KING D

KING D
Reina Akiara*


__ADS_3


Matahari sudah tak menampakkan sinarnya lagi. Tim Marco-Polo tiba bersama anggota militer gabungan dari markas Oman.


Irina dan lainnya menyambut kedatangan kelompok mereka dengan mengendarai helikopter militer yang berada di hangar sultan Javier.


King D terlihat begitu lelap tertidur. Ritz dan lainnya tak tega untuk membangunnya. Mereka pun berkumpul tanpa sang pemimpin malam itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Hope ini tak bisa diremehkan. Dia sepertinya mengincar tabung-tabung kalian," ungkap Attaya seraya menikmati ikan bakar masakan Irina dan Fara.


"Kami belum mendapat kabar dari Yusuke di mana akan bertemu. Aku jadi berpikir, bagaimana jika tim yang akan menemui Yusuke, singgah di Jumbo Island?" ucap Jason menyarankan.


"Ada apa di Jumbo Island?" tanya Marco berkerut kening.


"Sepertinya, ingatanmu sudah pulih sepenuhnya, Paman," sahut Irina, dan Jason hanya tersenyum tipis.


"Aku tak mau memaksakan diri. Kubiarkan saja otakku berfikir dengan wajar, dan ternyata, ingatan itu lebih cepat pulih jika aku santai," jawabnya dengan senyuman. Semua orang terlihat senang karena Jason terlihat lebih tegas dan cakap dalam berbicara. "Oia, kembali ke permasalahan utama. Aku khawatir, jika Hope mengetahui tempat pabrik senjata Boleslav Industries di pulau milik ibuku. Di sana ada beberapa orang yang disimpan dalam tabung dan seharusnya, mereka baru bangkit tiga tahun lagi."


"Siapa saja, Paman?" tanya Fara tampak penasaran.


Namun, Jason hanya tersenyum tak menjawab. Gadis manis itu memonyongkan bibir, tapi malah membuat semua orang terkekeh.


"Biar aja jadi rahasia biar gak bocor. Kepo banget pengen tahu urusan orang. Itu mending abangmu dibangunin sono, tar bablas sampai khayangan loh," tegur Obama.


Fara tak menjawab, tapi menuruti perintah lelaki gundul itu. Gadis berambut panjang itu berjalan dengan langkah riang menuju ke kapal tempat King D masih beristirahat.


"Souta. Sebaiknya, kau menggantikanku untuk misi menemui Yusuke. Jika boleh, aku saja yang menjaga markas di India. Aku sadar jika kemampuan bertempur dan bertarungku di bawah standar. Aku tak ingin menjadi beban," pinta Yohanes terlihat sungkan.


"Tentu saja. Aku tadi juga sempat berpikir, siapa yang bisa menggantikanku menjaga markas karena aku ingin ikut dalam misi. Kalau begitu, kita bicara di tempat yang lebih tertutup, mengingat banyak prosedur yang harus Anda ketahui tentang markas peninggalan tuan Jamal," ajak Souta seraya berdiri dan diikuti oleh Yohanes.


"Kami akan kembali ke Oman. Maaf, kami tak bisa ikut misi karena harus menjaga markas. Namun, kami senang karena banyak manusia yang berhasil diselamatkan," ucap Amir dengan secangkir kopi dalam genggaman.


Irina dan lainnya mengangguk pelan terlihat tak keberatan dengan keputusan itu. Akhirnya, tim yang akan menemui Yusuke sudah diputuskan.


Yohanes, lima orang Rusia dan para nelayan akan menjaga markas di India. Sedang tim Oman, akan kembali ke markas tempat Rohan bertugas.


Di kamar tempat King D beristirahat.


"Ya Allah!" pekik lelaki tampan itu saat mendapati wajah adik perempuannya tersenyum, tapi malah terlihat seram karena dua taring barunya.


"Aku tak melihatmu salat sejak kita bertemu. Kau lupa, malas, atau ...," ucap Fara penuh selidik.


King D bangun perlahan terlihat masih lelah. Ia duduk di tepi kasur dengan wajah tertunduk.


"Fara. Aku ingin bertanya suatu hal padamu. Jujurlah," ucap King D menatap sang adik lekat yang duduk di bangku samping sofa.

__ADS_1


"Hem, tentang apa?" tanyanya dengan wajah lugu seraya mengelus dua taringnya terlihat mulai terbiasa.


"Mungkinkah ... Irina akan menjadi isteriku? Maksudku ... kami saling mencintai, tapi ... keyakinanku dan dia berbeda," tanya King D dengan wajah sendu.


Fara diam sejenak terlihat memikirkan pertanyaan sang kakak.


"Em, gimana ya? Pastinya sama baba dan mimi ditolak. Dulu aja pipi Toby sampai jadi mualaf. Mungkinkah ... kak Irina ikut kakak? Kelihatannya keluarga nenek Manda gak masalah dengan hal itu. Buktinya, bibi Yena saja pindah," jawab Fara yang membuat senyum King D merekah.


"Begitukah?" tanya King D menatap sang adik lekat. Fara mengangguk mantap dengan mata membulat penuh. "Terima kasih, Fara. Jawabanmu, membuat hatiku sedikit lega," ucapnya seraya mengelus kepala sang adik lembut.


Fara memeluk King D dengan senyum terkembang, dan sang kakak membalasnya dengan senyum yang sama.


"Aku sempat khawatir ketika kau tahu tentang masa lalu pipi, mimi dan baba. Aku takut kau akan dendam pada baba atau padaku. Namun ternyata, hatimu begitu baik. Aku sangat beruntung memilikimu sebagai adik."


"Sebenarnya, aku sempat shock saat tahu hal itu. Namun, melihat baba begitu menyayangiku, rasa benci itu tak pernah sampai membuatku dendam padanya. Toh, pembunuh pipi sudah tewas. Nyawa dibalas nyawa. Jadi impas," jawabnya santai seraya melepaskan pelukan.


King D tersenyum dan mengangguk pelan membenarkan. Lelaki tampan itu lalu menunaikan salat di mana ia mulai sadar jika sudah lama meninggalkannya karena hati yang berkecamuk.


Fara menunggu dengan tenang seraya memainkan ponselnya di atas kasur karena semua orang sudah bangun kecuali sang kakak.


Usai salat, King D mengajak Fara keluar kamar untuk bertemu dengan yang lain seraya menikmati makan malam.


"Aku setuju dengan keputusan kalian. Kita berangkat malam ini saja. Aku terlalu bugar untuk tidur lagi," ucap King D.


"Lha kamu udah bobo, lha kita?" keluh Obama.


"Tak apa. Kalian tidur saja selama penerbangan. Aku akan menemani King D," sahut Ritz.


"Ya wes manut. Otong mau bobo intinya. Jangan ganggu," tegasnya berwajah sebal.


Tengah malam, semua orang sepakat meninggalkan dermaga di India. King D singgah ke hangar milik mendiang Rahul untuk pengisian bahan bakar dan membawa cadangan.


Souta mempercayakan markas peninggalan Jamal kepada Yohanes usai ia menjelaskan pengoperasian pusat kendali tersebut.


"Aku tunggu kabar baik dari kalian," ucap Yohanes mengantarkan kepergian tim King D di hari menjelang fajar.


"Sampai jumpa, Paman!" ucap Fara riang seraya melambaikan tangan di pintu helikopter saat benda terbang tersebut melayang meninggalkan landasan.


Yohanes segera masuk ke markas bersama lima orang Rusia dan kelompok nelayan.


Helikopter King D meninggalkan India menuju ke Camp Militer di China. Souta menginformasikan jika tempat tersebut memiliki bahan bakar dan juga penjaga yang sudah bangkit dari tabung sebelum melanjutkan penerbangan ke Newfoundland and Labrador—markas milik sang ibu yang dijaga pion Dakota dan Safa.


Para penumpang tertidur lelap selama penerbangan di bangku masing-masing. Ritz menemani King D sebagai pengawas selama lelaki bermanik merah-biru itu mengemudikan kendaraan terbangnya.


Hingga akhirnya, "King D! Apa kau mendengarku?"


"Ya, Tuan Yusuke. Katakan di mana posisimu," sahut King D dengan sigap membalas panggilan.

__ADS_1


Jason, Irina, Fara, dan Souta yang duduk di kabin depan membuka mata perlahan masih terlihat mengantuk.


"Kami berada di Jumbo Island. Dan ... ada yang terbangun di sini. Hanya saja, bagaimana aku menjelaskannya ya?" jawab Yusuke yang membuat King D dan Ritz saling berpandangan.


"Oh, mereka di sana. Baguslah," ucap Jason lega.


"Coba jelaskan perlahan, Tuan," pinta King D cemas.


"Dia memiliki kemampuan aneh seperti orang-orang yang kau ceritakan. Dia ... seperti cicak karena bisa menempel di dinding. Dan dia ... tak mengenaliku, Lucy, ataupun Venelope. Jadi ... kami sebenarnya disandera olehnya."


"Apa?!" pekik King D yang mengejutkan semua orang di kabin belakang karena sambungan komunikasi itu disiarkan oleh Ritz.


"Siapa yang bangun?" tanya Obama dengan mata masih merah karena kaget saat terbangun.


"Puteri dari Sakura dan Alex. Aku sudah mencoba menghubungi Sakura, tapi ... panggilanku tak dibalas. Reina tak percaya padaku, jadi ... dia menawan kami. Oleh karena itu, cepatlah kemari dan hati-hati," jawab Yusuke yang membuat jantung semua orang berdebar kencang.


"Baiklah, Tuan. Kami akan segera ke sana," jawab King D lalu panggilan itu terputus.


"Jika Yusuke dijadikan sandera, kenapa dia bisa menghubungi kita? Apakah ... Reina mengizinkannya?" tanya Jason bingung.


"Kita cari tahu nanti. Kita fokus saja pada tujuan," tegas King D, dan semua orang mengangguk paham. "Dan, Ritz. Tolong hubungi nyonya Sakura sampai dia membalasnya. Katakan padanya jika Reina Akiara bangun lebih awal dan belum diketahui penyebabnya. Mungkin nyonya Sakura masuk dalam radius pemancar fatamorgana sehingga sinyalnya terblokir," titah King D.


"Yes, Capt!" jawab Ritz yang dengan sigap menghubungi tim Sakura di mana kelompok itu sedang menjalankan misi ke Kastil Krasnoyarsk di Rusia kediaman Boleslav.


"Reina bangun? Wah, aku akan punya teman! Dia 'kan seumuranku!" seru Fara terlihat senang dan bertepuk tangan.


"Gimana kalau Reina gak inget sama kamu?" sahut Obama dengan mata terpejam seperti siap tidur lagi.


Seketika, Fara cemberut. Ia terlihat sedih, tapi kemudian tersenyum lagi.


"Mudah saja. Aku punya beberapa video kenangan saat bersamanya. Akan kutunjukkan hal itu padanya nanti," jawabnya yang membuat semua orang terkejut.


"Video? Di mana?" tanya King D berkerut kening.


"Di ponselku. Aku punya banyak rekaman tentang orang-orang dalam jajaran setelah tahu jika beberapa dari kita sepertinya bangun di luar jadwal. Hehe," jawabnya riang, tapi membuat kaget semua orang.


"Hem, kau pintar juga," puji Marco dari bangku kabin belakang.


Fara menjawab dengan menaik-turunkan kedua alisnya meski Marco tak melihatnya.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya😍 Adeh lele masih rempong ya karena ortu dateng ke rumah dalam rangka kangen cucu. Kwkwkw. Jadi kemungkinan sampai senin nanti masih 1 eps dan baru bisa dobel mulai Selasa. Ditunggu tips lainnya karena brankas koin kosong gaes😆 tengkiyuw lele padamu❤️


__ADS_2