
Selama penerbangan menuju Greenland, King D belajar banyak dari seniornya—Jonathan. King D mempelajari mengenai jajaran mafianya termasuk The Circle. Meskipun hanya secara teori, tapi King D terlihat serius.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Om Jojon kenapa seneng banget masuk tabung? Wong ini helikopter luas loh. Mau slonjoran aja bisa, malah milih sumpek-sumpekan," tanya Obama seraya memberikan sepiring jagung rebus yang baru matang.
"Kenapa kau cerewet sekali? Ini tabungku. Terserah mau kuapakan. Kenapa protes?" sahut Jonathan kesal lalu memangku piring berisi dua jagung rebus dalam tabung.
Obama tak menjawab, tapi memasang wajah sebal. Lelaki gundul itu lalu kembali ke dudukkan pilot karena sebentar lagi mereka tiba di Markas Greenland.
Namun, ucapan Obama sepertinya membuat Jonathan berpikir ulang. Lelaki itu keluar dari tabung seraya membawa piring berisi makanan yang mengandung karbohidrat tersebut.
Jonathan lalu duduk di sebuah bangku samping King D dengan meluruskan dua kakinya. Ia meletakkan tumit kaki yang berlapis sepatu magnet di bingkai tabung.
"Oke. Aku reset semua markas yang sudah kutandai tadi. Kau kini sebutkan satu per satu, tandai di peta, dan jabarkan misi kita," pinta Jonathan seraya memberikan sebuah tablet pada King D.
Irina menyiapkan makan malam untuk awak helikopter selama mereka melintasi Labrador Sea. King D terlihat serius saat telunjuknya menekan suatu wilayah.
"Greenland. Ada markas milik Tobias yang dibangun kembali oleh ibuku, Lysa Herlambang, sebagai gudang penyimpanan perlengkapan komunikasi ilegal buatan Lysa Herlambang Solutions. Di sana ada 10 tabung yang disimpan. Seharusnya, Pion Diego yang bertanggungjawab berikut para Black Armys yang ditugaskan. Namun, semua panggilan kita tak ada jawaban. Oleh karena itu, kita akan berkunjung ke sana," ucap King D seraya menjelaskan.
"Good. Lalu, tindakan antisipasi jika hal buruk terjadi?" tanya Jonathan seraya menikmati sebuah jagung rebus.
"Kita akan bangunkan dua orang di sana untuk menjaga markas agar tetap aktif dan terhubung. Jika terlihat pergerakan Hope di tempat itu, kita selesaikan. Tangkap anak buahnya, interogasi dengan gas halusinasi, bersihkan area dari segala jebakan yang mungkin dipersiapkan Hope karena lebih dulu datang, lalu habisi," tegas King D seraya melirik pamannya. Jonathan mengangguk seraya mengunyah.
"Jika ada monster berkeliaran?" tanya Jonathan fokus dengan jagung rebus dalam genggaman yang sudah kehilangan bijinya.
"Lindungi Jonathan jangan sampai terluka jika terjadi serangan monster atau anak buah Hope," jawab King D tersenyum tipis. Jonathan mengangguk. "Kedua. Identifikasi para monster apakah masuk dalam level 1 atau 2. Jika bisa disembuhkan, kita akan merehabilitasi, jika tidak, bunuh," tegas pria dengan dua warna manik mata tersebut. Jonathan kembali mengangguk dengan jagung sudah habis dan tersisa bonggolnya saja. "Ketiga. Setelah semua dirasa aman, kita lanjutkan penerbangan menuju ke Islandia dengan menerapkan metode yang sama. Terus seperti itu sampai ke tujuan akhir Black Castle, Inggris," tutupnya.
"Hem, kau pintar. Nah, sekarang tinggal kita lihat bagaimana kau akan mengeksekusi semua teori yang sudah dirancang ini. Apakah meleset, atau tepat sasaran? Semua tergantung pada komandomu, D," ucap Jonathan seraya meletakkan bonggol jagung ke piring kosong dan mengambil jagung terakhir.
King D mengangguk dan melanjutkan presentasinya kepada Jonathan. Irina dan Obama tak menyangka jika Jonathan bersedia meluangkan waktu serta memberikan banyak ilmu kepada King D.
Padahal, pria itu dikenal pelit ilmu dan tak bisa menjadi seorang pengajar. Namun, yang mereka lihat hari ini tampak berbeda.
Jonathan begitu sabar dan santai saat memberikan banyak metode serta teknik bertempur meski berupa teori saja.
"Om Jojon lagi kesambet apa ya, Jeng Irina? Tumben dan ajaib. Langka, Om Jojon mau kasih ilmunya sama King D," tanya Obama saat Irina mengantarkan makanan padanya.
"Entahlah, aku juga heran. Namun, kurasa ini hal bagus. Kulihat King D serius belajar. Ini penting untuknya mengingat kita semua menaruh harapan besar pada King D saat wabah monster dinyatakan bencana skala internasional dan kita sepakat menunjuk King D untuk menyelesaikannya jika dalam periode pertama gagal dituntaskan," jawab Irina seraya menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Yang dilakukan Om Junet dianggap gagal waktu itu. Padahal, Otong kira setelah Hendrik mati, semua bakal pulih. Jebule masih berlanjut, malah muncul musuh baru lagi bernama Hope. Apes generasi kita, Jeng Irina," sahut Obama dengan sigap mencomot singkong rebus hasil tanaman di markas Newfoundland and Labrador.
Saat Obama dan Irina asyik bergosip, tiba-tiba saja, PIP POP! PIP POP!
"Oh, Paman! Tabungmu mengeluarkan suara," ucap King D langsung menoleh ke arah tabung Jonathan ketika pemiliknya sedang menghabiskan jagungnya.
Irina dan Obama yang ikut mendengar penasaran karena tabung Jonathan terbilang berbeda sebab ia memodifikasinya.
"Otong! Seberapa jauh lagi sampai ke Greenland?" tanya Jonathan dengan sigap berdiri lalu mengambil tablet yang terkoneksi dengan kamera luar helikopter.
"Itu pulaunya udah keliatan. Itu tabung kenapa, Om Jojon?" tanya Obama masih fokus menerbangkan helikopter.
King D dan Irina saling memandang terlihat penasaran.
"Di sana! Otong! Arah jam 10! Aku yakin ada tabung dalam kapal yang terapung tak bergerak itu! Segera dekati!" titah Jonathan.
Irina dan King D dengan sigap ikut mengambil sebuah tablet yang memiliki fungsi sama dengan milik Jonathan.
"Siap, Om!" jawab Obama yang kini mengarahkan helikopter ke sebuah kapal.
"King D, turun! Periksa kapal itu. Seharusnya ada sebuah tabung di sana. Aku tak mau ambil risiko. Kau sudah berjanji melindungiku. Kerjakan!" perintah Jonathan memaksa.
King D mengangguk dan segera memasang pengait di pinggangnya. Irina dengan sigap menerbangkan CD untuk melindungi King D saat sang kekasih memeriksa kapal putih tersebut.
King D mengendus dan tak mendapati aroma monster atau pergerakan lain dalam kapal itu. Jonathan mengamati dengan saksama pergerakan King D yang memasang kamera mini di dada pada seragam tempur.
"Hati-hati," pinta Irina yang melindungi di luar kapal dengan CD mengitari kapal.
King D melangkah dengan hati-hati seraya mengarahkan pistol ke depan saat menuruni tangga.
"Oh! Kaulihat yang kulihat, Paman?" tanya King D saat mendapati sebuah tabung sudah terbuka.
"Ya, ya, aku melihatnya. Tabung siapa itu?" tanya Jonathan terlihat serius saat mengamati dari layar tablet.
King D melihat tabung itu dengan saksama dan melongok ke dalam perlahan. Ia meraba bagian dalam tabung bagian kaki.
Terdapat inisial yang diukir dalam dinding tabung untuk mengidentifikasi siapa manusia yang disimpan.
"Di sini tertulis 13DH-KHB. Itu berarti ...," jawabnya dengan wajah tegang.
__ADS_1
"Simbah Han!" seru Obama yang membuat semua orang mengangguk membenarkan.
"Ayah Han sudah bangun? Lalu ... di mana dia?" tanya Jonathan dengan wajah tegang.
"Kau bisa melacaknya, D? Apakah tabung itu masih aktif?" tanya Irina dari sambungan komunikasi.
"Tidak. Tabungnya sudah padam. Hanya saja, tabung ini sepertinya belum lama dibuka karena dalamnya masih bersih tak berdebu. Jika Kakek Han sudah bangun, lalu ... di mana dia? Dan kenapa tabungnya berada di sini?" jawab King D heran seraya melihat sekitar dalam kapal untuk mencari petunjuk.
"Mungkinkah Simbah Han ke markas Greenland? Renang gitu? Kan Simbah Han jago renang kaya Om Junet," sahut Obama.
"Kau benar juga. Cepat kembali, D. Kita periksa markas!" titah Jonathan dan King D bergegas keluar.
Lelaki itu dengan sigap mengaitkan pinggangnya lagi dengan tali. Obama menarik tubuh King D dengan tombol otomatis dari tempatnya duduk.
Mata King D memindai sekitar untuk memastikan pergerakan di hari gelap tak bercahaya lampu.
"Paman. Bagaimana kau tahu jika ada tabung di dekat kita?" tanya Irina saat King D sudah kembali masuk dalam helikopter.
"Heh. Aku sengaja memasang alat tambahan untuk mendeteksi keberadaan tabung di sekitar tabungku, meskipun jarak maksimal hanya 1 km saja. Oleh karena itu, tabung ini selalu kubawa. Aku jenius bukan?" jawabnya seraya menepuk-nepuk tabung miliknya.
"Kau hebat, Paman. Dengan begini, kita akan menemukan tabung-tabung yang hilang dengan cepat. Tak salah aku berguru padamu," ucap King D terlihat kagum pada sosok pamannya itu.
"Hahaha! Tentu saja. Aku Jonathan Benedict si Jenius yang Tampan. Siapa yang bisa mengalahkan pesonaku? Hope tak ada apa-apanya," jawabnya berlagak.
King D dan Irina menahan senyum. Sedang Obama, tampak serius saat melihat bangunan di depannya.
"Kita sudah sampai. Itu markas Tobias. Bersiap!" ucapnya mantap.
Lagi-lagi, suara alarm dari tabung Jonathan berbunyi. Orang-orang dalam helikopter terlihat senang karena banyak tabung yang akan mereka temukan di sana.
King D, Irina dan Obama dengan cekatan mengambil persenjataan dalam peti sebagai pelindung. Kali ini, Jonathan bertugas sebagai pilot.
Ia akan menunggu di helikopter dan menugaskan para mafia muda untuk turun ke lapangan.
Tiga orang itu sudah berjanji untuk melindungi Jonathan agar tubuhnya tidak lecet atau keturunan Benedict itu akan kembali tidur dalam tabung tak ikut membantu dalam menyelesaikan konflik.
***
__ADS_1
brankas koin king D abis gaes😩 dan jangan lupa untuk dateng ke audio room dengerin teater online by hostel yang membawakan cerita SIMULATION 😍