
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Pembersihan besar-besaran dilakukan di seluruh negara untuk melenyapkan para monster yang tersisa agar Bumi bisa dihuni makhluk hidup tanpa wabah monster menggentayangi. Afro yang menemukan manusia-manusia selamat, meminta kepada kelompok mafia muda agar menjemput para sipil ke Tokyo. Tentu saja, kabar jika masih ada manusia yang selamat membuat para mafia muda bersemangat. Mereka bergegas menuju ke tempat Afro berada usai mendapat kabar dari Jordan setibanya mereka di Markas Hashirama, Kyoto.
Afro meminta para sipil itu membantunya membereskan bangkai para monster usai ia mengambil drum-drum penggiling di sebuah kedai teh yang tak lain pos darurat bentukan Jonathan. Afro memilih jujur dengan memberitahukan tujuan dalam misinya. Praktis, para sipil dibuat kagum karena tak menyangka jika ada kelompok besar yang tak takut melawan para monster bahkan memburunya.
"Kau sangat keren, Paman!" kagum seorang gadis muda tampak terpesona dengan sosok Afro. Pria asal Italia itu hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Bagaimana kalian bisa bertahan selama ini?" tanya Raiden ke sekelompok sipil di mana malam itu mereka sengaja membuat api unggun di sekitar reruntuhan luar gedung.
"Beruntung. Para orang tua kami memiliki profesi yang sangat berguna di zaman sulit seperti sekarang," jawab kawan Isao bernama Jiro dengan senyuman.
"Seperti apa?" tanya Afro penasaran.
"Ayahku seorang dokter bedah. Lalu ada yang bekerja sebagai polisi, petani, perawat, dan guru olahraga," jawab seorang gadis muda bernama Hana.
Afro dan para mafia muda mengangguk paham.
"Saat wabah monster mulai dianggap bencana internasional, orang tua kami membuat persiapan. Kata mereka, tempat kami tinggal ini paling aman karena memiliki ruang bawah tanah layaknya bunker," sahut seorang gadis Jepang seraya mengaduk sup sayur dalam panci besar.
"Jadi ... kalian tinggal di bunker selama ini?" tanya Kiarra memastikan.
Orang-orang yang masih terlihat muda itu mengangguk membenarkan.
"Namun, kami di bunker hanya ketika pergi tidur saja. Sisanya, kami tetap melakukan aktivitas di dalam gedung meski harus diam-diam. Bisa dibilang, apartemen tempat kami tinggal adalah markas. Di sini, kami membuat barikade dengan bangkai monster yang ditemukan di sekitar gedung. Kata ayahku, bangkai monster bisa menghalau para monster lainnya untuk datang mendekat dan itu benar!" ujar pemuda Jepang dengan poni semangat.
"Pintar," kagum Akio.
"Kami diajarkan menanam tanaman sayur dalam pot-pot di ruangan yang terkena cahaya matahari langsung melalui jendela. Kami juga menampung air hujan lalu menetralkannya dengan mesin penjernih air tanpa listrik sehingga bisa diminum. Selain itu, sebelum para orang dewasa yang melindungi kami meninggal, mereka telah mengamati gerak-gerik monster selama bertahun-tahun dan menemukan celah kapan tiba waktunya bagi kami untuk pergi keluar," sambung seorang pria muda seraya mengelap mangkok yang ditumpuk di hadapannya.
"Apakah ... kalian masih sangat muda saat wabah itu terjadi?" tanya Michelle menebak.
__ADS_1
Para pemuda-pemudi itu mengangguk membenarkan. Afro terlihat bangga akan kumpulan orang-orang sipil tersebut yang mampu bertahan hidup dari wabah monster mencekam dan membunuh jutaan manusia di Bumi.
"Besok pagi kalian tinggalkan tempat ini. Pergilah bersama mereka ke Kyoto. Tempat itu dilindungi dengan baik," pinta Afro.
Para muda-mudi itu saling berpandangan, tapi kemudian menggeleng. Afro dan para mafia muda terlihat bingung.
"Rumah kami di sini. Di tempat baru, kami tak memahami medan. Sedang di sini, kami sudah menyiapkan banyak hal seperti evakuasi, tempat mencari bahan makanan mentah dan semacamnya. Kami akan baik-baik saja. Terlebih, para monster yang berada di tempat ini sudah kalian lenyapkan. Itu lebih dari cukup," ujar Isao meyakinkan.
"Bukankah kalian sudah membunuh seluruh monster di Jepang? Jika benar demikian, kami aman," sahut seorang pemuda berambut gondrong sebahu dengan wajah berbinar.
"Menurut laporan Paman Jordan, para monster di Jepang sudah habis tak bersisa. Gelang pendeteksi adanya monster juga tak menyala merah lagi. Namun, untuk jaga-jaga karena kalian bersikeras tinggal, kuberikan milikku untukmu. Semoga, warna merah pada gelang itu tak pernah menyala lagi," ujar Chiko seraya melepaskan gelang besinya.
"Aku juga berikan senjataku untukmu. Aku harap kau tak pernah menggunakannya kecuali dalam keadaan terdesak," ucap Ryota seraya memberikan katana miliknya.
"Wah terima kasih. Dari mana kalian dapat benda-benda ini?" tanya Haruka saat memakai gelang detektor monster di salah satu pergelangan tangannya.
Namun, Afro dan para mafia muda hanya tersenyum sebagai jawaban. Afro menunggu jemputan untuk ikut ke Spanyol nantinya. Anak-anak Tora dan para pion serta orang-orang yang selamat itu tampak akrab di sekitar api unggun usai bekerja keras membersihkan bangkai-bangkai monster di wilayah Tokyo. Malam itu, mereka tidur nyenyak untuk pertama kalinya karena merasa jika wabah monster akan segera sirna dari muka Bumi. Sayangnya, ancaman peluncuran serum monster dan menyebarkannya ke udara masih menjadi hal yang ditakutkan oleh semua orang jika sungguh terjadi.
Di sisi lain, tempat Sun berada. Kastil Borka, Rusia.
"Anda ...?" tanya Mitha menunjuk saat kawan-kawannya yang menjaga tabung berteriak histeris akibat ada seorang pria bangun.
"Aku Sun. Aku mendapatkan info dari Jordan jika butuh bantuanku. Namun, bisakah aku tanya sesuatu?" tanya Sun dengan kening berkerut yang hanya mengenakan celana boxer sepaha.
Anak-anak itu mengangguk.
"Apakah ... ini Kastil Borka?" Anak-anak itu menjawabnya dengan anggukan cepat. "Kenapa aku bisa berada di sini? Seharusnya, aku berada di kediaman Tuan Bojan."
"Akan kami ceritakan, tapi sebaiknya ... segeralah berpakaian. Kau membuat kami iri dengan otot perutmu," ujar Ganzorig yang muncul bersama orang-orang dewasa lainnya.
"Oh maaf," jawab Sun malu langsung membalik tubuh karena ada para wanita di tempat itu.
__ADS_1
Sun diceritakan oleh Mitha dan tiga pria asal Mongol tentang situasi Bumi saat ia masih ditidurkan. Sun mendengarkan dengan saksama seraya berpakaian dan mempersenjatai diri.
"Aku mengerti. Saat aku bangun, tabung memperdengarkan instruksi misi padaku. Kalau begitu, aku harus cepat sebelum keluargaku bangkit," jawab Sun lalu meminum sebuah pil warna hitam yang ia ambil dari tabung entah berfungsi sebagai apa.
"Mm ... kalau tak salah ... Nero anakmu, bukan? Lalu Tuan Bojan adalah mertuamu," tanya Oktai.
"Bagaimana kau bisa kenal mereka?" tanya Sun menatap tajam. Ketiga pria Mongol itu saling berpandangan tampak gugup akan sesuatu. Sun dengan sigap mendekati tabung-tabung yang berada di ruangan tersebut dan mengamatinya satu per satu. Seketika matanya melebar. "Di mana mereka?" tanyanya panik.
"Nero baik-baik saja, malah dia menjadi pemuda yang tangguh dengan kemampuan unik. Goran juga ikut dalam misi. Akan tetapi, Tuan Bojan ...," jawab Ganzorig langsung menundukkan wajah.
"Tuan Bojan ... dia ... tewas? Apakah karena monster?" tanya Sun terlihat sedih.
Orang-orang itu mengangguk membenarkan. Seketika, napas Sun memburu. Ia langsung berjalan dengan tergesa keluar dari ruang penyimpanan senjata menuju ke tempat kendaraan-kendaraan disimpan.
"Tuan Sun! Anda mau ke mana?" tanya Oktai panik dan ikut mengejar.
"Para monster itu membunuh pria yang sudah menjadikanku seperti ini. Mereka harus mati!" jawabnya gusar dan segera naik ke salah satu mobil dengan atap terbuka seraya menaikkan muatan persenjataan.
"Mo-mobil itu tak bisa dipakai. Dia dinyalakan dengan—"
BROOM!!
"Oh! A-Anda bisa menyalakannya," ujar Turgen tertegun.
"Mobil ini hanya bisa diaktifkan oleh 10 orang termasuk aku. Jaga kastil dengan baik. Sampai jumpa," ujar Sun seraya mengenakan kacamata warna hitam di mana kegelapan telah menyelimuti Kaliningrad karena malam tiba.
Kacamata dengan fungsi night vision itu membantunya melihat. Ditambah, benda itu telah dimodifikasi oleh Eiji sehingga Sun tetap bisa melihat sekitar dalam kegelapan sekaligus membedakan antara manusia, monster, dan makhluk hidup lainnya, termasuk benda mati.
"Tuan Sun! Tunggu!" teriak Mitha yang diikuti kawan-kawannya. Sun menahan laju mobil dan menatap anak-anak itu saksama. "Sebagai bekal perjalananmu. Hati-hati," ujar Mitha dengan wajah merona.
Sun mengangguk pelan dan segera menekan pedal gas mobilnya mantap. Suara deru mesin memecah keheningan malam itu. Mobil Sun melaju kencang dengan tujuan Eropa di mana Jordan menugaskannya untuk membersihkan negara Polandia. Di sana, semua perlengkapan Sun telah dipersiapkan di salah satu pos darurat bentukan Jonathan berupa toko sovenir. Sun akan membawa drum limbah monster ke Spanyol di mana semua tim akan berkumpul di kawasan gunung tersebut.
__ADS_1
***
wah gak nyangka udah eps 200 aja dan target 500k pop tercapai. Alhamdulillah smg bisa terus naik ya. amin❤️ Tengkiyuw LAP💋