KING D

KING D
Penyerangan Menyeluruh*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Hari berikutnya, dini hari. Pesawat kargo yang mengangkut para monster mulai menyebar ke berbagai wilayah dengan sasaran markas aktif dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle. Para mafia senior yang tak mengetahui serangan tersebut karena komunikasi yang diblokir, membuat kepanikan langsung menerjang ketika alarm tanda bahaya bersuara nyaring di masing-masing markas.


Grey House, China.


TET! TET! TET!


"Monster!" teriak Verda saat menangkap pergerakan dari kamera CamGun di pusat kendali.


Praktis, hal itu mengejutkan One ketika melihat sekumpulan manusia monster memasuki wilayah Grey House. Dua mafia senior itu dengan sigap mempersenjatai diri dan memasrahkan kepada senjata-senjata otomatis yang telah dipasang di tiap sudut wilayah untuk melindungi markas tersebut. Suara tembakan terdengar hampir tak berjeda disertai suara raungan dan rintihan kesakitan ketika tubuh-tubuh malang itu dihujani peluru-peluru tajam.


Verda dan One dengan sigap menyebar di pos penjagaan. Mereka menutup rapat akses menuju ke tempat penyimpanan tabung karena masih banyak orang-orang yang belum dibangkitkan. Dua mafia senior itu dibuat tegang saat melihat wujud dari para monster yang telah berubah sudah tak berbentuk manusia normal lagi.


"Apa itu?" tanya Verda dengan mata melotot.


Ia melihat dari balik teropong di atas menara, beberapa manusia yang terjangkit serum monster memiliki taring mencuat keluar dari mulut sampai ke dagu, bahkan kuku mereka sangat tajam bagaikan harimau. Jantung Verda terasa menggelembung dan membuat dadanya sesak melihat kengerian ini.


Hingga tiba-tiba, "AAAA!" teriaknya lantang karena terkejut saat mendapati seorang monster mencoba memanjat menara dengan kuku tajamnya.


One mendengar teriakan sang isteri dan hal itu membuat matanya melebar seketika. One tak jadi menaiki tangga menuju menara di sisi Barat dan memilih untuk mendatangi sang isteri yang tiba lebih dulu di sisi Timur karena jarak terdekat dari tempat penyimpanan tabung. Pria Asia itu berlari kencang di koridor panjang dengan perasaan cemas luar biasa.


Hingga tiba-tiba, DANG! DANG!


Langkah One terhenti saat melihat pintu besi yang menembus ke sisi bagian Selatan bangunan seperti didobrak paksa. Mata One membulat penuh diselimuti kepanikan. Namun, ia penasaran dan memilih menunggu untuk melihat siapa yang berusaha menjebol pintu itu.


BRANGG!!


One terperanjat dan langsung melangkah mundur. Ia mengarahkan senapan laras panjangnya ke arah pintu besi yang jebol dan kini tergeletak di atas lantai. Namun, sosok yang berhasil merobohkan pintu itu tak terlihat karena kegelapan menyelimuti wilayah luar tersebut. Jantung One terasa berhenti sepersekian detik.


"Hempf, hempf," dengkus seseorang yang muncul dengan kepala gundul, tapi memiliki lapisan keras layaknya batu.


"Hah, hah," engah One yang malah terpaku dan tak bisa berkata-kata ketika melihat wujud mengerikan di depannya.


"Oh, sepertinya ... aku datang tepat waktu. Maaf, aku tak bisa membuka pintu akses karena jari-jari tanganku menjadi besar dan malah merusaknya," ucap Clack yang membuat One melongo. "Hei, kau tak apa, One? Apa kau menghinaku dengan menunjukkan wajah jelekmu?"


"Woah, hah, kau membuatku hampir terkena serangan jantung," ucapnya langsung sempoyongan hingga menyender di dinding. One memegangi dadanya dengan mata berkedip berulang kali karena berpikir yang datang barusan adalah monster jenis baru. Clack tersenyum miring. "Ba-bagaimana kau bisa kemari?" tanya One bingung.


"Ada surat datang ke Black Castle setelah kepergian orang-orang yang ditugaskan untuk ke Australia secara estafet. Dia menyebut dirinya Utusan 13 Demon Heads. Orang itu memintaku dan Click kemari untuk mempertahankan Grey House," ucapnya dengan suara besar.

__ADS_1


"Utusan 13 Demon Heads? Siapa?" tanya One bingung, tapi Clack menggeleng.


Hingga tiba-tiba, mata One kembali melebar saat sosok pria berekor itu menghilang dari hadapannya.


"Cepat! Para monster menuju kemari. Segera ke posisi. Aku akan melindungi sisi Selatan," ucapnya yang tiba-tiba muncul di hadapan, tapi membuat One mematung karena kaget.


One mengangguk dengan wajah tegang dan pucat sampai tak bisa berkata-kata. Ia menoleh ke belakang berulang kali saat kembali melangkah menuju ke posnya. Ia yang tadinya ingin menolong Verda sampai melupakan hal itu karena kemunculan Clack yang tiba-tiba.


Di sisi lain. Hal sama juga mengejutkan Verda saat melihat kemunculan Click yang datang dengan buas seperti badak mengamuk. Pria itu menyeruduk para monster yang menghalangi jalannya dengan kepala yang memiliki dua tanduk mencuat layaknya banteng. Verda sampai terpaku karena wujud Click yang tak biasa. Tubuhnya dilapisi beberapa bulu mencuat layaknya landak berwarna cokelat. Dua tangan dan kakinya menjadi besar dengan lapisan keras seperti batu yang membuatnya mudah untuk meremukkan tubuh para monster ketika mereka berjatuhan.


"Horgg!"


KRAK!!


"Berisik," ucap Click kesal saat menginjak kepala seorang monster karena terus meraung usai terkena sundulan dari dua tanduknya.


Beruntung, Verda berhasil menjatuhkan seorang monster yang berusaha memanjat untuk membunuhnya. Verda memberikan kode kepada Click dari atas menara menggunakan sinar senter laser warna biru untuk menunjukkan posisinya. Click menoleh dan mengangguk.


"Aku akan menjaga sisi Utara. Pertahankan posisimu!" teriaknya lantang dari halaman yang membuat Verda mengangguk meski terlihat gugup.


Click secara tak langsung membantu Verda mengurangi pekerjaannya karena beberapa monster telah tewas ketika pria itu membersihkan jalan menuju Utara. Verda lega karena bantuan datang meski dari orang tak disangka. Grey House dilindungi dari keempat sisi oleh para mafia senior dan dibantu oleh persenjataan otomatis CamGun. Suara ledakan dan tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga fajar menyingsing.


Hal serupa juga terjadi di markas Boleslav Industries. Arthur beserta orang-orang yang menjaga tempat itu dibuat panik karena kedatangan tamu tak diundang. Markas ikut diserang dengan sekumpulan monster yang telah bermutasi menjadi lebih beringas dan kejam.


"Jangan biarkan mereka menerobos masuk!" teriak Arthur lantang yang suaranya terdengar di tiap sudut markas dari pengeras suara.


Para penjaga dibuat tegang karena persenjataan CamGun seolah tak mempan melawan para monster itu. Malah, kamera bersenjata itu seolah bukan tandingan para monster karena dirusak.


"Argh, sial!" pekik Arthur geram karena ia kehilangan visual di beberapa lokasi karena CamGun berhasil dirusak oleh para monster.


Arthur meninggalkan pusat kendali dan berlari kencang untuk membantu para penjaga melindungi markas peninggalan Amanda Theresia tersebut. Arthur pergi menuju ke helipad dan melemparkan Rainbow Gas ke arah sekumpulan monster yang mencoba menjebol pintu utama masuk ke markas.


"Horrghh!!"


"Gila! Rainbow Gas tak mempan!" pekiknya dengan mata melotot saat melihat sekumpulan orang sakit yang menggila itu tetap bergerak untuk mencari celah memasuki bangunan tersebut.


"Harrghh!" raung seorang monster yang melihat pergerakan Arthur di helipad.


"Oh, shitt!" pekiknya dengan mata membulat penuh ketika melihat sekumpulan monster dengan wujud mengerikan karena memiliki ekor berujung runcing sedang menatapnya tajam.


"Harrghh!!"

__ADS_1


"Shitt! Shitt! Shitt!" umpatnya yang segera berlari meninggalkan helipad.


Para monster itu dengan buas mendatangi helipad dan mengejar Arthur. Pria itu bergegas memasuki pintu besi dengan kepanikan luar biasa karena wujud para monster sudah di luar kewajaran.


"Harghhh!"


"Agh!" teriak Arthur saat akan menutup pintu, tapi seorang monster mendorong besi tersebut hingga pria itu harus menahannya dengan tubuh menyamping.


Arthur dan seorang monster saling beradu kekuatan dengan pintu besi diantaranya. Otot di tubuh pria itu sampai menegang dengan keringat mulai mengucur agar manusia buas tersebut tak masuk ke markas.


"Oh!" pekik Arthur saat melihat ujung dari ekor makhluk itu menyelinap ke dalam seperti mencari sasaran.


Mata Arthur melotot ketika melihat ujung dari ekor itu ternyata bisa terbuka layaknya kuncup bunga yang sedang mekar. Tampak sebuah lubang seperti siap untuk menyemprotkan sesuatu. Arthur mematung di mana ia bisa melihat kematian siap mendatanginya.


Namun tiba-tiba, "Hoorrghh!!"


Arthur kembali terperanjat saat melihat ekor itu ditarik keluar hingga pintu yang ditahannya bisa tutup olehnya. Pria itu bingung dengan apa yang terjadi. Ia segera melihat dari layar tablet di samping pintu besi di mana masih terdapat CamGun di sana meski telah habis amunisi. Seketika, matanya melebar karena mengenali sosok mengerikan itu yang tak lain adalah Yu Jie.


"Oh, oh, syukurlah," ucapnya sampai lemas dan langsung duduk menyender pada dinding.


Arthur memejamkan matanya sejenak untuk mengatur jiwanya yang bergejolak karena serangan mengerikan itu. Namun, pria tua itu segera bangkit. Ia tak bisa membiarkan Yu Jie tewas karena sendirian melawan para monster. Arthur bergegas mendatangi kotak isi ulang amunisi dibalik CamGun yang terpasang di luar gedung tempat Yu Jie bertarung. Arthur mengaktifkan ulang usai amunisi terisi penuh. Ia melihat sensor pemindai pada CamGun masih berfungsi dengan baik. Ia mengarahkan kamera ke sosok Yu Jie dan ternyata, database masih mengenalinya sebagai orang yang dilindungi dalam jajaran. Arthur tersenyum lebar.


"Rasakan!" ucapnya bengis.


KLIK! DODODODODOR!!


"Horrghh!"


Peluru-peluru tajam CamGun memberondong para manusia monster tersebut tanpa melukai Yu Jie. Wanita yang telah berubah wujud akibat dampak dari serum monster melihat ke arah CamGun. Yu Jie segera pergi dan membiarkan senjata otomatis itu melakukan tugasnya. Yu Jie berpindah ke lokasi lain untuk ikut melumpuhkan para monster. Arthur bergerak ke wilayah lain untuk memastikan semua CamGun yang masih bisa bertahan tak kehabisan amunisi. Hingga lagi-lagi, matanya mendapati sosok lain yang tak pernah dilihatnya.


Ternyata, Yu Jie tak sendirian. Wanita itu dibantu oleh sosok dengan pakaian serupa dengan Melody. Orang itu bergerak dengan lincah seraya melakukan serangan dengan menebas tubuh para monster menggunakan pedang Silent Red. Mata Arthur melebar di mana ia yakin jika pedang itu adalah milik dari anak majikannya. Jordan Boleslav.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya😍Lele padamu💋 Ditunggu sedekah lainnya. Jangan lupa vote vocer keburu angus ya~

__ADS_1


__ADS_2