
Akhirnya, lima manusia yang ditunggu-tunggu kebangkitannya mulai bangun karena mereka sengaja dibangunkan lebih awal.
Tabung Agent S dan 4P terbuka di mana mereka nantinya akan ditugaskan untuk menjaga markas Oman ketika Rohan serta para anggota militer gabungan Timur Tengah mendatangi markas yang berada di Turkey.
Sebuah bangunan bernama Black Stone peninggalan dari Sutejo Perkasa yang dikuasai oleh Vesper kemudian diberikan kepada keluarga Eko.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Rohan, tabungnya sudah terbuka. Tampaknya, mereka bangun lebih cepat di mana katamu bulan depan seharusnya mereka baru bangkit," ucap Shamsa melaporkan.
"Benarkah?" jawab Rohan terkejut saat ia bersama Amir dan Irsyad sedang mempersiapkan helikopter kargo untuk keberangkatan bulan depan.
Segera, Rohan mendatangi tempat tabung-tabung disimpan. Namun, hanya Agent S yang ditemukan dalam tabung terbuka dan masih dalam kondisi beradaptasi.
"Mana 4P?" tanya Rohan seraya mendatangi empat buah tabung para Black Armys asal Indonesia yang sudah kosong.
"Saat alarm tanda tabung berbunyi, kami segera kemari. Namun, ketika kami memeriksanya, empat tabung itu memang sudah kosong. Hanya tersisa lelaki ini yang masih dalam kondisi lemah," jawab Talora menginformasikan.
"What? Apakah mereka hilang? Atau jangan-jangan ... mereka sudah bisa beraktifitas? Namun, bagaimana mungkin? Tubuh harus melakukan penyesuaian," tanya Rohan kebingungan.
"Rohan! Apakah empat orang lelaki yang kau maksud adalah mereka?" tanya Etra terlihat panik saat memasuki ruangan seraya memegang sebuah tablet lalu menyerahkan kepada pemimpin markas itu.
Sontak, mata Rohan melebar. Para penjaga lain dari anggota militer ikut dibuat kaget saat melihat 4P malah sudah asyik menikmati sajian yang tersedia di ruang makan. Mereka makan dengan lahap seperti orang kelaparan.
"Ya benar, itu mereka! Talora! Pastikan Agent S baik-baik saja. Aku akan mendatangi 4P!" seru Rohan terlihat senang dan bergegas berlari meninggalkan ruangan penyimpan tabung.
Talora mengangguk siap. Shamsa dan Etra yang penasaran mengikuti Rohan karena lelaki India itu tampak riang.
Benar saja, setibanya di ruang makan, piring-piring kosong sudah menumpuk di meja makan.
Seharusnya, makanan itu untuk makan malam para penjaga markas, tapi sudah ludes karena empat pria yang kelaparan.
"Uenak ini, Cukk! Mirip kaya makanan grobakan yang namanya Kebab itu loh," ucap salah satu anggota 4P yang akrab dipanggil P-C dengan mulut menggembung karena berisi kebab.
"Laper aku, Suu. Embuh ini makanan punya siapa. Embat aja, minta maafnya nanti," sahut anggota 4P bernama P-K seraya merobek sebuah roti Maryam lalu mencelupkannya ke dalam kuah kari.
"Hahahahaha! Wow! Wow!" seru Rohan yang membuat empat lelaki itu langsung menoleh dengan mulut menggembung. Mereka diam seketika dengan mata berkedip. "Tak kusangka, sungguh! Kalian sepertinya ... baik-baik saja. Hem, selamat datang kembali," ucap Rohan menyapa seraya bertepuk tangan ketika mendatangi empat lelaki itu.
"Dia pasti yang punya makanan ini. Gimana ini, Bro? Bisa-bisa kita nanti suruh jadi babu seumur hidup doi buat gantiin semua makanan ini. Lihat aja gayanya, kaya majikan bos besar. Mukanya bahkan mirip kaya siapa gitu. Familiar," bisik salah satu anggota 4P lainnya bernama P-M.
"Iya, mirip kaya Rohan Khrisna, cuma yang ini agak tua dikit," sahut P-I.
"Jadi ... gimana?" tanya P-M lagi dengan wajah tegang.
"Kabur!" teriak P-C seraya berlari membawa sebuah piring berisi kurma.
Praktis, Rohan dan para penjaga markas Oman dibuat bingung karena 4P yang hanya memakai celana dalaam dan kaos tanpa lengan, malah berlari dengan panik meninggalkan ruang makan.
"Tangkap mereka semua!" titah Rohan.
__ADS_1
Segera, Shamsa meminta kepada seluruh penjaga kecuali Talora yang ditugaskan untuk memeriksa Agent S untuk menangkap 4P.
Praktis, suasana markas yang biasanya sepi menjadi heboh seketika karena 4 lelaki asal Indonesia itu. Tampaknya, 4P masih belum menyadari kondisi yang dialami saat ini.
BRUKK!!
"Wadoh!" pekik P-K saat tubuhnya menabrak P-I karena kawannya itu berhenti mendadak.
"Hem, mau ke mana kalian?" tanya Shamsa dengan senyum licik yang muncul di persimpangan koridor.
"Aku pasrah!" ucap P-I langsung mengangkat tangan yang membuat kaget kawan-kawan lelaki lainnya.
"Kok malah nyerah? Gimana sih, Bro?" tanya P-M heran.
"Yang nangkep kita cantik. Pasrah aja. Temennya juga bahenol. Tuh, malah pas banget ada empat jumlahnya. Kita satu-satu," bisik P-I.
"Jiah!" sahut P-M langsung bertolak pinggang. "Eh, tapi ... oke, aku juga pasrah," sahut P-M ikut mengangkat tangan.
Akhirnya, 4P menyerah begitu saja. Shamsa dan lainnya bingung karena empat lelaki itu tak kabur lagi. Shamsa mendekat diikuti Etra, Jaeda, dan Attaya.
"Kenapa tak kabur lagi?" tanya Attaya menyipitkan mata saat sudah berada di depan empat lelaki itu.
"Capek lari terus," jawab P-K santai.
"Eh, Bro. Kok lu bisa bahasa Arab?" tanya P-M heran.
"Lah, bukannya kita emang bisa bahasa Arab, Inggris, Indonesia dan Mandarin ya?" sahut P-K menatap kawannya keheranan.
Empat wanita dari anggota militer itu saling memandang dengan kening berkerut. Tak lama, Rohan muncul bersama penjaga lainnya.
"Kalian gesit juga padahal baru bangun dari tabung. Sungguh, aku kagum. Hal itu ... jarang terjadi," ucap Rohan dengan senyuman.
"Kamu kok mirip sama Rohan ya?" tanya P-C sampai berkerut kening. Rohan terkekeh lagi.
"Aku memang Rohan Khrisna. Salah satu anggota dewan 13 Demon Heads pada zamannya. Hem, ingatan kalian bagus. Aku cukup yakin, jika organ dalam kalian baik-baik saja," jawab Rohan dengan senyuman yang kini sudah berdiri di hadapan empat lelaki itu.
Lama empat lelaki itu diam, hingga akhirnya mulut mereka menganga lebar seperti menyadari sesuatu.
"Aku baru inget, Cukk! Kita ditidurkan dalam tabung! Kita baru aja bangun!" seru P-C masih mengangkat tangan ke atas.
"Woo iya, bener! Ya amplop sampai lupa. Ya, ya, bener. Wah, taun berapa sekarang?" tanya P-K ikut kaget.
"2070," jawab Jaeda tenang, tapi mata para 4P melebar seketika.
"Wedyan! Kita masih bertahan sampai taun 2070, Bro! Hahaha! Kita panjang umur!" seru P-M senang, berikut kawan-kawan lainnya.
Empat lelaki itu saling berpelukan dan memberikan selamat. Rohan dan timnya hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Eh, bentar. Kalau kita bangun, pasti ... ada tugas yang harus dikerjakan. Apa itu?" tanya P-I serius seketika.
__ADS_1
"Hem, kau pintar. Ayo, ikut aku. Namun sebelumnya, ada beberapa prosedur yang harus kami ujikan untuk mendapatkan kepastian jika kalian baik-baik saja," jawab Rohan tenang.
"Asiap!" jawab 4P mantap.
Di tempat James berada.
Lelaki yang masih mempertahankan rambut panjangnya itu tampak tegang ketika tubuhnya diikat pada sebuah kursi besi dalam ruangan kosong.
Matanya terkunci pada sosok lelaki bertopeng dan memiliki tato warna hijau di kedua tangan yang duduk pada sebuah kursi sofa mewah warna merah.
Mata James menyipit saat melihat seorang lelaki memakai topeng lainnya memasuki ruangan. Orang itu menarik sebuah tabung yang dinaikkan pada papan beroda.
"Bangkitkan dia, atau ... kubunuh orang itu. Aku tahu, kau mengenalnya," ucap lelaki bertopeng dengan huruf H-0-P-E di jari tangannya seraya menunjuk ke sisi kiri.
Dua orang pria bertopeng lainnya membuka tirai agar James bisa melihat sandera Hope lainnya.
Praktis, mata James melebar saat melihat seorang laki-laki tua dengan tubuh disalib terlihat tak berdaya karena babak belur. Napas James seperti tercekat karena mengenali sosok itu.
Hope menunjukkan sebuah pengendali layaknya remote ke hadapan James. Seketika, KLIK! CRETT!!
"ARGHHHH!!"
"HAN!" teriak James lantang saat lelaki itu mendapatkan siksaan dari pria yang diyakini adalah Hope. "Hentikan! Apa maumu?!" teriak James dengan napas memburu hingga otot tangannya menegang.
Hope menghentikan aksi gilanya. Han terlihat semakin pucat dan tak berdaya. Salib yang terbuat dari besi itu seperti tiang penyiksaan jika James tak bersekutu.
"Bangkitkan orang dalam tabung itu," pinta Hope, dan James mengangguk.
Anak buah Hope mendekatkan tabung tersebut ke arah James, tapi seketika, kening James berkerut. Ia lalu menatap Hope lagi dan menggeleng.
"Aku tak memiliki aksesnya. Bahkan Han pun tak bisa," jawab James serius.
"Hem, sudah kuduga. Lalu ... siapa yang bisa?" tanya Hope seraya memutar-mutar pengendali yang ia gunakan untuk menyiksa Han.
James terlihat tertekan. Ia melirik orang dalam tabung itu yang tampak damai dalam tidurnya. Han seperti hampir hilang kesadaran.
"Aku hitung sampai tiga, dan kau akan lihat penyiksaan mengerikan lebih dari sengatan listrik pada pria tua itu jika tak menjawab semua pertanyaanku. Satu, dua—"
"Dayana Lubava! Dia, dia yang bisa membuka tabung ini," jawab James dengan napas tersengal.
"Hem. Tunjukkan padaku di mana Dayana Lubava. Menolak, Han mati," ancamnya.
"Hargh! Sialan kau! Awas saja, akan kubunuh kau!" teriak James marah dan berusaha melepaskan diri dari ikatan itu, tapi Hope malah tertawa gembira.
Han melirik James dan tersenyum tipis meski terlihat pucat tak berdaya.
***
Jangan lupa vote vocernya gaes keburu angus. Tips koinnya abis. Sib nasib😩
__ADS_1