KING D

KING D
Pemusnahan Limbah Monster*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Di sisi lain. Tempat Tim Maksim berada.


Durriyah, Number 5 dan Maksim berhasil tiba ke resort milik Vesper yang kini diwariskan untuk anaknya, Sandara Liu di Jeju. Para mafia senior itu menyadari jika helikopter kargo yang berada di ruang bawah tanah sengaja dipersiapkan untuk orang-orang dalam jajaran. Sebuah telepon satelit juga tersedia termasuk drum berikut persenjataan. Number 5 mencoba mengaktifkan telepon itu dan berhasil. Seketika, sambungan ke salah satu markas terhubung.


"Halo?" panggil Number 5 ragu dengan siapa ia akan berkomunikasi.


"Kerja bagus. Segeralah pergi ke Vietnam. Gunung berapi La Palma telah meletus. Semoga masih ada waktu untuk pemusnahan tahap kedua. Fokuslah untuk pelenyapan para monster selama-lamanya," titah Jordan.


"Oke!" jawab Number 5 mantap lalu memutus panggilan.


Maksim segera membuka penutup pada bagian atap yang menyimpan kendaraan berbaling-baling besar tersebut. Sebuah tombol besar yang ditekan olehnya terbuka lebar dan mempersilakan helikopter tersebut untuk lepas landas. Durriyah dengan sigap mengecek seluruh sistem pengoperasian helikopter dengan saksama termasuk persediaan bahan bakar. Number 5 yang menemukan jeriken berisi avtur sebagai cadangan selama mereka singgah di beberapa negara nantinya, memasukkan benda-benda itu ke dalam kabin kargo.


Durriyah menyalakan mesin helikopter usai memastikan seluruh fungsi kelistrikan bekerja dengan sempurna. Seketika, suara deru mesin dari benda terbang tersebut menggema dan siap meninggalkan Jeju menuju ke negara tempat mereka bertugas.


"Pastikan semua muatan telah kalian kunci dengan kuat!" serunya yang siap duduk di bangku pilot.


"Aman!" jawab Maksim yang bertugas sebagai penjaga perlengkapan dengan menunjukkan jempolnya.


Sepanjang perjalanan, pintu helikopter dibuka. Durriyah sengaja memancing para monster menggunakan stok darah yang seharusnya digunakan sebagai transfusi di markas apabila ada penjaga yang membutuhkan penanganan khusus. Darah-darah itu ditumpahkan oleh Maksim di beberapa wilayah ketika helikopter terbang di atas beberapa kota saat lampu merah pada gelang besi menyala. Siapa sangka, idenya berhasil untuk memancing dan menggiring para monster yang berada di beberapa penjuru wilayah untuk berkumpul di satu tempat.


"Lihat! Para monster itu berlari mengejar kita!" seru Maksim tampak gembira sekaligus takut.


"Bagus! Terus tumpahkan darah-darah itu! Kita bantai mereka saat tiba di Vietnam!" seru Durriyah yang diangguki oleh Maksim.


Pria gemuk tersebut bersiul saat menuangkan darah-darah segar dari dalam kantong sembari duduk di bingkai pintu helikopter. Number 5 kagum akan pemikiran Durriyah di mana sebelumnya hal itu tak pernah dilakukan. Para monster yang mencium bau darah berlari mengikuti helikopter seperti tak memiliki lelah. Maksim tampak miris saat melihat orang-orang sakit itu seperti sudah kehilangan jiwa kemanusiaan dan digantikan dengan nafsu membunuh yang tinggi.


"Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kalian. Amen," ucap Maksim seraya menggerakkan tangan tangan di dada lalu mencium jemari tangannya usai berdoa.


Namun, banyaknya monster yang berhasil digiring sampai ke Vietnam, membuat Durriyah, Maksim dan Number 5 kerepotan. Para monster itu semakin beringas saat melihat ada makhluk hidup di dalam helikopter yang sedang membantai mereka.


"Sial! Kenapa mereka tak mati-mati juga!" pekik Number 5 kewalahan karena terus-menerus melemparkan Rainbow Gas dari atap sebuah gedung yang memiliki landasan helikopter ke kumpulan para monster di bawah bangunan bekas mall tersebut.


Durriyah memberondong para monster dengan senapan mesin berpeluru ledak, tapi orang-orang sakit itu seperti tak memiliki rasa takut untuk kabur dan terus berusaha memanjat. Saat Maksim, Durriyah dan Number 5 dilanda kepanikan akibat persediaan senjata serta amunisi hampir habis, tiba-tiba ....

__ADS_1


SWOOSH!! BLUARRR!!


"Wow! Apa itu?" tanya Number 5 sampai melotot karena tiba-tiba saja luncuran misil menghantam kumpulan para monster di bawah gedung.


Getaran hebat begitu terasa dan membuat orang-orang itu hampir jatuh dari tepi helipad.


"Itu helikopter Jonathan!" seru Maksim sewaktu menangkap pergerakan dari atas langit di mana Durriyah dan Number 5 masih melakukan penyerangan terhadap para monster.


"Yeah! Cepat, kita urus bangkai-bangkai ini agar mereka bisa membawanya!" seru Durriyah yang langsung meninggalkan senjatanya dan kembali ke dudukkan pilot untuk memindahkan helikopter.


"Sial! Waktu kita tak cukup!" geram Maksim karena mereka baru saja tiba dan langsung disambut oleh sekumpulan monster.


"Paman!" seru Arjuna yang muncul dari pintu helikopter dengan pedang Silent Blue menyala terang.


Jonathan dan tim terbang meninggalkan Filipina melintasi Vietnam. Mereka yang awalnya berencana untuk mengisi bahan bakar di negara itu, bertemu dengan Tim Durriyah saat Jordan menginformasikan keberadaan mereka.


"Bantu kami!" teriak Maksim lantang lalu melemparkan suar penanda di wilayah bangkai para monster untuk segera dibereskan.


"Gelang besi menyala merah!" seru Naomi seraya bersiap dengan pengait di pinggul untuk meluncur ke bawah di mana para monster yang berhasil lolos dari ledakan kini membidik helikopter mereka.


"Oke!" jawab pasangan suami istri itu serempak.


Jonathan menurunkan Naomi dan Arjuna ke wilayah peperangan. Helikopter yang dipiloti Durriyah terbang turun dan mendarat di kawasan bangkai-bangkai monster berserakan. Jonathan ikut mendarat di tempat yang sama. Drum-drum berkaki keluar dari palka belakang helikopter Durriyah, siap untuk menggiling bangkai-bangkai monster.


"Hei!" sapa Durriyah yang langsung memeluk Cassie ketika wanita cantik itu berlari mendatanginya.


"Dasar cewek. Bisa-bisanya pelukan dan rumpi padahal para pejantan lagi repot bantai para monster," ujar Jonathan heran dengan kening berkerut saat keluar dari helikopter.


"Aku bantu. Kita harus cepat," ucap Cassie yang dengan sigap menggunakan sarung tangan khusus untuk melindungi diri dari racun darah monster.


"Cassie. Kalian angkutlah drum-drum ini. Kami masih harus membereskan wilayah lainnya. Kami akan menyusul," pinta Durriyah, dan Cassie mengangguk paham.


Saat peperangan sengit dilakukan oleh Arjuna dan Naomi untuk membunuh para monster yang tersisa, Durriyah, Number 5, Maksim, Cassie dan Jonathan, dengan cekatan membersihkan wilayah yang terkontaminasi itu dengan alat khusus ciptaan ilmuwan Sandara dan Jordan. Mayat-mayat itu dimasukkan dalam drum penggiling dan mengubah jasad tersebut menjadi daging cincang yang terendam darah hitam. Para mafia itu iba, tapi mereka menahan rasa sedih itu karena manusia-manusia tersebut tak dapat disembuhkan lagi.


Di sisi lain. Kawasan gunung berapi La Palma, Spanyol.

__ADS_1


Para mafia yang berhasil tiba di Spanyol dan berada di kawasan sekitar gunung berapi segera bersiap. Lelehan dari muntahan kawah gunung telah membentuk aliran sungai lava dengan warna merah menyala. Sayangnya, keberadaan Sakura tak diketahui oleh para mafia-mafia itu karena berbeda lokasi.


"Arahkan drum-drum itu ke sungai lava!" seru Rohan yang berhasil mengisi penuh seluruh drum dengan bangkai monster temuannya ketika melintasi berbagai negara bersama tim saat meninggalkan Oman.


"Oke!" jawab Attaya sigap dan mengarahkan drum-drum tersebut menuju sungai lava untuk melenyapkan diri.


Seif dan empat anggota Red Ribbon yang ditugaskan ke Yunani, ikut dijemput Tim Rohan menuju Spanyol, termasuk 4P yang bertugas di Turkey. Mereka mengangkut limbah monster yang berhasil dikumpulkan di negara-negara tersebut. Tim Yohanes juga berhasil tiba tepat waktu bersama anggota timnya usai membereskan India dan Pakistan. Orang-orang tersebut ikut mengawasi momen mendebarkan dari atas bukit ketika lahar panas mengalir dan menelan benda-benda yang menghalangi jalur mereka. Praktis, suasana di tempat itu menimbulkan kesan dramatis menyeramkan.



"Sungguh indah, tapi mengerikan," ujar Jaeda dengan wajah berkerut saat melihat drum-drum berisi limbah menceburkan diri ke aliran sungai lava berwarna merah membara sebagai wujud kekuatan alam yang dahsyat.


"Mataku rasanya ikut terbakar, Cukk," ujar P-K seraya mengedipkan mata.


Anggota 4P lainnya mengangguk sependapat. Mereka terkesima dengan fenomena alam tersebut di mana seumur hidup baru menyaksikan kejadian erupsi gunung berapi di depan mata.


BOM! BOM!


"Woah!" seru orang-orang ketika melihat drum-drum berisi bangkai monster meledak karena terdapat mesin di dalamnya.


Drum-drum itu terbakar hebat yang kemudian meleleh tertelan lava panas sampai tak terlihat. Kejadian itu direkam oleh beberapa mafia sebagai bukti usaha mereka untuk membinasakan para monster selamanya termasuk aksi pembersihan kontaminasi di seluruh penjuru dunia.


"Yeah! Kita berhasil!" seru Forest lantang dan disusul teriakan kawan-kawan Rusia-nya karena mereka berhasil menyelesaikan tugas.


Beberapa dari mereka menangis karena tak menyangka bisa bertahan hingga saat ini. Mereka berpelukan dan saling mengucapkan selamat atas kerja keras selama ini. Namun, orang-orang itu tampaknya lupa dengan ancaman serum monster terakhir dari rencana cadangan Sengkuni yang siap diluncurkan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



hari ini jadwal menggila gaes tapi pengen up biar cepet selesai dan mulai cerita baru😍 oia ini rencana novel berikutnya yang akan diikutkan lomba😁 smg di acc sama editor, tapi kalau gak nanti lele up mandiri aja kaya Jono. semoga suka dan mohon dukungannya❤️ lele padamu💋

__ADS_1


__ADS_2