
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Sedang di tempat King D berada.
Pria itu tampak pucat karena kelelahan akibat terus mendayung untuk bisa tiba di benua Afrika atau pulau terdekat. Panas terik matahari membuatnya dehidrasi hingga bibirnya kering. Perbekalan pria itu telah habis dan ia telah mengarungi lautan selama 2 hari.
"Hah, hah," engahnya yang kini membuat setengah tubuhnya berada di tepi perahu. Matanya melihat ke arah air laut yang melimpah di samping benda terapung itu. Tak ada ikan yang terlihat. Hanya luapan air asin yang tak bisa diminum. "Sial. Aku pasti akan mati. Miris. Bukan mati karena sebuah pertempuran untuk menyelamatkan Irina dan lainnya, tapi mati karena kelaparan serta kehausan," sindirnya pada diri sendiri.
Perlahan mata King D meredup. Perahu yang bergoyang karena ombak membuat pandangannya seperti membaur dengan kejadian masa lalu ketika ia berada di tempat pertempuran saat Irina berusaha menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan para monster.
"King D! King D!" teriak Obama saat ia terus-terusan menggelontorkan peluru dari senapan laras panjang untuk menghalau serangan para monster yang berusaha mendekati posisinya.
"Argh! Irina!" teriak King D dengan jalan tergopoh karena mengalami cidera akibat serangan monster.
King D mendekati sang kekasih saat wanita cantik itu terkena peluru yang ditembakkan oleh Hendrik bermaksud untuk membunuhnya. Irina yang berdarah hebat, membuat para monster mendekat. Namun, ada hal aneh dengan kejadian itu. Para monster tak lagi menyerang Irina, tapi terlihat seperti bingung.
Sayangnya, King D yang terluka dan berdarah, membuat para monster beralih kepadanya. Pemuda itu panik saat segerombolan monster berlari dan siap menyerangnya. King D yang tak siap, menerima terjangan itu dan merasakan sakit luar biasa ketika tubuhnya digigit oleh para monster yang menginginkan penderitaannya.
DUK!
"Hah! Hah!" engahnya saat ia menyadari perahunya terkantuk oleh sebuah kapal yang terapung di lautan.
Seketika, mata King D melebar. Ia segera duduk di mana matahari mulai tenggelam. King D melihat banyak kapal di lautan, tapi seperti ditinggalkan karena tak terlihat manusia di atasnya.
"Oh! Aku ... aku di mana?" tanyanya bingung lalu berdiri dan melihat sekitar.
Melihat banyaknya kapal di dekat perahu, semangat King D kembali berkobar. Ia mendayung dengan sisa tenaganya menuju ke kapal yang tak sengaja ditabrak oleh perahunya. King D berasumsi jika ombak membawa perahunya sampai ke lokasi yang belum ia ketahui.
King D naik ke kapal yang paling dekat dengan lokasinya. Ia menggunakan rantai besi yang masih membelenggu pergelangan kaki dan tangan sebagai senjata. Pria itu tampak waspada karena khawatir ada monster di kapal itu. Ia melangkah perlahan hingga mendapati aroma tak sedap dari dalam perahu. King D memberanikan diri melangkah lebih jauh memasuki dek bawah.
Namun seketika, "Oh shitt!" pekiknya saat menemukan bangkai mayat manusia yang telah membusuk.
__ADS_1
King D menahan rasa mualnya dan segera keluar. Ia berdiri di geladak dan menarik napas dalam lalu diembuskan panjang.
"Orang itu pasti diserang oleh monster. Aku yakin, orang-orang di kota seberang berusaha kabur dari serangan monster menggunakan kapal menuju lautan. Namun, beberapa diantara mereka tak berhasil dan tewas setelah terkontaminasi darah monster," ucap King D menduga usai melihat mayat tersebut.
King D lalu merobek bajunya untuk dijadikan masker penutup mulut dan hidung. Pria itu nekat kembali masuk ke dalam kapal meski harus menahan napas saat melewati bangkai tersebut. King D mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk bertahan hidup.
"Oh, air!" pekiknya terkejut saat mencoba menyalakan kran di wastafel.
King D menampung air itu dalam gelas yang ia temukan dalam rak. Pria itu mencoba mencicipi air tersebut dan ternyata tawar. Seketika, senyum King D merekah. Ia menampung air tawar itu dalam beberapa botol yang ditemukan lalu dimasukkan dalam tas. Seketika, energinya pulih meski perutnya masih lapar. King D mengambil benda apa pun yang bisa digunakan sebagai penunjang hidupnya.
"Aku akan ke kapal yang lain," ucapnya usai mendapatkan pakaian ganti di lemari dalam kapal itu untuk petualangan solo-nya.
King D kembali ke perahu dan mendayung. Senjatanya kini bertambah dengan sebuah pisau. Ia menaiki tiap kapal yang ditemuinya dan mencoba menyalakan mesin dari benda terapung tersebut. Namun, sudah lima kapal yang ia datangi, tapi tak ada satu pun yang bisa melaju karena mogok.
"Sial. Sepertinya, aku memang harus ke daratan," ucapnya seraya melihat daratan di kejauhan.
Namun, matahari mulai tenggelam dan kegelapan menyelimuti sekitar. King D yang tak mau ambil risiko, memilih untuk tinggal di sebuah kapal yang baginya cukup nyaman karena seperti sebuah yacht, tapi berukuran sedang. Terdapat kamar, dapur, ruang berkumpul dan lainnya layaknya sebuah rumah. King D merebahkan diri di atas kasur dengan cahaya lilin meneranginya dari kegelapan.
Malam itu, King D memancing dengan peralatan yang ditemukannya. Siapa sangka, ia berhasil mendapatkan ikan meski tak semahir Obama Otong. King D membakar ikan itu sebagai santapan makan malam meski rasanya tak senikmat masakan Irina. Praktis, kenangan bersama anggota kelompoknya membuat hati pria itu bersedih. Ia menatap api unggun yang dibuat dalam sebuah tong besi agar tak merusak kapal.
"Bagaimana keadaan kalian? Kuharap, aku belum terlambat untuk menolong. Ya Tuhan," ucapnya penuh permohonan.
Entah apa yang menggerakkan hati pria itu, saat ia menatap bulan yang bercahaya terang dengan bintang-bintang menghiasi langit malam, King D tiba-tiba saja melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim yang telah lama ditinggalkan. Ia salat di geladak kapal dan terlihat begitu khusyu dalam membaca doa. Ia bahkan menyuarakan suaranya ketika memanjatkan doa kepada Tuhan. Saat terakhir, King D menangis. Ia hanya memejamkan mata dengan bersujud seperti mengutarakan seluruh isi hatinya kepada Tuhan yang ia percaya itu.
"Tolong aku untuk menyelesaikan semua. Aku minta maaf karena hampir melupakan-Mu. Benar kata Baba, saat terpuruk, pikiran dan hati kita pasti akan mengingat Tuhan. Semoga maafku belum terlambat," ucapnya dengan suara bergetar saat dahinya menyentuh alas sebuah kain yang dijadikan sebagai sajadah.
King D kembali bangkit dan merapikan alat salatnya. Ia berdiri gagah memandangi lautan luas di malam gelap. Beruntung, pantulan dari penguasa langit memberinya cahaya sehingga kesunyian itu tak terasa mencekam.
"Aku bisa menyelesaikannya," ucapnya mantap memotivasi diri.
King D segera merapikan seluruh perlengkapan untuk petualangannya esok hari. Ia bergegas tidur agar energinya pulih. Pria itu sudah memantapkan pilihannya dengan tetap menggunakan perahu menyusuri tepian pantai dan menjauh dari daratan demi keselamatannya.
__ADS_1
Keesokan harinya, King D kembali mendayung menuju ke daratan untuk memastikan di mana keberadaannya. Ia akan mulai memetakan perjalanannya selagi mencari kendaraan yang dirasa mampu membawanya pergi lebih cepat. King D menghindari perjalanan darat karena khawatir serangan monster. Pria itu memilih jalur air meski harus lelah mendayung. Namun, setidaknya di perairan ia lebih aman.
"Oh, aku berada di Senegal? Dakar?" ucapnya tampak terkejut saat perahunya merapat di pesisir pantai yang sepi.
Banyak petunjuk yang membuatnya mengetahui di mana dirinya berada dari bendera yang berkibar di beberapa perahu kayu. Perahu berciri khas negara tersebut memiliki corak unik yang mudah dikenali. King D berteduh dari terik matahari di bawah sebuah kapal yang diparkir di tepi pantai. Ia membuka sebuah buku yang didapat saat menjelajahi tiap kapal yang ditemuinya. King D mulai membuat coretan seperti sebuah peta. King D yang telah mempelajari geografis Bumi, seperti tahu ke mana tujuan selanjutnya.
"Mauritania. Seharusnya ini tak begitu jauh. Ada pos darurat milik mendiang opa Kai berupa supermarket yang dikelola oleh Black Armys bibi Sandara. Seingatku, bibi meninggalkan helikopternya sebagai transportasi angkutan di wilayah itu. Ya, aku bisa menggunakannya, tapi ...," ucapnya mantap, tapi kemudian terlihat ragu. "Agh, berisiko. Tetap akan sulit untuk menemukan bahan bakar jika sampai helikopter itu kehabisan bahan bakar dan tak ada jaminan benda terbang itu masih berada di sana. Tidak, aku tetap memilih perahu saja," ucap King D lalu memberikan tanda silang pada Mauritania sebagai tujuannya.
King D lalu membuat gambar benua Afrika pada buku itu berikut pembagian wilayah tiap negara meski tak begitu akurat. Ia lalu membuat garis untuk rute menuju Australia sebagai tujuan utama. King D melihat jika ia terus mendayung, kemungkinan besar bisa tiba di benua tersebut tahun depan. King D mulai frustasi. Pria itu lalu melihat sekitar. Ia mendapati sebuah mobil terparkir di dekat pantai. Pria itu berlari mencoba mencari tahu apakah benda beroda empat itu bisa membantunya melaju lebih cepat menuju ke lokasi selanjutnya atau tidak.
BROOM!
"Oh! Menyala!" pekiknya terkejut saat mendapati mesin mobil Jeep tersebut menyala.
King D terlihat senang. Ia melihat penunjuk bahan bakar yang ternyata terisi penuh. Bahkan, terdapat bahan bakar cadangan pada bagian belakang mobil yang ditampung dalam jeriken besi, termasuk ban cadangan di bagian atap mobil. Lampu tambahan pada bagian atas, membuatnya semakin mantap untuk berkendara ketika malam datang karena adanya cahaya penerang tambahan. Praktis, senyum pria tampan itu merekah.
"Tuhan sayang padaku," ucapnya gembira.
King D akhirnya memutuskan untuk meninggalkan perahunya. Ia akan berkendara menyusuri tepian pantai menghindari jalanan masuk ke kota. Saat pria itu akan turun dari mobil untuk memindahkan perlengkapan dari perahu, ia terkejut ketika mendapati jejak kaki yang tampak masih baru di dekat mobil. Kening pria beralis tebal itu berkerut. Ia mencoba mencocokkan jejak sepatu itu dengan miliknya, tapi tak sama karena berukuran lebih kecil. King D diam sejenak lalu melihat sekitar.
"Ada orang lain di sini. Selain itu, rasanya memang janggal bisa menemukan sebuah mobil dalam kondisi sempurna di tempat seperti ini," ucapnya curiga, tapi tak mendapati siapa pun di sekitarnya sejauh mata memindai.
Namun, King D yang dikejar waktu, menganggap keberuntungan itu adalah bantuan dari Tuhan. Pria itu segera masuk ke mobil usai memindahkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan dari hasil temuan di beberapa kapal. Selama perjalanan di darat, mata pria itu memindai sekitar. Ia masih penasaran, siapa orang yang menolongnya, tapi tak menunjukkan diri itu.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE