka yang kehilangan tubuh bagian bawah karena ledakan. Lysa dan para mafia yang mengenal dua orang itu memejamkan mata rapat. Mereka yakin, jika sebenarnya mereka bukanlah orang jahat.
Tipu muslihat Sengkuni membuat dua polisi baik itu menjadi penjahat. Amarah mereka semakin memuncak dan tak ada lagi maaf bagi Sengkuni, putra dari Raden dan Sandara.
"Sengkuni!" teriak dua wanita itu marah besar dengan dendam menyelimuti hati keduanya.
Sedang Sengkuni sendiri terlihat kesakitan karena William menusuknya dengan belati yang pernah digunakan untuk melukai punggung tangan mantan agent CIA itu beberapa tahun silam. King D menahan sakit di lehernya. Darah masih mengucur dari luka tusukan kuku tajam Sengkuni. Beruntung, Neil segera datang dan ia mengobati King D dengan ludahnya.
"Emph," erang King D karena merasa jijik.
"Ludahku sangat mujarab. Diamlah," ucapnya memaksa dan kembali meludahi leher putra Javier tersebut.
__ADS_1
King D berlutut di atas tanah dan memilih untuk menyaksikan penyelesaian dendam antara William dengan Sengkuni.
"D!" panggil Irina yang langsung mendatangi kekasihnya.
"Oh, kau baik-baik saja?" tanya King D cemas. Irina mengangguk lalu memeluk pria yang dicintainya erat. "Oh, Otong! Kau masih hidup!" pekik King D saat melihat kawan semasa kecilnya muncul.
"Kamu nyumpahin Otong matikah? Tega bener. Tau gitu gak usah dateng buat dislametin," gerutunya. Namun, King D membalasnya dengan senyuman.
Saat para mafia berkumpul, Lysa dan Zurna mendatangi Sengkuni yang sudah terlihat lemas karena terluka. William membiarkan belatinya menancap di punggung pemuda itu yang kini roboh dalam posisi tengkurap.
"Tak ada kata maaf bagimu, Sengkuni!" teriak Lysa marah.
Sengkuni yang sadar jika nyawanya dalam bahaya langsung membalik badan. Ia menjulurkan tangan kanannya ke depan seperti berusaha menahan kedatangan dua wanita yang siap menjadi Dewi Kematiannya.
"Jika Oma Vesper masih hidup, ia pasti akan memaafkanku," ucapnya tiba-tiba.
"What?" jawab Lysa melotot.
"Dia tak akan tega membunuhku. Dia pasti akan memeluk dan mengampuniku," ucap Sengkuni yang membuat kening semua orang berkerut.
"Kau bahkan belum lahir saat Vesper mati! Jangan membual!" teriak Zurna marah.
"Aku tahu tentangnya dari Kakek Satria. Ia selalu menceritakan tentang oma. Oleh karena itu, aku ... aku membutuhkan Dayana untuk membuka tabung itu. Tabung Oma Vesper," ucapnya dengan wajah pucat.
Semua orang mematung seketika. Mereka seperti bingung dengan perkataan pemuda berwujud monster itu. Tiba-tiba, Dayana muncul di hadapan Sengkuni. King D dan lainnya terperanjat karena gadis itu bagaikan jalangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.
"Diana ...," panggil Sengkuni berwajah sedih.
Dayana berjalan mendekati Sengkuni. Ia mencabut belati di punggungnya dan melemparkannya jauh. William terlihat masih menaruh kebencian pada pemuda itu karena tampak jelas dari sorot matanya.
"Kau tahu 'kan jika aku tak pernah jahat padamu. Aku selalu menyayangimu, tapi tidak dengan Junior," ucapnya saat Dayana berjongkok di depannya dengan wajah datar. "Kau tahu kenapa aku mencarimu selama ini. Aku ingin menyentuh Oma dan Opa Kai. Hanya kau yang bisa membuka tabung mereka berdua," sambungnya lagi di mana tak terlihat wajah pembunuh dari dirinya lagi.
Dayana memegang pipi Sengkuni dengan wajah sendu. Semua mafia berkumpul di tempat itu termasuk para agent usai mendaratkan helikopter mereka. Junior ikut merapat dan berjongkok di samping Irina.
"Kau tak bisa disembuhkan, Gusti. Kau sakit. Harus berapa kali kami mengatakan padamu tentang kondisimu?" ucap Dayana sedih.
"Aku sembuh! Lihat!" ucapnya seraya menunjukkan tubuh monsternya. Dayana memejamkan matanya rapat lalu tersenyum tipis terlihat sedih. "Ayo, ikut aku. Ibu mencarimu. Dia sakit, Gusti. Ia tak tidur dalam tabung selama ini saat tahu isi pikiranmu," ucap Dayana.
Para mafia yang tak mengetahui hal itu tertegun seketika.
"Sandara sakit?" tanya Torin seraya berjalan mendekat dengan jasad Yu Jie dalam gendongan. Dayana mengangguk pelan dengan pandangan tertuju pada Sengkuni.
"Ayo, jangan sampai kau menyesal," ucap Dayana yang membuat Sengkuni bangun perlahan. Dayana memapah Sengkuni dan berjalan di sampingnya.
King D dan lainnya masih terlihat waspada karena bagi mereka, pemuda bernama Sengkuni penuh tipu muslihat dan licik. Mereka khawatir, perubahan watak dalam dirinya hanya akal-akalan saja. Luka di leher King D yang telah sembuh, membuat pria itu kembali fokus dan berjalan tepat di belakang Sengkuni diikuti para mafia yang siap dengan senjata mereka untuk membunuh pemuda itu jika berulah.
__ADS_1
***
Jangan lupa vote vocer sebelum angus ya❤️ ditunggu sedekah koin, poin, like, komen dan rate bintang 5. Tengkiyuw 💋