KING D

KING D
Siapa Mereka?*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Masih teringat jelas dalam benak tim Yusuke ketika mereka menjelajahi beberapa negara di Amerika untuk singgah demi menuju ke markas atau kediaman para mafia dalam jajaran. Kota-kota besar dengan populasi manusia paling padat kini menjadi kota mati. Banyak mayat bergelimpangan di beberapa lokasi baik dari pihak militer ataupun warga sipil yang menjadi monster beberapa tahun silam ketika tragedi terjadi. Mereka berhasil meninggalkan New York dengan selamat dan kini tiba di Boston. Tujuan selanjutnya adalah kediaman Adrian Axton Giamoco.


Tim dari Yusuke berhasil tiba di wilayah kekuasaan Giamoco tanpa harus berurusan dengan anak buah Hope. Jason yang belum memberikan kabar membuat semua mafia dalam jajaran kini fokus pada tim mantan anggota dewan tersebut. Terlebih, misi penyelamatan King D dan lainnya belum dibahas secara mendetail mengingat mereka kekurangan orang dan situasi kali ini lebih rumit ketimbang insiden yang pernah dialami sebelumnya. Selain itu, pemancar fatamorgana tidak aktif, tapi berdiri kokoh di menara mansion.


Kediaman Adrian Axton Giamoco, Boston.


"Tempat ini sepi sekali. Waspada," tegas Yusuke saat helikopter yang mereka kendarai sudah memindai sekitar sebelum memutuskan mendarat di helipad kediaman Axton.


Mata semua orang terfokus pada bekas peperangan yang terjadi di wilayah kekuasaan Giamoco. Terlihat bangkai manusia dan juga beberapa kendaraan rusak parah seperti serangan yang dilakukan oleh para monster. Namun, bekas itu seperti sudah lama terjadi. Reina meyakinkan dugaan itu dari pengamatannya.


"Aku masih belum yakin dengan kemampuan yang kumiliki, tapi melihat bangkai-bangkai itu, mereka sudah berada di sana lebih dari satu tahun. Tak ada serangan atau jejak baru memasuki wilayah ini kecuali kita," ucap Reina saat helikopter berhasil mendarat dengan sempurna dan mesin dimatikan.


"Jika kau bisa bekerjasama dengan baik bersama kami, kuyakinkan ibumu agar tak menidurkanmu lagi. Bagaimana?" saran Venelope berbisik.


Reina diam saja dan hanya melirik sang ibu sekilas yang duduk sebagai pilot helikopter didampingi Yusuke.


"Aku akan berusaha," jawabnya lirih.


Sakura yang mendengar pembicaraan itu melalui headphone memilih berpura-pura tak mendengar.


"Match. Sebaiknya kau tetap di helikopter sampai kami memutuskan tempat ini aman," saran Yusuke.


Pria bertubuh besar meski telah kehilangan dua tangannya itu mengangguk pelan. Yusuke, Sakura, Venelope, dan Lucy turun untuk memeriksa sekitar. Sedang Reina, tetap di helikopter mendampingi Match sampai diminta untuk ikut bergabung. Mereka tetap terhubung dengan radio berfrekuensi khusus selama terpisah. Reina tampak gugup saat lelaki berwajah garang itu menatapnya lekat.


"Aku tak bisa membaca pikiran. Katakan saja," ucap Reina tiba-tiba dengan pandangan tertunduk.


"Katanya kau memiliki kemampuan khusus. Apa itu? Katakan padaku," pinta Match serius.


Reina diam sejenak seperti memikirkan hal tersebut. "Tak hanya aku, tapi beberapa orang termasuk Sig, dan lainnya. Kami diberikan semacam serum khusus ketika tertidur dalam tabung. Namun, ada beberapa juga yang tak sengaja mendapatkan kemampuan itu dari suntikan karena mengira serum tersebut adalah obat. Semua ulah Bibi Sandara," jawab Reina yang membuat wajah Match berkerut.


"Sandara?" Reina mengangguk pelan.


Entah apa yang dipikirkan Match, tapi pria itu diam seketika terlihat serius. Tiba-tiba, Reina menoleh ke arah pintu helikopter yang terbuka. Match menyadari gerakan waspada dari gadis Jepang itu ketika ia dengan sigap berdiri dan mengambil senapan laras panjang yang memiliki teropong layaknya sniper. Match yang kehilangan dua tangannya bingung dalam bersikap, tapi ia tetap berjuang meski tanpa senjata.


"Apa yang kaulihat?" tanya Match tampak penasaran dengan gelagat Reina.


"Kita diawasi. Itu bukan hewan. Itu manusia. Bukan monster," jawabnya tenang.


Match berwajah tegang seketika, tapi Reina dengan sigap mengganti senapannya dengan teropong khusus detektor panas tubuh untuk memastikan penglihatannya.

__ADS_1


"Reina? Match? Apa kalian mendengarku?" tanya Sakura dari panggilan radio.


"Ya!" jawab Match cepat dengan mata memindai sekitar.


"Kami menemukan banyak tabung di dalam terowongan evakuasi. Kami tak tahu jumlahnya, tapi seperti sengaja diletakkan di tempat ini. Kami tak bisa lewat karena sempit," ucap Sakura menjelaskan.


"Mom, kita diawasi," sahut Reina cepat dengan teropong bergerak seperti mengikuti sesuatu.


"Benarkah? Siapa?" tanya Sakura terdengar cemas.


"Jaraknya cukup jauh. Jika aku mendatanginya, Match sendirian. Dia sepertinya mengamati pergerakan kita, tapi ... Match!" teriak Reina lantang yang langsung melepaskan teropong lalu mencengkeram kuat baju pria besar itu.


Match terkejut saat Reina menarik tubuhnya keluar dari helikopter dan membawanya melompat dari ketinggian 4 lantai landasan helikopter.


Benar saja, SWOSH! BLUARRR!!


"Apa itu!" pekik Lucy saat merasakan getaran di terowongan ketika memeriksa orang-orang dalam tabung menggunakan senter.


"Reina? Match?" panggil Sakura karena tiba-tiba saja dua orang itu tak menjawab panggilan.


"Kita pasti diserang. Cepat kembali ke atas!" seru Yusuke.


Saat Venelope dan lainnya bersiap meninggalkan terowongan, tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika merasakan pergerakan dalam kegelapan di lorong tersebut. Praktis, tubuh orang-orang itu merespon dan menggenggam senjata masing-masing dengan erat. Terlihat sosok tak dikenal merangkak di atas tabung-tabung seperti tak khawatir jika terkena dampak dari sistem keamanan tabung.


"Harghhh!"


Orang itu berambut putih panjang, memiliki jari tangan yang melengkung layaknya burung pemangsa dengan cakar tajam, mata merah menyala dan taring mencuat seperti Fara.


"Monster!" teriak Lucy tak kalah histeris saat melihat wujud itu mengaum bahkan lidahnya bisa memanjang seperti siap untuk menangkap.


"Run!" titah Yusuke lantang dan segera berlari kencang meninggalkan lokasi. Venelope, Lucy dan Sakura berteriak histeris karena sosok menyeramkan itu mengejar mereka.


"Hargh!"


BRUK!!


"AAAAA!" teriak Sakura histeris ketika pergelangan kakinya tertangkap.


Venelope, Lucy dan Yusuke terkejut melihat Sakura ditarik kuat oleh sosok itu menggunakan lidahnya yang panjang hingga membuat ibu dari Reina mencakar-cakar lantai koridor.


"Sakura!" panggil Yusuke yang dengan sigap mengarahkan pistolnya ke tubuh sosok menyeramkan itu.


Namun tiba-tiba, BUZZ!

__ADS_1


"Gas!" seru Lucy saat mendapati koridor dalam mansion dipenuhi gas warna putih yang menyembur kuat melalui atap ruangan dari celah lampu.


Sakura tiba-tiba saja menghilang di balik kepulan asap pekat usai tertangkap oleh makhluk menyeramkan tak dikenal tersebut. Yusuke dan lainnya berusaha untuk segera keluar dari koridor, tapi tiba-tiba tubuh mereka lesu dengan mata sayup seperti orang mengantuk.


BRUKK!!


Yusuke, Lucy dan Venelope ambruk tak sadarkan diri di lantai dengan kepulan asap putih menutupi sepanjang koridor. Sedang di tempat Reina berada. Gadis itu berhasil selamat dari luncuran misil yang meledakkan helikopter timnya. Match tampak shock saat menyadari tubuhnya tergantung, tapi tak terluka karena dicengkeram kuat oleh Reina. Match baru menyadari tentang ucapan Sakura dan lainnya mengenai kemampuan unik yang dimiliki Reina serta lainnya.


"Reina!" seru Match ketika melihat sosok yang meluncurkan misil keluar dari tempat persembunyian, tapi tetap membidik dengan moncong senjata.


Mata Reina menyipit di mana kali ini posisinya terdesak. Seorang pria dengan penutup wajah berjalan mendekat dan menatap dua orang di depannya lekat.


"Mana Hope!" tanyanya lantang yang mengejutkan dua Reina dan Match.


"Siapa kau? Kenapa mencarinya?" tanya Reina serius.


Namun, jawaban Reina malah membuat lelaki itu mengganti senjatanya dengan pistol. Praktis, mata Match dan Reina melebar. Pria berpakaian serba hitam yang tak asing membuat keduanya langsung menyipitkan mata.


"Torin?" panggil Match dengan kening berkerut. Seketika, lelaki itu menurunkan pistol. Ia menggunakan teropong seperti ingin memastikan penglihatannya.


"Match? Ka-kau Match?" tanyanya dengan mata melotot. "Haha! Hahahaha! Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu. Cepat, turun kemari!" seru pria yang diyakini adalah Torin.


"Buka penutup wajahmu. Aku kenal Torin dan seharusnya, Torin mengenalku," tegas Reina.


Laki-laki itu diam dengan wajah serius. Namun tiba-tiba, DOR! DOR! DOR!


"Argh!"


"Match!" teriak Reina saat pria yang dipanggil Torin menembak pria bertubuh besar itu dengan wajah bengis. Reina menyadari jika lelaki yang dikenal Match bermaksud membunuh mereka berdua. "Heyah!"


BRUKK!!


"Agh!" erang pria bersenjata itu saat tertimpa tubuh besar Match yang dilemparkan oleh Reina begitu saja.


Match ikut mengerang karena tubuhnya menghantam tubuh seseorang dengan kuat. Reina melompat turun dari ketinggian dan segera berlari mendatangi dua lelaki yang dianggap saling mengenal itu. Puteri Sakura dengan sigap menyiagakan pedang dalam genggaman, siap untuk menusuk pria yang mengaku sebagai Torin itu. Match yang akhirnya mengetahui rencana Reina dengan cekatan bangun dan menindih tubuh lelaki itu seraya menahan pergerakan dengan dua lengannya kuat agar tak berkutik.


"Argh! Aggg!" erang pria itu mencoba melepaskan diri dari kungkungan Match yang ternyata masih sangat mampu bertarung meski sudah kehilangan dua tangannya.


"Heyahh!" teriak Reina lantang siap untuk menusuk wajah lelaki itu.


Praktis, mata pria dengan penutup wajah melotot saat merasakan nyawanya akan berakhir saat itu juga.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2