KING D

KING D
Gerakan Mereka Terbaca*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle bersiap untuk melawan Hope. Bagi One dan mafia senior lainnya, ini adalah kesempatan emas karena mereka akan fokus pada satu tempat penyerangan yakni di Australia. One menilai jika sosok Hope ini kurang berpengalaman dalam melakukan gempuran atau pun negosiasi. Berbeda dengan lawan mereka saat zaman Hashirama hingga Vesper berjaya. Mereka sampai kesulitan menemukan titik penyerangan dan harus melakukan banyak penyelidikan hanya untuk melakukan gempuran. Namun, Hope dengan sendirinya memberikan undangan itu.


"Kau yakin ini bukan jebakan, One?" tanya Verda terlihat serius.


"Aku tak melihat Hope ini sebagai ancaman besar. Mungkin ia memang orang dalam jajaran kita. Namun, melihat cara kerjanya, dia ini masih amatir. Selain itu, setelah kita telusuri, sosok Hope bukan mafia senior, melainkan mafia junior yang sepertinya mencoba untuk menjadi penguasa layaknya Arjuna dulu," jawab One tenang seraya berjalan perlahan diantara tabung-tabung yang menidurkan orang-orang dalam jajaran.


"Sudah menebak siapa pelakunya?" tanya Verda yang kini berdiri di samping tabung Gibson.


"Banyak kemungkinan. Namun, Sengkuni adalah lakon yang paling mendekati sosok Hope," jawab One yang diangguki sang isteri.


"Kalau aku memiliki pemikiran lain," sahut Verda dengan dua tangan menyilang depan dada.


Kening One berkerut. "Siapa?"


"William. Tabungnya tak ditemukan berikut Romeo."


"Kenapa kau bisa yakin dia? Ingatan William sudah dihapus sejak lama dan sampai terakhir ia ditidurkan, William tak ingat masa lalunya," tanya One tak sependapat.


"William selalu curiga pada kita. Meskipun ingatannya dihapus, tapi insting agent dalam dirinya tak bisa dihapuskan. William masih kuanggap musuh yang tertidur dan tinggal menunggu kebangkitan dari ingatannya," jawab Verda yakin.


"William tak memiliki pasukan. Dia sendirian dan hanya sebagai montir meskipun memiliki hobi sambilan dengan menjadi pembalap. Selain itu, dia tak memiliki teman. Kawan-kawan CIA-nya saja sudah tak melibatkan William lagi. Mereka fokus pada kehidupan masing-masing. William tak memiliki kekuatan dan kekuasaan seperti kita," tegas One.


"Oke," jawab Verda yang enggan melanjutkan perdebatan.


One malah bermuka asam karena jarang sekali sang isteri mengalah. Biasanya, Verda ngotot dengan pemikirannya hingga One terpaksa tunduk. One malah mencurigai sang isteri.



Di sisi lain. Tim Barracuda mulai menyeberangi lautan meninggalkan Indonesia menuju Australia. Para mafia senior itu terlihat waspada saat radar mendeteksi adanya ranjau di lautan ketika akan memasuki wilayah kekuasaan Victor.


"Dia tahu kita akan datang. Ubah haluan!" seru Number 10 saat mendengar peringatan tanda bahaya dari sensor yang dipasang pada badan kapal.


Benar saja, TET! TET! TET!


"10! Ranjau-ranjau itu ternyata sensitif terhadap gelombang yang dibuat oleh pergerakan kapal!" seru Number 9 yang membuat mata semua orang melotot.


"Selain itu! Kurasa mereka juga memiliki sensor untuk memindai lempengan logam dalam ukuran besar! Kita masuk dalam jebakannya!" seru Number 8 saat melihat alarm lain menyala tanda kapal mereka terpindai.


"Putar kemudi! Tinggalkan wilayah ini!" seru Number 10 dibuat panik karena lampu dan suara tanda peringatan bahaya bersahut-sahutan dalam anjungan.


Tiba-tiba, SWOSH!


"Misil!" teriak Number 7 saat melihat sebuah misil meluncur dari dasar lautan menuju ke atas, siap untuk meledakkan bagian bawah kapal.


"Kita tak mungkin menghindar! Pegangan!" teriak Number 10 ketika melihat pergerakan itu dari radar di mana ia tak menyangka jika Hope memiliki teknologi yang bisa mengakali sensor kapal.


Seketika, BLUARR!!


"Argh!"

__ADS_1


TET! TET! TET!


"Kita kehilangan baling-baling!" teriak Number 6 yang membuat kepanikan dalam kapal semakin menjadi.


"Gila! Mereka sepertinya telah memiliki teknologi yang belum diterapkan oleh kita!" pekik Number 10 kesal.


"Bahkan anti-rudal seperti tak berguna melawan senjata mereka! Ini gawat, 10! Serangan barusan merusak komunikasi kita. Sambungan ke markas terputus!" pekik Number 3 yang membuat mata 10 melebar.


"Atau bisa jadi, kita yang ketinggalan zaman. Ingat, kapal perang ini sudah seharusnya di museum-kan. Kita menggunakannya terakhir kali sejak zaman Vesper berkuasa," terang Number 6 yang membuat Number 10 baru menyadari hal itu.


"Sial! Aku seperti manusia purba!" pekik Number 10 kesal setengah mati.


"Serangan! Misil datang lagi!" teriak Number 4 yang membuat semua orang dibuat tegang seketika.


BLUARR!! TET! TET! TET!


"Misil mengenai lambung kapal! Kita tak bisa bertahan lebih lama lagi, 10!" pekik Number 3 saat melihat dari kamera CCTV luapan air memasuki lubang ledakan.


Saat Number 10 dan lainnya mempersiapkan diri untuk evakuasi karena tak bisa mempertahankan kapal, tiba-tiba ....


"Paman! Aku melihat lokasi misil-misil itu diluncurkan!" sahut seseorang yang membuat Number 10 dan lainnya langsung menghentikan langkah.


"Siapa itu yang bicara?" tanya Number 10 bingung dengan mata memindai sekitar.


"Jason! Paman Q berhasil masuk ke komunikasi kalian! Hanya saja, aku tak bisa menghancurkan senjata bawah air milik Hope!" jawab Jason yang membuat 10 melirik kawan-kawannya.


"Kapten tak akan pergi meninggalkan kapal sampai musuh dikalahkan," tegasnya.


"Tak usah berlagak, Paman. Kau mati, Hope senang. Sayangi nyawamu," sahut Jason yang membuat anggota Barracuda lainnya terkekeh. 10 cemberut seketika. Aksi sok hero-nya gagal.


Number 10 tetap di bagian komunikasi dengan Number 9 mengemudikan kapal menjauh dari wilayah sensor. Sedang sisanya di bagian persenjataan karena serangan dari darat ikut menghujani kapal.


"Gunakan anti rudal! Mereka berusaha menenggelamkan kita!" titah Number 10 yang suaranya santer terdengar di telinga kawan-kawannya sebagai pelindung kapal.


"Serahkan pada kami!" jawab Number 8 mantab didampingi Number 4 siap untuk membalas serangan.


Suara ledakan terdengar bersahut-sahutan. Bom-bom terus meluncur dari wilayah Victor seperti sudah dipersiapkan untuk menyambut tim air Barracuda dari kubu 13 Demon Heads. Malam itu, wilayah yang tadinya sepi menjadi medan pertempuran.


Di sisi lain. Anggota Barracuda yang tersisa telah bersiap melakukan strategi lain.


"Jason! Kami butuh bantuanmu sebagai mata di dalam air," tegas Number 3 melalui earphone satelit.


"Siap, Paman!" jawab Jason mantap yang entah dirinya berada di mana karena pergerakannya tak tertangkap kamera di luar tubuh kapal serta radar.


Air terus masuk yang membuat kapal mulai tenggelam perlahan. Anggota Barracuda lainnya bergegas mengenakan pakaian selam dan masuk ke dalam kapal selam portabel seraya membawa persenjataan.


"Kau yakin jika kapal kita tak dianggap ancaman?" tanya Number 7 memastikan ini bukan misi bunuh diri.


"Percayalah. Jason melindungi kita. Ayo, kita harus bergegas," tegas 3, dan para mafia senior itu mengangguk paham.


Number 7, 3, dan 6 keluar dari bagian bawah kapal menggunakan kapal selam buatan Ahmed. Jason melihat pergerakan itu dan matanya langsung tertuju pada selongsong misil yang tersembunyi di celah batuan karang. Mata Jason menyipit saat melihat selongsong itu bergerak seperti mengetahui jika kapal-kapal selam mini itu adalah ancaman.

__ADS_1


"Paman! Misil akan meluncur lagi! Dia mengincar kapal selam kalian!" pekik Jason panik.


"Kami tahu, biarkan saja!" jawab Number 7 yang membuat Jason terheran-heran.


Benar saja, sebuah misil kembali meluncur dan langsung tertuju pada tiga buah kapal selam mini yang bisa dioperasikan satu orang itu.


"Semuanya, tembak!" titah Number 7 yang membuat Jason melebarkan mata.


Sebuah misil dalam jumlah banyak, tapi berukuran kecil meluncur ke arah rudal yang diluncurkan oleh mesin Hope. Jason yang menyadari jika akan terjadi benturan hebat segera berenang menjauh. Namun, pria yang bisa berenang dan berbicara dalam air layaknya dongeng ikan duyung itu menyadari satu hal.


"Bodoh! Paman Daniel sengaja meminjamkan Pedang Silent Gold miliknya agar aku bisa melakukan perlawanan. Inilah saatnya," ucap Jason yang kembali berenang dan kini menyalakan sinar laser berwarna keemasan itu.


Jason melihat selongsong rudal mulai bergerak lagi seperti mengisi ulang amunisi dan siap meluncurkan bomnya. Jason dengan sigap berenang mendekat.


"Heyahh!" teriaknya saat ia berusaha menebas selongsong besi itu dengan pedang laser. "Argh! Besi ini tebal sekali!" teriaknya sampai gelembung udara dari mulutnya keluar dalam jumlah banyak.


Jason berusaha keras menekan bilah pedang laser agar bisa memotong selongsong besi itu. Saat Jason hampir berhasil karena sudah setengah dari diameter selongsong itu ia belah, tiba-tiba sensor warna merah menyorot tubuh ikannya. Mata Jason melebar.


BLUARR!!


"Argh!!" erang Jason ketika tubuhnya terhempas berikut Pedang Silent Gold sehingga terlepas dari genggaman.


Ledakan dari benturan rudal Hope melawan misil mini dari tiga kapal selam, membuat gelombang besar di sekitarnya. Namun, hal itu membuat Jason selamat karena ia hampir tewas tertembak oleh sensor senjata otomatis yang melindungi peluncur rudal bawah air itu.


"Kurang ajar! Kau berniat membunuhku ya!" pekik Jason marah.


Seketika, mata kuningnya menyala. Jason yang sebelumnya terlihat seperti manusia ikan yang ramah tiba-tiba terlihat bagaikan ikan predator karena kukunya meruncing dan terlihat tajam.


"Harghhh!"


KLANG!!


"Kalian lihat itu?" pekik Number 7 saat kapal selamnya berhasil membuat rudal tak menghancurkan badan kapal.


Mata Number 7, 3 dan 6 melebar seketika saat melihat Jason terlihat marah karena ia merusak selongsong rudal. Jason mampu berenang dengan lincah menghindari tangkapan lampu sensor dan membuat selongsong peluru tersebut rusak akibat kuku tajamnya. Jason bahkan meremukkan besi-besi itu dengan giginya. Namun, kapal perang yang terus dibanjiri air laut karena lubang ledakan di lambung, membuat kapal perlahan tenggelam.


"Kita harus segera pergi dari sini. Tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Ayo!" ajak Number 9.


Number 10 terlihat enggan untuk pergi. Ia tampak sedih saat melihat isi dalam kapal di mana dirinya teringat akan kenangan bersama Vesper dan kawan-kawan mafianya dulu ketika bertempur menggunakan kapal tersebut. Number 9 seperti menyadari perasaan kawannya itu.


"Nona Lily pasti memahami hal ini, 10. Dia pasti akan merelakan kapal kesayangannya demi keselamatan orang-orang dalam jajaran. Jika kau mati tenggelam karena mempertahankan kapal, aku rasa kau akan dihajar oleh Nona Lily di neraka sana. Kau malah akan semakin menderita nantinya karena dialah malaikat maut kematianmu," tegas 9 yang membuat Number 10 terpaku.


"Oke. Ayo pergi," jawabnya kemudian dengan kaku.


Number 9 tersenyum dan segera menyusul Number 10 untuk mendatangi skoci. Namun, saat mereka tiba di geladak ....


"10, awas!" teriak Number 9 saat melihat sebuah misil meluncur dari daratan menuju ke arah kapal.


Praktis, mata Number 10 dan 9 langsung tertuju pada rudal besar tersebut. Seketika, BLUARRR!!


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2