KING D

KING D
Bergejolak Lagi*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"King D!" teriak Irina panik dan berlari dengan tergesa menuju ke lokasi ledakan.


Nero, Arthur dan Daniel ikut terkejut. Beruntung, jenazah Bojan sudah dimasukkan dalam liang dan telah dikubur. Tiga orang itu ikut panik usai melihat ledakan besar tersebut hingga King D terpental jauh.


"Arrghh! Sakit, Cukkk! Panasss!" erang Obama menggelepar di landasan dengan tubuh terkena luka bakar terutama kepala, wajah dan dua tangannya.


King D dan lainnya terselamatkan berkat pakaian tempur mereka. Sayangnya, bagian-bagian yang tak terlindungi tetap terkena dampak.


"Ya Tuhan!" pekik Sakura ikut panik termasuk Fara sampai tubuhnya bergetar.


"Cepat! Bawa mereka ke helikopter" titah Sakura saat Souta dan Maksim mendekati mereka.


King D dan lainnya segera dibopong ke dalam helikopter. Nasib para manusia yang sedang diobati usai terkena dampak dari serum monster diabaikan karena orang-orang fokus menyembuhkan King D dan kawan-kawannya yang terluka parah.


Irina, Sakura dan Fara, dengan sigap membuka semua tas yang berisi tandu lipat. Mereka mensejajarkan tandu-tandu itu untuk teman-teman mereka yang terluka.



Maksim dan lainnya segera merebahkan kawan-kawan mereka yang terluka ke atas tandu secara bergantian dengan tergesa.


"Hah, hah, tubuhku panas ...," rintih Jason sampai tubuhnya gemetaran.


Fara dengan sigap membuka seluruh peti berisi balok-balok es. Pakaian King D dan lainnya segera dilucuti agar bagian tubuh yang terluka bisa segera diobati.


Namun, saat Fara akan memberikan balok-balok es itu ke tubuh kakaknya, Irina menahannya.


"Es-es itu malah akan membuat lukanya semakin parah. Gunakan air biasa. Cari air tawar yang bisa kau temukan. Pergilah ke kamar mandi. Bawa sebanyak-banyaknya. Cepat!"


"Aku temani. Ayo!" sahut Nero.


Fara dan cucu Bojan tersebut berlari ke arah gedung untuk mencari air tawar yang bisa mereka gunakan untuk mengobati luka bakar sementara sampai Sakura menemukan obat yang cocok dari alat pemindai.


Para lelaki itu direbahkan berjejer di dalam kabin helikopter. Irina, Souta, Maksim, Daniel dan Arthur menyiramkan air dari botol persediaan minum untuk mengurangi rasa perih serta luka yang bisa saja melebar.


"Sial! Mereka pasti dipasangi chip seperti para nelayan waktu itu. Kenapa kalian teledor dan tak berhati-hati?!" pekik Irina kesal, tapi para lelaki yang sedang mengerang kesakitan itu seperti mengabaikan amarah Irina.


Tak lama, Fara dan Nero muncul dari sebuah gedung. Mereka membawa ember dengan tergesa menuju ke helikopter.


"Kami mendapatkannya! Di sana ada kamar mandi dengan air yang mengalir. Cepat!" ucap Nero seraya meletakkan ember berisi air penuh, begitupula Fara.


Souta dan lainnya mengangguk setuju. King D dibopong oleh Daniel dan Arthur menuju ke bangunan yang diinformasikan oleh Nero.


Fara memandu sampai ke tempat tersebut saat Nero membantu para seniornya menyiramkan air ke tubuh para lelaki secara bergantian yang mulai bisa menahan rasa sakit dari luka bakar itu.


"Hei! Kak King D sudah dibaringkan. Bawa lainnya kemari!" seru Fara dari depan pintu rumah tersebut.


Souta dan Maksim mengangguk paham. Mereka mengangkat tandu tersebut ke dalam bangunan lalu mensejajarkan orang-orang sakit itu di sebuah ruangan seperti ruang tamu kantor.


King D dan kawan-kawannya yang terluka, akhirnya bisa duduk meski masih terlihat jelas wajah kesakitan karena menahan perih.


Saat Nero sedang menyiramkan air dari ember menggunakan gayung ke kepala Obama, pria gundul itu memegang tangannya erat. Sontak, Nero terkejut dan menatap Obama lekat.


"Nero, aku percaya padamu. Jadi, ini rahasia," ucap Obama berbisik dan Nero mengangguk pelan. "Di helikopter, ada kotak medis dengan tulisan Elios Pharmacy. Kamu buka kotak obat itu lalu ambil serum dengan tulisan Migren. Kepala Otong sakit banget ini. Pusingnya kebangetan. Cepet ya, jangan sampai ketahuan. Simpan di saku, oke?" pinta Obama serius.

__ADS_1


"Oke, oke, aku mengerti," jawabnya dengan anggukan dan wajah serius.


Obama tersenyum merekah saat Nero berlari dengan tergesa menuju ke helikopter ketika Sakura dan Irina keluar seraya membawa kotak obat.


"Marco. Kau tak apa?" tanya Fara cemas.


"Hah, aku ... seperti mengalami sesak napas," jawabnya tersengal.


"Berikan tabung oksigen portabel padanya, Fara," ucap Sakura seraya menunjuk sekumpulan tabung oksigen yang berada dalam kotak.


Fara mengangguk paham dan mengambil salah satunya. Beruntung, Marco hanya mengalami luka bakar pada tangan karena ia menghalau ledakan dengan dua tangannya.


Fara dengan sigap memasangkan masker oksigen ke hidung dan mulut Marco. Terlihat, lelaki itu mulai bisa bernapas dengan baik.


Fara meninggikan sandaran agar Marco bisa merebahkan punggungnya meski dua tangannya masih bergetar.


"Fara. Oleskan salep ini. Tipis-tipis saja," pinta Sakura seraya memberikan sebuah toples kecil dengan krim berwarna putih di dalamnya.


Fara bekerja dengan gesit layaknya perawat. Ia juga tak terlihat takut. Marco menatap Fara lekat yang terlihat berhati-hati saat mengoleskan salep itu.


Akan tetapi, gadis itu memaksa Marco menggeser tubuhnya karena tak bisa duduk.


"Kau bisa berjongkok atau duduk di bawahku. Kenapa harus menggeser tubuhku!" seru Marco dengan suara tertahan dalam masker.


"Gak mau! Lantainya kotor! Nanti pantat Fara gatel-gatel. Brisik ah," keluh Fara malah siap memukul Marco karena banyak protes.


Marco terperanjat dan akhirnya pasrah saat Fara mengoleskan salep itu ke tangannya dengan wajah serius.


Orang-orang yang awalnya meringis menahan sakit, kini menahan tawa karena Fara ternyata perawat yang galak.


"Aku mendapatkannya!" pekik Nero dengan suara tertahan.


Obama dengan sigap menjadikan punggungnya tameng saat Nero menunjukkan suntikan serum itu ke pahanya. Nero terlihat takut ketika akan menusukkan jarum itu.


"Cepetan! Sebelum ketahuan!" titahnya sambil melotot.


"A-aku takut," jawabnya gugup.


"Tangan Otong sakit ini, gak bisa nyuntik sendiri. Buruan, keburu pecah kepala Otong," pintanya memaksa.


Nero meringis hingga wajahnya berkerut. Hingga akhirnya, CLEB!


"Emph!" erang Obama saat Nero menusukkan jarum itu ke pahanya dengan mata terpejam karena takut. Namun, ia hanya menusuknya tak memasukkan cairan itu ke tubuhnya. "Nero! Nero!" panggil Obama gemas karena Nero memegang suntikan itu erat yang membuat Obama harus menahan sakit dan ngilu di pahanya. "Bocah edan! Buka matamu!" pekik Obama yang membuat Nero akhirnya membuka mata. "Cairannya belom dimasukin. Diteken itu, diteken!" serunya kesal hingga matanya melotot.


Nero baru menyadari perbuatannya. Namun, gerak-gerik mereka malah membuat Sakura curiga.


"Ada apa?" tanya Sakura yang kini beranjak dan mendekati Obama. Praktis, mata lelaki gundul itu melebar.


"Eng-eng," jawabnya tergagap saat Sakura menatapnya tajam dan kini sudah berada di sampingnya.


"Kau belum diberikan salep? Ya Tuhan. Tunggu sebentar," ucap Sakura saat melihat tangan Obama diletakkan di atas paha dan terlihat luka bakarnya.


Nero terlihat lemas saat ia berhasil mencabut suntikan itu sebelum Sakura melihatnya. Obama dengan sigap menutup bekas suntikan yang mengeluarkan darah karena Nero mencabutnya dengan asal.


"Hehe, aku berhasil," ucap Nero meringis seraya memasukkan kembali suntikan yang sudah kosong itu ke dalam sakunya.

__ADS_1


"Bocah edan! Sakit, Cukk!" pekik Obama ingin memukul kepalanya, tapi tak bisa karena tangannya bergetar menahan sakit.


Nero cemberut saat diminta untuk mengelap bekas darah di paha Obama agar tak ketahuan. Tak lama, Sakura datang. Nero ingin membantu mengoleskan salep, tapi ditolak mentah-mentah oleh Obama.


"Bibi Sakura aja yang jelas-jelas ikut sekolah medis saat jadi Black Armys daripada si ganteng oon ini yang olesin salep," ucap Obama kesal.


Nero yang merasa niat baiknya ditolak mentah-mentah segera menyingkir. Ia mendatangi King D yang terlihat mulai membaik meski matanya terpejam.


"Kau tak apa?" tanya Nero menatap King D lekat.


Namun, saat King D membuka mata, warna maniknya berbeda. Irina dan Nero terkejut karena mata King D berubah seperti saat ia mengamuk kala itu di Kastil Krasnoyarsk.


"King D?" tanya Irina karena napas King D memburu.


Perlahan, kuku di jari tangannya meruncing. Nero mundur perlahan karena merasakan King D seperti ancaman. Begitupula Jason, Marco, Fara, dan Polo.


"Emph, Fara gak suka aura ini," ucap gadis itu seraya memalingkan wajah.


Sontak, semua orang terlihat tegang saat mata King D dan Irina saling bertatapan tajam. Hingga akhirnya, King D mulai membuka mulut dan terlihatlah gigi tajamnya. Praktis, mata semua orang melebar.


"Run!" teriak Sakura panik.


"Harghhh!"


GRAB!!


"Irina!" teriak Arthur karena Irina malah memegang kepala King D erat dan mata hijaunya menyala terang.


Daniel dan Arthur yang tak ingin keturunan Theresia itu terluka, nekat memegangi tangan King D yang ingin mencabik tubuh Irina.


Namun, hal menakjubkan lainnya terlihat pada luka-luka di tubuh King D yang perlahan tertutup dengan sendirinya seperti mengalami penyembuhan.


Nero dan lainnya bergegas keluar dari kamar itu meski orang-orang yang terluka tergopoh karena menahan sakit di beberapa bagian tubuh yang masih baru.


"Amankan diri kalian! Naik ke kapal!" seru Maksim yang bersiap dengan senapan bius jikalau King D mengamuk lagi.


Fara dan lainnya berlari menuju ke kapal sebagai antisipasi serangan King D yang dikenal mematikan saat ia dalam mode predator.


Irina seperti berusaha menenangkan King D dengan terus memegang kepalanya dan menatap matanya tajam.


"Harg! Arrghh!" erang King D hingga otot-otot tubuhnya mengeras.


Daniel dan Arthur terlihat begitu berusaha menahan tangan putera Javier tersebut dengan mendekapnya kuat karena kuku tajam itu semakin meruncing seperti siap merobek kulit.


"Otong! Apa yang kaulakukan? Cepat pergi dari sini!" teriak Maksim di bingkai pintu.


Obama diam saja dengan pandangan kosong. Lelaki gundul itu duduk di atas tandu seperti patung tanpa ekspresi.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


uhuy makasih tipsnya. lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2