KING D

KING D
Berkumpulnya Demon Kids*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Beruntung, gunung La Palma masih memuntahkan lahar panas sehingga drum-drum berisi limbah dapat dilenyapkan oleh kekuatan alam maha dahsyat tersebut. Para mafia yang mulai berdatangan dari segala penjuru dunia mengawasi secara langsung proses pemusnahan. Suasana mencekam dengan latar gemuruh gunung yang sedang mengamuk, membuat para mafia terpaku.


"Kalian sudah dapat kabar jika Demon Kids telah bangkit?" tanya Afro yang akhirnya tiba bersama tim penjemput.


"Oh, benarkah?" tanya Seif terkejut karena itu berarti, anaknya sudah bangkit dari tabung.


"Lalu di mana mereka?" tanya Match penasaran.


"Mereka mengatakan memiliki misi khusus, tapi tak ada satu pun yang tahu. Entahlah. Kita diminta oleh Jordan untuk fokus pada pelenyapan bangkai monster susulan sebelum para manusia dalam tabung dibangkitkan. Gila, aku benar-benar butuh istirahat. Aku tak pernah kerja lembur separah ini," keluh Torin seraya memegangi dahinya yang mendadak terasa berat.


"Kita akan tidur lagi saat pihak pemerintah melakukan pemulihan dan pembersihan tahap kedua. Jika ingin segera istirahat, kita harus cepat," ucap Zurna.


"Oke. Jadi ... kita akan pergi ke negara mana untuk pembersihan selanjutnya?" tanya James seraya merangkul pinggul istrinya. Zurna tersenyum.


"Baiklah, menurut data dari Jordan ... hempf, semoga bahan bakar kita masih cukup untuk mengelilingi dunia lagi," ujar Venelope yang kini menjadi petugas pendataan.


Dini hari. Para mafia yang sudah berkumpul di kawasan sekitar gunung La Palma dibagi menjadi beberapa kelompok untuk terbang menggunakan pesawat menuju ke negara-negara yang belum dibersihkan dari bangkai-bangkai monster. Kumpulan tua muda itu terlihat siap untuk ditugaskan kembali meski rasa lelah luar biasa mendatangi mereka. Sebelum pergi, acara makan besar dengan persediaan seadanya dilakukan agar orang-orang itu tetap mendapatkan asupan energi selama bertugas.


"Kita pergi begitu fajar menyingsing. Bersiaplah!" seru Melody yang telah tiba bersama kelompoknya.


"Yeah!" jawab semua orang serempak usai menikmati makan bersama di dekat pesawat dan helikopter kargo.


Sebagian dari mereka memilih beristirahat di dalam pesawat dan sisanya melepaskan rindu sembari menikmati api unggun. Sun yang akhirnya tahu jika Dayana telah melabuhkan hatinya kepada Obama Otong membuat pria gundul itu diam tanpa ekspresi. Sedang Obama, terlihat pucat pasi ketika orang-orang di sekitar menertawakannya.


"Kenapa harus kau?" tanya Sun akhirnya buka suara.


"Ini ... sudah jalan Tuhan, Bapak mertua," jawab Obama sopan.


"Calon," jawab Sun ketus.


Obama menelan ludah. Jonathan dan yang lainnya tertawa terbahak karena melihat Obama Otong seperti tak berkutik di depan ayah Dayana. Gadis itu juga diam saja seperti tak bisa membela calon pendamping hidupnya.


"Berikan aku sejuta alasan kenapa Diana harus menikahimu?" tanya Sun tegas.

__ADS_1


"Daripada nikahin monster? Otong steril dan perjaka ting-ting, Bapak calon mertua. Kesetiaan Otong kepada Dek Pacar tak perlu diragukan lagi. Monster aja Otong terbas apalagi laki-laki jahanam lainnya. Percayakan Dek Dayana kepada Otong, Bapak Camer. Yakin, Dek Pacar akan bahagia dunia akhirat, lahir dan batin," jawabnya mantap yang membuat semua orang menahan senyum.


Beruntung, orang-orang yang tak memahami bahasa Obama terbantu dengan earphone translator. Sun mengembuskan napas panjang dengan mata terpejam seperti tak rela jika anak gadisnya menikah dengan putra dari Eko tersebut.


"Bagaimana respon ibumu?" tanya Sun menatap Dayana saksama.


"Kau belum tahu? Ibu sekarat. Gusti hampir membunuhnya," jawab Dayana tertunduk lesu.


Praktis, mata Sun dan orang-orang yang tak mengetahui hal itu melebar seketika.


"Kalau begitu. Kau tak boleh menikah dengannya sampai mendapat restu dari ibumu," tegasnya.


"Weh, lama dong. Katanya Bibi Sandara baru sembuh 1 tahun lagi. Belum nanti masa pemulihan dan sebagainya. Otong bisa telat kawin, Bapak Camer," keluh Obama.


Sun melotot tajam dan hal itu membuat Obama bungkam.


"Tak ada gunanya juga kau menikah sekarang, Otong. Restu adalah yang terpenting meski kalian saling mencintai. Selain itu, adikmu juga harus tahu hal ini. Jangan lupa, kau masih punya keluarga," sahut Eva bertolak pinggang yang sedari awal memang tak menyetujui hubungan pasangan tersebut.


"Oia! Juby ke mana? Itu bocah apa kabarnya?" tanya Obama dengan mata melotot saat teringat akan sang adik.


"Hatchim!"


"Kau tak apa?" tanya Rex, putra dari Eiji dan Monica cemas.


"Gak apa, Yang. Kaya ada yang omongin Juby deh. Bang Otong kali ya?" jawab gadis cantik yang telah beranjak dewasa itu sembari menekan-nekan ujung hidungnya.


Rex tersenyum seraya mengendarai mobil usai mereka bangkit di Kastil Borka dan mengejutkan orang-orang di sana. Jubaedah dengan sigap melakukan panggilan telepon untuk menghubungi kawan-kawan Demon Kids lainnya. Rex dan Jubaedah pergi meninggalkan Kastil Borka menuju ke Museum of The World Ocean, Kaliningrad, Rusia. Mereka nantinya akan terbang dengan helikopter khusus yang telah dipersiapkan di tempat itu sebelum ditidurkan saat mengetahui wabah monster dianggap bencana internasional.



"Juby?" panggil seseorang dari sambungan telepon satelit.


"Hei! Apakah kau bersama yang lain?" tanya Jubaedah riang.


"Ya. Aku bersama kawan-kawanku. Kami aman di Markas CIA. Jadi ... kita mulai bertugas?" tanya seorang pria dari sambungan tersebut.

__ADS_1


"Yup! Sudah waktunya kita bekerja, Guys," jawab Jubaedah riang saat Rex berusaha menyalakan mesin helikopter yang disembunyikannya dalam ruangan khusus.


"Oke. Sampai jumpa."


"Bye, Ryan," jawab Jubaedah lalu menutup panggilan.


"Sudah siap? Ayo," ajak Rex saat mesin helikopter yang ia tinggalkan cukup lama masih berfungsi dengan baik meski orang yang mengamankan benda itu telah meninggal.


Rex dan Jubaedah membungkuk hormat kepada salah satu orang kepercayaan mereka berdua yang bersedia melindungi aset saat ditidurkan. Jasad pria itu tergeletak di depan helikopter milik Rex sedang merebahkan diri di atas kasur dengan segala perlengkapan penunjang seperti bahan bakar cadangan dalam jeriken-jeriken dan barang-barang lainnya.


"Kami akan bertanggungjawab kepada keluargamu sesuai perjanjian. Terima kasih, Pablo," ucap Rex yang membuat wajah Jubaedah bersedih.


Jasad Pablo dibiarkan di atas ranjang itu dan baru dimakamkan saat urusan mereka selesai. Helikopter terbang meninggalkan fasilitas bawah tanah menuju ke tempat yang telah disepakati oleh para Demon Kids. Jordan melihat pergerakan besar dari para Demon Kids yang telah bangkit. Jordan diam ketika mereka semua pergi menuju ke tempat yang telah disepakati bersama sebelum akhirnya ditidurkan.


"Semoga mereka tak kaget karena kedatangan mereka," ujar Jordan tersenyum tipis saat melihat dua anggota The Kamvret yang menjaga Laboratorium Farmasi Elios di Italia sedang sibuk membereskan bangkai-bangkai monster di luar gedung dari kamera CamGun.


Di tempat King D berada.


King D dan tim akhirnya meninggalkan Cape Canaveral usai membersihkan wilayah tersebut dari bangkai-bangkai monster hasil pertempuran terakhir. Pesawat terbang meninggalkan Florida menuju ke Spanyol untuk melenyapkan bangkai-bangkai monster selamanya. William tersenyum saat melihat putrinya tertidur pulas di samping King D usai mereka bekerja keras hampir tak beristirahat sejak dibangunkan.


"Jadi ... kapan mereka akan kau nikahkan, Ayah?" tanya Romeo penasaran sembari merendam dirinya di dalam bak temuan berisi air.


"Menikah dengan keadaan dunia kacau seperti ini? Mereka menikah di tengah-tengah puing bangunan begitu maksudmu?" tanya William terkekeh.


"Hei, itu seru dan bisa menjadi sejarah. 'Presiden Dunia, King D, menikahi Irina Tolya dalam reruntuhan usai bencana monster berhasil dilenyapkan.' Pasang foto mereka berdua pada billboard agar dilihat seluruh orang di dunia ketika mereka bangun nanti," sahut Romeo yang membuat Junior ikut tertawa meski tetap terlihat mengerikan.


"Yah, kita lihat saja nanti. Ayah masih penasaran, di mana ibumu sekarang. Apakah benar dia baik-baik saja?" tanya William dengan wajah sendu.


"Aku juga merindukannya, Ayah. Aku percaya pada para mafia-mafia ini karena ... ibu dulu adalah bagian dari mereka," ujar Romeo dan diangguki William.


Martin dan Arthur yang menerbangkan pesawat saling melirik dengan senyum tipis terukir di wajah.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2