KING D

KING D
Oasis*


__ADS_3


Fara dan lainnya terlihat sabar menunggu sembari menjajal kemampuan dari sepatu magnet yang telah dimodifikasi sehingga bisa membawa penggunanya melompat mencapai 300 meter jauhnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Kau sepertinya mulai bersenang-senang, Chen," sindir Polo saat melihat kawannya telah terbiasa menggunakan sepatu magnet pemberian Hakim.


"Haha, ya! Ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi seperti Spiderman!" jawabnya semangat.


"Dia masih ingat dengan film lawas itu," kekeh Hugo, dan diangguki semua orang dengan senyuman.


Saat semua orang masih terlihat asyik menjajal kemampuan sepatu magnet dengan melompat dari satu gedung ke gedung lain, tiba-tiba, sorot lampu dari arah langit membuat orang-orang itu mendongak seketika.


Helikopter yang dikemudikan oleh Hakim telah tiba dan siap mengangkut para penumpangnya. Edward telah menandai sebuah landasan yang memiliki helipad untuk tempat helikopter mendarat di mana orang-orang itu sudah memeriksa kawasan jika wilayah tersebut aman tanpa adanya monster.


Semua orang bergegas masuk dalam helikopter. CD yang diterbangkan oleh Hakim dan Obama, ikut diamankan ke dalam benda terbang tersebut.


Pintu helikopter sengaja dibuka agar semua orang bisa melihat kondisi Saudi Arabia sejak wabah monster dianggap  ancaman mematikan skala internasional.


"Maaf merepotkanmu, Hakim," ucap King D sungkan.


"Aku tahu. Anda pasti tak enak hati kerena aku sampai memakai kacamata. Yah, aku sudah tua. Gelapnya malam membuatku kesulitan untuk melihat dengan jelas. Namun, jangan khawatir, aku mengenal daerah ini. Oleh karena itu, aku mengajukan diri, bukan Obama," sahut Hakim terdengar santai.


"Pakde Hakim gitu. Sengaja sok ngerendah biar Otong merasa bersalah. Nyindirnya dalem banget," sahut Obama yang membuat Hakim malah tersenyum lebar.


Meski suasana sempat terasa hangat, tapi setelah helikopter melaju dan melintasi gurun, suasana hening seketika.


"Lihatlah mayat-mayat dan semua kendaraan militer itu. Sepertinya, wabah monster menyebar sampai ke semua pelosok," ungkap Ritz melihat kengerian dari dua kubu yang bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan dan telah menjadi bangkai kering.


King D dan Marco yang memiliki kemampuan si mata merah untuk melihat dalam kegelapan, menjadi pengintai selama kendaraan mereka menuju Oasis demi mengabulkan harapan dari Fara.


Helikopter yang digunakan milik King D di mana sebelumnya kendaraan terbang itu dikemudian oleh Obama Otong.


Lelaki gundul itu memberikan aksesnya kepada Hakim untuk mengemudikannya. Tak sembarang orang bisa menggunakannya karena dibutuhkan pemindai sidik jari pada pengendali pilot.


Mereka melewati beberapa kota yang telah ditinggalkan dan tak terlihat pergerakan di permukaan baik monster ataupun manusia.


"Sepertinya, wabah monster benar-benar menghancurkan peradaban di dunia tanpa terkecuali," ucap Fabio menilai.


Semua orang diam terlihat waspada mengingat mereka pernah diserang oleh sebuah drone besar beberapa saat yang lalu.


Sekitar kurang lebih 4 jam penerbangan, mereka akhirnya tiba di wilayah Oasis. Senyum Fara merekah karena harapannya untuk bisa melihat situs itu terwujud.


Ketika Hakim sedang mencari tempat untuk mendaratkan helikopternya, tiba-tiba ....


"Hei, lihat! Ada yang melemparkan bom asap!" seru Marco dari tempatnya duduk hingga lelaki itu berdiri karena terkejut.


Praktis, semua orang langsung menyiagakan senjata. Mereka yang tak bisa melihat pergerakan karena gelapnya malam, menggunakan teropong sensor panas tubuh.

__ADS_1


Ternyata, informasi dari Marco benar jika ada seseorang di atas batu sedang melambaikan tangan dengan bom asap di dekatnya.


"Hakim! Bisakah kita mendarat di dekat orang itu berada?" tanya King D seraya melihat sekitar untuk memastikan tak ada monster di kawasan tersebut.


"Ada wilayah parkir kendaraan dekat tempat wisata Oasis. Kita bisa mendarat di sana. Hanya saja, jaraknya agak sedikit jauh untuk menggapai orang itu," jawab Hakim.


"Kami tak bisa mendaratkan helikopter di sini. Banyak pepohonan dan juga batuan. Berikan tanda pada orang itu untuk menuju ke tempat kita mendarat," sahut Polo.


King D meminta kepada Ritz untuk menerbangkan CD agar orang tersebut tahu jika mereka siap membantunya. Earphone translator dan juga alat komunikasi dikaitkan pada drone tersebut.


Ritz dengan sigap menerbangkan benda itu ke tempat lelaki yang masih melambaikan tangan terlihat begitu mengharapkan pertolongan.


Senyum semua orang terkembang karena tak menyangka jika masih ada manusia yang berhasil selamat meskipun hanya satu orang.


Saat CD sudah hampir menggapai lelaki itu, tiba-tiba muncul segerombolan orang dari balik hutan pohon kurma.


Semua orang dalam helikopter terkejut. Ternyata, banyak manusia yang bersembunyi di sana.


"Mereka berkoloni! Wah, ini hebat!" seru Robin tak menyangka hal itu.


"Aku dan Marco akan turun. Sisanya, tetap menuju landasan. Kita bertemu di sana," tegas King D.


"Yes, Capt!" jawab semua orang serempak.


Helikopter akhirnya terbang melayang. Pinggul King D dan Marco dikaitkan pada tali yang akan membawa mereka turun.


Irina dan lainnya tampak cemas meski senapan mesin siap digunakan jika terlihat monster di sekitar mereka.


Hakim segera mengarahkan benda besar tersebut ke landasan yang dituju.


"Hei! Hei!" panggil seseorang saat alat yang dikaitkan pada CD sudah digunakannya.


King D dan Marco segera berlari kecil mendatangi kumpulan orang-orang yang tampak bahagia bertemu manusia lain.


Namun, saat orang-orang itu sudah hampir sampai di tempat King D dan Marco berada, tiba-tiba ....


"Mereka monster! Mata mereka menyala merah! Lari!" teriak seorang lelaki yang langsung menghentikan langkahnya.


Praktis, semua orang itu panik. King D dan Marco kebingungan. Sambutan yang diharapkan tak sesuai dugaan. Malah, mereka mendapat kejutan yang lain.


DOR! DOR!


"Agh, shitt! Mereka menembaki kita, D!" gerutu Marco karena orang-orang tersebut ternyata memiliki senjata yang bisa membunuh mereka.


"Irina! Hubungi mereka!" seru King D yang langsung berlari kencang menyembunyikan diri di balik batuan besar.


"Hentikan tembakan! Kami manusia! Mereka memiliki kemampuan dari mata yang menyala merah. Mereka bukan monster!" seru Irina yang suaranya terdengar di semua panggilan.


Tembakan yang tadinya terus dilontarkan hampir tak berjeda, mendadak dihentikan. Marco dan King D bernapas lega karena orang-orang itu akhirnya mengerti.

__ADS_1


Seseorang diantara mereka berjalan keluar dari persembunyian dengan pistol dalam genggaman. Di sisi lain, helikopter berhasil mendarat dengan aman.


Orang-orang dalam kubu King D tampak tegang saat melihat pantauan dari layar yang terhubung dengan CD Ritz.


Polo meminta agar mereka tetap berjaga di sekitar helikopter dan mengamankan wilayah. Anggota tim Marco-Polo menyebar.


Irina ikut menerbangkan drone untuk melihat ke sudut yang lebih luas dari atas langit. CD Ritz berada di tengah-tengah antara dua kubu yang kini saling menunjukkan diri dari tempat persembunyian.


"Jika benar kalian bukan monster, jatuhkan senjata! Hanya manusia normal yang memahami bahasa manusia!" seru salah seorang diantara kumpulan orang-orang itu tampak seperti pemimpin mereka.


King D dan Marco melemparkan semua benda yang mempersenjatai tubuh mereka kecuali sepatu magnet ke atas tanah.


Saat sorot lampu dari CD Ritz mengenai wajah dari pria yang akhirnya membuka penutup hidung dan mulutnya menggunakan kain layaknya cadar, mata Irina melebar seketika.


"Pa-paman? Paman Jason?!" pekik Irina yang suaranya terdengar oleh lelaki tersebut.


Praktis, mata King D, Hakim, Fara, Obama Otong dan Irina terbelalak seketika.


"Ka-kau mengenaliku? Kau siapa?" tanya lelaki itu seraya menekan earphone di telinga dan melihat ke arah CD Ritz yang terbang mendekat ke arahnya.


"Paman! Ini aku, King D!" seru kekasih Irina dari kejauhan dengan senyum merekah.


"King D?" sahutnya berkerut kening.


Namun, jawaban dari pria yang diyakini masih satu jajaran dengan orang-orang yang mengenalinya dirasa sedikit membingungkan. Seolah, pria bernama Jason tak mengenal mereka.


"Paman! Ini aku, Irina Tolya. Kau ingat? Aku anak dari Sia dan William. Aku keponakanmu!" seru Irina yang membuat kening Jason berkerut dengan pistol masih dalam genggaman.


"Irina! Dari mana kamu tahu kalau itu Jason bukan Jordan?" tanya Obama heran.


"Sebagai bukti jika paman Jordan tak mencintai bibi Naomi lagi, ia mentato pergelangan tangannya yang terlihat seperti sebuah gelang hitam dengan nama Sandara Liu untuk membuktikan cintanya pada sang isteri di tangan sebelah kanan. Dan kalian lihat, tak ada tato di sana. Itu berarti, dia paman Jason!" jawab Irina yakin.


Orang-orang yang melihat pergelangan tangan Jason karena terlihat jelas saat mengangkat senjata, merasa jika ucapan Irina benar adanya.


Tiba-tiba, seseorang keluar dari tempat persembunyian seraya menyarungkan pistolnya. Wanita itu menepuk pundak Jason dan lelaki itu terlihat ragu akan sesuatu.


"Sepertinya banyak hal yang harus kita bicarakan. Kami tahu tempat yang aman. Cepat, ikut kami," pinta wanita berwajah Arab dengan seragam militer.


King D mengangguk setuju. Irina diminta untuk ikut bergabung bersama lainnya. Namun, Hakim memilih untuk tetap berada di helikopter.


Terpaksa, Polo, Bruno dan Robin menemani lelaki tua itu untuk mengamankan helikopter.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Makasih tipsnya❤️ Lele padamu😍 Besok lagi ya😆Pegel dan nguantuk banget uyy mau bobo duyu. Selamat malam minggu💋


__ADS_2